Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Kenapa Awal Ramadan Bisa Berbeda dan Apa Kata Ketua MUI, Yuk Pahami Supaya Kada Salah Kaprah

Arya Kusuma • Rabu, 18 Februari 2026 | 08:41 WIB

Ketua MUI KH. Anwar Iskandar saat konferensi pers Sidang Isbat Ramadan 1447 H, menegaskan perbedaan awal puasa adalah ranah ijtihad teknis.
Ketua MUI KH. Anwar Iskandar saat konferensi pers Sidang Isbat Ramadan 1447 H, menegaskan perbedaan awal puasa adalah ranah ijtihad teknis.

Ikhtisar: Ketua MUI KH. Anwar Iskandar menegaskan perbedaan awal Ramadan adalah ranah ijtihad teknis. Umat diajak saling menghormati, menjaga persatuan, dan menjadikan Ramadan momentum peningkatan iman serta ketakwaan.

Balikpapan TV - Hai Cess!
Perbedaan awal dan akhir Ramadan kembali jadi perhatian publik. Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH. Anwar Iskandar, menegaskan bahwa perbedaan tersebut hal wajar dalam khazanah keilmuan Islam. Itu ranah ijtihad, sifatnya teknis. Bukan perkara akidah.

Baca sampai tuntan Cess, supaya pahamlah ikam kenapa perbedaan ini justru bisa jadi kekuatan, bukan pemecah belah.

Dalam Konferensi Pers Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1447 H di Jakarta, Selasa (17/2/2026), KH. Anwar menyampaikan bahwa kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan umat Islam dengan saling memahami dan menghormati.

Kenapa Perbedaan Awal Ramadan Disebut Wajar dalam Islam?

Perbedaan awal Ramadan disebut wajar karena berada di wilayah ijtihad yang teknis. Artinya, para ulama menggunakan pendekatan dan metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan, namun tetap berpijak pada dasar keilmuan Islam.

“Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati,” ujar KH. Anwar Iskandar.

Dalam tradisi intelektual Islam, perbedaan pandangan bukan hal baru. Justru dari situlah lahir kekayaan pemikiran. Selama tidak menyentuh prinsip dasar keimanan, perbedaan tersebut tetap dalam koridor yang bisa dihargai bersama.

Baca Juga: Persiapan Buka Puasa Dapur Bukan Cuma Buat Masak, Yuk Bikin Dapur Rumah Jadi Titik Kumpul Paling Dicari Saat Ramadan Tiba

Apa Dampaknya bagi Persatuan Umat dan Stabilitas Nasional?

Perbedaan yang dikelola dengan baik bisa menjadi harmoni. Itu penegasan KH. Anwar Iskandar. Dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, masyarakat perlu membiasakan diri menyikapi perbedaan secara dewasa.

Menurutnya, jika perbedaan disikapi dengan kepala dingin dan sikap saling menghormati, maka hal tersebut dapat memperkuat persatuan Indonesia. Bahkan bisa berkontribusi terhadap stabilitas nasional.

Sinergi antara pemerintah dan masyarakat juga ikut terdorong. Ketika suasana kondusif terjaga, pembangunan masa depan bangsa lebih mudah dirajut bersama. Nah, di sini letak pentingnya kedewasaan kolektif itu, pahamlah ikam.

Bagaimana Ramadan Bisa Jadi Momentum Peningkatan Iman?

Ramadan bukan sekadar soal tanggal mulai. Intinya adalah kualitas ibadah. KH. Anwar Iskandar mengajak umat Islam memanfaatkan bulan suci ini untuk menyempurnakan ibadah.

“Mari kita berusaha sekuat tenaga menyempurnakan ibadah selama bulan Ramadan ini agar kualitas iman dan takwa kita semakin meningkat,” katanya.

Ajakan ini sederhana, tapi dalam. Ramadan diharapkan melahirkan pribadi yang lebih baik, lebih tenang, dan lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sosial. Bukan cuma kuat menahan lapar, tapi juga kuat menjaga sikap dan lisan.

Beberapa fokus yang ditekankan selama Ramadan:
1. Menyempurnakan ibadah wajib dan sunnah.
2. Meningkatkan kualitas iman dan takwa.
3. Menjaga hubungan baik antar sesama.

Apa Peran Masyarakat Nonmuslim dalam Menjaga Suasana Ramadan?

KH. Anwar juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat nonmuslim. Ia mengajak semua pihak menjaga suasana saling menghormati, khususnya terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.

Ramadan yang khusyuk dan penuh kedamaian bukan hanya tanggung jawab umat Islam. Lingkungan sosial yang saling menghargai turut menentukan kenyamanan beribadah.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, sikap saling menghormati menjadi fondasi kebersamaan. Perbedaan keyakinan kada jadi alasan renggang. Justru di situlah nilai kebangsaan diuji.

Kenapa Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga?

Puasa memiliki dimensi yang lebih luas. Secara syariat, bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama.

“Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir puasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan,” pesannya.

KH. Anwar mengingatkan agar umat menjaga perilaku, tidak menyakiti orang lain, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak membuat kegaduhan, termasuk melalui tulisan di media sosial. Di era digital, jempol juga punya tanggung jawab. Nah' itu sudah, puasa tapi status bikin panas, gimana jadinya suasana.

Ia berharap Ramadan melahirkan pribadi-pribadi penuh kasih sayang atau rahmah. Semangat saling menyayangi dan menghormati harus terus terjaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Insight: Perbedaan awal Ramadan bukan soal siapa paling benar. Ini soal kedewasaan kolektif. Jika ijtihad dipahami sebagai proses ilmiah, maka ruang dialog tetap terbuka. Indonesia berdiri di atas keberagaman. Sikap saling menghormati itu investasi sosial jangka panjang. Ramadan jadi momentum uji karakter. Bukan cuma ibadah personal, tapi kualitas relasi sosial. Di Balikpapan yang penuh pendatang, harmoni itu harga mahal. Jaga sikap. Jaga tulisan. Jaga persaudaraan, Cess.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham konteks perbedaan awal Ramadan dan tetap adem menyikapinya. Biar suasana tetap rukun, nah, pang.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

1. Apakah perbedaan awal Ramadan memengaruhi sah atau tidaknya puasa?
Tidak. Perbedaan tersebut berada pada ranah ijtihad teknis dan tidak menyentuh prinsip dasar akidah.

2. Apa pesan utama KH. Anwar Iskandar terkait perbedaan ini?
Ia menekankan pentingnya menjaga keutuhan umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati.

3. Bagaimana sikap yang dianjurkan selama Ramadan menurut MUI?
Menjaga perilaku, tidak menyakiti orang lain, tidak menyebarkan fitnah, serta meningkatkan kualitas iman dan takwa.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#sidang isbat #kementerian agama #Ramadan 1447 H #majelis ulama indonesia #KH Anwar Iskandar