Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Kisah Lelaki Zalim dalam Kitab az-Zawajir: Dari Rampas Ikan Nelayan Hingga Kehilangan Tangan, Ada Pelajaran Besar yang Layak Dibaca Cess

Nazwa Deriska Noviyanti • Sabtu, 28 Februari 2026 | 04:47 WIB

Ilustrasi lelaki tanpa tangan di tengah keramaian kota, menggambarkan kisah tragis balasan kezaliman dalam kitab az-Zawajir.
Ilustrasi lelaki tanpa tangan di tengah keramaian kota, menggambarkan kisah tragis balasan kezaliman dalam kitab az-Zawajir.

Ikhtisar: Kisah dalam kitab az-Zawajir karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengungkap balasan tragis bagi seorang penindas, jadi pengingat keras agar menjauhi kezaliman sejak awal.

Balikpapan TV - Hai Cess! Sebuah kisah dari ulama besar Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengisahkan nasib tragis seorang lelaki zalim yang gemar merampas hak orang lain. Bertahun-tahun ia hidup sebagai penindas, hingga satu kejadian kecil—merampas seekor ikan dari nelayan—mengubah seluruh hidupnya. Ujungnya pahit. Tangannya terpotong satu per satu karena penyakit gangrene, sampai tak tersisa.

Jangan buru-buru geser. Baca sampai tuntas Cess, karena kisah ini bukan sekadar cerita lama di kitab klasik, tapi tamparan keras buat siapa saja yang pernah merasa kuat lalu seenaknya menekan yang lemah. Pahamlah ikam, kadang balasan datang dari arah yang kada disangka.

Kenapa kisah lelaki zalim dalam kitab az-Zawajir ini masih relevan hari ini?

Intinya jelas: kezaliman pasti ada akibatnya. Dalam kitab az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair jilid II halaman 203, cetakan Beirut: Darul Fikr tahun 1987 M/1407 H, Imam Ibnu Hajar menceritakan seorang lelaki tanpa tangan yang berteriak di tengah kota, “Siapa pun yang melihatku, janganlah sekali-kali menzalimi orang lain!”

Kalimat itu singkat. Tegas. Mengguncang.

Dulu ia dikenal sebagai penindas. Mengambil milik orang lain secara paksa sudah jadi kebiasaan. Sampai suatu hari ia melihat nelayan membawa ikan besar hasil tangkapan. Ia memerintah, “Berikan ikan itu padaku!” Nelayan menolak karena ikan itu untuk keluarganya. Apa yang terjadi? Ia memukul nelayan itu dan merampas ikannya.

Terlihat sepele? Nah, itu sudah. Dari situlah musibah dimulai.

Baca Juga: Perkuat Komitmen Sosial, PLN UIP KLT Salurkan Santunan Ramadan di Samarinda

Bagaimana satu gigitan ikan berubah jadi awal bencana panjang?

Peristiwa itu terjadi sesaat setelah ia membawa pulang ikan rampasan. Tiba-tiba ikan tersebut menggigit jempolnya dengan kuat. Rasa sakitnya luar biasa. Jempolnya terluka parah. Malamnya ia demam dan tangannya membengkak.

Ia pun mendatangi dokter. Dokter berkata:

“Ini adalah awal dari gangrene, yaitu kondisi matinya jaringan tubuh akibat tidak mendapat pasokan darah yang cukup. Kau harus memotong jempolmu. Jika tidak, maka seluruh tanganmu akan mati kemudian membusuk.”

Pilihan berat. Tapi ia memotong jempolnya.

Namun rasa sakit itu menjalar. Telapak tangan. Pergelangan. Lengan bawah. Dokter terus memberi peringatan: potong atau mati. Sampai akhirnya seluruh tangan dari bahu terpaksa diamputasi.

Satu ikan. Satu kezaliman. Berujung kehilangan satu tangan penuh.

Pahamlah ikam, dosa kecil yang diremehkan kadang jadi pintu musibah panjang.

Apa nasihat orang bijak yang mengubah arah hidupnya?

Di tengah penderitaan, seorang bijak datang dan berkata:

لَوْ كُنْت رَجَعْت مِنْ أَوَّلِ مَا أَصَابَك الْأَلَمُ إلَى صَاحِبِ السَّمَكَةِ فَاسْتَحْلَلْت مِنْهُ وَاسْتَرْضَيْته وَلَا قَطَعْت يَدَك، فَاذْهَبْ الْآنَ إلَيْهِ وَاطْلُبْ رِضَاهُ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ الْأَلَمُ إلَى بَدَنِك

Artinya, “Seandainya sejak pertama kali rasa sakit itu menimpamu engkau segera kembali kepada pemilik ikan itu, lalu meminta kehalalan darinya dan memohon keridaannya, niscaya engkau tidak perlu memotong tanganmu. Maka sekarang pergilah kepadanya dan mintalah keridaannya, sebelum rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhmu.”

Pesannya dalam. Kalau dari awal ia meminta maaf dan mengembalikan hak, mungkin tangannya masih utuh.

Kadang kita keras kepala. Sudah salah, masih gengsi minta maaf. Nah, itu sudah, rasa sakitnya bisa merambat ke mana-mana.

Bagaimana reaksi nelayan saat bertemu kembali dengan si penindas?

Dengan penuh penyesalan, lelaki tanpa tangan itu mencari sang nelayan. Saat bertemu, ia sujud dan menangis. “Demi Allah, maafkan aku!”

Nelayan terkejut. “Siapa kau?”

“Aku orang yang merampas ikanmu dulu,” jawabnya sambil menunjukkan tangannya yang hilang.

Nelayan itu menangis dan berkata, “Aku sudah memaafkanmu.”

Lelaki itu bertanya lagi, “Apakah kau pernah mendoakan keburukan untukku?”

Nelayan mengangguk dan membacakan doanya:

اللَّهُمَّ هَذَا تَقَوَّى عَلَيَّ بِقُوَّتِهِ عَلَى ضَعْفِي وَأَخَذَ مِنِّي مَا رَزَقْتَنِي ظُلْمًا فَأَرِنِي فِيهِ قُدْرَتَك

Artinya, “Ya Allah, orang ini menindasku dengan kekuatannya atas kelemahanku, dan ia mengambil dariku rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku dengan cara yang zalim. Maka perlihatkanlah kekuasaan-Mu atas dirinya.”

Jawaban itu membuat lelaki itu menangis semakin keras. Ia berkata, “Allah telah menjawab doamu, dan sekarang aku bertobat. Aku tak akan lagi berbuat zalim untuk menindas dan mengambil hak orang lain.”

pertemuan haru antara nelayan dan lelaki tanpa tangan yang meminta maaf.
pertemuan haru antara nelayan dan lelaki tanpa tangan yang meminta maaf.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari kisah kezaliman dan balasannya ini?

Pesan moralnya tegas: setiap kezaliman ada balasan. Bisa di dunia, bisa di akhirat.

Kisah ini jadi cermin. Terutama bagi yang merasa kuat, punya kuasa, atau posisi. Jangan sampai kekuatan berubah jadi alat menekan yang lemah.

Ada beberapa pelajaran penting:

  1. Jangan menunda minta maaf saat sudah berbuat salah.

  2. Hak orang lain itu berat konsekuensinya.

  3. Doa orang terzalimi bukan hal sepele.

  4. Kesombongan bisa runtuh dalam satu peristiwa.

Nah, hidup ini kada selalu tentang siapa paling kuat. Tapi siapa paling adil dalam bersikap.

Poin Penting dari Kisah Ini

  1. Seorang penindas kehilangan seluruh tangannya akibat gangrene setelah merampas ikan nelayan.

  2. Penyakit itu bermula dari gigitan ikan hasil rampasan.

  3. Seorang bijak menasihatinya agar meminta maaf dan mencari keridaan korban.

  4. Nelayan telah memaafkan, namun sebelumnya ia berdoa agar Allah menunjukkan kuasa-Nya.

  5. Kisah ini diabadikan dalam kitab az-Zawajir karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Insight: Kisah ini menunjukkan balasan kadang hadir bertahap, bukan sekaligus. Rasa sakitnya merambat sedikit demi sedikit, persis seperti kesalahan yang dibiarkan tanpa perbaikan. Dalam konteks kehidupan sosial, ini jadi alarm keras. Ketika hak orang lain diambil, dampaknya bisa panjang dan sistemik. Di Balikpapan, hidup bertetangga rapat. Sekali rusak kepercayaan, susah bangunnya. Jadi sebelum masalah membesar, selesaikan dari awal pang. Itu kuncinya.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham arti menjaga hak sesama. Siapa tahu jadi pengingat sebelum terlambat.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

1. Siapa yang meriwayatkan kisah lelaki zalim ini?
Kisah ini dituturkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabair.

2. Penyakit apa yang menyebabkan tangan lelaki itu terpotong?
Dokter menjelaskan ia terkena gangrene, yaitu matinya jaringan tubuh akibat kurangnya pasokan darah.

3. Apa inti pelajaran dari kisah ini?
Setiap kezaliman akan mendapatkan balasan dan penting untuk segera meminta maaf serta mengembalikan hak orang lain.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#gangrene #az Zawajir an Iqtirafil Kabair #doa nelayan terzalimi #kisah lelaki zalim #Imam Ibnu Hajar al Haitami