Roda Pangan Paser Sudah Masuk 5 Desa Rawan, Satu Wilayah Masih Menunggu

Ahla Najwa • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 09:27 WIB
Kepala DKP Paser M. Arfah menyosialisasikan program Roda Pangan kepada mitra pangan Bulog. (Dok. NAJIB/KP)
Kepala DKP Paser M. Arfah menyosialisasikan program Roda Pangan kepada mitra pangan Bulog. (Dok. NAJIB/KP)

Durasi Baca: 3 menit

Ikhtisar: Program Roda Pangan menjangkau lima desa rawan pangan di Paser, sementara Rantau Layung menunggu tahap berikutnya.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Program Roda Pangan kini menjangkau lima desa rawan pangan di Kabupaten Paser untuk mendekatkan pasokan pangan murah kepada warga yang jauh dari pusat distribusi.

Buat warga desa, urusan pangan bukan cuma soal ada atau tidaknya stok. Jarak dan harga ikut menentukan seberapa mudah kebutuhan pokok didapat.

Lima Desa Sudah Terjangkau

Program yang dijalankan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Paser itu mulai berjalan setelah diluncurkan pada awal September 2026. Hingga 27 September, distribusi pangan murah telah menjangkau lima desa yang masuk kategori rawan pangan.

Kelima desa tersebut adalah Labuang Kallo, Selengot, Kladen, Rantau Buta, dan Kayungo Sari. Pemerintah daerah menempatkan Roda Pangan sebagai salah satu cara untuk mendekatkan akses masyarakat terhadap pangan, terutama bagi desa yang memiliki keterbatasan akses ke pusat perdagangan dan distribusi.

Kondisi ini penting karena pemutakhiran Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Kabupaten Paser 2025 masih mencatat enam desa dalam kategori rentan rawan pangan. Rantau Layung dan Kladen masuk Prioritas 1 atau sangat rentan, sedangkan Rantau Buta, Labuan Kalo, Selengot, dan Kayungo Sari berada pada Prioritas 2 atau rentan.

Artinya, lima desa yang kini sudah mendapat distribusi belum menutup seluruh daftar wilayah yang masuk pemetaan tersebut.

Rantau Layung Menunggu Tahap Berikutnya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Paser, M. Arfah, mengatakan Rantau Layung menjadi satu-satunya desa dalam daftar tersebut yang belum masuk tahap pendistribusian.

“Untuk sementara program jangka pendek lima desa. Setelah monitoring dan evaluasi, baru menyasar Desa Rantau Layung,” kata Arfah, Minggu (27/9).

Menurut Arfah, perluasan distribusi tidak hanya bergantung pada kebutuhan pangan. Kesiapan outlet desa juga menjadi bagian penting karena fasilitas tersebut akan digunakan sebagai titik distribusi dalam program Roda Pangan.

Sebelumnya, pemerintah daerah menjelaskan Roda Pangan dibangun melalui kemitraan Pemkab Paser, Perum Bulog, dan pelaku usaha desa. Skemanya diarahkan untuk membawa bahan pangan lebih dekat ke masyarakat sekaligus menekan kesenjangan harga antara desa dan wilayah perkotaan.

Bukan Sekadar Membawa Pangan ke Desa

Sejak awal, Roda Pangan dirancang untuk menjawab persoalan harga dan distribusi. Pemkab Paser menyebut program tersebut merevitalisasi outlet desa agar dapat menjadi distributor bahan pangan yang bersumber dari Bulog.

Komoditas yang disalurkan dalam pelaksanaan program antara lain beras SPHP, Minyakita, dan gula pasir. Harga komoditas tersebut mengacu pada ketentuan harga eceran tertinggi sehingga masyarakat desa diharapkan memperoleh pangan dengan harga yang lebih terjangkau.

Tantangan berikutnya adalah menjaga agar pola distribusi tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat. Pemerintah daerah sebelumnya juga menyiapkan monitoring distribusi secara digital dan real-time dengan melibatkan staf desa serta pelaku usaha.

Dengan begitu, keberhasilan Roda Pangan tidak hanya bisa dilihat dari berapa desa yang sudah didatangi. Yang lebih penting adalah apakah pasokan tetap tersedia, harga tetap terjangkau, dan akses warga terhadap kebutuhan pokok menjadi lebih mudah.

Baca Juga: HUT TNI ke-81 di PPU: Bakti Kesehatan, Pasar Murah hingga Lomba Domino

Poin Penting

Insight Redaksi

Program ini menunjukkan bahwa persoalan pangan di desa tidak berhenti pada ketersediaan barang. Jarak, jalur distribusi, dan harga ikut menentukan akses warga. Kalau outlet desa benar-benar berfungsi sebagai titik pasok, manfaatnya bisa terasa lebih dekat. Jadi, bukan cuma barangnya sampai, tapi harga dan keberlanjutan pasokannya juga harus dijaga tetap teratur dan konsisten, pang.

Kalau distribusinya makin dekat dan pasokannya stabil, warga tidak perlu menanggung beban jarak hanya untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang wajar.

Buat kawalan di desa, info soal pasokan pangan begini jangan sampai kelewat. Bagikan jua biar makin banyak yang tahu.

Kalau Roda Pangan terus bergerak, kabar soal harga dan pasokan pangan desa juga wajib kita pantau. Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu Roda Pangan?

Roda Pangan merupakan program Revitalisasi Outlet Desa melalui Akselerasi Pangan untuk memperkuat distribusi dan akses pangan hingga tingkat desa.

2. Desa mana saja yang sudah mendapat distribusi?

Lima desa yang sudah terjangkau adalah Labuang Kallo, Selengot, Kladen, Rantau Buta, dan Kayungo Sari.

3. Desa mana yang belum masuk distribusi?

Desa Rantau Layung menjadi satu-satunya desa dalam pemetaan rawan pangan Paser yang belum masuk tahap distribusi dan direncanakan menyusul setelah monitoring serta evaluasi.

4. Siapa yang terlibat dalam Roda Pangan?

Program ini dibangun melalui kemitraan Pemerintah Kabupaten Paser, Perum Bulog, dan pelaku usaha desa.

5. Apa tujuan utama Roda Pangan?

Program ini ditujukan untuk mendekatkan akses pangan, memperlancar distribusi, dan membantu menjaga keterjangkauan harga pangan di desa.

Sumber Informasi

Kaltim Post, dengan judul “Roda Pangan Bergerak, Lima Desa Rawan Pangan di Paser Dapat Pasokan”. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Roda Pangan Paser pangan Paser desa rawan pangan ketahanan pangan