Karhutla PPU Capai 8 Titik Sehari, Bara Kayu Jadi Tantangan Pemadaman

Ahla Najwa • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:29 WIB
Ilustrasi Karhutla di Penajam Paser Utara meluas saat kemarau, membakar sekitar 17 hektare lahan dalam sehari. (BTV/AI)
Ilustrasi Karhutla di Penajam Paser Utara meluas saat kemarau, membakar sekitar 17 hektare lahan dalam sehari. (BTV/AI)

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Karhutla PPU meningkat saat kemarau, dengan delapan titik api dan 17 hektare lahan terbakar dalam sehari.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Karhutla di Penajam Paser Utara meningkat selama kemarau, dengan delapan lokasi terbakar dan total area mencapai sekitar 17 hektare.

Kondisi ini membuat petugas menghadapi tantangan berbeda, mulai tumpukan kayu hingga lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan.

Mengapa Karhutla PPU Makin Menantang Saat Kemarau?

Peningkatan kejadian karhutla membuat tenaga pemadam BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara terkuras dalam satu hari.

Kepala Pelaksana BPBD PPU Nurlaila menyebut delapan kejadian pernah ditangani bersamaan dalam sehari.

Total area yang terbakar dari delapan lokasi tersebut mencapai kurang lebih 17 hektare.

Situasi itu menunjukkan bahwa tantangan pemadaman bukan hanya berkaitan dengan luas lahan, tetapi juga karakter material terbakar.

Tumpukan Kayu Bisa Menyimpan Bara yang Sulit Terlihat

Lahan mineral dengan rumput atau semak biasanya dapat ditangani lebih cepat ketika akses air tersedia.

Kondisinya berbeda ketika api membakar tumpukan batang kayu besar yang merupakan sisa penebangan warga.

Material tersebut membuat air sulit menjangkau bagian bawah tumpukan. Bara akhirnya dapat bertahan meski api permukaan sudah terlihat padam.

"Saat cuaca kembali terik dan diterpa angin kencang pada hari berikutnya, bara tersebut berpotensi besar memicu timbulnya titik api baru," jelas Nurlaila.

Karena itu, petugas harus membongkar tumpukan kayu secara manual untuk memastikan bara benar-benar hilang.

Tahap pendinginan menjadi penting karena api yang terlihat padam belum tentu berarti seluruh sumber panas sudah aman.

Baca Juga: BRIN dan DPR RI Perkuat Digitalisasi PKH Paser untuk Keluarga Mandiri

Lahan Gambut Punya Risiko Berbeda

Tantangan lain muncul ketika kebakaran menjangkau lahan gambut seperti kawasan Kelurahan Gunung Steleng.

Lahan gambut yang mengering dapat menyimpan panas di bawah permukaan dan membuat api menjalar tanpa terlihat jelas.

Kondisi tersebut membutuhkan penanganan khusus serta waktu pemadaman yang lebih panjang dibandingkan lahan mineral.

Risiko ini membuat proses clean up menjadi bagian penting setelah api utama berhasil dikendalikan.

Petugas perlu memastikan tidak ada bara tersisa yang berpotensi muncul kembali ketika cuaca kembali panas.

Mengapa Ketersediaan Air Menjadi Faktor Penentu?

Pemadaman karhutla pada area luas semakin sulit ketika lokasi kejadian jauh dari sumber air.

BPBD harus mengandalkan mobil tangki untuk memasok air ke titik kebakaran, termasuk melakukan perjalanan berulang.

Ilustrasi Nurlaila, petugas BPBD, menjelaskan kendala pasokan air dalam penanganan karhutla di lokasi terpencil. (BTV/AI)
Ilustrasi Nurlaila, petugas BPBD, menjelaskan kendala pasokan air dalam penanganan karhutla di lokasi terpencil. (BTV/AI)

"Kendalanya jika lahan gambut atau tumpukan kayu yang terbakar tidak memiliki sumber air di sekitarnya. Otomatis kita butuh support banyak mobil tangki," kata Nurlaila.

Persoalan jarak membuat waktu pengisian dan perjalanan menjadi bagian penting dalam menentukan kecepatan penanganan.

Ketika suplai air terlambat, api memiliki kesempatan menyebar mengikuti kondisi lahan dan arah angin.

Kasus Riko Menunjukkan Pentingnya Cadangan Air

Kondisi tersebut terlihat ketika karhutla melanda kawasan Kelurahan Riko dengan kebutuhan suplai air cukup besar.

BPBD memperoleh dukungan armada tangki berkapasitas 9.000 liter milik pihak bandara VVIP.

Ketersediaan embung sekitar satu kilometer dari lokasi turut membantu proses pengisian air bagi armada tersebut.

"Beruntung, terdapat embung air penampungan berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi kejadian yang dapat dimanfaatkan untuk mobilitas pengisian air," sebut Nurlaila.

Kasus ini memperlihatkan bahwa akses menuju sumber air dapat menjadi faktor penting dalam mempercepat respons pemadaman.

Bagi wilayah dengan lahan luas, pemetaan sumber air dan kesiapan armada menjadi kebutuhan yang semakin strategis.

Baca Juga: Bayan Open 2026 Jadi Panggung Atlet Muda Kaltim, Duel Jonatan-Hendra Jadi Sorotan

Risiko Karhutla Kaltim Masih Perlu Diwaspadai

Kondisi PPU berlangsung ketika risiko karhutla di Kalimantan masih mendapat perhatian pemerintah pusat.

BNPB melaporkan lahan seluas 10,65 hektare terbakar di Desa Sepan, Kecamatan Penajam, pada 19 Agustus 2026. Api berhasil dipadamkan pada hari yang sama.

Pada periode yang sama, pemantauan satelit NOAA-20 mencatat 74 hotspot di Kalimantan Timur hingga 20 Agustus 2026.

BNPB juga menyebut risiko karhutla diperkirakan mencapai periode tinggi pada Agustus hingga September 2026.

Prakiraan tersebut membuat kesiapsiagaan daerah menjadi penting, terutama dalam pemantauan titik panas dan ketersediaan sarana pemadaman.

Di Kalimantan Timur, kejadian karhutla juga dilaporkan terjadi di Paser dan Kutai Kartanegara sepanjang Agustus.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa musim kemarau membutuhkan respons lintas wilayah, bukan hanya ketika api sudah membesar.

Apa yang Bisa Dilakukan Warga Saat Melihat Titik Api?

Pencegahan karhutla dimulai dari aktivitas sederhana di sekitar lahan, terutama dengan menghindari pembakaran terbuka.

BNPB mengimbau masyarakat tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan selama kondisi kering.

Jika menemukan titik api, warga perlu segera melaporkannya kepada BPBD atau aparat setempat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Informasi awal dari warga dapat membantu petugas menentukan lokasi, akses, serta kebutuhan armada sebelum api meluas.

Poin Penting:

Insight Redaksi

Karhutla PPU memperlihatkan satu persoalan penting: pemadaman bukan cuma soal menyemprotkan air. Akses, cadangan air, karakter lahan, dan pendinginan menentukan hasil akhir. Kada cukup hanya mengandalkan respons saat api muncul. Pemetaan sumber air serta kesiapan armada perlu dipastikan sejak awal, Ces.

Prioritaskan pemetaan sumber air dekat kawasan rawan agar mobil tangki kada membuang waktu perjalanan panjang.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak warga memahami risiko karhutla dan pentingnya laporan cepat.

Musim kemarau masih berjalan, jadi jangan lewatkan informasi terbaru seputar kebakaran, cuaca, dan kondisi wilayah hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa luas lahan yang terbakar dalam delapan kejadian sehari di PPU?

Total area yang terbakar mencapai kurang lebih 17 hektare.

2. Mengapa tumpukan kayu menyulitkan proses pemadaman?

Tumpukan kayu menghambat air mencapai bagian bawah sehingga bara dapat bertahan dan memicu api kembali.

3. Mengapa lahan gambut membutuhkan penanganan khusus?

Gambut yang kering dapat menyimpan panas di bawah permukaan sehingga api berpotensi menjalar tanpa terlihat.

4. Berapa kapasitas armada tangki yang membantu penanganan di Riko?

Armada tangki milik pihak bandara VVIP memiliki kapasitas 9.000 liter.

5. Apa yang perlu dilakukan warga ketika melihat titik api?

Segera laporkan kepada BPBD atau aparat setempat agar petugas dapat melakukan penanganan sejak dini.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul "Karhutla di PPU Capai Delapan Titik Sehari, Ini Kendala yang Dihadapi Selama Penanganan", oleh Ahmad Maki. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Karhutla PPU BPBD PPU kalimantan timur kebakaran lahan