Durasi Baca: 5 Menit
Ikhtisar: El Nino sangat kuat mengeringkan PPU, mengganggu musim tanam, sementara pemerintah menyiapkan pompanisasi dan penyesuaian jadwal untuk menjaga pangan lokal.
Balikpapan TV - Hai Ces! El Nino sangat kuat mengancam musim tanam di Penajam Paser Utara karena minim hujan membuat lahan pertanian kesulitan memperoleh air.
Ancaman gagal panen mulai terasa. Musim gaduh kedua terganggu, sementara petani menghadapi pilihan sulit antara menanam atau menunggu hujan turun.
Musim gaduh kedua mulai menghadapi tekanan air
Kondisi kering menjadi persoalan serius bagi petani PPU yang memasuki musim tanam gaduh kedua. Sebagian lahan mulai kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Dalam kondisi tersebut, ada lahan yang sudah ditanami namun pengairannya belum mencukupi. Sebagian lahan lain bahkan belum dapat ditanami sesuai jadwal.
Situasi serupa berpotensi terjadi pada tanaman palawija. Saat kebutuhan air belum terpenuhi, proses budidaya dapat terganggu dan risiko gagal panen ikut meningkat.
Sekretaris Daerah Kabupaten PPU Tohar menyebut kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena musim tanam sangat bergantung pada ketersediaan air.
Menurut Tohar, siklus tanam biasanya memasuki periode September. Namun, apabila hujan belum turun, petani berpotensi menunggu hingga Oktober, November, atau Desember.
“Siklus kita kan biasanya nanti di September. Kalau September juga belum juga turun hujan, nanti mungkin di Oktober, November, atau Desember barangkali kita mengikuti kehendak alamnya, baru ada musim tanam.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan utama saat ini bukan sekadar mundurnya jadwal tanam. Jeda antarmusim dapat menjadi panjang ketika sumber air belum kembali mencukupi.
BMKG mencatat El Nino sangat kuat pada Agustus 2026
Kondisi yang terjadi di PPU sejalan dengan gambaran iklim nasional yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dalam analisis Dasarian II Agustus 2026, BMKG mencatat indeks suhu muka laut wilayah Nino3.4 mencapai +2,99. Angka tersebut menunjukkan El Nino berada pada intensitas sangat kuat.
Pada Dasarian I Agustus, sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim sudah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah juga mendominasi 90,79 persen wilayah.
BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 banyak terjadi pada Agustus. Sebagian besar musim kemarau juga diperkirakan berlangsung 10 hingga 21 dasarian, dengan durasi yang cenderung panjang dibanding kondisi normal.
Artinya, persoalan air bagi sektor pertanian PPU perlu dibaca sebagai risiko musiman yang membutuhkan persiapan lintas pihak, bukan hanya persoalan satu periode tanam.
Baca Juga: Terumbu Karang Pulau Gusung Jadi Sorotan, Pemkab PPU Ajak Perusahaan Turun Lewat CSR
Produksi pangan saat ini masih aman, ancaman berikutnya perlu dijaga
Di tengah tekanan cuaca, kondisi suplai pangan PPU dalam informasi yang disampaikan pemerintah masih dinyatakan aman.
Namun, situasi tersebut perlu dijaga karena gangguan pada musim tanam berikutnya dapat memengaruhi produksi beberapa bulan mendatang. Jeda tanam yang panjang berpotensi mengurangi kesempatan petani mengejar target produksi.
Data yang disampaikan Dinas Pertanian PPU pada April 2026 menunjukkan sektor pertanian pangan dan hortikultura saat itu masih berada dalam kondisi aman. Luas lahan pertanian PPU disebut mencapai sekitar 4.500 hektare, sementara produksi gabah kering giling Januari-April 2026 mencapai sekitar 22.488 ton.
Pada 2025, produksi padi PPU juga tercatat sekitar 50.140 ton dan mengalami surplus sekitar 1.951 ton berdasarkan data yang dikutip Media Indonesia.
Data tersebut memberi gambaran bahwa persoalan utama saat ini adalah menjaga kesinambungan produksi. Cadangan dan hasil panen sebelumnya menjadi modal, sedangkan musim tanam berikutnya menjadi titik yang perlu mendapat perhatian.
Pompanisasi dan benih tahan kekeringan mulai disiapkan
Ancaman kemarau sebenarnya sudah diantisipasi sejak awal tahun. Dinas Pertanian PPU menyiapkan pompanisasi pada lokasi pertanian yang memiliki sumber air potensial.
Pemerintah daerah juga mengusulkan benih padi varietas Inpari 32 dan Inpari 42 yang dinilai sesuai untuk menghadapi kondisi kekeringan. Langkah tersebut diarahkan agar produksi padi masih dapat berjalan ketika pasokan air terbatas.
Selain pompanisasi dan benih, saluran irigasi tersier juga menjadi bagian penting dalam menjaga distribusi air menuju lahan pertanian.
Dinas Pertanian PPU sebelumnya berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV agar jaringan irigasi dapat berfungsi secara maksimal untuk mendukung produktivitas pertanian.
Langkah tersebut menjadi penting karena pompa hanya akan efektif ketika sumber air dan jaringan distribusinya tersedia. Jadi, penanganan kekeringan perlu melihat seluruh rantai pengairan dari sumber hingga petak sawah.
Baca Juga: Kekeringan Mulai Melanda Sepaku, PDAM PPU Diminta Siapkan Air Bersih untuk Warga
Dampaknya bisa merembet ke pasokan pangan Kaltim
Tekanan produksi di PPU juga memiliki kaitan dengan kondisi pangan di wilayah sekitarnya. Balikpapan, PPU, dan Paser pada Agustus 2026 memperkuat kerja sama antardaerah untuk menjaga pasokan pangan serta mengantisipasi risiko El Nino.
Langkah tersebut dibahas melalui High Level Meeting gabungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah pada 11 Agustus 2026. Salah satu perhatian utamanya adalah potensi gangguan produksi dan distribusi pangan akibat perubahan cuaca.
Bagi masyarakat, dampaknya dapat terasa melalui ketersediaan komoditas dan pergerakan harga. Ketika produksi lokal terganggu, kebutuhan pasokan dari wilayah lain dapat meningkat.
Bank Indonesia Balikpapan juga mengingatkan risiko kemarau dan El Nino terhadap inflasi PPU karena sebagian kebutuhan pangan daerah masih didatangkan dari luar wilayah.
Karena itu, menjaga lahan pertanian PPU bukan hanya soal kepentingan petani. Ada kaitannya dengan rantai pasok pangan yang turut menopang kebutuhan masyarakat Kalimantan Timur.
Jadwal tanam menjadi keputusan penting bagi petani
Dalam kondisi cuaca seperti sekarang, penyesuaian waktu tanam menjadi salah satu langkah yang masuk akal. Petani perlu membaca kondisi air dan prakiraan cuaca sebelum menentukan penanaman berikutnya.
BMKG juga merekomendasikan sektor pangan menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas yang membutuhkan air lebih sedikit, tahan kekeringan, serta memiliki siklus tanam lebih pendek.
Bagi PPU, pendekatan tersebut relevan karena musim tanam gaduh kedua sudah menghadapi tekanan air. Keputusan menanam perlu mempertimbangkan peluang hujan, kondisi sumber air, serta kemampuan pengairan lahan.
Dengan begitu, petani dapat mengurangi risiko menanam pada waktu ketika kebutuhan air belum mampu dipenuhi.
Poin Penting
-
El Nino pada Agustus 2026 berada dalam intensitas sangat kuat berdasarkan pemantauan BMKG.
-
Musim tanam gaduh kedua di PPU menghadapi persoalan minimnya pasokan air.
-
Sebagian lahan berisiko mengalami gagal panen atau penundaan tanam.
-
Pemerintah PPU menyiapkan pompanisasi dan mengusulkan benih tahan kekeringan.
-
Kondisi pangan saat ini masih dinyatakan aman, namun kesinambungan produksi perlu dijaga.
-
Balikpapan, PPU, dan Paser memperkuat kerja sama untuk menjaga pasokan pangan dan stabilitas harga.
Insight Redaksi
Ketahanan pangan PPU diuji dari kemampuan menjaga air
Ancaman kekeringan di PPU menunjukkan ketahanan pangan bukan cuma urusan produksi, tetapi juga urusan air dan waktu tanam. Data lapangan perlu dibaca cepat agar bantuan pompa, benih tahan kering, serta pengaturan jadwal hadir sebelum sawah kehilangan kesempatan. Di Kaltim, langkah kecil begini penting, supaya pangan lokal kada gampang goyah saat musim kering.
Petani perlu mendapat informasi jadwal hujan dan bantuan pompa segera, supaya keputusan tanam kada terlambat.
Bagikan informasi ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami ancaman kekeringan dan dampaknya bagi pangan PPU.
Mau terus mengikuti perkembangan cuaca, pertanian, dan pangan Kalimantan Timur? Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa musim tanam PPU terancam terganggu?
Minimnya hujan membuat sebagian lahan kesulitan memperoleh air, sehingga jadwal tanam dan pertumbuhan tanaman menghadapi risiko.
2. Kapan musim tanam berikutnya diperkirakan berlangsung?
Menurut Tohar, siklus biasanya memasuki September. Jika hujan belum turun, penanaman dapat bergeser menuju Oktober, November, atau Desember.
3. Apa langkah yang disiapkan pemerintah?
Pemerintah menyiapkan pompanisasi, mengusulkan benih tahan kekeringan, serta berkoordinasi mengenai jaringan irigasi pertanian.
4. Apakah pasokan pangan PPU sudah terganggu?
Dalam informasi yang disampaikan pada video, suplai pangan saat ini masih dinyatakan aman. Risiko utama berada pada keberlanjutan produksi berikutnya.
Sumber Informasi: Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media Youtube @Balikpapantv_Official, dengan judul “DAMPAK EL NINO, PRODUKSI PERTANIAN DI PPU TERANCAM GAGAL”. Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma