Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Imam Al-Ghazali Ungkap Cara Menghilangkan Riya dalam Ibadah, Baca Sampai Tuntas Cess

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 18 Februari 2026 | 13:04 WIB

Ilustrasi refleksi diri tentang riya dalam ibadah berdasarkan Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali.
Ilustrasi refleksi diri tentang riya dalam ibadah berdasarkan Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali.

Ikhtisar: Riya jadi penyakit batin yang merusak amal. Imam Al-Ghazali dalam Minhajul Abidin memberi empat pengingat agar ibadah bersih dari pujian manusia dan fokus pada rida Allah.

Balikpapan TV - Hai Cess! Riya itu penyakit hati yang kada kelihatan, tapi efeknya bisa menghapus pahala ibadah. Ibadah jalan, gerakan lengkap, tapi niatnya condong ingin dipuji manusia. Di situ letak bahayanya.

Jangan stop di sini dulu. Baca sampai tuntan Cess, supaya pahamlah ikam bagaimana cara menghilangkan riya menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin, lengkap dengan empat pengingat yang langsung menusuk ke hati.

Riya disebut sebagai penyakit “tak kasat mata”. Orang lain belum tentu tahu, tapi hati sendiri yang mengarahkannya. Karena itu para ulama sejak dulu sudah mengingatkan agar ibadah benar-benar tertuju kepada Allah, bukan kepada makhluk.

Kenapa Riya Disebut Penyakit yang Merusak Amal?

Riya merusak amal karena niatnya tercampur keinginan mendapat perhatian manusia. Secara lahiriah ibadah terlihat, tapi tujuan batinnya bergeser. Ini yang membuat amal kehilangan nilainya di sisi Allah.

Imam Al-Ghazali menekankan bahwa riya punya daya rusak besar. Amal yang mestinya bernilai pahala bisa menjadi kosong karena orientasinya bukan lagi kepada Allah. Penyakit ini halus, kada berisik, tapi dampaknya berat.

Karena itu, menjaga niat menjadi hal mendasar. Bukan sekadar rajin beribadah, tapi memastikan arah hati tidak melenceng. Nah, pahamlah ikam, riya itu bukan soal tampilan luar, tapi soal tujuan terdalam.

Baca Juga: Anak Bertanya Soal Awal Puasa Ramadan, Ini Cara Orang Tua Menjelaskan Hisab dan Rukyat dengan Logis

Bagaimana Cara Menyadari Kekurangan Diri untuk Menghindari Riya?

Pengingat pertama adalah menyadari bahwa diri ini lemah dan penuh kekurangan. Ketika seseorang memahami bahwa dirinya makhluk yang serba terbatas, keinginan dipuji manusia akan mengecil dengan sendirinya.

Imam Al-Ghazali mengutip firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 12:
“Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan (menciptakan pula) bumi seperti itu. Perintah-Nya berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”

Ayat itu menjadi teguran halus. Allah menciptakan langit dan bumi sebagai bukti kekuasaan-Nya. Namun masih ada manusia yang mengarahkan amalnya kepada makhluk yang kada punya kuasa apa pun. Dengan menyadari posisi diri di hadapan Allah, harapan pujian dari manusia jadi terasa kecil. Pahamlah ikam, pujian manusia kada menambah apa-apa.

Apa Kerugian Amal Jika Tercampur Riya?

Riya membuat pahala yang besar bisa hilang. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa balasan dari Allah sangat agung, tapi semua itu tidak diberikan jika amal terinfeksi riya.

Beliau mengumpamakan orang yang riya seperti seseorang yang memiliki perhiasan mewah yang hendak dibeli penguasa dengan harga miliaran rupiah, namun malah menjualnya seharga seribu rupiah. Kerugiannya jelas dan besar.

Imam Al-Ghazali menjelaskan:
“Apabila engkau mengikhlaskan niat dan mengarahkan tekadmu untuk akhirat, maka engkau akan memperoleh akhirat sekaligus dunia.” (Minhajul Abidin, h. 76)

Ilustrasi perbandingan perhiasan mahal sebagai gambaran kerugian amal karena riya.
Ilustrasi perbandingan perhiasan mahal sebagai gambaran kerugian amal karena riya.

Sebaliknya, jika hanya mengejar dunia, akhirat bisa hilang. Bahkan dunia pun belum tentu didapat sesuai harapan. Nah’ itu sudah, rugi dua kali.

Benarkah Orang Lain Bisa Jadi Tidak Suka dengan Amal yang Dipamerkan?

Pengingat ketiga, orang yang dijadikan tujuan pujian belum tentu senang. Bisa jadi malah memandang rendah atau merasa risih ketika tahu sebuah amal diarahkan kepadanya.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa saat seseorang beribadah dengan harapan dilihat atau dipuji, ia menggantungkan nilai amal pada manusia yang sebenarnya lemah. Padahal manusia sendiri tidak punya kuasa memberi pahala.

Karena itu, menjaga hati saat beribadah penting. Fokuskan hanya kepada Allah. Jangan sampai amal yang mestinya suci malah berubah arah hanya karena ingin pengakuan. Kadapapa pang dipandang biasa oleh manusia, asal bernilai di sisi Allah.

Mengapa Rida Allah Harus Jadi Prioritas Utama?

Pengingat keempat adalah memilih rida Allah dibanding rida manusia. Bagi seorang muslim, rida Allah jauh lebih tinggi nilainya.

Imam Al-Ghazali menganalogikan rida Allah seperti rida seorang raja, sedangkan rida manusia seperti rida budak yang hina. Saat seseorang riya, seolah ia meninggalkan rida raja demi mencari rida budak. Gambaran ini tegas dan mudah dipahami.

Maka prioritasnya jelas. Arahkan ibadah kepada Allah. Jangan tukar nilai yang besar dengan sesuatu yang kecil. Pahamlah ikam, ketika rida Allah didahulukan, urusan lain mengikuti.

Supaya lebih ringkas, ini empat pengingat dari Imam Al-Ghazali:
1. Menyadari kelemahan dan kekurangan diri.
2. Mengingat kerugian besar jika amal rusak karena riya.
3. Memahami bahwa manusia belum tentu suka dijadikan tujuan amal.
4. Mengutamakan rida Allah di atas rida manusia.

Baca Juga: Tembelekan Ternyata Bukan Sekadar Semak, Ini Panduan Tepat Manfaatkan sebagai Herbal Tradisional

Insight: Riya itu halus, sering datang saat amal sedang tinggi-tingginya. Empat pengingat dari Imam Al-Ghazali relevan untuk siapa saja, termasuk generasi produktif hari ini yang hidup di tengah sorotan publik dan pengakuan sosial. Ibadah bukan panggung. Kalau niat lurus, hasilnya luas. Kalau niat geser sedikit saja, dampaknya besar. Jadi sebelum sibuk dinilai orang, cek dulu arah hati. Nah, di situ letak kualitas seorang mukmin, Cess.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham cara menjaga niat dalam ibadah. Biar diskusi di tongkrongan makin berbobot.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

Apa itu riya dalam ibadah?
Riya adalah melakukan ibadah dengan tujuan mendapatkan pujian atau perhatian dari manusia, bukan murni karena Allah.

Mengapa riya bisa menghapus pahala?
Karena niatnya tercampur dan tidak lagi murni untuk Allah, sehingga amal kehilangan nilainya di sisi-Nya.

Bagaimana cara sederhana menghindari riya?
Dengan menyadari kelemahan diri, mengingat kerugian amal, memahami manusia bukan tujuan, dan mengutamakan rida Allah.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Riya dalam Ibadah #Imam Al Ghazali #Surat At Thalaq Ayat 12 #Minhajul Abidin #Rida Allah