ISPU PPU Capai 80 di Tengah Karhutla, DLH Siapkan Empat Titik Pemantauan Udara

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 14:40 WIB
ISPU PPU sempat mencapai 80, sementara karhutla dan pemantauan PM2.5 membuat warga perlu tetap waspada terhadap kualitas udara. (Sumber: YouTube Balikpapan TV)
ISPU PPU sempat mencapai 80, sementara karhutla dan pemantauan PM2.5 membuat warga perlu tetap waspada terhadap kualitas udara. (Sumber: YouTube Balikpapan TV)

Durasi baca: 4 menit

Ikhtisar: ISPU PPU sempat naik ke 80, sementara karhutla dan pemantauan PM2.5 membuat warga perlu tetap waspada.

Balikpapan TV - Hai Ces! Kualitas udara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali menjadi perhatian setelah ISPU mencapai 80 pada awal September, di tengah aktivitas karhutla yang masih terjadi.

Angka itu memang belum masuk kategori tidak sehat. Tetapi asap tidak mengenal batas wilayah, sehingga pemantauan udara dan pencegahan pembakaran lahan tetap penting untuk warga PPU.

Empat titik pantau disiapkan DLH

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) PPU menggunakan alat passive sampler untuk memantau kualitas udara secara berkala. Alat tersebut ditempatkan di empat titik yang mewakili kawasan transportasi, industri, pemukiman, dan perkantoran.

Lokasi pemantauan tersebar di wilayah Kecamatan Babulu, Kecamatan Penajam, kawasan hutan kota, hingga area pinggir jalan kabupaten. Sampel yang dikumpulkan kemudian dikirim untuk pengujian di laboratorium pemerintah provinsi.

Pemantauan seperti ini menjadi penting karena kondisi udara dapat berubah mengikuti aktivitas pembakaran dan pergerakan asap.

Di PPU sendiri, data pemantauan pada 3 September 2026 menunjukkan ISPU berada di angka 80 atau kategori sedang. Sehari sebelumnya, nilainya masih 72. Parameter PM2.5 menjadi salah satu penyumbang utama indeks tersebut.

Karhutla PPU belum benar-benar berhenti

Kondisi udara tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah PPU.

Hingga 31 Agustus 2026, BPBD PPU mencatat 84 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 89,15 hektare. Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, disusul Babulu, Waru, dan Sepaku.

Perkembangannya bahkan berlanjut. Hingga 8 September, jumlah kejadian yang ditangani tim gabungan mencapai 113 kasus dengan total luasan sekitar 199,79 hektare. Kecamatan Penajam mencatat kejadian terbanyak dengan 62 kasus dan luas lahan terdampak 125,97 hektare.

Artinya, persoalan kualitas udara bukan hanya soal angka pada satu hari. Selama masih ada titik kebakaran dan asap yang menyebar, kondisi udara tetap dapat berubah.

PM2.5 menjadi perhatian

Partikel PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang menjadi salah satu indikator penting ketika udara terpengaruh asap.

Data pemantauan di PPU menunjukkan PM2.5 menjadi parameter yang menonjol dalam perubahan kualitas udara. Pada pemantauan akhir Agustus, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Pemantau Kualitas Udara Nipah-Nipah tercatat meningkat dari 12 µg/m³ pada 9 Agustus menjadi 33 µg/m³ pada 31 Agustus. PM10 juga meningkat dari 17 µg/m³ menjadi 45 µg/m³ dalam periode yang sama.

Kondisi ini menjelaskan mengapa pemantauan perlu dilakukan secara berkala. Udara yang terlihat membaik pada satu waktu belum tentu bertahan ketika titik api kembali muncul atau asap bergerak ke wilayah lain.

DLH Provinsi Kalimantan Timur juga menyatakan pemantauan PM2.5 terus dioptimalkan di daerah rawan karhutla melalui sistem ISPUnet dan stasiun pemantauan kualitas udara tetap.

Baca Juga: Pama Site Kideco Perkuat Kesiapsiagaan 47 MPA Hadapi Karhutla

Dampaknya tidak berhenti di angka ISPU

Bagi warga, perubahan kualitas udara berarti ada kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan ketika menjalankan aktivitas sehari-hari.

Dampak kesehatan juga mulai menjadi perhatian di PPU. Dinas Kesehatan PPU mencatat 2.364 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026 dan menyebut terjadi peningkatan 35,93 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Karena itu, kualitas udara tidak cukup dibaca sebagai angka di layar. Ketika partikulat meningkat bersamaan dengan kabut asap, masyarakat perlu mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas bila kondisi memburuk.

Jangan menambah sumber asap saat kemarau

Pesan DLH PPU juga sederhana: masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan.

Imbauan ini semakin relevan karena kondisi kemarau turut menyulitkan penanganan kebakaran. BPBD PPU sebelumnya menyebut petugas dapat mengalami kendala mendapatkan pasokan air ketika memadamkan karhutla.

Rakhmadi, Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH PPU, juga mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih karena sumber air baku dan waduk mulai mengalami penurunan.

Jadi, dua persoalan berjalan beriringan: asap perlu dikendalikan agar kualitas udara tidak kembali memburuk, sementara penggunaan air perlu dihemat karena musim kemarau menekan ketersediaan sumber daya tersebut.

Baca Juga: Tiga SPPG Paser Masih Disuspend, Ribuan Penerima MBG Menunggu Kepastian

Yang perlu diperhatikan warga PPU

Ada beberapa hal sederhana yang bisa menjadi perhatian selama kondisi karhutla masih berlangsung.

Perubahan angka ISPU dari 72 menjadi 80 pada awal September menunjukkan bahwa kondisi udara memang dapat berfluktuasi. Pada saat yang sama, data karhutla hingga 8 September memperlihatkan sumber gangguan asap masih perlu diwaspadai.

Karena itu, membaiknya kualitas udara di satu waktu sebaiknya tidak menjadi alasan untuk mengendurkan pencegahan. Yang paling efektif tetap dimulai dari mencegah munculnya kebakaran baru.

Poin penting:

Insight Redaksi:
Angka ISPU hanyalah gambaran kondisi pada waktu tertentu. Ketika kejadian karhutla masih bertambah, perhatian warga sebaiknya tidak berhenti pada apakah udara hari ini masuk kategori sedang atau baik. Pencegahan kebakaran tetap menjadi cara paling langsung untuk menjaga kualitas udara dan mengurangi paparan asap.

Kalau udara terlihat lebih bersih, tetap jangan lengah. Musim kemarau belum selesai, dan satu titik api baru bisa kembali membawa persoalan yang sama.

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan warga sekitar agar kewaspadaan terhadap karhutla tidak berhenti di tingkat pemerintah saja.

Balikpapan TV akan terus menemani Ikam memantau informasi daerah, bukan sekadar apa yang terjadi hari ini, tetapi juga apa dampaknya bagi kehidupan kita.

FAQ

Apakah kualitas udara PPU saat ini berbahaya?

Data 3 September 2026 menunjukkan ISPU PPU berada di angka 80 dan masih dalam kategori sedang. Namun, kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan asap dan titik kebakaran.

Mengapa PM2.5 menjadi perhatian?

PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil dan menjadi salah satu parameter yang menonjol ketika kualitas udara PPU dipengaruhi asap karhutla.

Di mana DLH PPU memantau kualitas udara?

DLH PPU menggunakan passive sampler di empat titik yang mewakili kawasan transportasi, industri, pemukiman, dan perkantoran.

Apakah karhutla di PPU masih terjadi?

Ya. Hingga 8 September 2026, BPBD PPU mencatat 113 kejadian karhutla dengan total luas sekitar 199,79 hektare.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat?

Masyarakat diminta tidak membakar lahan, memantau informasi kualitas udara, mengurangi paparan asap ketika kondisi memburuk, dan menghemat penggunaan air selama musim kemarau.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Balikpapan TV
PM2.5 kualitas udara karhutla ppu