Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Puasa Syawal Bukan Sekadar Sunnah, Penelitian Ungkap Dampaknya untuk Mental dan Kepribadian Muslim

Nazwa Deriska Noviyanti • Selasa, 3 Maret 2026 | 17:18 WIB

Ilustrasi Muslim menjalankan puasa Syawal dengan suasana tenang, menggambarkan manfaat ibadah sunnah ini bagi kesehatan mental.
Ilustrasi Muslim menjalankan puasa Syawal dengan suasana tenang, menggambarkan manfaat ibadah sunnah ini bagi kesehatan mental.

Ikhtisar: Puasa Syawal bukan sekadar ibadah sunnah setelah Ramadan. Penelitian menunjukkan amalan enam hari ini membantu menenangkan pikiran, memperkuat pengendalian diri, serta membentuk kepribadian positif yang berdampak langsung pada kesehatan mental.

Balikpapan TV - Hai Cess! Puasa Syawal ternyata kada hanya soal ibadah sunnah setelah Ramadan. Ada sisi lain yang menarik disimak. Amalan enam hari di bulan Syawal ini disebut memiliki dampak nyata terhadap kesehatan mental—mulai dari melatih pengendalian diri, menumbuhkan kesabaran, sampai membentuk kepribadian yang semakin baik.

Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, ritme kerja cepat, dan pikiran yang kadang campur aduk, puasa Syawal hadir sebagai latihan batin yang unik. Ibadah ini mengajarkan disiplin sekaligus ketenangan. Penasaran kenapa puasa Syawal sering dikaitkan dengan ketahanan mental? Baca terus sampai habis, pahamlah ikam Cess!

Mengapa puasa Syawal sering dikaitkan dengan kesehatan mental?

Puasa Syawal memiliki hubungan erat dengan pengendalian diri. Dalam kajian psikologi, kemampuan mengendalikan dorongan emosi dan perilaku menjadi salah satu indikator kesehatan mental yang baik. Nah, puasa pada dasarnya memang latihan menahan diri—dari makan, minum, hingga berbagai dorongan lain.

Penelitian oleh Jamil dalam jurnal International Journal of Islamic Medicine tahun 2021 menjelaskan bahwa puasa merupakan bentuk terapi pengendalian diri. Ketika seseorang mampu mengatur dorongan dari dalam maupun luar dirinya, kondisi mental juga ikut stabil.

Di sinilah puasa Syawal punya peran penting. Enam hari berpuasa setelah Ramadan membuat latihan pengendalian diri terus berlanjut. Jadi bukan cuma semangat ibadah sesaat. Ada proses menjaga kestabilan emosi dan pikiran. Nah, latihan konsisten ini pang yang membuat kesehatan mental ikut terjaga.

Baca Juga: Motor Bebek Trail Harga Rp16 Jutaan Sudah ABS? Honda X-Tracker 2026 Jawab Kebutuhan Harian hingga Jalur Tanah.

Apa kata penelitian tentang perubahan kepribadian setelah puasa Syawal?

Sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Malim: Jurnal Pengajian Umum Asia Tenggara meneliti dampak puasa enam hari di bulan Syawal terhadap kepribadian Muslim. Penelitian ini melibatkan 111 responden mahasiswa dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universitas Malaysia Kelantan.

Rentang usia peserta cukup beragam, mulai 20 hingga 53 tahun. Mayoritas peserta perempuan sebanyak 91 orang, sedangkan laki-laki berjumlah 20 orang.

Hasilnya cukup menarik. Setelah menjalani puasa Syawal, responden menunjukkan perubahan kepribadian yang positif. Mereka menjadi:

1. Lebih peduli terhadap sesama
2. Sabar dalam menghadapi situasi
3. Tekun dan efisien saat bekerja
4. Bijaksana dalam bersikap
5. Ramah dalam berinteraksi

Perubahan ini menunjukkan bahwa puasa Syawal bukan sekadar ibadah tambahan. Ada pembentukan karakter yang terjadi secara bertahap. Pahamlah ikam, latihan spiritual kadang berdampak luas ke kehidupan sehari-hari.

Bagaimana puasa Syawal membantu mengurangi sifat negatif?

Penelitian yang sama juga menemukan sisi menarik lainnya. Setelah menjalani puasa Syawal, sejumlah responden mengalami penurunan sikap negatif dalam diri.

Beberapa sikap yang mengalami penurunan antara lain prasangka buruk, rasa iri, ucapan kasar, hingga perilaku malas. Bahkan kecenderungan menyinggung orang lain juga ikut berkurang.

Hal ini terjadi karena puasa melatih seseorang untuk menahan diri dari berbagai hal yang dilarang. Proses ini secara perlahan menekan dorongan emosional negatif yang sering menjadi akar gangguan mental.

Jadi bukan sekadar menahan lapar. Puasa Syawal ikut mengarahkan seseorang untuk mengendalikan sikap. Nah, kalau hati semakin tenang dan perilaku semakin terjaga, kondisi mental pun ikut stabil. Kada heran banyak ulama menyebut puasa sebagai pendidikan jiwa.

Ilustrasi seseorang menahan emosi dan menjaga sikap selama puasa Syawal sebagai bentuk pengendalian diri.
Ilustrasi seseorang menahan emosi dan menjaga sikap selama puasa Syawal sebagai bentuk pengendalian diri.

Mengapa puasa Syawal dianggap melatih kesabaran dan keteguhan hati?

Kesabaran menjadi nilai penting dalam ibadah puasa. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa kesabaran merupakan salah satu sikap yang diuji oleh Allah SWT.

Puasa Syawal memperpanjang latihan tersebut setelah Ramadan. Artinya, seseorang tetap melatih kesabaran meski suasana Syawal identik dengan perayaan, hidangan, dan undangan makan bersama.

Bayangkan situasinya. Di satu sisi banyak hidangan khas Lebaran tersedia. Di sisi lain seseorang memilih tetap berpuasa. Di sinilah latihan mental itu terjadi.

Penelitian yang membahas puasa Syawal juga menunjukkan bahwa ibadah ini membantu seseorang memperoleh keteguhan hati. Ketika seseorang mampu bertahan menjalankan puasa di tengah suasana meriah Idul Fitri, mental menjadi semakin kuat.

Nah itu sudah. Latihan sabar bukan cuma teori, tapi langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa hubungan puasa Syawal dengan kecintaan kepada Rasulullah?

Anjuran puasa Syawal juga tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah:

“Diriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim, Usamah bin Zaid terbiasa berpuasa pada bulan-bulan haram. Rasulullah SAW kemudian bersabda, ‘Berpuasalah pada bulan Syawal.’ Lalu ia meninggalkan puasa pada bulan-bulan haram tersebut dan melaksanakan puasa Syawal hingga akhir hayatnya.”

Kisah ini menunjukkan bagaimana sahabat Nabi mengikuti anjuran Rasulullah dengan penuh kecintaan. Usamah bin Zaid bahkan terus menjalankan puasa Syawal hingga akhir hidupnya.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk mencintai Usamah.

“Siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka cintailah Usamah.”

Dari kisah ini terlihat bahwa puasa Syawal tidak hanya memiliki dimensi spiritual. Ada teladan kecintaan kepada Rasulullah dan para sahabat yang ikut menguatkan mentalitas seorang Muslim.

Poin Penting dari Artikel Ini

1. Puasa Syawal merupakan ibadah sunnah enam hari setelah Ramadan.
2. Penelitian menunjukkan puasa membantu melatih pengendalian diri.
3. Puasa Syawal terbukti mendorong kepribadian positif seperti sabar dan peduli.
4. Sikap negatif seperti iri, prasangka buruk, dan ucapan kasar dapat berkurang.
5. Ibadah ini juga melatih keteguhan hati di tengah suasana perayaan Idul Fitri.

Baca Juga: Tirai Jendela Bau Apek? 6 Langkah Cerdas Rawat Kain Tirai Jendela Tanpa Cuci Berulang

Insight: Puasa Syawal kadang dipandang sekadar ibadah tambahan setelah Ramadan. Padahal dari sisi psikologi, latihan menahan diri enam hari ini menjadi kelanjutan pembentukan mental yang sudah dimulai selama Ramadan. Ritme hidup modern sering penuh tekanan. Nah, puasa Syawal memberi ruang jeda bagi pikiran sekaligus melatih disiplin batin. Kada semua orang sanggup menjalankannya di tengah suasana Lebaran yang meriah. Justru di situlah kekuatan mental itu terbentuk. Pahamlah ikam.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami manfaat puasa Syawal dari sisi kesehatan mental, Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Apa itu puasa Syawal?
Puasa Syawal merupakan puasa sunnah yang dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal setelah Ramadan.

Apakah puasa Syawal memiliki manfaat bagi kesehatan mental?
Penelitian menunjukkan puasa membantu melatih pengendalian diri, meningkatkan kesabaran, serta mengurangi sifat negatif yang berkaitan dengan kesehatan mental.

Apakah utang puasa Ramadan perlu diselesaikan sebelum puasa Syawal?
Umat Islam dianjurkan menyempurnakan atau mengganti puasa Ramadan yang tertinggal sebelum menjalankan puasa sunnah Syawal.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Usamah bin Zaid #Ibadah sunnah Syawal #Puasa Syawal #kesehatan mental #Rasulullah SAW