Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Kekeringan melanda 40,6 hektare sawah di Babulu dan Waru, sementara petani hortikultura mendapat suplai air.
Balikpapan TV - Hai Ces! Musim kemarau mulai menekan lahan pertanian di Penajam Paser Utara (PPU). Dinas Pertanian PPU mencatat 40,6 hektare sawah di Kecamatan Babulu dan Waru mengalami kekeringan, dengan sebagian lahan kesulitan mendapatkan sumber air untuk mempertahankan tanaman.
Dari luasan tersebut, 21 hektare berada di Babulu dan 19,6 hektare lainnya tersebar di Waru. Kondisi paling menyulitkan terjadi pada lahan yang tidak memiliki sumber air permukaan, sehingga petani tidak punya banyak pilihan ketika hujan belum turun.
Bukan Sekadar Pompa, Sumber Air Jadi Persoalan
Kepala Dinas Pertanian PPU Rozihan menjelaskan, kondisi lahan yang terdampak umumnya berkaitan dengan keterbatasan sumber air permukaan. Artinya, keberadaan pompa saja belum otomatis menyelesaikan persoalan jika tidak ada air yang dapat dialirkan ke sawah.
Kondisi itu juga menjadi perhatian dalam pengelolaan pertanian PPU. Pada September 2026, Dinas Pertanian PPU menyebut terdapat 30 unit pompa yang tersedia, tetapi pemanfaatannya terkendala karena sebagian lokasi tidak memiliki sumber air yang cukup untuk dipompa. Pemerintah daerah kemudian mengusulkan tambahan jaringan irigasi air tanah, terutama untuk kawasan Babulu.
Babulu sendiri merupakan salah satu kawasan penting bagi pertanian PPU. Data tata ruang daerah mencatat kawasan sawah irigasi dan sawah tadah hujan tersebar di Babulu dan Waru, sehingga gangguan pasokan air di dua kecamatan tersebut berkaitan langsung dengan keberlangsungan produksi pangan daerah.
Tanaman Hortikultura Mendapat Suplai Air
Tekanan kekeringan tidak hanya dirasakan petani padi. Tanaman hortikultura seperti cabai dan semangka juga membutuhkan pasokan air agar tetap dapat tumbuh selama curah hujan terbatas.
Rozihan mengatakan Dinas Pertanian membantu suplai air untuk petani hortikultura. Petani diminta menyiapkan tempat penampungan seperti tandon atau kolam terpal, kemudian kebutuhan air dikoordinasikan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Kita bantu suplai air,” kata Rozihan.
Sistemnya menyesuaikan kebutuhan petani. Air diantar dan ditampung terlebih dahulu sehingga dapat digunakan untuk menyiram tanaman hortikultura.
Kebutuhan air untuk hortikultura berbeda dengan padi. Tanaman padi membutuhkan genangan air pada kondisi tertentu, sedangkan tanaman hortikultura dapat memanfaatkan air dari penampungan secara bertahap.
Dampaknya Belum Dinilai Ekstrem
Meski 40,6 hektare sawah tercatat mengalami kekeringan, Dinas Pertanian PPU menyebut dampaknya terhadap kegagalan panen belum tergolong parah.
Rozihan mengatakan kerusakan tanaman belum sampai pada kondisi ekstrem. Namun, persoalan pasokan air tetap perlu ditangani agar kekeringan tidak berkembang menjadi kerugian yang lebih besar bagi petani.
Kondisi tersebut sejalan dengan persoalan pertanian PPU pada musim kemarau 2026. Petani yang masih mengandalkan air hujan menghadapi risiko penurunan hasil ketika sumber air menyusut.
Di tingkat nasional, pemerintah juga menangani dampak kekeringan yang meluas. Hingga 7 September 2026, Kementerian Pekerjaan Umum melaporkan penanganan darurat di 2.200 lokasi dan upaya menjaga pasokan air untuk 53.052 hektare sawah.
Baca Juga: Beli LPG 3 Kg di PPU, Warga Diminta Terdaftar MyPertamina di Pangkalan Resmi
Bantuan Pompa Masih Dibutuhkan, tetapi Tidak Berdiri Sendiri
Dinas Pertanian PPU berharap dukungan mesin pompa air dapat diperkuat untuk wilayah yang kekurangan air. Namun, kondisi di Babulu menunjukkan bahwa kebutuhan petani bukan hanya peralatan, melainkan juga sumber air dan jaringan pengairan yang bisa digunakan ketika kemarau berlangsung.
Pemerintah daerah telah mengusulkan pembangunan tambahan jaringan irigasi air tanah. Dari usulan tersebut, empat unit disebut telah dibangun dan enam unit lainnya masih diusulkan untuk penambahan.
Bagi petani, ketersediaan air menentukan apakah lahan tetap bisa ditanami atau harus menunggu kondisi membaik. Karena itu, penanganan kekeringan tidak berhenti pada pengiriman air saat darurat, tetapi juga menyangkut infrastruktur yang dapat menjaga pasokan pada musim kemarau berikutnya.
Poin Penting
-
40,6 hektare sawah di PPU mengalami kekeringan.
-
21 hektare berada di Kecamatan Babulu.
-
19,6 hektare berada di Kecamatan Waru.
-
Lahan tanpa sumber air permukaan menjadi yang paling terdampak.
-
Petani hortikultura mendapat bantuan suplai air melalui koordinasi Dinas Pertanian dan BPBD.
-
PPU memiliki pompa, tetapi sebagian lokasi terkendala ketersediaan sumber air.
-
Pemerintah daerah mengusulkan tambahan jaringan irigasi air tanah.
Insight Redaksi
Kekeringan di Babulu dan Waru menunjukkan persoalan air tidak selesai hanya dengan menambah pompa. Peralatan tanpa sumber air tetap tidak banyak membantu. Bagi kawasan pangan PPU, penguatan jaringan irigasi dan cadangan air menjadi pekerjaan yang lebih panjang. Singkatnya, pompa penting, tetapi airnya harus tersedia dulu. Jangan sampai alat ada, sawah tetap kering, bah.
Penanganan kekeringan sebaiknya diarahkan pada lokasi yang paling bergantung pada air hujan, sambil memperkuat sumber air dan jaringan pengairan agar petani tidak terus menunggu hujan.
Kalau punya keluarga atau kerabat yang bertani di Babulu dan Waru, bagikan informasi ini supaya perkembangan bantuan air tidak lewat begitu saja.
Musim kemarau belum selesai, jadi pantau terus kabar pertanian PPU bersama Balikpapan TV, teman update setia bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa luas sawah yang mengalami kekeringan di PPU?
Dinas Pertanian PPU mencatat 40,6 hektare sawah terdampak, terdiri dari 21 hektare di Babulu dan 19,6 hektare di Waru.
2. Mengapa sawah mengalami kekeringan?
Lahan yang terdampak umumnya tidak memiliki sumber air permukaan, sehingga petani kesulitan mendapatkan pasokan air ketika hujan belum turun.
3. Apakah petani mendapat bantuan air?
Untuk tanaman hortikultura, Dinas Pertanian PPU membantu suplai air dengan berkoordinasi bersama BPBD. Petani menyiapkan tandon atau kolam terpal sebagai tempat penampungan.
4. Apakah kekeringan sudah menyebabkan gagal panen besar?
Menurut Kepala Dinas Pertanian PPU Rozihan, dampaknya belum tergolong ekstrem dan kegagalan tanaman belum terlalu parah.
5. Apakah PPU membutuhkan tambahan pompa air?
Pompa tetap dibutuhkan, tetapi ketersediaan sumber air menjadi persoalan utama di sejumlah lokasi. Karena itu, PPU juga mengusulkan tambahan jaringan irigasi air tanah.