Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Saat Ahli Ibadah Turun dan Pendosa Naik, Cerita dari Al-Majalisus Saniyah Ini Bikin Mikir

Nazwa Deriska Noviyanti • Minggu, 1 Maret 2026 | 12:54 WIB

Ilustrasi bisikan godaan sebagai simbol ujian bagi ahli ibadah.
Ilustrasi bisikan godaan sebagai simbol ujian bagi ahli ibadah.

Ikhtisar: Kisah dua saudara beda jalan hidup menegaskan niat di akhir hayat jadi penentu. Istiqamah dan tobat kada bisa ditunda, sebab kematian datang tanpa aba-aba.

Balikpapan TV - Hai Cess! Dua saudara. Satu rumah. Dua lantai. Tapi arah hidupnya bertolak belakang. Yang satu tenggelam dalam ibadah, yang lain larut dalam maksiat. Akhir cerita mereka justru berbalik arah di detik terakhir kehidupan.

Jangan dulu geser ke berita lain. Baca sampai tuntan Cess, karena kisah ini bukan dongeng kosong. Ada pesan dalam yang bikin mikir panjang, apalagi buat ikam yang lagi berjuang jaga niat di tengah hiruk pikuk dunia.

Bagaimana kisah dua saudara beda jalan hidup ini bermula?

Cerita ini tercatat dalam kitab Al-Majalisus Saniyah karya Ahmad bin Hijazi al-Fasyani. Dikisahkan dua saudara hidup dalam satu rumah dua lantai. Kakaknya tinggal di atas, mengisi hari dengan ibadah. Adiknya di bawah, tenggelam dalam kesenangan dunia dan maksiat.

Rutinitas mereka berjalan masing-masing. Kada saling mengganggu. Kakak fokus taat, adik sibuk dengan minuman dan hawa nafsu. Secara lahir, garisnya jelas. Hitam dan putih.

Namun dalam hati, keduanya sempat bertanya tentang keadaan saudaranya. Di titik itulah godaan datang. Pahamlah ikam, ujian sering hadir justru saat hati mulai lengah.

Baca Juga: Ternak Ayam Rumahan Tanpa Bau: Strategi Desain Cerdas untuk Kawasan Padat

Kenapa setan membisikkan keraguan pada ahli ibadah?

Godaan itu menyasar sang kakak yang sudah 40 tahun beribadah. Setan membisikkan logika yang terdengar masuk akal. Usia 40 dianggap setengah perjalanan hidup. Masih ada waktu panjang untuk menikmati dunia, lalu bertobat nanti.

Bisikan itu sederhana tapi berbahaya. Hidup dianggap masih panjang. Ibadah bisa ditunda. Maksiat dicoba dulu pang, nanti kembali lagi. Nah, pola pikir begini sering muncul tanpa terasa.

Sang kakak pun tergoda. Ia berniat turun ke lantai bawah, ingin mencoba apa yang selama ini ia hindari. Di detik itu, arah hatinya berubah. Dan perubahan niat itulah yang jadi kunci cerita ini.

Ilustrasi bisikan godaan sebagai simbol ujian bagi ahli ibadah.
Ilustrasi bisikan godaan sebagai simbol ujian bagi ahli ibadah.

Apa yang terjadi pada sang adik yang selama ini tenggelam maksiat?

Di sisi lain, justru si adik mengalami momen balik arah. Dalam keadaan mabuk, ia tersentak. Ia merasa hidupnya terlalu jauh dari kebaikan. Ia menyesal. Ia ingin berubah.

Ia memutuskan untuk naik ke lantai atas, mencari kakaknya untuk dibimbing bertobat. Dalam hatinya ada tekad mengisi sisa umur dengan ibadah. Keputusan itu datang tiba-tiba, tapi tulus.

Ini penting. Tobat kada harus menunggu sempurna. Kada perlu tunggu suasana ideal. Begitu hati ingin kembali, saat itu juga langkah dimulai. Nah, itu sudah.

Bagaimana insiden tangga mengubah takdir keduanya?

Keduanya bergerak di waktu yang sama. Kakak turun dengan niat mencoba maksiat. Adik naik dengan niat bertobat. Mereka bertemu di tangga. Sang kakak terpeleset dan jatuh menimpa adiknya.

Benturan itu merenggut nyawa keduanya di tempat. Ironis. Tragis. Tapi penuh pelajaran.

Karena niat terakhir sang kakak adalah bermaksiat, ia tercatat dalam keadaan su’ul khatimah. Sementara adiknya yang berniat taat dicatat dalam husnul khatimah. Mereka dibangkitkan sesuai niat di akhir hayat. Di sini letak tegasnya pesan kisah ini.

Apa pelajaran tentang niat dan akhir hayat dari kisah ini?

Inti kisah ini jelas: penentu akhir bukan panjangnya riwayat masa lalu, melainkan arah hati di detik terakhir. Rasulullah SAW bersabda melalui hadis riwayat Muhammad,

“Sesungguhnya segala perbuatan bergantung pada niat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Niat adalah ruh tindakan. Ia penunjuk arah. Bisa membawa naik, bisa pula menjatuhkan. Karena itu ada tiga hal yang ditekankan dari kisah ini:

1. Terus istiqamah dalam kebaikan, sebab ajal kada pernah kirim pesan duluan.
2. Jangan putus asa dari rahmat Allah, pintu tobat selalu terbuka.
3. Jaga niat setiap saat, karena di sanalah akhir ditentukan.

Hidup ini bukan soal siapa paling lama ibadah atau siapa paling kelam masa lalunya. Tapi soal ke mana hati diarahkan. Pahamlah ikam.

Baca Juga: Rumah Minimalis Jadi Lebih Cantik! Cara Dekorasi Untuk Lebaran Hemat Biaya tapi Tetap Fungsional

Insight: Kisah dua saudara ini relevan di Balikpapan yang ritmenya cepat dan penuh distraksi. Banyak orang merasa aman dengan rutinitas baik, padahal niat bisa goyah kapan saja. Di sisi lain, ada yang merasa terlalu jauh dari kebaikan lalu memilih menyerah. Padahal pintu tobat kada pernah dikunci. Yang menentukan itu arah hati di momen terakhir. Jadi jangan merasa paling selamat, jangan jua merasa paling hina. Jaga niat. Itu inti pang.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang ingat pentingnya menjaga niat sebelum terlambat.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Apa sumber kisah dua saudara ini?
Kisah ini tercantum dalam kitab Al-Majalisus Saniyah karya Ahmad bin Hijazi al-Fasyani halaman 6.

Kenapa niat di akhir hayat sangat menentukan?
Karena dalam hadis dijelaskan bahwa setiap amal bergantung pada niat, dan manusia dibangkitkan sesuai kondisi akhirnya.

Apakah orang yang banyak maksiat masih punya peluang husnul khatimah?
Ya, selama ia bertobat dan mengarahkan niatnya kembali kepada Allah sebelum ajal tiba.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#kisah dua saudara #Al Majalisus Saniyah #Ahmad bin Hijazi al Fasyani #husnul khatimah #niat akhir hayat