Balikpapan TV - Hai Cess! Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini jadi sorotan karena langkah beraninya menjalankan Program Makan Bergizi (MBG) Mandiri. Di tengah kebijakan efisiensi nasional, Disdikpora PPU justru melaju dengan inovasi berlandaskan kemandirian dan gotong royong lokal. Program ini akan dilaksanakan mulai November hingga Desember 2025, menyasar PAUD/TK, SD, dan SMP yang belum tercover program MBG nasional.
“Hari ini kami lakukan sosialisasi sekaligus rapat bersama beberapa instansi dan perwakilan sekolah melalui zoom meeting untuk membahas persiapan pelaksanaan MBG mandiri,” ujar Andi Singkerru, Kepala Disdikpora PPU, dalam sosialisasi daring, Senin (20/10/2025).
Apa itu Program MBG Mandiri dan Mengapa Penting?
Program Makan Bergizi (MBG) Mandiri adalah bentuk nyata komitmen Pemkab PPU untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini. Berbeda dari MBG nasional yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN), versi mandiri ini didanai langsung dari APBD 2025 dan dikelola oleh sekolah bersama masyarakat.
Andi menegaskan, pelaksanaan MBG mandiri akan dilakukan langsung oleh sekolah melalui keterlibatan kantin sekolah, komite, dan paguyuban. Artinya, bukan hanya soal memberi makanan gratis, tapi juga menghidupkan ekonomi lokal. “Dana diserahkan ke sekolah agar manfaatnya lebih luas. Bahan makanan dibeli dari petani lokal, jadi uangnya berputar di daerah,” jelasnya.
“Pelaksanaan MBG mandiri ini salah satu upaya pemerintah daerah untuk menyukseskan program Presiden Prabowo Subianto dan mempercepat pemerataan program MBG bagi sekolah yang ada di bawah naungan Pemkab PPU,” ujarnya
Baca Juga: Mudyat Noor Gerakkan MBG Mandiri, PPU Jadi Daerah Perintis MBG School Kitchen Gunakan APBD Sendiri
Bagaimana “Mudyatomics” Menggerakkan Ekonomi Rakyat?
Konsep “Mudyatomics” yang digagas Bupati H. Mudyat Noor menjadi motor di balik program ini. Filosofinya sederhana tapi kuat — efisiensi cerdas, kemandirian, dan pemberdayaan rakyat. Bagi Mudyat, pembangunan tak harus dimulai dari proyek besar, tapi dari hal yang menyentuh kehidupan warga.
“Pembangunan tidak harus dimulai dari proyek besar. Cukup dari piring anak-anak sekolah — kalau gizi dan semangat mereka tumbuh, maka masa depan daerah ikut tumbuh,” ujarnya penuh semangat.
Melalui pendekatan ini, setiap rupiah APBD diarahkan agar menciptakan efek ganda: anak-anak sehat dan ekonomi rakyat bergerak.
Seperti Apa Dampak Ekonominya di Lapangan?
Dalam 28 hari masa uji coba, MBG Mandiri akan menghidupkan rantai ekonomi mikro di sekitar sekolah. Kantin menjadi dapur gotong royong, komite sekolah mengatur pembelian bahan pangan dari pasar lokal, dan petani kembali produktif.
Aktivitas ekonomi pun menggeliat. pedagang kecil di pasar tradisional tersenyum lebar mendapat order tambahan, dan dapur kantin sekolah terus berasap, pekerja MBG dari warga setempat. inilah “Mudyatomics Effect” — sebuah efek domino positif dari kebijakan berbasis rakyat.
“Program ini tidak hanya soal gizi, tapi juga ekonomi. Uang yang berputar tidak lari ke kontraktor besar, tapi ke warung kecil, pasar lokal, dan dapur masyarakat,” tegas Mudyat Noor.
Berapa Banyak Sekolah yang Terlibat?
Data Terakhir Disdikpora PPU, MBG Mandiri menyasar 82 SD Negeri, 22 SMP Negeri, dan 2 TK Negeri yang akan menjalankan program MBG Mandiri di tahap awal. "Hal ini akan terus di Update mengingat MBG Mandiri hanya diberikan kepada sekolah negeri yang belum di sentuh oleh MBG Pusat yang dilaksanakan BGN. Dengan bertambah lagi yang masuk MBG dari Pusat, maka secara otomatis kami mengurangi Sekolah yang masuk dalam MBG Mandiri agar tdk tumpang tindih alias doble pemberian MBG" jelas Andi Singkerru.
Setiap porsi disubsidi Rp12.000, terdiri dari Rp10.000 untuk bahan makanan bergizi dan Rp2.000 untuk pajak. Pelibatan sekolah menjadi langkah edukatif. Siswa belajar arti kemandirian dan gotong royong, sementara orang tua dan guru menjadi bagian dari sistem pengawasan langsung. Semua pihak terlibat — dari petani, guru, orang tua, hingga siswa.
Bagaimana Sinkronisasi dengan Kebijakan Nasional?
Walau berjalan secara mandiri, Mudyat menegaskan bahwa program MBG Mandiri tetap selaras dengan arah kebijakan nasional. Melalui komunikasi intensif bersama Kemenkeu, Kemendikbudristek, dan Kemenkes, PPU memastikan program ini berjalan sinkron dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025 yang fokus pada penguatan SDM dan pembangunan berbasis komunitas.
“Inilah cara kami melengkapi kebijakan nasional dengan pendekatan daerah. Kita tidak menunggu bantuan, tapi bergerak mandiri,” tutur Mudyat Noor.
Apa yang Bisa Dipelajari dari “Mudyatomics Effect”?
Program ini menjadi bukti nyata bahwa efisiensi bukan penghambat inovasi, tapi peluang menciptakan solusi baru. Dengan mengalirkan anggaran langsung ke sekolah dan melibatkan masyarakat, PPU berhasil menciptakan model pembangunan partisipatif yang bisa ditiru daerah lain.
“Mudyatomics Effect” akan hidup di dapur sekolah, di ladang petani, di pasar tradisional, dan di hati warga yang kembali percaya bahwa kemandirian adalah kekuatan utama pembangunan.
“Inilah semangat Benuo Taka mandiri, tangguh, dan terus berinovasi. Mudyatomics membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, tapi pintu menuju kemandirian,” tutup Mudyat.
PPU telah menunjukkan bahwa inovasi tak selalu datang dari kota besar atau proyek raksasa. Kadang, perubahan besar justru berawal dari sepiring nasi bergizi di tangan anak sekolah.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
1. Apa perbedaan MBG Mandiri dan MBG Nasional?
MBG Mandiri dibiayai APBD PPU dan dikelola sekolah, sedangkan MBG Nasional dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
2. Siapa yang terlibat dalam pelaksanaan MBG Mandiri?
Kantin sekolah, komite, paguyuban, serta petani dan pedagang lokal terlibat langsung.
3. Kapan program ini mulai berjalan?
Program MBG Mandiri akan dilaksanakan mulai November hingga Desember 2025 di seluruh wilayah PPU.