Durasi Baca: 5 Menit
Ikhtisar: Pot bunga bermotif Solong Tengkalang membawa filosofi budaya Paser ke ruang publik sekaligus menjaga warisan leluhur.
Balikpapan TV - Hai Ces! Motif Solong Tengkalang yang berasal dari kehidupan tradisional Suku Paser kini hadir dalam bentuk pot bunga karya Masrani di Kabupaten Paser, sebagai cara mengenalkan kembali identitas budaya kepada masyarakat modern.
Bukan sekadar penghias ruangan, pot tersebut membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam. Dari bentuk keranjang tradisional hingga ukiran pada pot bunga, ada pesan budaya yang coba tetap hidup di tengah perubahan zaman. Yuk, lihat maknanya, Ces!
Dari keranjang tradisional menjadi karya seni
Solong Tengkalang dikenal sebagai wadah tradisional berbentuk keranjang punggung yang dahulu digunakan masyarakat Paser untuk membawa hasil bumi.
Masrani kemudian mengangkat bentuk dan motif tersebut ke dalam media pot bunga melalui Sentral Bunga dan Dekorasi Taman Anggrek Hitam.
Pilihan media ini membuat unsur budaya tidak berhenti sebagai benda koleksi. Motif tersebut ditempatkan pada benda yang dekat dengan aktivitas sehari-hari, terutama tanaman dan penataan lingkungan.
Masrani, yang merupakan ASN sekaligus penggiat lingkungan dan pecinta tanaman, menjadikan karya tersebut sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan kembali simbol kehidupan masyarakat Paser kepada generasi masa kini.
Upaya serupa sebenarnya sudah dilakukan Masrani sebelumnya. Pada Juni 2026, pot bermotif Solong Tengkalang juga disalurkan ke sejumlah fasilitas umum di Penajam Paser Utara sebagai bagian dari gerakan memperkenalkan budaya Paser melalui ruang publik.
Karya tersebut kemudian berkembang menjadi medium yang mempertemukan tiga hal sekaligus: tanaman, seni, dan identitas budaya.
Apa makna Solong Tengkalang bagi masyarakat Paser?
Bagi Masrani, motif Solong Tengkalang memiliki makna yang lebih jauh daripada bentuk visualnya.
Motif tersebut menggambarkan hubungan manusia dengan alam. Keharmonisan, ketergantungan positif, serta penghormatan terhadap lingkungan menjadi nilai yang dibawa melalui karya tersebut.
"Lebih dari sekadar ornamen hiasan, motif ini membawa filosofi mendalam mengenai hubungan harmonis antara manusia dan alam, yang mencakup keharmonisan, ketergantungan positif, serta rasa hormat terhadap kelestarian lingkungan," kata Masrani, Selasa (8/9/2026).
Pesan tersebut membuat pot bunga memiliki fungsi lain di luar nilai estetika. Ketika ditempatkan di ruang yang mudah dilihat masyarakat, motif tradisional dapat menjadi pengingat terhadap hubungan masyarakat Paser dengan lingkungan di sekitarnya.
Hal ini juga sejalan dengan informasi Pemerintah Kabupaten Paser yang menyebut Solong Tengkalang sebagai keranjang tradisional untuk membawa hasil bumi serta bagian dari kehidupan masyarakat Paser pada masa lalu.
Baca Juga: TNI Buka Rekrutmen Khusus Pemuda Paser dan Suku Asli Kalimantan, Pendaftaran hingga November 2026
Ada Lempinak Belo Bali di bagian alas
Identitas budaya pada karya tersebut tidak berhenti pada Solong Tengkalang.
Bagian alas pot dihiasi motif Lempinak Belo Bali yang mengambil bentuk sulur tumbuhan lempinak.
Motif tersebut membawa simbol kesuburan. Sementara unsur belo bali menggambarkan ketangguhan dan sifat pantang menyerah.
Perpaduan dua motif itu membuat karya tidak hanya menampilkan bentuk dekoratif, tetapi juga menyatukan beberapa simbol yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
Dengan begitu, sebuah pot bunga dapat berfungsi sebagai media untuk memperkenalkan nilai budaya tanpa harus hadir dalam bentuk benda tradisional yang sama seperti masa lalu.
Mengapa karya budaya dibawa ke ruang publik?
Salah satu tantangan pelestarian budaya adalah bagaimana membuat warisan lama tetap dikenal ketika kehidupan masyarakat terus berubah.
Cara yang dipilih Masrani cukup sederhana. Motif tradisional ditempatkan pada benda yang mudah ditemui dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karya tersebut kemudian diserahkan kepada Bupati Paser, dr Fahmi Fadli, untuk ditempatkan di lobi Kantor Bupati Paser.
Pemerintah Kabupaten Paser menilai kehadiran pot bermotif Solong Tengkalang di ruang publik dapat menjadi bagian dari upaya menjaga identitas, persatuan, dan keindahan daerah.
Penempatan di kantor pemerintahan juga membuat karya budaya tersebut berada di ruang yang dapat dilihat oleh masyarakat ketika datang untuk memperoleh pelayanan atau menghadiri kegiatan pemerintahan.
Artinya, pelestarian budaya tidak hanya berlangsung melalui kegiatan adat atau pertunjukan, tetapi juga bisa hadir melalui desain ruang publik.
Baca Juga: Data Desil Warga PPU Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, Bupati Minta Verifikasi Ulang
Dari PPU hingga Kantor Bupati Paser
Perjalanan karya Solong Tengkalang ini juga tidak berhenti di satu daerah.
Pada Juni 2026, Masrani telah menyerahkan sejumlah pot bermotif Solong Tengkalang di Penajam Paser Utara. Salah satu kegiatan penyerahan secara simbolis berlangsung di Kelurahan Tanjung Tengah.
Saat itu, karya tersebut didorong untuk hadir lebih luas di ruang publik, termasuk fasilitas umum dan kawasan yang menjadi bagian dari perkembangan Ibu Kota Nusantara.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa motif Solong Tengkalang mulai digunakan sebagai identitas visual yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan ruang modern.
Pada September 2026, karya yang sama kembali mendapat ruang di Kabupaten Paser setelah diserahkan kepada Bupati Paser untuk ditempatkan di lobi kantor pemerintahan.
Rangkaian tersebut memperlihatkan satu pola menarik: budaya lokal tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk lama, tetapi dapat dikembangkan selama makna dan identitas dasarnya tetap dijaga.
Perlindungan karya juga menjadi perhatian
Pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan memperkenalkan karya kepada masyarakat.
Perlindungan terhadap karya juga menjadi bagian penting agar inovasi berbasis budaya memiliki dasar hukum dan tidak mudah diklaim pihak lain.
Karya pot bunga bermotif Solong Tengkalang tersebut telah didaftarkan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Informasi mengenai perlindungan kekayaan intelektual ini juga diperkuat oleh pemberitaan mengenai penyerahan sertifikat hak kekayaan intelektual di Penajam Paser Utara. Karya Masrani tercatat sebagai salah satu karya seni yang mendapatkan perlindungan tersebut.
Langkah ini penting karena karya berbasis budaya memiliki dua sisi. Di satu sisi, motifnya berasal dari warisan masyarakat. Di sisi lain, bentuk inovasi baru yang dihasilkan pengkarya perlu mendapatkan perlindungan agar kreativitas tersebut tidak mudah digunakan pihak lain tanpa dasar yang jelas.
Baca Juga: Air Bersih PPU Tersendat, 9 Wilayah Penajam Terdampak Kemarau Mulai 4 September
Budaya Paser bisa mengikuti perkembangan zaman
Cerita tentang pot bunga Solong Tengkalang pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah benda dekorasi.
Ada upaya untuk membuat simbol budaya tetap terlihat ketika ruang hidup masyarakat berubah.
Keranjang yang dahulu berkaitan dengan aktivitas membawa hasil bumi kini diterjemahkan menjadi motif pada pot bunga. Bentuknya berubah, tetapi cerita mengenai hubungan manusia, alam, dan kehidupan masyarakat Paser tetap dibawa.
Bagi seniman dan pengrajin daerah, pendekatan seperti ini membuka kemungkinan baru. Warisan budaya dapat menjadi inspirasi bagi karya modern tanpa harus kehilangan akar sejarahnya.
Di tengah perkembangan kawasan perkotaan dan ruang publik di Kalimantan Timur, kehadiran identitas lokal melalui karya seni juga memberi karakter tersendiri pada sebuah tempat.
Poin Penting:
- Solong Tengkalang merupakan motif yang terinspirasi dari keranjang punggung tradisional Suku Paser.
- Motif tersebut membawa nilai hubungan harmonis antara manusia dan alam.
- Pot bunga karya Masrani menggunakan Solong Tengkalang pada bagian utama.
- Bagian alas menggunakan motif Lempinak Belo Bali yang berkaitan dengan kesuburan dan ketangguhan.
- Karya tersebut ditempatkan di lobi Kantor Bupati Paser.
- Masrani sebelumnya juga mengembangkan dan menyalurkan pot bermotif Solong Tengkalang di Penajam Paser Utara.
- Karya tersebut telah didaftarkan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI.
Insight Redaksi
Pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara utuh. Ketika simbol tradisional diterjemahkan menjadi karya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, budaya memiliki ruang baru untuk dikenal. Pot Solong Tengkalang menunjukkan bagaimana sebuah benda sederhana dapat membawa cerita tentang identitas Paser, hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga warisan leluhur. Tantangannya adalah memastikan inovasi tersebut tetap menghormati makna budaya dan terus melibatkan masyarakat pemilik warisan tersebut.
FAQ
1. Apa itu Solong Tengkalang?
Solong Tengkalang merupakan wadah atau keranjang punggung tradisional khas Suku Paser yang dahulu digunakan untuk membawa hasil bumi.
2. Apa makna motif Solong Tengkalang?
Motif tersebut membawa filosofi mengenai hubungan harmonis manusia dengan alam, termasuk ketergantungan positif dan penghormatan terhadap kelestarian lingkungan.
3. Apa motif lain yang digunakan pada pot tersebut?
Bagian alas pot menggunakan motif Lempinak Belo Bali yang mengambil bentuk sulur tumbuhan lempinak serta membawa simbol kesuburan dan ketangguhan.
4. Di mana pot tersebut ditempatkan?
Karya pot bunga tersebut diserahkan kepada Bupati Paser, dr Fahmi Fadli, untuk ditempatkan di lobi Kantor Bupati Paser.
5. Apakah karya tersebut sudah mendapat perlindungan kekayaan intelektual?
Ya. Karya seni pot bunga bermotif Solong Tengkalang tersebut telah didaftarkan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Sumber Informasi
Media Kaltim Post, dengan judul “Solong Tengkalang Menjelma Karya Seni, Bawa Identitas Paser ke Ruang Publik”, oleh Muhammad Najib. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.