Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Kasus ISPA PPU melonjak dari 636 menjadi 2.364, bersamaan pemantauan udara diperketat akibat kemarau dan karhutla.
Balikpapan TV - Hai Ces! Musim kemarau belum berakhir di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Kondisi ini mulai terasa pada kualitas udara dan kesehatan warga, dengan laporan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mencapai 2.364 kasus.
Angka tersebut membuat pemantauan udara di PPU diperketat. Debu, asap karhutla, dan kondisi kering kini menjadi perhatian karena paparan partikel udara dapat mengganggu saluran pernapasan. Jadi, saat udara mulai berkabut, kesehatan jangan sampai ikut terabaikan, Ces!
Mengapa kasus ISPA di PPU meningkat tajam?
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PPU Lukasiwan Eddy Saputro mengatakan musim kemarau yang masih berlangsung berdampak terhadap kualitas udara sekaligus kesehatan masyarakat.
Berdasarkan laporan puskesmas yang tersebar di empat kecamatan, tercatat 2.364 kasus ISPA. Sebelumnya, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 636 kasus.
Jika dibandingkan dengan angka sebelumnya, jumlah tersebut bertambah 1.728 kasus atau sekitar 271,7 persen. Artinya, kasus yang dilaporkan kini mencapai sekitar 3,7 kali dari angka sebelumnya.
Lukasiwan mengaitkan peningkatan tersebut dengan kondisi kemarau, terutama sebaran debu dan dampak kebakaran hutan dan lahan yang memengaruhi kualitas udara.
"Kemarau yang masih berlangsung sampai saat ini berdampak pada kualitas udara dan kesehatan," ujar Lukasiwan, Jumat (18/9).
Bagaimana kondisi udara PPU selama musim kemarau?
Pemkab PPU memperketat pemantauan karena kabut asap mulai muncul di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla. Pengukuran tidak hanya dilakukan di luar ruangan, tetapi juga di dalam ruangan.
Pemantauan dilakukan dua kali sehari, pagi dan siang, melalui 11 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan di PPU. Petugas mengukur partikulat PM2,5 dan PM10 sebagai bagian dari pemantauan kualitas udara.
PM2,5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat terhirup ke dalam saluran pernapasan. Sementara PM10 mencakup partikel dengan ukuran lebih besar yang juga dapat berasal dari debu dan asap.
Data pemantauan pada 17 September menunjukkan paparan partikulat cukup tinggi di Kecamatan Sepaku. Konsentrasi PM10 tercatat mencapai 532,67 mikrogram per meter kubik di dalam ruangan dan 244 mikrogram per meter kubik di luar ruangan pada pengukuran siang hari.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara dapat berbeda antarwilayah, terutama ketika lokasi berada lebih dekat dengan titik kebakaran atau terdampak pergerakan asap.
Baca Juga: Paser Pacu Investasi, Tata Ruang dan Perizinan Jadi Kunci Pembuka Peluang Usaha
Apa yang dilakukan Pemkab PPU untuk mencegah dampak kesehatan?
Dinas Kesehatan PPU meminta setiap puskesmas melakukan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat sekaligus mengambil langkah pencegahan terhadap ISPA.
Pengukuran kualitas udara dilakukan secara berkala untuk melihat perubahan kondisi udara. Data PM2,5 dan PM10 menjadi bagian penting karena kedua parameter tersebut dapat menggambarkan konsentrasi partikulat di lingkungan.
Langkah ini juga berkaitan dengan kondisi karhutla yang masih menjadi sumber gangguan kualitas udara di sejumlah wilayah. ANTARA melaporkan Pemkab PPU memang menginstruksikan pemantauan kualitas udara dan penyakit yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.
Bagi masyarakat, Dinkes mengimbau penggunaan masker, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap dan debu. Aktivitas di luar ruangan juga perlu diperhatikan ketika kondisi udara sedang tidak baik.
Mengapa pemantauan udara penting bagi warga PPU?
Kenaikan kasus ISPA membuat persoalan kualitas udara tidak berhenti pada angka indeks atau hasil pengukuran partikulat. Kondisi udara berkaitan langsung dengan aktivitas warga yang setiap hari bekerja, belajar, bepergian, dan beraktivitas di ruang terbuka.
Pemantauan juga membantu pemerintah melihat wilayah yang mengalami paparan lebih tinggi. Dengan pengukuran di 11 puskesmas, perubahan kondisi udara dapat dipantau dari sejumlah titik di empat kecamatan.
Kondisi kualitas udara PPU sebelumnya memang menunjukkan perubahan selama musim kemarau. Pada awal September, pemantauan di Stasiun Kualitas Udara Nipah-Nipah mencatat PM2,5 sempat mencapai 86 dan masih berada dalam kategori sedang menurut ISPU.
Perubahan kondisi tersebut membuat pemantauan kesehatan menjadi penting, terutama ketika kabut asap dan debu mulai muncul bersamaan dengan meningkatnya kasus ISPA.
Baca Juga: Bocah SD di PPU Tampil Berani Jadi Polisi Cilik, Ada Misi di Baliknya
Poin Penting
- Kasus ISPA di PPU tercatat 2.364 kasus, naik dari 636 kasus sebelumnya.
- Kenaikan tersebut mencapai sekitar 271,7 persen atau hampir 3,7 kali dari angka sebelumnya.
- Pemantauan kualitas udara dilakukan dua kali sehari, pagi dan siang.
- Sebanyak 11 puskesmas dilibatkan dalam pemantauan di wilayah PPU.
- Parameter yang diukur meliputi PM2,5 dan PM10.
- Warga diimbau menggunakan masker ketika kondisi udara memburuk akibat asap dan debu.
Insight Redaksi
Lonjakan ISPA membuat data kualitas udara PPU semakin penting dibaca bersama data kesehatan. Bukan sekadar angka pemantauan, tetapi gambaran kondisi yang dirasakan warga. Ketika kemarau bertemu karhutla, debu dan asap bisa masuk ke ruang hidup sehari-hari. Karena itu, pemantauan harus berjalan konsisten agar respons kesehatan tidak terlambat. Warga PPU tetap perlu waspada.
Kalau udara mulai berasap, masker siap dan aktivitas luar dikurangi dulu, biar napas tetap nyaman.
Kalau informasi ini terasa berguna, bagikan ke keluarga, tetangga, atau kawan yang sedang beraktivitas di wilayah PPU.
Pantau kondisi udara PPU dan tetap update kabar Kaltim bersama Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa jumlah kasus ISPA di PPU?
Kasus ISPA yang tercatat berdasarkan laporan puskesmas di empat kecamatan mencapai 2.364 kasus, meningkat dari 636 kasus sebelumnya.
2. Apa penyebab peningkatan kasus ISPA di PPU?
Dinkes PPU mengaitkan peningkatan dengan dampak karhutla serta sebaran debu selama musim kemarau yang memengaruhi kualitas udara.
3. Di mana pemantauan kualitas udara dilakukan?
Pemantauan dilakukan melalui 11 puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten PPU, baik di dalam maupun luar ruangan.
4. Apa saja yang diukur dalam pemantauan udara?
Petugas mengukur konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10 untuk memantau kondisi kualitas udara.
5. Apa imbauan Dinkes PPU kepada masyarakat?
Masyarakat diimbau menggunakan masker, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap dan debu, serta memperhatikan aktivitas di luar ruangan.
Sumber Informasi
Media Balikpapan Pos, dengan judul “Kasus ISPA di PPU Melonjak Jadi 2.364, Pemkab Pantau Kualitas Udara”, oleh Dolvie Lumintang, S.IK, Balpos. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.