PPU Jadi Lumbung Padi Kaltim, Lahan Pertanian Diminta Tetap Dijaga

istikhomah • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 21:07 WIB
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama kelompok tani saat panen raya padi di Kelurahan Waru, Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bersama kelompok tani saat panen raya padi di Kelurahan Waru, Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara.

Durasi Baca: 4 Menit

Ikhtisar: PPU memperkuat swasembada beras Kaltim melalui perluasan lahan, peningkatan produksi, dan perlindungan sawah dari alih fungsi.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi lumbung padi Kaltim setelah produksi pertanian mampu memenuhi kebutuhan beras daerah dan mencatat surplus.

Panen raya di Kelurahan Waru bukan sekadar soal gabah yang dipanen. Di baliknya ada pekerjaan panjang petani menjaga sawah tetap produktif, sekaligus tantangan mempertahankan lahan pertanian agar tidak beralih fungsi.

Baca Juga: HUT TNI ke-81 di PPU: Bakti Kesehatan, Pasar Murah hingga Lomba Domino

PPU Makin Dekat dengan Kemandirian Beras

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menghadiri panen raya bersama kelompok tani di Kelurahan Waru, Kecamatan Waru, PPU. Dalam kegiatan tersebut, ia memberikan apresiasi kepada petani yang terus mempertahankan budidaya padi.

Menurut Rudy, keberadaan kelompok tani yang tetap menggarap sawah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih memiliki peran penting dalam ketahanan pangan daerah.

Data yang disampaikan ANTARA Kaltim mencatat luas lahan sawah PPU sekitar 7.508 hektare. Pada 2024, lahan tersebut menghasilkan sekitar 50.672,30 ton beras. Produksi itu disebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat PPU dan menghasilkan surplus untuk kebutuhan wilayah sekitar.

Angka tersebut menjadi salah satu alasan PPU disebut sebagai lumbung padi Kaltim.

Luas Tanam Padi Terus Didorong

Upaya meningkatkan produksi juga dilakukan melalui perluasan lahan tanam. Dalam keterangannya, Rudy menyebut luas tanam yang sebelumnya sekitar 5.500 hektare telah meningkat menjadi 7.500 hektare.

Perluasan tersebut menjadi bagian dari dorongan pemerintah untuk memperkuat swasembada pangan. Terlebih, kebutuhan beras Kaltim secara keseluruhan masih belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi daerah.

Rudy menyebut kebutuhan beras Kaltim masih banyak didatangkan dari provinsi lain. Karena itu, peningkatan produksi PPU tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan petani dan masyarakat setempat, tetapi juga dengan upaya mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Sawah Diminta Tidak Beralih Fungsi

Ada satu pesan yang cukup jelas dari panen raya tersebut: lahan pertanian yang sudah produktif perlu dijaga.

Rudy meminta lahan pertanian di PPU tidak dialihfungsikan menjadi kawasan lain, terutama perkebunan kelapa sawit. Ia juga mendorong optimalisasi lahan agar produksi pangan dapat terus ditingkatkan.

Pesan ini penting karena keberhasilan swasembada beras tidak hanya ditentukan oleh hasil panen. Ketersediaan lahan pertanian yang dapat terus digunakan juga menjadi bagian dari keberlanjutan produksi.

PPU Jadi Penopang Pangan Kaltim

Rudy menyebut PPU sebagai satu-satunya kabupaten di Kaltim yang telah mampu mencapai swasembada beras.

Capaian tersebut menempatkan petani PPU pada posisi penting dalam agenda ketahanan pangan daerah. Ketika kebutuhan beras Kaltim masih membutuhkan pasokan dari luar provinsi, produksi dari daerah surplus seperti PPU menjadi bagian penting dari rantai pangan regional.

Pemerintah PPU juga menerapkan program serap beras lokal dengan melibatkan ASN dan BUMD untuk menyerap beras petani setempat. Langkah ini diarahkan untuk mendukung perekonomian petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Baca Juga: Tunggakan Air PPU Nyaris Rp6 Miliar, Bupati Minta Pelanggan Bayar Bertahap

Yang Perlu Dijaga Setelah Panen

Panen raya memang menjadi penanda keberhasilan produksi. Namun pekerjaan berikutnya tidak kalah penting: menjaga agar lahan tetap produktif, memperluas potensi pertanian, dan memastikan hasil panen memiliki pasar.

Bagi PPU, status sebagai lumbung padi Kaltim berarti ada tanggung jawab untuk mempertahankan produksi secara berkelanjutan. Bagi Kaltim, semakin kuat produksi dari sentra pangan daerah berarti semakin besar peluang memperkecil ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar.

Data Pemprov Kaltim juga menunjukkan pengembangan produksi padi terus menjadi bagian dari agenda swasembada pangan daerah. Optimalisasi lahan dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk PPU, untuk meningkatkan produksi padi dan beras.

Jadi, cerita dari sawah Waru bukan berhenti ketika gabah masuk mesin panen. Tantangan berikutnya adalah memastikan sawah tetap ada, petani tetap bisa berproduksi, dan hasilnya terus mampu menopang kebutuhan pangan Kaltim.

Kalau informasi ini terasa penting, bagikan artikel ini agar semakin banyak warga Kaltim mengetahui bagaimana PPU menjaga perannya sebagai salah satu penyangga pangan daerah.

Dari sawah PPU, cerita tentang pangan Kaltim masih terus berlanjut. Tetap bersama Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar berita biasa.

FAQ

1. Mengapa PPU disebut lumbung padi Kaltim?
PPU disebut lumbung padi Kaltim karena produksi berasnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat PPU dan menghasilkan surplus untuk kebutuhan wilayah sekitar.

2. Berapa luas lahan sawah PPU?
ANTARA Kaltim mencatat luas lahan sawah PPU sekitar 7.508 hektare.

3. Berapa produksi beras PPU pada 2024?
Produksi beras PPU pada 2024 tercatat sekitar 50.672,30 ton.

4. Apa yang diminta Gubernur Kaltim terkait lahan pertanian PPU?
Rudy Mas’ud meminta lahan pertanian tidak dialihfungsikan, terutama menjadi perkebunan kelapa sawit.

5. Apakah PPU sudah disebut swasembada beras?
Gubernur Kaltim menyebut PPU sebagai satu-satunya kabupaten di Kaltim yang telah mampu mencapai swasembada beras.

Sumber Informasi: Kaltim Aktual, ANTARA Kaltim, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Rudy Mas’ud Pertanian Kaltim swasembada beras ppu