Krisis Air Sepaku Makin Terasa, PPU Tetapkan Status Siaga dan Perkuat Distribusi Air Bersih

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:54 WIB
Kawasan Industri Buluminung PPU seluas 9.000 hektare disiapkan untuk menarik investasi logam dan baja sekaligus membuka peluang kerja. (Sumber: YouTube Balikpapan TV)
Kawasan Industri Buluminung PPU seluas 9.000 hektare disiapkan untuk menarik investasi logam dan baja sekaligus membuka peluang kerja. (Sumber: YouTube Balikpapan TV)

Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: Krisis air bersih melanda Sepaku saat kemarau dan El Niño, PPU memperkuat distribusi serta pengamanan sumber air warga.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kekeringan di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, mendorong Pemkab PPU menetapkan status siaga untuk menghadapi krisis air bersih.

Buat warga Sepaku, persoalan air bukan lagi sekadar soal musim kemarau. Pasokan harus dijaga karena kebutuhan sehari-hari tetap berjalan, Ces!

Mengapa Sepaku sampai mengalami krisis air?

Kemarau panjang yang berlangsung di Kalimantan Timur membuat sejumlah wilayah mulai mengalami keterbatasan air bersih. Kondisi tersebut turut dirasakan masyarakat di Kecamatan Sepaku, wilayah yang berada di kawasan Ibu Kota Nusantara.

Pemkab PPU kemudian menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sebagai langkah memperkuat penanganan kekurangan air sekaligus mencegah dampaknya meluas.

Pemerintah tidak hanya mengandalkan satu sumber pasokan. Distribusi air bersih dilakukan secara bergilir melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU dan Perumda Air Minum Danum Taka.

Langkah tersebut menjadi penting karena kebutuhan warga tetap berlangsung setiap hari, sementara sumber air menghadapi tekanan akibat periode kering yang panjang.

Seberapa besar tekanan terhadap sumber air Sepaku?

Kondisi Sepaku tidak berdiri sendiri. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal, dengan puncak kemarau terjadi pada Juli hingga September di banyak wilayah Indonesia. 

BMKG juga menyebut El Niño 2026 berpotensi bertahan hingga awal 2027. Dampaknya terhadap Indonesia diperkirakan paling terasa ketika fenomena tersebut beriringan dengan musim kemarau. 

Kondisi itu ikut memberi tekanan pada sumber air di kawasan IKN. BMKG pada Agustus menyebut cadangan air di Waduk Sepaku mengalami penurunan sejak Juli akibat pengaruh El Niño.

Karena itu, pemerintah bersama lembaga pengelola sumber daya air mengambil sejumlah langkah untuk menjaga pasokan selama periode kering.

Baca Juga: Dua Warga Diamankan Usai Bakar Lahan Pertanian, Api Hanguskan 1 Hektare Lahan

Bantuan air bersih sudah masuk ke permukiman warga

Penanganan krisis air di Sepaku tidak berhenti pada penetapan status siaga. Distribusi air bersih juga dilakukan langsung ke wilayah yang membutuhkan.

Pada 15 Agustus 2026, BPBD PPU bersama BWS Kalimantan IV menyalurkan 48 ribu liter air bersih kepada warga Kelurahan Sepaku dan Desa Karang Jinawi. Penyaluran menyasar sejumlah RT yang membutuhkan pasokan untuk kebutuhan sehari-hari. 

BWS Kalimantan IV sebelumnya juga menyalurkan 4.000 liter air untuk sekitar 400 kepala keluarga di Kelurahan Sepaku dan Karang Jinawi, kemudian menambah distribusi 16.000 liter untuk 303 kepala keluarga di RT 01, 02, dan 03 Kelurahan Sepaku. 

Upaya tersebut menunjukkan bahwa persoalan air di Sepaku membutuhkan penanganan langsung, bukan hanya menunggu perubahan cuaca.

Sumber air baku mulai diamankan untuk kebutuhan masyarakat

Pj Bupati PPU Makmur Marbun mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk mengamankan sejumlah titik sumber air minum dan air baku yang tersedia di Sepaku.

“Teman-teman sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) di beberapa titik air minum dan air baku yang ada di Sepaku untuk bisa dikerjasamakan dan diamankan bagi masyarakat sekitar, dan itu sudah berjalan.”

Menurut Makmur, kondisi sumber air saat ini menjadi perhatian karena perubahan kondisi lingkungan dan tata air dapat membuat wilayah tertentu mengalami kekeringan.

Pemkab PPU juga mendorong optimalisasi sumber air baku dan fasilitas pengolahan air di Sepaku agar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari penanganan jangka lebih panjang. Distribusi menggunakan mobil tangki membantu kebutuhan mendesak, tetapi ketersediaan sumber air baku tetap menjadi fondasi pasokan.

Bagaimana kondisi cadangan air di Kaltim saat ini?

Ada kabar yang relatif melegakan di tengah persoalan tersebut. BWS Kalimantan IV Samarinda pada 6 September 2026 menyatakan cadangan air bersih di berbagai tampungan Kaltim secara umum masih cukup untuk kebutuhan dasar hingga Desember 2026. 

Bendungan Sepaku Semoi, misalnya, memiliki kapasitas total sekitar 16 juta meter kubik. BWS menyebut volumenya menyusut sekitar tiga juta meter kubik akibat penguapan sehingga tersisa sekitar 13 juta meter kubik dan masih berada dalam kondisi aman. 

Namun, kondisi tersebut tidak berarti persoalan air di seluruh wilayah otomatis selesai. BWS tetap melakukan distribusi air bersih ke daerah yang mengalami kekeringan, termasuk sejumlah wilayah di PPU.

BWS juga mendorong pembangunan sumber air alternatif seperti sumur air tanah di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Baca Juga: RSUD RAPB PPU Kini Punya CT Scan 64 Slice, Rujukan Stroke ke Luar Daerah Ditargetkan Berkurang

El Niño membuat penghematan air semakin penting

Tekanan terhadap ketersediaan air diperkirakan belum langsung berakhir. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menyebut El Niño berpotensi berlangsung hingga awal 2027, sementara periode kemarau 2026 menjadi fase yang perlu diantisipasi. 

Di kawasan IKN dan Kaltim, pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca pada Agustus untuk membantu mengatasi defisit air di Waduk Sepaku sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan dan karhutla. 

Artinya, penanganan krisis air Sepaku membutuhkan dua pendekatan sekaligus: memastikan kebutuhan warga terpenuhi sekarang dan menjaga sumber air agar tetap tersedia ketika periode kering berlanjut.

Poin Penting:

Insight Redaksi

Krisis air di Sepaku memperlihatkan bahwa pertumbuhan kawasan IKN perlu berjalan beriringan dengan ketahanan sumber daya air. Distribusi tangki menjadi solusi penting untuk kebutuhan mendesak, tetapi pengamanan sumber air baku dan infrastruktur pengolahan akan menentukan ketahanan pasokan dalam jangka lebih panjang. Bagi masyarakat, perkembangan ini juga menunjukkan pentingnya penggunaan air secara bijak selama periode kemarau masih berlangsung.

Ces, persoalan air Sepaku belum selesai hanya dengan datangnya satu kali hujan. Selama El Niño masih memberi tekanan, ketersediaan air tetap perlu dijaga bersama.

FAQ

1. Mengapa Sepaku mengalami krisis air bersih?
Kondisi tersebut berkaitan dengan kemarau panjang dan tekanan El Niño yang menurunkan ketersediaan air di sejumlah wilayah.

2. Apa yang dilakukan Pemkab PPU?
Pemkab menetapkan status siaga, mendistribusikan air bersih melalui BPBD dan Perumda Air Minum Danum Taka, serta berkoordinasi dengan BWS untuk mengamankan sumber air.

3. Apakah cadangan air Bendungan Sepaku Semoi masih aman?
BWS Kalimantan IV pada 6 September 2026 menyatakan cadangan Bendungan Sepaku Semoi masih dalam kondisi aman, meski volumenya mengalami penyusutan akibat penguapan. 

4. Sampai kapan El Niño diperkirakan berlangsung?
Kementerian Pekerjaan Umum dan BMKG menyebut fenomena El Niño berpotensi berlangsung hingga awal 2027.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
air bersih kekeringan sepaku penajam paser utara krisis air