Durasi Baca: 4 Menit
Ikhtisar: Distribusi air bersih PPU meluas ke Sepaku, Babulu, dan Penajam setelah kemarau mengganggu ketersediaan air warga.
Balikpapan TV - Hai Ces! Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara memperluas distribusi air bersih ke wilayah terdampak kekeringan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Ketika persediaan air mulai menipis, warga tidak hanya membutuhkan sumber air, tetapi juga kepastian bagaimana bantuan bisa sampai ke lingkungan mereka. Simak mekanismenya, Ces!
Warga yang Kesulitan Air Bisa Mengajukan Bantuan
Penanganan kekeringan di PPU melibatkan pemerintah daerah, Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka PPU Abdul Rasyid menjelaskan, masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat mengajukan permohonan melalui pemerintah desa atau kelurahan.
Usulan tersebut kemudian diteruskan kepada BPBD sebagai tim yang menangani distribusi air bersih ke titik-titik yang membutuhkan.
Mekanismenya dibuat berjenjang agar kebutuhan warga dapat dicatat dan distribusi diarahkan ke lokasi yang memang mengalami kekurangan air.
“Tugasnya mereka adalah menyalurkan air ke masyarakat ke titik-titik di mana masyarakat membutuhkan. Catatan, ini airnya enggak minta ke PDAM ya. Yang menyediakan airnya PDAM, tetapi yang mengantar distribusinya itu melalui BPBD.”
Artinya, penyediaan air dan pengiriman ke masyarakat memiliki peran yang berbeda. Perumda menyediakan sumber air, sementara BPBD menangani distribusinya.
Sepaku dan Babulu Sudah Mendapat Distribusi
Wilayah yang terdampak tidak hanya berada di satu kecamatan. Dalam penanganan yang disampaikan Abdul Rasyid, distribusi telah menyasar dua wilayah di Sepaku dan tiga wilayah di Babulu.
“Nah, yang sekarang sudah ditangani itu adalah di Sepaku, kemudian ada dua wilayah di Sepaku, lalu di Babulu ada tiga wilayah yang sudah dilayani.”
Perkembangan distribusi tersebut sejalan dengan catatan BNPB. Pada 31 Agustus 2026, kekeringan di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, berdampak terhadap sekitar 456 kepala keluarga dan pemerintah daerah telah menyalurkan 62.000 liter air bersih.
Distribusi di Sebakung Jaya juga menjangkau RT 1 hingga RT 15. Air disalurkan secara bertahap ke tandon yang telah disiapkan di masing-masing RT.
Bagi warga, pola seperti ini membuat bantuan tidak berhenti di tingkat wilayah, tetapi diarahkan hingga titik penampungan yang digunakan masyarakat.
Baca Juga: Kekeringan Meluas di PPU, Pemkab Perluas Bantuan Air Bersih ke Babulu
Berapa Banyak Air yang Sudah Disalurkan?
Penanganan kekeringan terus meluas sejak Agustus. Hingga awal September 2026, BPBD PPU bersama instansi terkait telah mendistribusikan 367.000 liter air bersih melalui 84 kali perjalanan ke wilayah Kecamatan Sepaku, Babulu, dan Penajam.
Sebelumnya, pada pertengahan Agustus, BPBD PPU juga menyalurkan 48.000 liter air ke Kelurahan Sepaku dan Desa Karang Jinawi.
Sebanyak 16.000 liter disalurkan ke tiga RT di Kelurahan Sepaku, sedangkan 32.000 liter lainnya diarahkan ke tujuh RT di Desa Karang Jinawi.
Angka tersebut menunjukkan kebutuhan air tidak hanya muncul di satu titik. Distribusi harus bergerak mengikuti kondisi sumber air dan permintaan masyarakat.
Dari Mana Air Bersih Diambil?
Sumber air yang digunakan dalam penanganan kekeringan tidak seluruhnya berasal dari sistem air yang sama.
Abdul Rasyid menjelaskan terdapat air bersih yang belum diolah dan air yang telah melalui proses pengolahan. Sumbernya disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan wilayah penerima.
“Airnya ada dua jenis: air bersih tapi tidak diolah (diambil dari sumur miliknya BWS), atau air yang diolah (mengambil di PDAM). Ngambilnya di mana? Mengambil di Intake Tulu, Maridan, dan Waru. Sementara ini masih bisa untuk daerah Penajam.”
Perbedaan sumber tersebut penting karena distribusi air bersih dalam kondisi darurat tidak selalu bergantung pada satu fasilitas pengolahan.
Di sejumlah lokasi, air juga diambil dari sumber setempat. Untuk Karang Jinawi, misalnya, distribusi sebelumnya menggunakan air dari embung RT 2 yang diangkut menggunakan mobil tangki BPBD.
Baca Juga: Sekolah Rakyat PPU Dibangun di Lawe-Lawe dengan Anggaran Rp280 Miliar, Ada Asrama
Bagaimana Cara Warga Mengajukan Bantuan?
Masyarakat yang mengalami kesulitan air tidak perlu mengajukan permintaan secara langsung kepada Perumda AMDT. Pengajuan dilakukan melalui BPBD dengan koordinasi pemerintah desa atau kelurahan.
“Jadi kalau misalnya ada masyarakat yang terdampak, boleh mengajukan permohonan bantuan air bersih, tapi melalui BPBD. Untuk beberapa kelurahan yang saya sebut tadi, itu dikoordinir oleh RT dan kelurahan atau desanya.”
Mekanisme tersebut membuat RT, desa, dan kelurahan menjadi penghubung antara kebutuhan warga dan tim distribusi.
Dengan kondisi kekeringan yang masih berlangsung, warga yang mengalami keterbatasan air dapat menyampaikan kebutuhan melalui perangkat wilayah agar dapat ditindaklanjuti sesuai kondisi lapangan.
Kekeringan Mulai Menekan Sumber Air Warga
Perluasan distribusi terjadi ketika kondisi kemarau mulai memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah PPU.
Pemerintah daerah sebelumnya menyebut distribusi yang semula menyasar Sepaku kemudian diperluas hingga Babulu karena permintaan masyarakat meningkat. Di Sebakung Jaya, 62.000 liter air disalurkan untuk memenuhi kebutuhan 456 KK.
Dampaknya tidak berhenti pada kebutuhan rumah tangga. Kondisi kering juga mulai memengaruhi sumur warga dan aktivitas pertanian.
Perkembangan terbaru menunjukkan persoalan sumber air juga perlu diperhatikan. Di Sotek, misalnya, layanan air minum sempat terhenti hampir satu bulan setelah embung yang menjadi sumber air mengering.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi solusi darurat, sementara keberlanjutan layanan tetap bergantung pada ketersediaan sumber air dan perubahan cuaca.
Poin Penting:
-
Warga terdampak kekeringan dapat mengajukan bantuan air melalui BPBD.
-
Pengajuan dikoordinasikan melalui RT, desa, atau kelurahan.
-
Distribusi telah menjangkau Sepaku, Babulu, dan Penajam.
-
Hingga awal September, 367.000 liter air telah didistribusikan melalui 84 perjalanan.
-
Sumber air berasal dari beberapa titik, baik air yang belum diolah maupun air hasil pengolahan.
-
Kekeringan mulai berdampak pada sumber air warga dan aktivitas pertanian.
Insight Redaksi
Krisis air di PPU menunjukkan bahwa penanganan kekeringan bukan sekadar persoalan mengirim tangki air. Ketika sumber air warga mulai berkurang, koordinasi RT, desa, kelurahan, BPBD, dan Perumda menjadi bagian penting agar bantuan benar-benar sampai ke rumah dan titik penampungan yang membutuhkan.
Bagi warga, informasi mengenai mekanisme pengajuan bantuan sama pentingnya dengan distribusi itu sendiri.
FAQ
Bagaimana warga PPU mengajukan bantuan air bersih?
Warga dapat menyampaikan kebutuhan melalui RT, desa, atau kelurahan untuk kemudian dikoordinasikan dengan BPBD.
Wilayah mana saja yang sudah mendapat distribusi?
Distribusi telah menjangkau wilayah Kecamatan Sepaku, Babulu, dan Penajam.
Berapa total air yang telah didistribusikan?
Hingga awal September 2026, sebanyak 367.000 liter air bersih telah disalurkan melalui 84 kali perjalanan.
Siapa yang menyediakan air dan siapa yang mengantar?
Perumda Air Minum Danum Taka menyediakan sumber air, sedangkan BPBD menangani distribusinya ke lokasi yang membutuhkan.
Mengapa distribusi air masih diperlukan?
Kondisi kemarau telah menyebabkan sejumlah wilayah mengalami keterbatasan sumber air, termasuk sumur dan embung yang digunakan masyarakat.
Editor : Arya Kusuma