Durasi Baca: 4 menit
Ikhtisar: PPU memperkuat irigasi Babulu lewat JIAT, karena ketersediaan sumber air menentukan keberlanjutan produksi pertanian.
Balikpapan TV - Hai Ces! Ketersediaan air menjadi salah satu kunci pertanian di Penajam Paser Utara, terutama Babulu yang menjadi kawasan penting produksi pangan. Pemerintah daerah kini mendorong penambahan jaringan irigasi air tanah agar lahan pertanian tidak hanya bergantung pada hujan.
Bagi petani, persoalannya bukan sekadar punya mesin pompa atau tidak. Kalau sumber airnya terbatas, pompa yang tersedia pun tidak otomatis bisa mengairi sawah. Kondisi inilah yang membuat pembangunan jaringan irigasi air tanah menjadi penting untuk dibahas.
Babulu diprioritaskan karena kebutuhan air pertanian
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara melalui Dinas Pertanian menempatkan Kecamatan Babulu sebagai salah satu wilayah prioritas pengembangan jaringan irigasi.
Dalam materi liputan Balikpapan TV, Kepala Dinas Pertanian PPU Rozihan menyebut pemerintah daerah sebelumnya mengusulkan pembangunan 10 titik Jaringan Irigasi Air Tanah atau JIAT. Sebagian usulan telah direalisasikan, sementara tambahan jaringan masih diupayakan melalui BWS Kalimantan IV.
Pengembangan ini berkaitan langsung dengan kebutuhan petani terhadap pasokan air yang lebih terjamin. Dengan sumber air yang tersedia, lahan pertanian memiliki peluang untuk ditanami lebih konsisten, termasuk ketika kondisi hujan tidak mencukupi.
Masalahnya ternyata bukan hanya jumlah pompa
Kondisi di lapangan memperlihatkan kenapa jaringan irigasi air tanah menjadi kebutuhan berbeda dari sekadar bantuan pompa.
Pada September 2026, Dinas Pertanian PPU disebut memiliki sekitar 30 unit pompa, tetapi sebagian belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan sumber air. Karena itu, pembangunan JIAT dinilai lebih strategis untuk sejumlah kawasan pertanian yang membutuhkan sumber air permanen.
Persoalan tersebut membuat kebutuhan infrastruktur pengairan harus dilihat sebagai satu sistem: sumber air, sumur, pompa, jaringan distribusi hingga lahan pertanian harus saling mendukung.
Dukungan BWS terus masuk ke PPU
Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda memang memiliki peran dalam mendukung infrastruktur sumber daya air di PPU.
Pada 2025, BWS Kalimantan IV membantu pembangunan empat sumur bor irigasi pertanian di Kecamatan Babulu. Lokasinya mencakup Desa Labangka Barat, Labangka, Babulu Darat dan Rawa Mulia.
Untuk 2026, dukungan kembali diberikan melalui program Jaringan Irigasi Air Tanah. Lima unit sumur bor direncanakan dibangun di Desa Labangka, Gunung Mulia, Gunung Intan serta Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam.
Artinya, pengembangan irigasi PPU tidak berhenti pada empat titik yang menjadi bagian dari pemberitaan sebelumnya. Program tersebut terus bergerak melalui dukungan infrastruktur sumber daya air dari pemerintah pusat.
Baca Juga: Hotspot PPU Nihil, Pemda Tetap Waspada dan Siapkan BTT Rp107 Juta untuk Karhutla
Kenapa JIAT penting bagi petani?
JIAT memberi pilihan pengairan ketika pertanian tidak bisa sepenuhnya mengandalkan curah hujan.
Kebutuhan ini semakin terasa karena PPU masih menghadapi tantangan kekeringan pada lahan pertanian. Dinas Pertanian bahkan menyiapkan pompanisasi sebagai langkah menghadapi musim kemarau 2026.
Namun, keberadaan pompa tanpa sumber air yang memadai memiliki keterbatasan. Di sinilah JIAT menjadi pelengkap penting.
Bagi petani, manfaat akhirnya bukan sekadar bertambahnya jumlah sumur atau pompa. Yang lebih penting adalah air dapat sampai ke lahan ketika tanaman membutuhkannya.
Air menentukan seberapa sering lahan bisa ditanami
Ketersediaan air memiliki kaitan dengan peluang meningkatkan produktivitas pertanian.
Data pemerintah daerah menunjukkan produksi padi PPU pada musim tanam 2024/2025 mencapai sekitar 50.672 ton gabah kering panen. Pada musim tanam pertama Oktober 2025 hingga Maret 2026, produksi padi tercatat sekitar 24.500 ton GKP.
Angka tersebut menunjukkan pertanian tetap menjadi bagian penting dari ketahanan pangan PPU. Karena itu, menjaga lahan produktif tidak cukup hanya dengan mempertahankan luas sawah. Infrastruktur pengairan juga menentukan kemampuan petani menjaga pola tanam.
BWS Kalimantan IV sendiri menyebut pengelolaan dan pembangunan infrastruktur irigasi sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan dan swasembada pangan di Kalimantan Timur.
Usulan tambahan masih menjadi pekerjaan berikutnya
Dinas Pertanian PPU masih mendorong tambahan jaringan irigasi air tanah melalui BWS.
Dalam jangka pendek, kombinasi antara JIAT dan pompanisasi dapat membantu petani menghadapi kebutuhan air. Namun dalam jangka lebih panjang, tantangannya adalah memastikan jaringan yang sudah dibangun benar-benar berfungsi, sumber air terjaga, dan distribusinya mampu menjangkau lahan pertanian secara efektif.
Babulu menjadi penting dalam konteks ini karena kawasan tersebut bukan hanya membutuhkan infrastruktur, tetapi juga sistem pengairan yang mampu mengikuti kebutuhan produksi pertanian.
Kalau air tersedia ketika petani membutuhkannya, manfaatnya tidak berhenti di saluran irigasi. Dampaknya bisa berlanjut ke pola tanam, produksi dan ketersediaan pangan daerah.
Baca Juga: Belum Rampung Dibangun, Rumah Adat Rekan Tatau PPU Sudah Hidup dengan Seni dan UMKM
FAQ
Apa itu JIAT?
JIAT adalah Jaringan Irigasi Air Tanah, yaitu infrastruktur yang memanfaatkan sumber air tanah untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Mengapa Kecamatan Babulu menjadi prioritas?
Babulu merupakan salah satu kawasan pertanian penting di PPU sehingga kebutuhan ketersediaan air menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas lahan.
Apakah pompa saja cukup untuk mengatasi kebutuhan air?
Tidak selalu. Ketersediaan sumber air menjadi faktor penting agar pompa dapat digunakan secara optimal.
Siapa yang mendukung pembangunan jaringan irigasi di PPU?
Dukungan datang antara lain dari Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda melalui program infrastruktur sumber daya air dan JIAT.
Editor : Arya Kusuma