Musim Tanam PPU Terancam Mundur, Kekeringan Mulai Tekan Lahan Pertanian

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 11:23 WIB
Kemarau berkepanjangan membuat petani PPU menunda musim tanam karena lahan mengering dan pasokan air terbatas. (Sumber: YouTube Balikpapan TV)
Kemarau berkepanjangan membuat petani PPU menunda musim tanam karena lahan mengering dan pasokan air terbatas. (Sumber: YouTube Balikpapan TV)

Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: Kekeringan membuat petani PPU kesulitan memulai musim tanam, sementara sebagian lahan masih menghadapi risiko gagal panen.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Petani di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menghadapi keterlambatan musim tanam akibat kemarau berkepanjangan yang membuat lahan sulit diolah dan pasokan air terbatas.

Yang dikhawatirkan bukan hanya mundurnya jadwal tanam. Jarak menuju panen ikut bergeser, sehingga masa produksi pangan daerah bisa menjadi lebih panjang.

Tanah mengeras, petani belum bisa kembali menanam

Kondisi tersebut dirasakan petani di sejumlah wilayah PPU. Minimnya asupan air membuat tanah semakin keras sehingga lahan sulit dipersiapkan untuk tanaman berikutnya.

Sekretaris Daerah PPU Tohar menyebut kondisi ini sudah berdampak pada kegiatan pertanian. Bahkan tanaman palawija pun ikut sulit ditanam karena kondisi tanah yang mengering.

Menurut Tohar, jeda antara musim kemarau dan musim penghujan tahun ini berlangsung lebih panjang. Jika waktu tanam bergeser, waktu yang dibutuhkan hingga panen juga ikut bergeser.

Persoalannya menjadi lebih besar karena petani tidak hanya membutuhkan hujan untuk memulai penanaman. Air juga diperlukan sepanjang proses budidaya sampai tanaman siap dipanen.

Sebagian sawah masih panen, sebagian lainnya mulai terdampak

Kondisi pertanian PPU saat ini tidak seragam.

Data Dinas Pertanian PPU yang diberitakan pada 8 September menunjukkan masih ada sekitar 242,5 hektare lahan persawahan yang memasuki masa panen di tengah kemarau. Panen tersebut diperkirakan berlangsung hingga Oktober.

Namun, pada saat yang sama, sejumlah lahan mengalami kekeringan dengan tingkat dampak hingga puso atau gagal panen.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi petani bukan sekadar soal kapan hujan turun. Ada perbedaan kondisi antarlahan, sementara siklus tanam dan panen tetap harus berjalan.

Ketika musim tanam bergeser, produksi ikut menunggu

Bagi petani, terlambat menanam berarti ada waktu yang ikut hilang dalam satu siklus produksi.

Tohar menjelaskan, keterlambatan awal musim tanam akan memperpanjang jeda sebelum hasil pertanian berikutnya tersedia. Kondisi tanpa hujan dan minim asupan air berpengaruh terhadap rangkaian kegiatan dari penanaman hingga panen.

Kekhawatiran itu relevan dengan kondisi produksi PPU saat ini. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, luas tanam padi di daerah tersebut tercatat mencapai 6.969 hektare.

Artinya, ketika musim tanam berikutnya tertunda, persoalannya tidak berhenti pada satu bidang lahan. Perubahan jadwal dapat memengaruhi kesinambungan produksi pada periode berikutnya.

Baca Juga: RSUD RAPB PPU Belum Launching 6 Poli Baru, Fasilitas Penunjang Masih Disiapkan

Kekeringan juga menyentuh kebutuhan air warga

Tekanan akibat kemarau di PPU tidak hanya dirasakan sektor pertanian.

BPBD PPU mencatat distribusi 367.000 liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan sejak Agustus hingga awal September 2026. Bantuan tersebut disalurkan melalui 84 perjalanan ke wilayah Sepaku, Babulu, dan Penajam.

Kondisi ini memberi gambaran bahwa keterbatasan air telah menjadi persoalan lintas kebutuhan. Air dibutuhkan masyarakat untuk kehidupan sehari-hari, sementara lahan pertanian juga membutuhkannya untuk mempertahankan siklus produksi.

BMKG sendiri memprakirakan sebagian besar Kalimantan Timur berpeluang mengalami curah hujan rendah pada September 2026. Kondisi tersebut membuat harapan datangnya hujan menjadi semakin penting bagi keberlanjutan aktivitas pertanian.

Petani masih menunggu hujan untuk memulai siklus berikutnya

Pemerintah daerah berharap hujan segera turun agar petani dapat kembali mengolah lahan dan memulai penanaman.

Bagi petani, datangnya hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Hujan menjadi penanda kapan tanah kembali bisa dikerjakan dan kapan siklus produksi berikutnya dapat dimulai.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya kapan musim hujan tiba, tetapi juga bagaimana menjaga agar keterlambatan tanam tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih panjang terhadap produksi pangan PPU.

Baca Juga: Warga Kesulitan Air di PPU Bisa Ajukan Bantuan, Distribusi Diperluas ke Tiga Wilayah

Poin Penting

Insight Redaksi

Masalah utama yang perlu diperhatikan bukan hanya keterlambatan turun hujan, tetapi efek berantainya terhadap kalender pertanian. Ketika awal tanam bergeser, masa panen juga ikut bergeser. Dalam kondisi kemarau yang masih kuat, ketahanan produksi pangan daerah bergantung pada kemampuan menjaga ketersediaan air dan menyesuaikan jadwal budidaya dengan kondisi lapangan.

Jika hujan belum segera datang, perhatian pemerintah tidak cukup hanya pada lahan yang sudah mengalami kekeringan. Petani yang sedang menunggu waktu tanam berikutnya juga membutuhkan kepastian mengenai dukungan air dan strategi menghadapi perubahan kalender tanam.

Kalau informasi ini terasa penting, bagikan kepada keluarga, petani, atau warga PPU yang perlu mengetahui perkembangan kondisi pertanian daerah.

Musim tanam mungkin terlambat, tetapi informasi yang tepat waktu membantu masyarakat memahami apa yang sedang terjadi sebelum dampaknya terasa lebih jauh. Tetap bersama Balikpapan TV, teman update setia yang menghadirkan informasi bukan sekadar berita biasa.

FAQ

Mengapa petani PPU kesulitan memulai musim tanam?
Karena kemarau berkepanjangan membuat pasokan air terbatas dan kondisi tanah mengeras sehingga lahan sulit diolah.

Apa dampak keterlambatan musim tanam?
Jadwal penanaman bergeser dan waktu menuju panen berikutnya ikut menjadi lebih panjang.

Apakah seluruh lahan pertanian PPU mengalami kondisi yang sama?
Tidak. Sebagian lahan masih memasuki masa panen, sementara sebagian lainnya mengalami kekeringan hingga puso.

Berapa luas sawah yang masih dipanen di tengah kemarau?
Sekitar 242,5 hektare berdasarkan data Dinas Pertanian PPU yang diberitakan pada 8 September 2026.

Apa yang dilakukan pemerintah menghadapi kekeringan?
Selain menunggu hujan untuk mendukung musim tanam, penanganan kekeringan juga mencakup distribusi air bersih bagi warga terdampak.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
musim tanam pertanian PPU kekeringan penajam paser utara