Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Skema Penilaian Adipura 2025 Diubah, DLH PPU Bongkar Tantangan dan Fokus Utamanya

Rizkiyan Akbar • Minggu, 12 Oktober 2025 | 14:18 WIB

Kantor Dinas Lingkungan Hidup Penajam Paser Utara (PPU), Minggu (12 Oktober 2025).
Kantor Dinas Lingkungan Hidup Penajam Paser Utara (PPU), Minggu (12 Oktober 2025).

Balikpapan TV – Hai Cess! DLH PPU lagi semangat-semangatnya nih buat ngincar penghargaan Adipura 2025.

Total ada 14 item penilaian di 26 titik lokasi yang udah dikunjungi tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Mulai dari pasar, sekolah, terminal, sampai fasilitas publik, semua jadi sorotan utama.

Proses penilaiannya sudah rampung, tinggal nunggu pengumuman resmi dari KLHK. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten PPU, Safwana, bilang kalau tahun ini ada perubahan skema penilaian yang bikin hasilnya sedikit molor.

Nah, perubahan ini justru bikin tantangan baru buat daerah—karena bukan cuma soal bersih-bersihan, tapi juga soal gimana cara ngelola sampah secara berkelanjutan.

Fokus Baru Penilaian Adipura 2025: Nggak Cuma Bersih, Tapi Berkelanjutan

Kalau dulu Adipura identik sama kota yang “kinclong”, sekarang beda cerita, Cess. Tahun ini, KLHK lebih fokus pada sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.

Artinya, nggak cuma lihat trotoar rapi dan taman hijau, tapi juga gimana sampah diolah, didaur ulang, dan diminimalkan sejak dari sumbernya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Penajam Paser Utara Safwana menyampaikan fokus penilaian Adipura 2025 di Sekretariat Daerah PPU, Rabu (1 Oktober 2025).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Penajam Paser Utara Safwana menyampaikan fokus penilaian Adipura 2025 di Sekretariat Daerah PPU, Rabu (1 Oktober 2025).

“Tahun ini lebih ditekankan pada bagaimana daerah mengelola sampah, bukan hanya dari segi kebersihan visual, tapi juga sistem pengelolaannya. Ini yang sedang kita dorong terus di lapangan,” jelas Safwana saat ditemui di Sekretariat Daerah PPU, Rabu (1 Oktober 2025).

26 Titik, 14 Item, dan Kerja Kolektif yang Luar Biasa

Bayangin aja, ada 26 titik lokasi yang jadi objek penilaian. Dari pasar tradisional sampai perkantoran pemerintah, semuanya diperiksa satu-satu.

Setiap titik punya karakter unik dan tantangannya sendiri. Misalnya, di pasar, tantangannya ada di pengelolaan sampah organik. Sedangkan di sekolah, penilaian lebih ke arah edukasi lingkungan dan keterlibatan siswa.

DLH PPU juga terus ngasih pendampingan dan dorongan buat tiap lokasi. Dari petugas kebersihan, kepala sekolah, sampe pengurus bank sampah, semua digerakkan bareng.

Kolaborasi semacam ini jadi bukti kalau kebersihan bukan tanggung jawab satu pihak, tapi gerakan kolektif yang melibatkan semua lapisan masyarakat.

Bank Sampah, Sekolah, dan Warga Jadi Garda Terdepan

Salah satu yang paling disorot dalam penilaian tahun ini adalah peran bank sampah dan edukasi lingkungan di sekolah. PPU serius membangun kesadaran masyarakat lewat dua sektor ini.

Bank sampah nggak cuma jadi tempat tukar botol plastik dengan uang receh, tapi juga simbol perubahan gaya hidup.

Di sekolah, anak-anak mulai dibiasakan memilah sampah sejak dini. Mereka diajak paham kalau lingkungan yang bersih itu bukan cuma enak dipandang, tapi juga menyehatkan dan berkelanjutan.

Dari sinilah muncul generasi muda yang peduli bumi—nggak sekadar buang sampah pada tempatnya, tapi juga ngerti makna di baliknya.

Perubahan Skema, Tantangan Baru untuk Daerah

Menurut Safwana, perubahan skema penilaian ini juga jadi salah satu alasan kenapa pengumuman Adipura tahun ini agak telat. Tapi di sisi lain, perubahan ini membawa semangat baru. PPU jadi punya kesempatan untuk memperkuat sistemnya dari dasar.

KLHK kini menilai bukan cuma kebersihan fisik, tapi juga inovasi, partisipasi publik, dan keberlanjutan. Ini tantangan yang menuntut kreativitas daerah. Jadi bukan cuma bersih pas ada lomba, tapi benar-benar punya sistem yang bisa jalan terus dalam jangka panjang.

PPU Tancap Gas Lewat Edukasi dan Aksi Nyata

Biar nggak cuma semangat sesaat, Pemkab PPU terus mendorong edukasi publik dan pelibatan masyarakat.

Mereka gencar adakan kampanye kebersihan di sekolah, pasar, dan ruang publik. Bahkan, beberapa komunitas lokal juga ikut turun tangan bikin program daur ulang kreatif.

Langkah-langkah kecil seperti inilah yang bikin perubahan besar. Edukasi bukan cuma soal teori, tapi praktik langsung di lapangan. Mulai dari memilah sampah, mengelola kompos, sampai pakai produk ramah lingkungan, semua digerakkan bareng.

Dari Hulu ke Hilir: Strategi Pengelolaan Sampah yang Terpadu

Pengelolaan sampah di PPU kini diarahkan biar lebih sistematis dan efisien. Ada peningkatan fasilitas pengangkutan, pengelolaan di TPS, hingga peningkatan kapasitas bank sampah di tiap kecamatan.

Semua ini dijalankan dengan satu tujuan: lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Selain itu, pemerintah daerah juga lagi dorong sektor swasta untuk ikut terlibat. Kolaborasi publik-swasta dianggap penting untuk memperkuat sistem. Dari perusahaan hingga UMKM, semua bisa punya peran dalam mengurangi timbunan sampah.

PPU Menata Masa Depan Bersih dan Hijau

Perjalanan menuju Adipura memang panjang, tapi PPU membuktikan bahwa perubahan dimulai dari kesadaran kecil. Mulai dari memilah sampah, mengelola lingkungan sekitar, sampai aktif di komunitas, semua punya dampak nyata.

Jadi, yuk dukung gerakan bersih ini bareng-bareng, Cess. Karena bumi yang sehat itu tanggung jawab kita semua. Yuk, bagikan artikel ini biar makin banyak orang yang ikut jaga lingkungan! Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Editor : Arya Kusuma
#dlh ppu #kementerian lingkungan hidup dan kehutanan #bank sampah #pengelolaan sampah #Penilaian Adipura 2025