Durasi Baca: 5 Menit
Topik: Pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat budaya membaca di kalangan generasi muda.
Ikhtisar: Gawai dinilai dapat menjadi sarana membangun kebiasaan membaca apabila digunakan secara bijak melalui pendampingan keluarga, sekolah, dan pegiat literasi.
Balikpapan TV - Hai Ces! Penggunaan gawai yang terus meningkat di kalangan anak dan remaja dinilai tidak harus dipandang sebagai ancaman. Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kalimantan Timur mengajak masyarakat menjadikan teknologi sebagai media untuk memperkuat budaya literasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Perubahan cara belajar memang sedang berlangsung. Karena itu, tantangan utamanya bukan menghindari teknologi, melainkan memastikan perangkat digital dimanfaatkan untuk kegiatan yang memberi nilai tambah. Menariknya, langkah itu dapat dimulai dari lingkungan keluarga, Ces!
Mengapa GPMB Kaltim Mendorong Pemanfaatan Gadget untuk Literasi?
Di tengah perkembangan teknologi digital, banyak orang tua masih mengkhawatirkan tingginya intensitas penggunaan telepon pintar oleh anak-anak. Namun, GPMB Kalimantan Timur melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda.
Ketua GPMB Kaltim, Syafruddin Pernyata, menilai teknologi tidak seharusnya diposisikan sebagai musuh. Menurutnya, manfaat sebuah perangkat sangat ditentukan oleh cara penggunanya memanfaatkan teknologi tersebut.
"Teknologi itu jangan dimusuhi, tetapi dimanfaatkan sebaik-baiknya," ujar Syafruddin, Kamis (30/7).
Ia mengibaratkan telepon pintar seperti kendaraan bermotor. Perangkat itu dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan dengan tujuan yang tepat, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif jika disalahgunakan.
Baca Juga: Pelatihan Pengolah Ikan Asin Disiapkan, PPU Incar Peluang Pasar Pangan IKN
Bagaimana Gadget Membantu Membangun Kebiasaan Membaca?
Menurut Syafruddin, gawai kini bukan sekadar alat komunikasi. Berbagai aplikasi membaca digital, perpustakaan elektronik, buku elektronik hingga platform pembelajaran membuat akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi jauh lebih mudah.
Perangkat yang sama juga dapat membantu pelajar menyelesaikan tugas sekolah, mencari referensi ilmiah, hingga mendukung pekerjaan profesional, termasuk aktivitas jurnalistik.
"Sama halnya dengan HP untuk mendukung tugas jurnalistik atau belajar," katanya.
Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu diarahkan pada aktivitas produktif sehingga anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas dibanding sekadar menggunakan media sosial atau hiburan semata.
Apakah Generasi Alpha Masih Memiliki Minat Membaca?
Anggapan bahwa anak-anak saat ini tidak lagi gemar membaca dinilai kurang tepat. Syafruddin menyebut minat literasi tetap tumbuh apabila bahan bacaan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan karakter generasi masa kini.
"Anak-anak tetap menyukai literasi selama materi dan pendekatan yang diberikan sesuai dengan dinamika zaman mereka," terangnya.
Artinya, tantangan bukan terletak pada rendahnya minat baca, melainkan bagaimana menghadirkan materi yang menarik, mudah diakses, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui buku digital, cerita interaktif, video edukatif yang terintegrasi dengan bacaan, maupun berbagai platform pembelajaran daring yang kini semakin mudah dijangkau.
Apa Peran Orang Tua, Guru, dan Pegiat Literasi?
GPMB Kaltim mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran dalam membimbing anak memanfaatkan teknologi secara sehat.
Orang tua dapat mendampingi waktu penggunaan gawai sekaligus mengenalkan aplikasi membaca maupun buku digital yang sesuai usia. Sementara itu, guru dapat mengembangkan metode pembelajaran yang memadukan teknologi dengan aktivitas membaca.
Pegiat literasi juga diharapkan terus menghadirkan inovasi agar budaya membaca berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai utamanya.
Baca Juga: Sertifikat Konstruksi Berlaku 5 Tahun, PUPR PPU Jelaskan Cara Perpanjangannya
Mengapa Perbedaan Generasi Perlu Dijembatani?
Syafruddin mengingatkan agar perbedaan generasi tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Setiap kelompok usia tumbuh dalam perkembangan teknologi yang berbeda sehingga cara mereka belajar maupun memperoleh informasi pun mengalami perubahan.
"Orang-orang generasi tua jangan langsung menyalahkan anak Generasi Alpha, begitu juga sebaliknya. Semua hidup di masanya masing-masing dengan keadaan zamannya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa saling menjembatani dan memanfaatkan teknologi secara positif," pungkasnya.
Dengan saling memahami karakter masing-masing generasi, pemanfaatan teknologi dapat diarahkan menjadi sarana memperkuat budaya belajar sekaligus meningkatkan kualitas literasi masyarakat.
Poin Penting
- GPMB Kaltim mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi sebagai sarana literasi.
- Gadget dinilai bergantung pada cara penggunaannya.
- Anak-anak dinilai tetap memiliki minat membaca dengan pendekatan yang sesuai.
- Orang tua, guru, dan pegiat literasi memiliki peran penting dalam pendampingan.
- Perbedaan generasi perlu dijembatani agar teknologi dimanfaatkan secara positif.
Insight Redaksi
Perdebatan soal gadget sebenarnya kada lagi sebatas soal durasi penggunaan, tetapi tentang kualitas aktivitas yang dilakukan. Ketika pendampingan keluarga dan sekolah berjalan seiring, teknologi justru dapat memperluas akses membaca. Fokusnya bukan melarang, melainkan mengarahkan. Pahami perubahan zaman supaya literasi tetap tumbuh bersama perkembangan digital. Mulailah menghadirkan bahan bacaan digital yang menarik agar anak terbiasa belajar melalui teknologi sejak dini.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami bahwa gadget juga bisa menjadi jembatan membangun budaya literasi.
Tetap ikuti perkembangan informasi pendidikan dan literasi hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB)?
GPMB merupakan gerakan yang bertujuan meningkatkan budaya membaca dan literasi masyarakat melalui berbagai program edukasi.
2. Mengapa gadget dinilai dapat mendukung literasi?
Karena perangkat digital memudahkan akses ke buku elektronik, perpustakaan digital, dan berbagai sumber belajar.
3. Siapa yang berperan membangun budaya literasi digital?
Orang tua, guru, sekolah, pegiat literasi, dan masyarakat memiliki peran bersama.
4. Apakah membaca buku digital sama bermanfaatnya dengan buku cetak?
Keduanya dapat memberikan manfaat selama isi bacaan berkualitas dan kegiatan membaca dilakukan secara konsisten.
5. Apa pesan utama GPMB Kaltim?
Teknologi sebaiknya dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung pendidikan, produktivitas, dan peningkatan budaya literasi.
Sumber Informasi: Media Kaltim Post, dengan judul "Ketua GPMB Kaltim Syafruddin Pernyata Sebut Gadget Bukan Musuh, Tapi Sarana Membangun Literasi Anak", oleh Ahmad Maki. Artikel ini ditulis ulang secara orisinal dengan sudut pandang dan gaya jurnalistik Balikpapantv.id.