Ikhtisar: Al-Qur'an disebut sebagai ruh karena mampu menghidupkan bangsa yang terbelakang menjadi berperadaban. Penjelasan ini disampaikan langsung dalam program Cahaya Qolbu spesial Ramadan bersama narasumber dari Baznas Balikpapan.
Balikpapan TV - Hai Cess! Al-Qur’an disebut sebagai ruh karena perannya bukan sekadar bacaan, tapi kekuatan yang menghidupkan bangsa. Ustaz Anwar Arifin Pinem, ME, Wakil Ketua 3 Baznas Balikpapan menjelaskan hal ini dalam program Cahaya Qolbu spesial Ramadan yang tayang live dari studio Balikpapan TV, Minggu (22 Februari 2026).
Penasaran kenapa kitab suci ini disebut mampu “menghidupkan”? Yuk terus simak sampai tuntas Cess!
Baca Juga: Makna Mendalam di Balik 5 Huruf Ramadan dan Cara Baznas Balikpapan Ubah Zakat Jadi Harapan UMKM
Kenapa Al-Qur’an disebut ruh yang menghidupkan bangsa?
Al-Qur’an disebut sebagai ruh karena fungsinya menghidupkan, sama halnya jasad tanpa ruh hanyalah bangkai. Ustaz Anwar menjelaskan, sebelum turunnya wahyu, bangsa Arab berada dalam kondisi terbelakang serta tidak diperhitungkan oleh kekuatan besar dunia seperti Romawi dan Persia.
Bangsa Arab kala itu hidup dalam kejahiliahan (kebodohan). Peperangan antarsuku seperti Aus dan Khazraj terjadi terus, bahkan praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup menjadi bagian dari realitas sosial. Al-Qur’an hadir membawa ilmu dan akhlak sebagai “nyawa” baru.
“Al-Qur’an menjadi ruh karena menghidupkan bangsa yang sebelumnya seperti bangkai tanpa arah,” jelas Ustaz Anwar dalam kajian tersebut.
Bagaimana Al-Qur’an mengangkat peradaban dalam waktu singkat?
Turunnya Al-Qur’an menjadi titik balik besar. Dalam sekitar 23 tahun masa kenabian hingga 28 tahun bersama generasi sahabat, bangsa Arab mampu membangun peradaban emas.
Transformasi ini kada terjadi instan pang. Nilai Al-Qur’an diinternalisasi hingga benar-benar menjadi panduan hidup. Mereka tidak hanya membaca, tapi memahami dan mengamalkannya.
Ruh Al-Qur’an kemudian menggerakkan perubahan besar. Bangsa Arab yang dulu terpecah berhasil menundukkan kekaisaran besar seperti Persia dan Romawi, bahkan merebut wilayah penting seperti Palestina pada masa Umar bin Khattab. Pahamlah ikam, perubahan besar itu lahir dari nilai yang hidup, bukan sekadar slogan.
Apa saja tahapan agar Al-Qur’an benar-benar menjadi panduan hidup?
Menurut Ustaz Anwar, menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup harus melalui empat tahapan penting. Empat tahapan itu meliputi:
1. Qiraah (membaca): Memasukkan Al-Qur’an ke dalam hati dimulai dari kebiasaan membaca, meski satu ayat per hari.
2. Tadabur: Merenungkan makna ayat agar tidak berhenti di teks saja.
3. Aplikasi (mengamalkan): Menjadikannya SOP kehidupan sehari-hari.
4. Mendakwahkan: Menyebarkan nilai dengan cara bijaksana.
Nah, itu sudah, tanpa proses ini Al-Qur’an hanya jadi hiasan di rak, kada menjadi penggerak hidup.
Mengapa Al-Qur’an disebut mukjizat paling istimewa?
Keistimewaan Al-Qur’an terletak pada sifatnya sebagai Kalamullah langsung. Ia bukan ciptaan manusia, bukan pula perkataan Nabi, melainkan wahyu Allah SWT.
Berbeda dengan mukjizat nabi sebelumnya yang bersifat indrawi, Al-Qur’an merupakan mukjizat akal. Ia menuntut pemikiran dan refleksi. Itulah sebabnya banyak ayat ditujukan kepada ulul albab (orang yang berpikir).
“Al-Qur’an adalah mukjizat yang memuliakan. Siapa yang mempelajari dan mengajarkannya akan dimuliakan,” terang Ustaz Anwar.
Selain itu, Al-Qur’an mencakup seluruh aspek kehidupan. Dari akidah hingga hukum, dari akhlak hingga ilmu pengetahuan. Ia juga dikenal sebagai Nur (cahaya) dan Syifa (penyembuh) sekaligus.
Baca Juga: 8 Amalan Sunah Ramadan yang Dianjurkan Serta Panduan Fidyah dan Qadha yang BenarBagaimana cara konsisten berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari?
Konsistensi menjadi kunci utama agar Al-Qur’an tidak menjadi sesuatu yang mahjuro atau terabaikan. Ustaz Anwar menyarankan beberapa langkah:
1. Mulai dari target kecil: Satu ayat per hari sudah cukup sebagai permulaan.
2. Jangan lewatkan satu hari pun: Interaksi harian menjaga kedekatan.
3. Baca dengan terjemahan: Agar lisan dan akal berjalan seiring.
4. Belajar bersama guru: Untuk menghindari kesalahan tafsir.
5. Gunakan Ramadan sebagai latihan: Membentuk kebiasaan jangka panjang.
Jika kebiasaan ini terbentuk, akan terasa ada yang kurang saat sehari saja kada membuka Al-Qur’an.
Bagaimana cara melakukan tadabbur Al-Qur'an bagi pemula?
Berdasarkan penjelasan Ustaz Anwar, berikut adalah langkah-langkah praktis melakukan tadabbur bagi pemula:
1. Mulai dari Level Qiraah (Membaca): Langkah awalnya adalah membiasakan diri membaca Al-Qur’an setiap hari. Bagi pemula, usahakan tidak ada satu hari pun tanpa membukanya, meski hanya satu ayat beserta artinya.
2. Mempelajari Makna atau Terjemahan: Tadabbur dimulai dengan memahami bacaan melalui Al-Qur’an terjemahan, agar maknanya menjangkau akal dan menyentuh hati, terutama saat dibaca dalam salat.
3. Menyeimbangkan Lisan dan Akal: Saat membaca, jangan sekadar mengejar khatam; libatkan akal untuk memahami maknanya. Jika belum paham, baca terjemahannya sebelum lanjut ke ayat berikutnya.
4. Mengkaji Bersama Guru: Pemula tidak disarankan menafsirkan Al-Qur’an sendiri, belajarlah bersama guru atau ulama agar pemahaman tetap tepat dan terhindar dari kekeliruan.
5. Mendalami melalui Kitab Tafsir: Setelah memahami terjemahan, lanjutkan dengan membaca tafsir untuk memperdalam konteks dan maksud ayat.
6. Memanfaatkan Teknologi: Gunakan aplikasi Al-Qur’an digital dengan fitur terjemahan dan tafsir agar belajar lebih mudah di mana saja.
7. Konsistensi sebagai Latihan (Tadrib): Jadikan Ramadan sebagai momen melatih kedekatan dengan Al-Qur’an agar kebiasaan tadabbur berlanjut di bulan-bulan berikutnya.
Tujuan akhir dari tadabbur ini adalah agar Al-Qur'an menjadi SOP (Standard Operating Procedure) kehidupan dan barometer yang meluruskan segala tindakan kita.
Lebih utama mana: banyak khatam atau fokus tadabur makna?
Berdasarkan penjelasan Ustaz Anwar, jawaban atas mana yang lebih utama antara banyak khatam atau fokus tadabur makna adalah keduanya sama-sama bagus, namun terdapat tingkatan prioritas berdasarkan kedalaman interaksi kita dengan Al-Qur'an.
Berikut adalah poin-poin penting untuk memahami keseimbangan antara keduanya:
1. Tingkatan Interaksi: Membaca Al-Qur’an hingga khatam berpahala besar, namun fungsinya sebagai petunjuk hidup akan maksimal jika maknanya dipahami.
2. Keutamaan Tadabur bagi Pemahaman: Menyeimbangkan bacaan dan pemahaman sangat dianjurkan; membaca sambil memahami membuat ayat meresap ke hati dan menjadikan Al-Qur’an sebagai barometer hidup.
3. Belajar dari Para Ulama: Imam Syafi'i memang mampu khatam hingga 60 kali selama Ramadan, namun perlu diingat bahwa beliau sudah sangat memahami maknanya, sehingga bagi beliau, membaca cepat tetap dibarengi dengan pemahaman mendalam.
Imam Malik bahkan meninggalkan aktivitas mengajar selama Ramadan khusus untuk fokus mentadaburi Al-Qur'an sebagai cara untuk mengisi ulang (recharge) ruhaninya.
Jika harus memilih untuk meningkatkan kualitas iman, fokus pada tadabur makna dianggap sebagai langkah maju dari sekadar membaca. Idealnya, ikam tetap rutin membaca (target khatam) namun memberikan porsi khusus untuk merenungi maknanya agar Al-Qur'an benar-benar menjadi ruh yang mengubah kehidupan ikam.
Saran bagi Pemula: Jika ikam sudah sering mengkhatamkan Al-Qur'an, tahap berikutnya yang lebih utama adalah mulai mempelajari maknanya dan membaca tafsirnya. Tidak perlu terburu-buru mengejar kuantitas jika itu membuat kita abai terhadap pesan Allah. Lebih baik membaca sedikit demi sedikit—bahkan satu ayat sehari—namun dibarengi dengan membaca terjemahan dan merenungkan maksudnya agar menjadi pelajaran bagi hati.
Bagi pemirsa Balikpapan TV yang ingin menyaksikan program Cahaya Qolbu secara langsung, dapat menontonnya melalui kanal resmi YouTube: Balikpapantv_Official yang tayang setiap hari selama bulan Ramadan, pukul 17.00–18.00 WITA.
Insight: Al-Qur’an bukan sekadar teks ibadah, tapi energi perubahan. Saat ia hanya dibaca tanpa tadabur, dampaknya tipis. Namun ketika dijadikan SOP hidup, ia menggerakkan arah hidup individu hingga peradaban. Di tengah era cepat sekarang, pendekatan satu ayat per hari terasa lebih realistis dibanding target besar yang akhirnya ditinggalkan. Kadapapa pang mulai kecil, yang penting konsisten. Ramadan bisa jadi momentum latihan, supaya interaksi ini kada berhenti setelah bulan suci lewat.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami peran Al-Qur’an sebagai ruh perubahan!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apa maksud Al-Qur’an disebut sebagai ruh?
Karena fungsinya menghidupkan masyarakat yang sebelumnya terbelakang menjadi beradab melalui nilai ilmu dan akhlak.
2. Apakah cukup hanya membaca Al-Qur’an?
Tidak cukup. Harus melalui tahapan membaca, tadabur, mengamalkan, dan menyebarkan nilai.
3. Bagaimana memulai kebiasaan membaca?
Mulai dari satu ayat per hari dan jaga konsistensi harian.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.