PPU Kaji Desalinasi Air Laut untuk Tambahan Sumber Air Bersih, Apa Tantangan Teknologinya

Tania Putri Nuraini • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 16:41 WIB
Sekretaris Bapelitbang PPU Arif Afandi menyampaikan gagasan desalinasi air laut sebagai salah satu opsi sumber air baku. (BTV/AI)
Sekretaris Bapelitbang PPU Arif Afandi menyampaikan gagasan desalinasi air laut sebagai salah satu opsi sumber air baku. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar: PPU menyiapkan kajian desalinasi air laut sebagai alternatif sumber air bersih di tengah pengembangan wilayah dan kebutuhan layanan dasar.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara menyiapkan kajian desalinasi air laut sebagai salah satu opsi sumber air bersih, seiring kebutuhan layanan dasar dan perkembangan kawasan yang terus bergerak.

Air laut memang tersedia melimpah di wilayah pesisir, tetapi mengubahnya menjadi air yang dapat digunakan masyarakat bukan sekadar memasang mesin penyaring. Ada teknologi, energi, biaya, kualitas air baku, pengelolaan hasil samping, hingga kebutuhan infrastruktur yang harus dihitung sejak tahap kajian.

Mengapa PPU Mulai Melihat Air Laut?

Wacana desalinasi menjadi menarik karena penyediaan air bersih membutuhkan lebih dari satu sumber.

PPU sendiri sedang mengembangkan infrastruktur penyediaan air melalui SPAM Regional Long Kali. Proyek tersebut dirancang mengambil air baku dari Sungai Talake dengan kapasitas total 200 liter per detik dan dikerjakan secara bertahap. Tahap pertama ditargetkan membangun kapasitas 100 liter per detik.

Artinya, pembahasan desalinasi tidak harus dipahami sebagai pengganti sumber air permukaan. Justru, opsi seperti ini dapat ditempatkan dalam pembahasan yang lebih besar mengenai diversifikasi sumber air.

Bagi daerah yang terus berkembang, memiliki beberapa pilihan sumber air dapat menjadi bagian penting dalam merancang ketahanan layanan air untuk jangka panjang.

Desalinasi Bukan Sekadar Menghilangkan Garam

Secara sederhana, desalinasi merupakan proses mengurangi garam dan zat terlarut dari air laut sehingga air hasil pengolahan dapat digunakan sesuai standar dan peruntukannya.

Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Pada sistem ini, air laut melewati proses awal untuk mengurangi material pengganggu sebelum dipompa dengan tekanan tinggi menuju membran reverse osmosis. Membran tersebut memisahkan air dari sebagian besar garam dan zat terlarut.

Namun, air hasil proses tersebut tetap membutuhkan tahap pengolahan lanjutan dan pengujian kualitas sebelum digunakan sesuai peruntukannya.

Pengalaman daerah lain menunjukkan bahwa teknologi tersebut memang sudah diterapkan di Indonesia. PAM Jaya, misalnya, menyebut sistem SWRO telah digunakan di sembilan pulau di Kepulauan Seribu untuk mengolah air laut menjadi air dengan standar air minum.

Contoh itu memperlihatkan satu hal penting: desalinasi bukan teknologi yang hanya berada di atas kertas. Tetapi penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi lokasi, kebutuhan kapasitas, sumber energi, biaya, serta sistem distribusi yang tersedia.

Tantangan Terbesarnya Ada pada Energi dan Biaya

Air laut memang tersedia, tetapi proses memisahkan garam membutuhkan energi dan tentu saja biaya.

Dalam pengolahan menggunakan SWRO, air laut harus didorong melewati membran dengan tekanan tinggi. PAM Jaya menerangkan  mengenai penerapan Sea Water Reverse Osmosis di Kepulauan Seribu, September 2026, menjelaskan bahwa kebutuhan dalam proses tekanan tinggi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat konsumsi energi, biaya operasi, dan biaya perawatan menjadi perhatian lebih dalam penerapan desalinasi.

Karena itu, kajian PPU menjadi penting sebelum teknologi tersebut diputuskan untuk diterapkan.

Pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya “bisa atau tidak?”, tetapi juga:

Jawaban atas pertanyaan tersebut yang nantinya menentukan apakah desalinasi benar-benar layak menjadi bagian dari sistem air bersih PPU.

Baca Juga: PPU Dorong RTR KSN Sasamba Kunci Program Nasional hingga 2046, Bukan Sekadar Peta

PPU Tidak Hanya Punya Satu Pilihan Sumber Air

Kajian desalinasi juga perlu dibaca bersama pembangunan sumber air lainnya.

SPAM Regional Long Kali menjadi salah satu contoh pendekatan berbasis air permukaan. Sistem tersebut dirancang memanfaatkan Sungai Talake dan secara bertahap diarahkan untuk melayani sejumlah wilayah di PPU dan Paser. Dalam studi perencanaannya, proyek tersebut menargetkan 16.075 sambungan rumah pada sejumlah wilayah layanan.

Dengan demikian, desalinasi dan SPAM air permukaan sebenarnya berada pada ruang pembahasan yang berbeda.

Air permukaan dapat menjadi salah satu sumber utama ketika debit, kualitas, infrastruktur intake, instalasi pengolahan, dan jaringan distribusinya memungkinkan. Sementara desalinasi menawarkan alternatif yang bergantung pada akses terhadap air laut serta kemampuan membangun dan mengoperasikan teknologi pengolahannya.

Diversifikasi seperti ini menjadi semakin relevan ketika kebutuhan air tidak hanya datang dari rumah tangga, tetapi juga aktivitas ekonomi, fasilitas publik, kawasan permukiman, dan perkembangan wilayah.

Ada Hubungan dengan Perkembangan Ekonomi PPU

Kebutuhan air tidak berdiri sendiri.

Pada September 2026, Bapelitbang PPU memasukkan pangan, air, dan lingkungan sebagai salah satu dari empat kelompok pembahasan dalam pengembangan ekonomi daerah. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa air dipandang sebagai bagian dari sumber daya pendukung aktivitas ekonomi dan keberlanjutan wilayah.

Di sinilah kajian desalinasi memiliki konteks yang lebih luas.

Jika suatu wilayah berkembang, kebutuhan air ikut menjadi bagian dari perencanaan ruang, permukiman, kegiatan ekonomi, fasilitas pelayanan, dan lingkungan. Karena itu, keputusan mengenai sumber air sebaiknya tidak hanya dihitung berdasarkan kapasitas produksi instalasi.

Lokasi, jaringan pipa, energi, biaya pengolahan, kualitas lingkungan pesisir, serta kemampuan masyarakat atau pengguna membayar layanan juga perlu masuk dalam perhitungan.

Jangan Sampai Air Laut Hanya Jadi Opsi di Atas Kertas

Kajian yang baik seharusnya menghasilkan perbandingan yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan.

Desalinasi perlu dibandingkan dengan pilihan lain berdasarkan kebutuhan nyata PPU. Misalnya, berapa tambahan air yang dapat diperoleh dari pengembangan SPAM air permukaan, bagaimana kebutuhan jaringan distribusi, serta berapa biaya setiap alternatif jika dihitung dalam jangka panjang.

Dengan begitu, keputusan tidak hanya didasarkan pada kesan bahwa air laut tersedia tanpa batas.

Sumber air laut memang sangat besar, tetapi kapasitas instalasi, energi, biaya, teknologi dan distribusi tetap memiliki batas.

Pengalaman Balikpapan juga memperlihatkan bahwa desalinasi sudah lama masuk dalam pembahasan penyediaan air. Kajian dan dokumen terkait pengelolaan air di Balikpapan mencatat desalinasi sebagai salah satu alternatif, berdampingan dengan pemanfaatan air hujan, air tanah, waduk, dan sumber air permukaan lainnya.

Konteks tersebut relevan bagi PPU karena wilayah ini berada dalam sistem kawasan yang saling terhubung dengan Balikpapan dan perkembangan IKN.

Apa yang Perlu Dilihat Masyarakat dari Kajian Ini?

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan desalinasi bukan sekadar apakah air laut berhasil diubah menjadi air tawar.

Pertanyaan yang lebih dekat adalah: apakah air hasil pengolahan dapat tersedia secara berkelanjutan, kualitasnya memenuhi ketentuan, jaringannya menjangkau masyarakat, dan biayanya dapat ditanggung dalam jangka panjang?

Itulah sebabnya tahap kajian justru penting.

Jika hasil kajian menunjukkan teknologi tersebut layak, pemerintah memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan kapasitas, lokasi, teknologi, pembiayaan, dan model pengelolaan.

Sebaliknya, jika ada pilihan lain yang lebih sesuai dengan kondisi PPU, hasil kajian juga dapat menjadi dasar untuk mengarahkan anggaran kepada alternatif tersebut.

Jadi, desalinasi tidak perlu diposisikan sebagai satu-satunya jawaban.

Ia lebih tepat dipandang sebagai salah satu pilihan dalam portofolio sumber air yang perlu diuji secara teknis, ekonomi dan lingkungan.

Poin Penting

Insight Redaksi

Yang menarik dari rencana kajian ini bukan semata-mata teknologi mengubah air laut menjadi air tawar. Nilai pentingnya justru berada pada cara PPU mulai melihat kebutuhan air sebagai persoalan jangka panjang yang membutuhkan lebih dari satu sumber.

Desalinasi dapat memberi pilihan tambahan, tetapi pilihan tersebut harus dibuktikan melalui angka kebutuhan, kapasitas, biaya, energi dan dampak lingkungan. Dengan cara itu, keputusan penyediaan air tidak berhenti pada teknologi yang terlihat canggih, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Untuk PPU, pembahasan air juga tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan kawasan, pelayanan dasar, ekonomi, serta hubungan wilayah dengan kawasan IKN dan daerah sekitarnya.

Kalau kajiannya matang, masyarakat bukan hanya mendapatkan jawaban apakah air laut bisa diolah, tetapi juga apakah pilihan tersebut masuk akal untuk kehidupan mereka dalam jangka panjang.

Kalau informasi seperti ini terasa berguna, bagikan artikel ini agar semakin banyak warga memahami bahwa urusan air bersih bukan sekadar soal ada atau tidaknya sumber air, tetapi juga bagaimana sumber tersebut dikelola.

Dan kalau ingin mengikuti perkembangan PPU, IKN, serta isu pelayanan publik lain di Kalimantan Timur, tetap bersama Balikpapantv.id, Ces!

FAQ

Apa itu desalinasi air laut?

Desalinasi adalah proses mengurangi kandungan garam dan zat terlarut dari air laut sehingga menghasilkan air dengan kadar garam yang jauh lebih rendah untuk penggunaan sesuai standar dan peruntukannya.

Apa teknologi yang umum digunakan?

Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah Sea Water Reverse Osmosis atau SWRO, yang menggunakan tekanan tinggi untuk melewatkan air laut melalui membran.

Apakah air hasil desalinasi langsung bisa diminum?

Tidak otomatis. Air hasil pengolahan tetap membutuhkan proses lanjutan dan pengujian kualitas agar sesuai dengan standar serta peruntukan penggunaannya.

Mengapa desalinasi membutuhkan energi besar?

Sistem SWRO membutuhkan tekanan tinggi untuk mendorong air laut melewati membran. Kebutuhan tekanan tersebut berpengaruh terhadap konsumsi energi dan biaya operasi.

Apakah desalinasi akan menggantikan sumber air PPU lainnya?

Belum tentu. Desalinasi dalam konteks ini merupakan opsi yang sedang dikaji, sementara PPU juga mengembangkan sumber air melalui SPAM Regional Long Kali.

Mengapa kajian diperlukan sebelum membangun fasilitas desalinasi?

Karena keputusan membutuhkan perhitungan mengenai kebutuhan air, kapasitas, kualitas air baku, teknologi, energi, investasi, biaya operasi, distribusi dan dampak lingkungan.

Sumber Informasi

Kaltim Post, laporan mengenai opsi desalinasi air laut dan kajian Bappelitbang PPU, 1 Oktober 2026.

Kaltim Post, laporan perkembangan SPAM Regional Long Kali PPU, 4 April 2026.

Bapelitbang PPU, informasi pengembangan strategi ekonomi daerah yang mencakup pangan, air dan lingkungan, 30 September 2026.

PAM Jaya, keterangan mengenai penerapan Sea Water Reverse Osmosis di Kepulauan Seribu, September 2026.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Bappelitbang PPU Desalinasi Air Laut air bersih ppu