Ikhtisar: Program Cahaya Qolbu spesial Ramadan mengulas tingkatan puasa menurut Imam Al-Ghazali. Ustaz Abdul Rosyid Bustomi menjelaskan perbedaan puasa awam, khusus, dan istimewa serta cara menjaga kualitas pahala di kehidupan sehari-hari.
Balikpapan TV - Hai Cess! Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Dalam program Cahaya Qolbu spesial Ramadan yang tayang live dari studio Balikpapan TV, Senin (23 Februari 2026), Ustaz Abdul Rosyid Bustomi, S.Pd., M.Pd., Ketua Baznas Balikpapan, mengulas tiga tingkatan puasa menurut Imam Al-Ghazali yang tidak dipahami banyak orang.
Penasaran di level mana puasa yang ikam jalanin sekarang? Simak terus sampai tuntas Cess, supaya Ramadan kali ini kada sekadar lewat tanpa makna!
Baca Juga: Makna Al-Qur'an Sebagai Ruh yang Menghidupkan Bangsa dan Cara Tadabbur yang Tepat bagi Pemula
Apa Bedanya Puasa Awam, Khusus, dan Istimewa Itu Sebenarnya?
Puasa memiliki tingkatan. Bukan cuma soal kuat menahan makan dan minum dari subuh sampai magrib.
Menurut penjelasan Ustaz Abdul, puasa orang awam fokus pada aspek fisik saja. “Fokus utama pada tingkatan ini hanyalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari,” ujarnya.
Nah, di tingkatan ini sering terjadi fenomena “puasa balas dendam” saat berbuka. Akibatnya, puasa hanya menghasilkan lapar dan haus tanpa nilai spiritual mendalam jika kada dibarengi pengendalian diri lainnya.
Berbeda dengan puasa khusus. Pada level ini, seseorang juga menjaga anggota tubuh. Mata, telinga, lisan, hingga tangan digunakan untuk hal baik seperti membaca Al-Qur’an atau berselawat.
Sedangkan puasa istimewa adalah tingkatan tertinggi. Bukan cuma tubuh yang dijaga, tapi juga pikiran dan hati agar tetap fokus kepada Allah. Bahkan memikirkan menu berbuka pun dianggap sebagai gangguan spiritual.
Ustaz Abdul mengibaratkan tingkatan ini seperti membeli nasi goreng: ada yang biasa, spesial, dan istimewa, di mana masing-masing memiliki "bayaran" atau ganjaran yang berbeda di sisi Allah SWT.
Kenapa Puasa Bisa Kehilangan Pahala Meski Secara Fisik Sah?
Menahan lapar belum tentu menjaga pahala. Rasulullah SAW menyebutkan ada lima hal yang bisa menghapus pahala puasa meski secara hukum tetap sah.
5 Hal yang perlu dihindari:
1. Ghibah.
2. Mengadu domba.
3. Berbohong.
4. Sumpah palsu.
5. Memandang dengan syahwat.
Ustaz Abdul menegaskan bahwa kebiasaan sehari-hari seperti komentar pedas di media sosial juga termasuk perbuatan yang merusak nilai puasa.
Di era digital, notifikasi HP bisa jadi ujian tersendiri. Karena itu, disarankan mengganti waktu scroll dengan membaca Al-Qur’an agar hati tetap terjaga.
Nah, puasa bukan hanya menahan lapar pang. Tapi juga latihan pengendalian diri, pahamlah ikam.
Mengapa Puasa Disebut Ibadah Rahasia?
Puasa memiliki posisi unik dibanding ibadah lain. Salat bisa dilihat orang. Haji juga tampak jelas. Tapi puasa? Hanya Allah yang benar-benar tahu seseorang menjalankannya atau kada. Seseorang bisa saja makan diam-diam. Tapi memilih menahan diri karena merasa diawasi Allah. Di sinilah letak keikhlasan diuji.
Sifat rahasia ini membuat Allah SWT memberikan kedudukan khusus bagi puasa dengan menyatakan: "Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."
Disebutkan juga bahwa orang yang menjaga ibadah rahasia ini mendapat perlakuan istimewa di akhirat. Jadi, puasa bukan sekadar rutinitas tahunan. Tapi proses pembentukan jiwa, Cess!
Baca Juga: 8 Amalan Sunah Ramadan yang Dianjurkan Serta Panduan Fidyah dan Qadha yang Benar
Benarkah Memikirkan Menu Berbuka Bisa Menurunkan Kualitas Puasa?
Di tingkatan tinggi, iya. Memikirkan makanan sejak sore hari dianggap mengganggu fokus hati. Bagi mereka yang mengejar level istimewa, hal ini menunjukkan pikiran belum sepenuhnya terarah kepada Allah.
Keinginan menyusun menu berbuka sering berasal dari hawa nafsu yang dipicu rasa lapar. Padahal, menurut penjelasan Ustaz Abdul, rasa lapar sebenarnya cukup diatasi dengan beberapa teguk air dan kurma.
Fokus berlebihan pada makanan juga berisiko menjebak kembali ke level puasa awam.
Yakni memindahkan waktu makan dari siang ke malam. Nah, itu sudah… Ramadan jadi sekadar rutinitas.
Bagaimana Cara Ibu Rumah Tangga Bisa Meningkatkan Kualitas Puasa?
Peran di rumah justru membuka peluang besar meningkatkan nilai puasa. Ustaz Abdul menjelaskan bahwa aktivitas rumah tangga bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar. Langkah praktis yang bisa ikam dilakukan:
1. Niatkan pekerjaan rumah sebagai ibadah.
Aktivitas harian seperti mencuci dan memasak bukan sekadar tugas, tetapi bentuk pengabdian. Menurut Ustaz Abdul, menjalankan kewajiban rumah tangga adalah ibadah yang berpahala.
2. Mencari rida suami.
Melayani dengan sepenuh hati hingga mendapat rida suami di bulan Ramadan bernilai istimewa, pahalanya disetarakan dengan Siti Maryam dan Asiah. Ustaz Abdul menyampaikan bahwa mendapatkan rida suami di bulan Ramadan memiliki keutamaan besar.
3. Melatih kesabaran dalam dinamika keluarga.
Puasa adalah madrasah kesabaran, kualitasnya meningkat saat ibu mampu menahan emosi dan amarah di tengah dinamika keluarga serta lelahnya aktivitas rumah tangga.
4. Menghindari ghibah saat berinteraksi sosial.
Ghibah menjadi godaan besar yang bisa merusak pahala puasa, karena itu ibu rumah tangga perlu menjaga lisan, terutama saat berbincang dengan tetangga atau saat berbelanja.
5. Menyisihkan waktu membaca Al-Qur’an.
Di tengah kesibukan, luangkan waktu membaca Al-Qur’an dan utamakan mushaf fisik agar terhindar dari gangguan notifikasi maupun godaan berkomentar di dunia maya.
6. Mengendalikan nafsu saat menyiapkan berbuka.
Meski sibuk menyiapkan hidangan, hindari berlebihan saat berbuka; makan secukupnya menjaga fokus spiritual, sementara keikhlasan dalam peran rumah tangga serta menjaga lisan dan hati membantu ibu meraih puasa yang lebih berkualitas.
Dengan menjaga lisan, hati, dan niat, ibu rumah tangga berpeluang naik ke tingkatan puasa khusus bahkan istimewa. Kadapapa pang sibuk, asal niatnya lurus.
Bagi pemirsa Balikpapan TV yang ingin menyaksikan program Cahaya Qolbu secara langsung, dapat menontonnya melalui kanal resmi YouTube: Balikpapantv_Official yang tayang setiap hari selama bulan Ramadan, pukul 17.00–18.00 WITA.
Insight: Puasa bukan kompetisi kuat menahan lapar. Justru tantangannya ada pada menjaga sikap sehari-hari. Banyak orang fokus pada menu berbuka, tapi lupa menjaga lisan. Di Balikpapan yang ritmenya cepat, latihan sabar di jalan atau di rumah bisa jadi ukuran kualitas puasa. Nah, mulai dari hal kecil pang. Kurangi komentar tajam di media sosial, perbanyak zikir di sela aktivitas. Ramadan jadi terasa beda, pahamlah ikam.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham makna puasa sebenarnya, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
1. Apa tanda puasa masih di level awam?
Jika fokus hanya pada menahan lapar dan haus tanpa menjaga lisan atau perilaku sehari-hari.
2. Apakah marah membatalkan puasa?
Secara hukum kada. Namun bisa mengurangi nilai pahala puasa.
3. Apakah pekerjaan rumah bisa bernilai ibadah saat puasa?
Bisa, jika diniatkan sebagai bentuk pengabdian dan dilakukan dengan sabar.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.