Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Dari Nuthfah hingga Lahir, Ini Tiga Hikmah Penciptaan Manusia Menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi

Nazwa Deriska Noviyanti • Senin, 23 Februari 2026 | 14:07 WIB

Ilustrasi proses penciptaan manusia bertahap dari nuthfah hingga bayi sebagai simbol hikmah Ilahi.
Ilustrasi proses penciptaan manusia bertahap dari nuthfah hingga bayi sebagai simbol hikmah Ilahi.

Ikhtisar: Penciptaan manusia bertahap berbeda dari Nabi Adam menyimpan tiga hikmah: kasih sayang pada wanita, bukti kekuasaan dan nikmat Allah, serta dalil adanya hari kebangkitan menurut Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Balikpapan TV - Hai Cess! Allah menciptakan Nabi Adam secara langsung tanpa proses biologis. Sementara manusia setelahnya tumbuh bertahap dalam rahim. Perbedaan ini bukan tanpa makna.

Jangan berhenti di sini. Lanjut baca sampai tuntan Cess!, karena di balik proses nuthfah hingga lahir itu, ada pelajaran besar yang dijelaskan ulama, bukan sekadar cerita penciptaan biasa.

Dalam kitab Qutul Mughtadzi ‘ala Jami‘it Tirmidzi, Imam Jalaluddin As-Suyuthi mengurai tiga hikmah dari proses penciptaan manusia yang bertahap. Penjelasan ini merujuk pada cetakan KSA, Universitas Ummul Qura tahun 1424 H, juz I halaman 500.

Mengapa Penciptaan Nabi Adam Berbeda dengan Manusia Setelahnya?

Perbedaan itu nyata. Nabi Adam diciptakan seketika tanpa fase kandungan, sedangkan manusia setelahnya melalui proses panjang dalam rahim.

Padahal, Allah Maha Kuasa menciptakan apa saja dalam sekejap. Jika Dia mampu menciptakan Nabi Adam secara langsung, tentu menciptakan manusia tanpa proses pun bisa. Namun Allah memilih mekanisme bertahap. Nah, di situlah letak hikmahnya.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa proses ini bukan karena keterbatasan kekuasaan Allah, tetapi mengandung pelajaran mendalam bagi manusia. Pahamlah ikam, setiap tahap ada pesan.

Baca Juga: Sering Cedera Saat Olahraga? Coba Cek Cara Pemanasan Ikam, Bisa Jadi Ini Penyebabnya

Bagaimana Proses Bertahap Ini Menjadi Bukti Kasih Sayang pada Kaum Wanita?

Hikmah pertama adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kaum wanita. Proses penciptaan yang bertahap meringankan beban fisik seorang ibu.

Bayangkan jika manusia tercipta sekaligus besar dalam rahim, tentu itu sangat memberatkan. Allah Maha Mengetahui kelemahan fisik makhluk-Nya. Karena itu, penciptaan dimulai dari nuthfah, lalu menjadi ‘alaqah, kemudian mudghah, hingga berkembang menjadi bayi siap lahir.

Setiap tahap memiliki waktu tertentu. Tubuh ibu diberi ruang beradaptasi secara alami sampai waktu melahirkan. Itu bentuk rahmat. Kada instan, tapi penuh perhatian Ilahi.

Ilustrasi tahapan nuthfah, ‘alaqah, dan mudghah dalam kandungan.
Ilustrasi tahapan nuthfah, ‘alaqah, dan mudghah dalam kandungan.

Mengapa Proses Nuthfah hingga Bayi Disebut Bukti Kekuasaan dan Nikmat Allah?

Hikmah kedua adalah bukti kekuasaan dan nikmat Allah. Manusia berasal dari air mani yang hina, lalu dimuliakan menjadi makhluk sempurna.

Dari nuthfah menjadi ‘alaqah, berubah lagi menjadi mudghah, kemudian tumbuh anggota tubuh hingga memiliki akal dan ilmu. Transformasi ini menunjukkan kuasa Allah yang luar biasa.

Melalui proses itu, manusia diajak mengenal asal-usulnya. Dari sesuatu yang lemah menjadi makhluk terhormat. Mestinya tumbuh rasa syukur. Nah, itu sudah pelajaran besar pang, asal-usul rendah tapi dimuliakan.

Apa Hubungan Penciptaan Bertahap dengan Hari Kebangkitan?

Hikmah ketiga adalah bukti adanya hari kebangkitan. Allah yang mampu menciptakan manusia dari air hina menjadi sempurna tentu mampu menghidupkan kembali setelah kematian.

Proses penciptaan bertahap menjadi dalil rasional tentang kuasa Allah. Jika dari nuthfah saja bisa menjadi manusia utuh, maka membangkitkan kembali bukan perkara sulit bagi-Nya.

Janji tentang Hari Kebangkitan bukan hal mustahil. Proses biologis yang teratur itu justru menguatkan keyakinan bahwa kehidupan setelah mati adalah bagian dari rencana Ilahi.

Apa Pelajaran Besar yang Bisa Dipetik dari Tiga Hikmah Ini?

Tiga hikmah ini saling terhubung. Kasih sayang, kekuasaan, dan kebangkitan menjadi satu kesatuan makna.

Pertama, proses bertahap menunjukkan perhatian Allah pada fisik wanita. Kedua, manusia diingatkan tentang asal-usulnya agar kada sombong. Ketiga, proses itu menjadi argumen tentang kebangkitan.

Tiga poin pentingnya:

  1. Rahmat Allah pada kaum wanita melalui proses bertahap dalam rahim.

  2. Bukti kekuasaan Allah memuliakan manusia dari asal rendah.

  3. Dalil kuat tentang adanya Hari Kebangkitan.

Wallahu a’lam. Penjelasan ini bersumber dari Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Qutul Mughtadzi ‘ala Jami‘it Tirmidzi.

Baca Juga: Dari Santan ke Minyak Kelapa: Strategi Produksi Rumahan yang Hemat dan Higienis

Insight: Proses penciptaan manusia yang bertahap mengajarkan keseimbangan antara ilmu dan iman. Ada sisi biologis yang nyata, ada pesan teologis yang dalam. Di tengah kehidupan modern, manusia sering terpukau hasil akhir, lupa proses. Padahal dari nuthfah hingga lahir saja penuh tahapan. Artinya, pertumbuhan memang butuh waktu. Kada instan pang. Pahamlah ikam, setiap fase hidup pun begitu. Menghargai proses berarti menghargai ketetapan Allah.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami makna penciptaan manusia menurut ulama. Biar diskusi ilmu makin hidup di Balikpapan.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Mengapa Nabi Adam diciptakan berbeda dari manusia lain?
Karena Allah menciptakan Nabi Adam secara langsung tanpa proses biologis, berbeda dengan manusia setelahnya yang melalui tahapan dalam rahim.

Apa saja tahapan penciptaan manusia dalam rahim?
Dimulai dari nuthfah, menjadi ‘alaqah, kemudian mudghah, hingga berkembang menjadi bayi siap lahir.

Apa kaitannya proses ini dengan Hari Kebangkitan?
Proses bertahap menunjukkan kekuasaan Allah menciptakan manusia dari sesuatu yang hina menjadi sempurna, sehingga membangkitkan kembali manusia adalah hal yang sangat mampu dilakukan-Nya.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Jalaluddin As Suyuthi #Hari Kebangkitan #Qutul Mughtadzi #Universitas Ummul Qura #Nabi Adam