Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Kajian Islami: 10 Jalan Meraih Kemuliaan Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Nazwa Deriska Noviyanti • Senin, 23 Februari 2026 | 12:02 WIB

Ilustrasi kitab klasik ulama sebagai simbol ajaran kemuliaan akhlak.
Ilustrasi kitab klasik ulama sebagai simbol ajaran kemuliaan akhlak.

Ikhtisar: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Al-Ghunyah li Thâlibi Tharîqil Ḫaq menjelaskan 10 jalan meraih kemuliaan di sisi Allah melalui mujahadah, muhasabah, dan akhlak terpuji sehari-hari.

Balikpapan TV - Hai Cess! Ulama terdahulu kada cuma mengajar teori. Mereka memberi teladan nyata. Dari sanalah lahir ahli mujahadah, muhasabah, dan ulul azmi yang jadi panutan umat Islam.

Jangan geser dulu. Simak sampai tuntan Cess!, karena 10 jalan meraih kemuliaan versi Abdul Qadir Al-Jailani ini ringan dibaca, tapi dalam maknanya.

Dalam kitab Al-Ghunyah li Thâlibi Tharîqil Ḫaq terbitan Darul Kutub Ilmiyah, beliau menyebut ada sepuluh jalan yang ditempuh para ahli mujahadah untuk meraih rida dan kemuliaan di sisi Allah.

Mengapa Mengendalikan Lisan Jadi Jalan Awal Kemuliaan?

Mengendalikan lisan adalah fondasi. Salah satunya dengan tidak mudah bersumpah “Demi Allah”.

Ucapan sumpah, meski benar, tetap kada baik jika terlalu mudah keluar dari lisan. Apalagi jika salah. Saat seseorang mampu menahan diri dari kebiasaan ini, cahaya Allah akan masuk ke dalam hatinya. Derajatnya dinaikkan. Tekadnya dikokohkan.

Selain itu, berkata benar dalam kondisi serius maupun bercanda juga jadi syarat. Orang yang menjaga kejujuran akan dilapangkan dada dan dijernihkan pikirannya. Bahkan ia akan merasa asing dengan dusta. Jika ada orang berbohong, dianjurkan mendoakannya. Di situ ada pahala.

Baca Juga: Dari Santan ke Minyak Kelapa: Strategi Produksi Rumahan yang Hemat dan Higienis

Kenapa Janji dan Caci Maki Harus Dijaga?

Tidak mudah mengumbar janji adalah bentuk kehati-hatian. Janji yang terucap bisa saja terhalang keadaan saat waktunya tiba.

Jika seseorang mampu meninggalkan kebiasaan berjanji sembarangan, Allah membukakan pintu kemurahan hati dan rasa malu yang terjaga. Ia diberi kasih sayang di tengah orang-orang jujur dan dinaikkan derajatnya.

Begitu juga dengan caci maki. Mencela makhluk, sekecil apa pun, termasuk perbuatan tercela. Saat seseorang meninggalkannya, Allah memberi perlindungan dari serangan makhluk di dunia dan meninggikan derajatnya. Nah, pahamlah ikam, menjaga lisan itu kada ringan pang, tapi hasilnya besar.

Bagaimana Sikap Menghadapi Orang Zalim Menjadi Jalan Kemuliaan?

Balasan terbaik atas kezaliman adalah sikap baik. Memaafkan bahkan mendoakan kebaikan untuk orang zalim termasuk akhlak tinggi.

Jika mampu melakukannya, Allah memberikan kedudukan terhormat di dunia dan akhirat. Ia dicintai makhluk dan doanya dikabulkan. Ini bukan teori kosong. Ini jalan yang ditempuh ahli mujahadah.

Selain itu, seorang muslim kada boleh mudah menuduh sesama sebagai musyrik, munafik, atau kafir. Menjaga lisan dari tuduhan berat membuka pintu rida dan kasih sayang Allah. Kasih sayang makhluk pun mengikuti.

Apa Hubungan Pikiran, Kemandirian, dan Qanaah dengan Derajat di Sisi Allah?

Menjaga diri dari memikirkan maksiat adalah amalan cepat menghasilkan pahala. Bukan cuma menahan tindakan, tapi juga niat dan rencana dalam hati.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menegaskan bahwa mencegah anggota badan dari maksiat lahir dan batin menjadi jalan percepatan pahala di dunia dan akhirat. Ini kerja batin. Berat, tapi bernilai tinggi.

Mandiri juga termasuk jalan kemuliaan. Menggantungkan kebutuhan hidup pada orang lain termasuk perbuatan kada baik. Kemandirian menumbuhkan keyakinan pada Allah dan membuka pintu keikhlasan.

Ditambah lagi dengan qanaah, menerima bagian dari Allah tanpa menginginkan milik orang lain. Sikap ini jadi pintu keyakinan dan zuhud yang mengantarkan pada wara. Nah, itu sudah, hidup jadi ringan tanpa iri kanan kiri.

Gambaran memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi orang lain
Gambaran memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi orang lain

Mengapa Tawadlu Menjadi Fondasi Terakhir?

Tawadlu atau rendah hati adalah fondasi ketaatan. Orang yang rendah hati mendapat derajat, rida, dan kemuliaan di sisi Allah dan makhluk-Nya.

Sikap ini bukan merendahkan diri, tapi menempatkan diri dengan tepat. Ia menjadi ciri orang saleh yang diridai Allah.

Sepuluh jalan ini membentuk karakter ahli mujahadah dan muhasabah. Bukan sekadar teori tasawuf, tapi praktik sehari-hari. Dari lisan, hati, sikap, sampai cara memandang orang lain.

10 Jalan Meraih Kemuliaan Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani:
1. Tidak mudah bersumpah atas nama Allah
2. Berkata benar dalam segala kondisi
3. Tidak mengumbar janji
4. Tidak mencaci maki makhluk
5. Membalas kezaliman dengan doa baik
6. Tidak menuduh sesama muslim musyrik atau kafir
7. Tidak memikirkan dan merencanakan maksiat
8. Mandiri dalam kebutuhan hidup
9. Qanaah terhadap ketentuan Allah
10. Tawadlu atau rendah hati

Baca Juga: Ingin Doa Terkabul! Makanan Haram dan Dampaknya pada Doa serta Keberkahan Hidup

Insight: Sepuluh jalan ini terlihat sederhana. Tapi praktiknya berat. Lisan dijaga. Hati dibersihkan. Niat diluruskan. Di tengah hidup modern yang serba cepat, nilai ini terasa kontras. Mandiri tanpa sombong. Qanaah tanpa pasrah. Tawadlu tanpa kehilangan wibawa. Ini bukan target instan. Ini proses panjang. Kadapapa pang mulai dari satu dulu. Pahamlah ikam, kemuliaan itu hasil latihan, bukan warisan.

Bagikan jua info ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang kenal 10 jalan kemuliaan ini.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Siapa yang menjelaskan 10 jalan meraih kemuliaan ini?
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah li Thâlibi Tharîqil Ḫaq.

Apa fokus utama dari 10 jalan tersebut?
Mengendalikan lisan, menjaga hati, memperbaiki akhlak, dan membangun kemandirian serta kerendahan hati.

Apa hasil bagi yang mengamalkannya?
Kemuliaan di sisi Allah, ketenangan hidup, dan kasih sayang dari makhluk.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Abdul Qadir Al Jailani #Tawadlu #Al Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq #Darul Kutub Ilmiyah #Mujahadah