Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Ketika Musibah Datang dan Hati Terasa Berat, Begini Teladan Nabi Muhammad dan Nabi Ya‘qub Menghadapi Kesedihan Tanpa Putus Harapan

Nazwa Deriska Noviyanti • Jumat, 27 Februari 2026 | 17:25 WIB

Ilustrasi seseorang merenung saat musibah, menggambarkan kesedihan manusiawi dalam perspektif Islam.
Ilustrasi seseorang merenung saat musibah, menggambarkan kesedihan manusiawi dalam perspektif Islam.

Ikhtisar: Kesedihan saat musibah itu manusiawi. Islam mengajarkan adab menghadapinya melalui teladan Nabi Muhammad, Nabi Ya‘qub, serta penjelasan ulama agar duka tak berubah jadi putus asa.

Balikpapan TV - Hai Cess! Kesedihan saat musibah itu wajar. Entah kehilangan orang tercinta, harta benda, atau harapan yang lama dirangkai. Bahkan para nabi pun merasakannya. Tapi Islam kada membiarkan duka berlarut tanpa arah.

Baca terus sampai habis-selesai-tuntas Cess, karena dari kisah para nabi dan penjelasan ulama, ada panduan jelas bagaimana menghadapi musibah tanpa kehilangan harapan dan akal sehat.

Ketika musibah datang, perasaan sedih adalah bagian dari kemanusiaan. Nabi Muhammad saw pernah mengalami duka mendalam saat istri beliau, Siti Khadijah, dan paman beliau, Abu Thalib, wafat pada tahun yang sama. Tahun itu dikenal sebagai Amul Huzni.

Duka juga dialami Nabi Ya‘qub ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf. Kisah itu diabadikan dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 84–85. Air mata beliau sampai membuat penglihatan memutih karena sedih. Berat. Tapi ada pelajaran besar di sana.

Mengapa Kesedihan Itu Manusiawi dalam Islam?

Kesedihan adalah fitrah. Islam kada pernah melarang seseorang merasa sedih saat tertimpa musibah. Dalam surah Yusuf ayat 84–85, Nabi Ya‘qub berpaling sambil berkata, “Alangkah kasihan Yusuf,” hingga kedua matanya menjadi putih karena sedih, namun beliau tetap menahan amarah dan kepedihan.

Profesor M Quraish Shihab menjelaskan dalam Ensiklopedia al-Qur’an Kajian Kosakata bahwa kata ḥuzn berasal dari ḥazina yang berarti sedih, lawan dari fariḥa yang berarti gembira. Al-ḥuzn adalah kekeruhan jiwa akibat sesuatu yang menyakitinya.

Artinya jelas. Sedih itu bagian dari jiwa manusia. Pang, kalau kehilangan orang tersayang lalu hati terasa kosong, itu wajar. Pahamlah ikam.

Baca Juga: Rumah Sering Didatangi Kecoa? Coba 6 Aroma Ini, Solusi Praktis Tanpa Semprot Kimia

Bagaimana Nabi Ya‘qub Mengelola Dukanya Tanpa Putus Asa?

Intinya sederhana: menerima sedih, tapi kada tenggelam dalam putus asa. Dalam surah Yusuf ayat 86, Nabi Ya‘qub berkata, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”

Beliau mengadu kepada Allah, bukan menyerah pada keadaan. Di situlah bedanya antara sedih dan putus harapan.

Ketika musibah datang, Islam menganjurkan membaca istirja’, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menjelaskan kalimat ini dianjurkan diucapkan bahkan pada musibah yang terlihat kecil, seperti putusnya tali sandal.

Kecil atau besar, tetap kembali kepada Allah. Nah, itu sudah arah sikapnya.

Mengapa Mengingat Allah Bisa Menumbuhkan Harapan?

Harapan lahir saat hati kembali pada Allah. Dalam surah Yusuf ayat 87, Nabi Ya‘qub menegaskan, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Pesan ini tajam. Tegas.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim menjelaskan bahwa orang beriman kada memutus harapan dari Allah dalam apa pun yang mereka cita-citakan. Putus asa hanya milik kaum yang menutup diri dari rahmat-Nya.

Selain itu, Islam juga melarang menampakkan kegembiraan atas musibah orang lain. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi disebutkan, “Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah yang menimpa saudaramu, karena Allah mungkin akan mengasihinya dan menimpakan ujian kepadamu.”

Artinya, empati itu wajib. Di Balikpapan pang, kalau ada tetangga kena musibah, bubuhan sekitar biasanya datang bantu. Itu nilai sosial yang selaras dengan ajaran.

Ilustrasi keluarga saling menguatkan saat musibah sebagai bentuk menjaga harapan.
Ilustrasi keluarga saling menguatkan saat musibah sebagai bentuk menjaga harapan.

Apa Batasannya Agar Musibah Kada Menghilangkan Akal Sehat?

Musibah memang bisa mengguncang. Apalagi jika kehilangan harta benda. Tapi Islam tegas menjaga akhlak tetap lurus.

Rasulullah saw bersabda dalam hadis riwayat Ad-Daraquthni, “Tidak halal mengambil harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.”

Artinya, kondisi sulit kada membenarkan mengambil barang yang bukan hak. Bahkan dalam situasi bencana sekalipun.

Di sisi lain, sumber juga menegaskan pentingnya respons dan kebijakan tepat dari pemerintah saat musibah besar terjadi, agar bantuan tersalurkan dan kada memicu tindakan merugikan. Kebijakan yang baik membantu rakyat tetap tenang dan terjaga.

Apa Teladan Praktis yang Bisa Diamalkan Saat Musibah Datang?

Ada beberapa sikap yang bisa langsung diamalkan:

1. Terima rasa sedih sebagai bagian dari kemanusiaan.
2. Ucapkan istirja’ saat musibah terjadi, sekecil apa pun.
3. Adukan keluh kesah hanya kepada Allah, bukan menyalahkan keadaan.
4. Jaga harapan dan hindari putus asa.
5. Pelihara akhlak, jangan mengambil hak orang lain.

Musibah adalah ujian kesabaran dan keimanan. Siapa yang melewatinya dengan tawakal dan usaha, akan menemukan makna di baliknya.

Poin Penting yang Perlu Diingat

 

1. Kesedihan itu manusiawi dan dialami para nabi.

 

2. Putus asa bukan ajaran Islam.

 

3. Istirja’ dianjurkan dalam setiap musibah.

 

4. Harapan kepada Allah harus terus dijaga.

 

Akhlak dan akal sehat wajib dipertahankan dalam kondisi apa pun.

Insight: Kesedihan sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal dalam Islam, duka adalah ruang refleksi. Yang berbahaya bukan sedihnya, tapi ketika harapan ikut hilang. Di Balikpapan, solidaritas sosial masih kuat. Itu modal besar. Musibah bisa datang kapan saja, pang. Tapi kalau iman, empati, dan akhlak dijaga, badai sehebat apa pun bisa dilewati. Pahamlah ikam, ujian itu menilai cara berdiri kembali, bukan seberapa keras jatuhnya.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham adab menghadapi musibah sesuai tuntunan Islam.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

Apakah merasa sedih saat musibah bertentangan dengan ajaran Islam?
Tidak. Kesedihan adalah fitrah manusia dan juga dialami para nabi.

Apa yang dianjurkan saat pertama kali tertimpa musibah?
Mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” dan mengadukan kesedihan kepada Allah.

Mengapa putus asa dilarang dalam Islam?
Karena putus asa berarti memutus harapan dari rahmat Allah, sedangkan orang beriman diperintahkan menjaga harapan.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#M Quraish Shihab #Nabi Yaqub #Nabi Yusuf #Ibnu Katsir #Nabi Muhammad