Balikpapan TV - Hai Cess! Menjelang tutup tahun 2025, umat Muslim diajak berhenti sejenak untuk muhasabah, menimbang ulang perjalanan hidup, amal, dan tanggung jawab sosial sebagai bekal menyongsong hari esok.
Momentum akhir tahun ini disampaikan langsung oleh Wakil Ketua I Baznas Balikpapan, Ustaz Imam Waros, dalam muqodimah Program Cahaya Qolbu Balikpapan TV, Jumat (26 Desember 2025). Ia menekankan pentingnya refleksi diri atas waktu yang Allah SWT titipkan, sekaligus mengingatkan hakikat hidup, tujuan ibadah, serta makna taubat yang sungguh-sungguh.
Dari Balikpapan, pesan ini mengalir hangat, relevan, dan menohok kesadaran. Yuk, lanjut baca Cess! Karena di artikel ini ada pengingat yang dekat dengan keseharian kita.
Baca Juga: Makna Ucapan Natal dari Umat Muslim dalam Merawat Toleransi di Masyarakat Majemuk
Mengapa akhir tahun menjadi momen muhasabah bagi umat Muslim?
Akhir tahun dipahami sebagai titik temu awal dan akhir perjalanan, saat yang pas untuk melihat kembali jejak hidup. Muhasabah membantu seseorang menyadari waktu yang telah dilalui dan amanah yang menyertainya.
“Dipertemukannya kita dengan awal dan akhir tahun adalah bentuk refleksi diri, pengingat bahwa jatah hidup telah kita lalui berulang kali. Ada yang sudah 30 tahun, 50 tahun, 70 tahun, dan seterusnya. Ini menjadi pengingat akan janji Allah SWT tentang datangnya ajal,” ujar Ustaz Imam Waros.
Apa pesan Umar bin Khattab RA tentang introspeksi diri?
Nasihat Umar bin Khattab RA menjadi fondasi kuat muhasabah. Intinya, setiap orang diminta menilai dirinya lebih dulu sebelum penilaian itu datang dari Allah SWT.
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
(Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu), yang berarti, “Hisablah atau introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Bagaimana Islam memaknai tujuan hidup manusia?
Islam memandang hidup bukan peristiwa acak, melainkan rangkaian pengabdian. Kesadaran ini menuntun Muslim untuk menata niat dan perbuatan agar selaras dengan tujuan penciptaan.
“Peringatan dari Umar bin Khattab RA ini mengingatkan kita sebagai Muslim dan orang beriman bahwa kehidupan ini bukanlah sebuah kebetulan. Hidup dan mati kita adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT,” tegasnya.
Dalam arus cepat keseharian, pesan muhasabah ini menjadi pengingat yang menenangkan. Akhir tahun 2025 bukan hanya soal hitung mundur kalender, tetapi kesempatan merapikan niat, menata ibadah, dan memperbaiki relasi sosial.
Firman Allah SWT dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 menegaskan arah hidup manusia:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Apa saja rukun Taubatan Nasuha yang perlu dipahami?
Taubatan Nasuha menuntut kesungguhan, bukan sekadar ucapan. Ia memiliki rukun yang jelas dan perlu dipenuhi agar perubahan benar-benar terjadi.
“Rukun Taubat Nasuha di antaranya memohon ampun kepada Allah SWT, menyesali dosa dan kesalahan masa lalu, serta adanya tekad dan janji dalam hati untuk memperbaiki diri dan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Jika hal-hal ini terpenuhi, maka itulah yang disebut taubat nasuha,” pungkasnya.
Agar muhasabah terasa membumi, ada langkah sederhana yang bisa diterapkan: Luangkan waktu hening setiap pekan, catat hal baik yang perlu dijaga, dan tandai kebiasaan yang perlu diperbaiki. Tekad kecil yang konsisten sering kali lebih berdampak daripada rencana besar yang tertunda.
Yuk, bagikan pesan ini agar makin banyak orang yang tergerak, lalu tutup tahun dengan hati lebih ringan, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
1. Apa itu muhasabah dan kapan waktu terbaik melakukannya?
Muhasabah adalah introspeksi diri. Akhir tahun menjadi momen yang sering dimanfaatkan karena berdekatan dengan pergantian waktu.
2. Mengapa Taubatan Nasuha penting dalam muhasabah?
Karena taubat yang sungguh-sungguh menjadi langkah nyata memperbaiki diri dan menata ulang arah hidup.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.