Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

KH. Anwar Iskandar Tegaskan Perbedaan Awal Ramadan 1447 H adalah Ranah Ijtihad, Mari Jaga Persatuan Umat

Nazwa Deriska Noviyanti • Rabu, 18 Februari 2026 | 10:10 WIB

KH. Anwar Iskandar saat Konferensi Pers Sidang Isbat Ramadan 1447 H di Jakarta menyampaikan pentingnya menghormati perbedaan.
KH. Anwar Iskandar saat Konferensi Pers Sidang Isbat Ramadan 1447 H di Jakarta menyampaikan pentingnya menghormati perbedaan.

Ikhtisar: Ketua MUI KH. Anwar Iskandar menegaskan perbedaan awal dan akhir Ramadan adalah ranah ijtihad teknis. Umat diajak menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan 1447 H.

Balikpapan TV - Hai Cess! Penentuan awal dan akhir Ramadan 1447 H kembali jadi perhatian. Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH. Anwar Iskandar, menegaskan perbedaan itu wajar dalam khazanah keilmuan Islam dan berada pada ranah ijtihad teknis, bukan soal akidah.

Jangan buru-buru berdebat, simak dulu penjelasan lengkapnya sampai habis Cess, biar pahamlah ikam duduk perkaranya dan suasana Ramadan tetap adem.

Mengapa Perbedaan Awal dan Akhir Ramadan Dianggap Wajar?

Perbedaan awal maupun akhir Ramadan dinilai sebagai keniscayaan dalam tradisi keilmuan Islam. KH. Anwar Iskandar menegaskan hal tersebut dalam Konferensi Pers Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1447 H di Jakarta, Selasa (17/2/2026).

“Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati,” ujarnya.

Artinya jelas. Perbedaan ini berada pada wilayah teknis, bukan menyangkut prinsip dasar keimanan. Nah, di titik ini penting untuk menempatkan persoalan secara proporsional. Pahamlah ikam, ranah ijtihad memang membuka ruang pandangan berbeda.

Baca Juga: Mau Beli Slow Juicer Hurom Tapi Bingung Pilih Seri? Ini Panduan Biar Kada Salah Ambil Cess

Apa Sikap yang Diharapkan dalam Menyikapi Perbedaan Ramadan?

Sikap dewasa menjadi kunci. KH. Anwar Iskandar menekankan bahwa dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, masyarakat perlu membiasakan diri menyikapi perbedaan dengan matang dan penuh tanggung jawab.

Selama tidak menyentuh prinsip dasar akidah, perbedaan justru menjadi bagian dari kekayaan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual Islam. Itu artinya, variasi pandangan kada otomatis memecah belah.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pengelolaan perbedaan secara baik bisa menghadirkan harmoni. Ia menyebut kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap stabilitas nasional dan memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masa depan bangsa.

Ilustrasi umat Islam berdiskusi damai menyikapi perbedaan awal puasa Ramadan.
Ilustrasi umat Islam berdiskusi damai menyikapi perbedaan awal puasa Ramadan.

Bagaimana Ramadan Bisa Jadi Momentum Peningkatan Ibadah?

Ramadan dipandang sebagai waktu memperbaiki kualitas iman dan takwa. KH. Anwar Iskandar mengajak umat Islam memanfaatkan bulan suci ini untuk menyempurnakan ibadah.

“Mari kita berusaha sekuat tenaga menyempurnakan ibadah selama bulan Ramadan ini agar kualitas iman dan takwa kita semakin meningkat,” katanya.

Ajakan ini menekankan usaha maksimal. Puasa kada hanya rutinitas tahunan, tetapi proses pembinaan diri. Nah, Ramadan itu momentum evaluasi diri. Bukan sekadar menahan lapar, tapi memperbaiki sikap dan perilaku sehari-hari.

Apa Pesan untuk Umat Nonmuslim dan Kehidupan Bermasyarakat?

Pesan menjaga suasana saling menghormati juga ditujukan kepada masyarakat nonmuslim. Ia mengimbau agar bersama-sama menjaga suasana kondusif selama Ramadan, khususnya terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Tujuannya sederhana namun penting. Ramadan diharapkan berlangsung dengan khusyuk dan penuh kedamaian. Kehidupan sosial yang harmonis akan mendukung kekhidmatan ibadah.

Dalam konteks kebangsaan, sikap saling menghargai menjadi fondasi persatuan. Nah, hidup berdampingan itu memang perlu empati. Kada sulit pang, asal ada niat baik.

Mengapa Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga?

Puasa memiliki dimensi moral yang kuat. KH. Anwar Iskandar mengingatkan bahwa secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama.

“Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir puasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan,” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar umat menjaga perilaku, tidak menyakiti orang lain, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak membuat kegaduhan termasuk melalui tulisan di media sosial. Ramadan diharapkan melahirkan pribadi-pribadi penuh kasih sayang atau rahmah.

Sebagai pengingat praktis, ini poin penting yang bisa dipegang selama Ramadan:
1. Jaga lisan dan tulisan, termasuk di media sosial.
2. Hormati perbedaan penentuan awal puasa.
3. Fokus tingkatkan kualitas ibadah dan akhlak.

Baca Juga: Pilih Lemari Pakaian Agar Ruang Kamar Tetap Lega, Begini Cara Ukur dan Memilih Dimensi Lemari yang Pas

Insight: Perbedaan awal Ramadan sering memicu diskusi panjang. Namun penegasan KH. Anwar Iskandar mengarahkan fokus pada substansi, bukan teknis semata. Ijtihad membuka ruang variasi, tapi persatuan tetap prioritas. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, sikap dewasa menjadi kebutuhan bersama. Ramadan bukan ajang debat, melainkan latihan menata diri. Nah, di situ letak kedewasaan beragama, Cess.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami makna perbedaan dalam penentuan Ramadan dan pentingnya menjaga persaudaraan. Biar suasana tetap kondusif, nah tolong nah.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

1. Apakah perbedaan awal Ramadan berkaitan dengan akidah?
Tidak. Menurut KH. Anwar Iskandar, perbedaan tersebut berada pada ranah ijtihad teknis, bukan menyangkut prinsip dasar keimanan.

2. Apa yang ditekankan Ketua MUI dalam menyikapi perbedaan?
Menjaga keutuhan umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati menjadi hal yang paling utama.

3. Apa makna puasa menurut penjelasan Ketua MUI?
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama serta menjaga persaudaraan.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#jakarta #Sidang Isbat Ramadan 1447 H #majelis ulama indonesia #Ijtihad teknis #KH Anwar Iskandar