Lahan Menyusut karena IKN, Warga Sukaraja PPU Sulap Limbah Jadi Nutrisi Hidroponik Murah

Ahla Najwa • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 14:28 WIB
Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair berbahan limbah untuk hidroponik berkelanjutan bersama warga Sukaraja (DOK. Ahmad Maki/KP)
Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair berbahan limbah untuk hidroponik berkelanjutan bersama warga Sukaraja (DOK. Ahmad Maki/KP)

Durasi: 6 menit

Topik: Pendampingan pertanian hidroponik berkelanjutan melalui pemanfaatan pupuk organik cair berbasis limbah

Ikhtisar: Warga Desa Sukaraja mendapat pendampingan mengolah limbah organik menjadi pupuk cair untuk menekan biaya hidroponik sekaligus memperkuat ketahanan pangan kawasan penyangga IKN.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Warga Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara mulai mengembangkan pupuk organik cair (POC) berbahan limbah pertanian dan rumah tangga sebagai solusi menekan biaya hidroponik di tengah penyusutan lahan pertanian akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pendampingan dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB).

Pertanian kota kini bukan sekadar pilihan, tetapi mulai menjadi kebutuhan. Menarik disimak sampai akhir, Ces!

Apa Hubungan Pembangunan IKN dengan Perubahan Pola Bertani di Desa Sukaraja?

Pembangunan Ibu Kota Nusantara membawa perubahan besar bagi kawasan Sepaku, termasuk Desa Sukaraja yang menjadi salah satu wilayah penyangga.

Berkurangnya lahan pertanian mendorong masyarakat mencari metode budidaya yang lebih efisien. Salah satunya adalah urban farming berbasis hidroponik yang mampu menghasilkan sayuran di lahan terbatas.

Namun, tantangan baru muncul ketika biaya nutrisi hidroponik berbasis pupuk anorganik komersial terus mengalami kenaikan.

Ketergantungan terhadap pupuk yang dibeli di toko pertanian maupun platform perdagangan elektronik membuat biaya produksi semakin besar bagi petani.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat SITH-ITB, Prof. Dr. Erly Marwani, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian utama tim sebelum menyusun program pendampingan.

"Kenaikan harga pupuk komersial yang terus terjadi mengancam keberlangsungan aktivitas pertanian hidroponik di desa tersebut."

Program pendampingan tersebut merupakan tindak lanjut dari kebutuhan yang sebelumnya teridentifikasi melalui platform Desanesha ITB serta komunikasi antara Kepala Desa Sukaraja, Sugiyanto, dengan tim pengabdian masyarakat.

Baca Juga: 190 Butir Obat Keras Disita di Long Ikis, Polisi Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggar

Bagaimana Warga Dilatih Membuat Pupuk Organik Cair?

Sebagai solusi, SITH-ITB menggelar pelatihan dan bimbingan teknis pada 17–18 Juli 2026 di Gedung Serbaguna Desa Sukaraja.

Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas kepala desa, perangkat desa, pegiat urban farming, masyarakat, hingga anggota kepolisian.

Selain Prof. Dr. Erly Marwani, pelatihan juga melibatkan Prof. Dr. Sri Nanan B. Widiyanto, Dr. Eri Mustari, serta Dr. Dadang Sumardi.

Peserta diperkenalkan cara memanfaatkan berbagai bahan lokal yang selama ini kerap menjadi limbah.

Beberapa bahan yang digunakan antara lain:

Seluruh bahan tersebut diolah menjadi pupuk organik cair yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif nutrisi hidroponik.

"Prosesnya meliputi pencacahan limbah, pembuatan larutan starter, inkubasi, penyaringan, hingga pengemasan dan penyimpanan," jelas Erly.

Pendekatan tersebut sekaligus mengajarkan masyarakat bahwa limbah organik masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan benar.

Mengapa Pupuk Organik Cair Dinilai Menjadi Solusi Hidroponik?

Pelatihan tidak berhenti pada tahap produksi pupuk.

Peserta juga langsung mempraktikkan penggunaan pupuk organik cair sebagai nutrisi hidroponik dengan mencampurkannya bersama larutan AB Mix menggunakan komposisi 1:3 sebagai pembanding.

Campuran tersebut kemudian diaplikasikan pada instalasi hidroponik yang telah disiapkan di lingkungan gedung desa untuk berbagai bibit sayuran.

Metode praktik lapangan membuat peserta dapat melihat secara langsung bagaimana pupuk organik cair dimanfaatkan dalam sistem budidaya modern.

Di akhir kegiatan, peserta mengikuti sesi diskusi dan motivasi agar mulai menggunakan POC sebagai pengganti sebagian maupun seluruh nutrisi anorganik yang selama ini dipakai.

Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk komersial sekaligus memperkuat kemandirian petani hidroponik.

Baca Juga: Pengadaan APBD 2026 di Paser Ditunda, Ini Daftar Proyek yang Masih Berjalan

Apa Manfaat POC bagi Masyarakat dan Ketahanan Pangan?

Menurut Prof. Erly Marwani, manfaat penggunaan pupuk organik cair tidak hanya dirasakan dari sisi biaya produksi.

Pelatihan juga meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menerapkan pertanian modern pada lahan terbatas sehingga urban farming semakin mudah dikembangkan.

Dari aspek lingkungan, pemanfaatan limbah pertanian dan rumah tangga membantu mengurangi timbulan sampah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Sementara dari sisi ekonomi, produksi pupuk organik cair berpotensi membuka peluang usaha baru di tingkat desa.

"Serta aspek ekonomi yang menekan biaya operasional budidaya hidroponik sekaligus membuka peluang usaha baru melalui produksi dan pemasaran POC skala desa," tegasnya.

Melalui pendampingan tersebut, masyarakat Desa Sukaraja diharapkan mampu membangun sistem pertanian yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Pengembangan IKN menghadirkan tantangan sekaligus ruang inovasi bagi daerah penyangga seperti PPU. Pendampingan yang menghubungkan teknologi kampus dengan kebutuhan warga memberi nilai jangka panjang karena menyentuh persoalan biaya produksi sekaligus pengelolaan limbah. Kada hanya menghasilkan pupuk, tapi juga membangun kemandirian desa. Pendekatan seperti ini pang layak terus diperluas ke wilayah lain di sekitar Balikpapan dan PPU, Ces.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam agar semakin banyak masyarakat mengenal cara sederhana mengubah limbah menjadi peluang ekonomi dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Selalu ikuti informasi inspiratif dan perkembangan daerah hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa warga Desa Sukaraja mulai mengembangkan hidroponik?
Karena penyusutan lahan pertanian akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara mendorong penggunaan metode bertani di lahan terbatas.

2. Siapa yang mendampingi pelatihan pembuatan pupuk organik cair?
Tim Pengabdian kepada Masyarakat SITH-ITB yang dipimpin Prof. Dr. Erly Marwani.

3. Apa saja bahan utama pembuatan pupuk organik cair?
Gedebog pisang, daun pisang, daun kelor, lidah buaya, dan kulit nanas.

4. Apa manfaat utama penggunaan pupuk organik cair?
Menekan biaya produksi hidroponik, mengurangi limbah organik, meningkatkan keterampilan masyarakat, dan membuka peluang usaha baru.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media Kaltim Post, dengan judul "Tim PM SITH-ITB Dampingi Warga Desa Sukaraja, Olah Limbah Pertanian Jadi Nutrisi Hidroponik Murah dan Ramah Lingkungan", oleh penulis Ahmad Maki. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Prof. Dr. Erly Marwani Pupuk Organik Cair (POC) Desa Sukaraja