Ikhtisar: Video guru melecehkan remaja tuna wicara viral di media sosial. Islam menegaskan larangan menghina sesama, menempatkan guru sebagai teladan berakhlak dan penjaga martabat setiap manusia.
Balikpapan TV - Hai Cess! Media sosial lagi ramai. Video dari akun Instagram @illiandeta memperlihatkan seorang guru melontarkan ucapan merendahkan kepada remaja penyandang disabilitas tuna wicara. Gesturnya mengarah pada pelecehan verbal. Warganet langsung bereaksi keras, terutama para orang tua dengan anak kondisi serupa.
Jangan berhenti di sini. Simak sampai habis Cess, karena persoalan ini kada cuma soal viral atau tidak, tapi soal nilai dasar dalam pendidikan dan bagaimana Islam memandang martabat manusia, pahamlah ikam.
Kenapa video guru melecehkan siswa tuna wicara ini memicu kemarahan luas?
Respons publik muncul karena posisi guru itu krusial. Ia bukan sekadar pengajar materi, tapi figur teladan. Dalam video tersebut, ucapan bernada merendahkan dan mimik yang mengarah pada pelecehan verbal menimbulkan luka batin, terutama bagi keluarga penyandang disabilitas.
Salah satu respons paling menyentuh datang dari seorang ibu yang memiliki anak tuna wicara bernama Aziza. Ia mengungkapkan kekecewaannya dan merasa sangat emosi melihat guru yang seharusnya menjadi panutan justru melecehkan murid dengan keterbatasan.
Di dunia pendidikan, ucapan itu bukan angin lalu. Ia bisa membekas lama. Pertanyaannya sederhana, kalau ruang belajar saja kada aman, lalu anak-anak mau tumbuh di mana sih?
Baca Juga: Rumah Sering Didatangi Kecoa? Coba 6 Aroma Ini, Solusi Praktis Tanpa Semprot Kimia
Bagaimana Islam memandang penciptaan manusia tanpa memandang fisik dan kemampuan?
Islam menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan dalam bentuk terbaik. Allah swt berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْأِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya, “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin, [95]: 4).
Ayat lain menjelaskan proses penciptaan manusia secara bertahap hingga menjadi makhluk sempurna:
خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
(QS. Al-Mu’minun, [23]: 14).
Lalu dalam QS. Al-Infithar ayat 6-8 ditegaskan bahwa manusia diciptakan, disempurnakan, dan disusun dalam bentuk yang seimbang.
Artinya apa? Perbedaan fisik atau kemampuan kada pernah jadi alasan untuk merendahkan. Semua adalah ciptaan Allah yang dimuliakan.
Apa larangan menghina sesama dalam ajaran Islam?
Menghina sesama, apalagi penyandang disabilitas, jelas bertentangan dengan nilai Islam. Bahkan sebagian ulama mengkategorikannya sebagai dosa besar.
Syekh Abdurrauf al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir mengutip pendapat Ba‘ḍul ‘Arifin:
لَا تَحْقِرْ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللهِ فَإِنَّهُ تَعَالَى مَا احْتَقَرَهُ حِينَ خَلَقَهُ، فَلَا يَكُوْنُ اللهُ يُظْهِرُ الْعِنَايَةَ بِإِيْجَادِ مَنْ أَوْجَدَهُ مِنْ عَدَمٍ وَتَأْتِيْ أَنْتَ تَحْتَقِرُهُ فَإِنَّ ذَلِكَ احْتِقَارٌ بِمَنْ أَوْجَدَهُ وَهُوَ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ
Artinya, “Janganlah engkau meremehkan seorang pun dari makhluk Allah, karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak meremehkannya ketika Dia menciptakannya... dan itu termasuk dosa-dosa besar.”
Lebih jauh, Rasulullah bersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ذِي طمْرَيْنِ تَنْبُو عَنْهُ أَعْيُنُ النَّاسِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ
Artinya, “Bisa jadi ada orang yang rambutnya kusut, berdebu, dan berpakaian lusuh, yang dipandang rendah oleh mata manusia, tetapi jika dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR. Al-Hakim).
Jelas. Ukuran kemuliaan bukan fisik, tapi ketakwaan.
Seperti apa seharusnya sikap guru dalam pandangan Islam?
Guru dalam Islam adalah pembimbing dan teladan akhlak. Ia membentuk cara pandang murid. Satu kalimat bisa mengangkat, satu ucapan bisa meruntuhkan.
Lingkungan pendidikan seharusnya aman dan inklusif. Anak dengan disabilitas pun berhak tumbuh tanpa diskriminasi. Guru yang baik akan menumbuhkan rasa percaya diri, bukan mematahkan semangat.
Beberapa prinsip penting bagi pendidik:
1. Menjaga lisan dan gestur di depan murid.
2. Memperlakukan setiap siswa dengan hormat tanpa membedakan kondisi fisik.
3. Menjadi teladan empati dan kasih sayang.
4. Membangun ruang belajar yang ramah dan mendukung.
Nah, tugas guru itu memanusiakan manusia. Kada cuma transfer ilmu, tapi transfer nilai.
Apa dampak penghinaan terhadap anak penyandang disabilitas?
Perilaku merendahkan bukan sekadar salah etika. Ia bisa melukai mental dan meruntuhkan rasa percaya diri korban. Apalagi dilakukan oleh figur otoritas seperti guru.
Dalam jangka panjang, hal seperti ini dapat membentuk cara pandang negatif pada diri anak. Padahal pendidikan harusnya menjadi ruang tumbuh. Tempat anak merasa diterima.
Islam menempatkan martabat manusia di posisi tinggi. Menghina manusia berarti merendahkan ciptaan Allah. Nah, itu sudah, bahayanya bukan cuma sosial, tapi juga spiritual.
Poin Penting dari Peristiwa Ini
-
Video guru melecehkan siswa tuna wicara memicu kemarahan publik.
-
Islam menegaskan manusia diciptakan dalam bentuk terbaik.
-
Menghina sesama termasuk perbuatan tercela dan dinilai dosa besar oleh sebagian ulama.
-
Guru memiliki tanggung jawab moral sebagai teladan.
-
Pendidikan harus inklusif dan menghormati martabat setiap individu.
Insight: Peristiwa ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan cuma soal kurikulum. Ini soal akhlak. Di Balikpapan, hidup berdampingan itu biasa, beda latar belakang juga biasa. Kalau empati hilang, ruang belajar jadi kaku. Nilai Islam sudah jelas, manusia dimuliakan sejak diciptakan. Jadi siapa pun yang berdiri di depan kelas wajib menjaga lisan. Guru dihormati karena akhlaknya, bukan sekadar ilmunya. Pahamlah ikam.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin luas yang paham pentingnya menjaga martabat sesama di dunia pendidikan, nah tolong nah.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
1. Apa isi video yang viral di Instagram tersebut?
Video memperlihatkan seorang guru melontarkan ucapan merendahkan dan gestur yang mengarah pada pelecehan verbal terhadap remaja tuna wicara.
2. Apa pandangan Islam tentang menghina sesama manusia?
Islam melarang keras penghinaan. Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai dosa besar karena merendahkan ciptaan Allah.
3. Bagaimana seharusnya sikap guru terhadap siswa penyandang disabilitas?
Guru harus menjadi teladan, penuh empati, menjaga lisan, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta inklusif.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.