Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Penyebab Banjir di Kalimantan Selatan Apa? Ini Faktor Utama Air Meluap di Enam Kabupaten

AdminBTV • Senin, 29 Desember 2025 | 15:47 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Air yang sebelumnya meluas di sejumlah wilayah Pulau Sumatera kini bergerak ke Kalimantan Selatan. Dalam waktu singkat, sedikitnya enam kabupaten terdampak banjir. Permukiman warga tergenang, fasilitas umum ikut terendam, dan akses transportasi sempat terganggu. Dari semua wilayah itu, Kabupaten Balangan tercatat sebagai daerah dengan kondisi paling parah akibat luapan air yang terjadi cepat.

Teruskan bacaannya, Cess. Di artikel ini, ikam bakal dapet gambaran utuh soal apa yang sebenarnya terjadi di Kalimantan Selatan. Dari status siaga cuaca ekstrem, kondisi sungai yang melampaui batas, sampai faktor lingkungan yang ikut memberi tekanan. Penasaran kan kenapa dampaknya bisa segitu luasnya? Simak sampai akhir, pahamlah ikam.

Baca Juga: Update Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Klandasan Balikpapan 29 Desember 2025

Kenapa banjir cepat meluas di Kalimantan Selatan?

Banjir di Kalimantan Selatan terjadi seiring pergerakan air dari wilayah lain dan diperkuat oleh kondisi cuaca ekstrem. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui BPBD menetapkan status Siaga atau Waspada cuaca ekstrem pada Sabtu, 27 Desember 2025. Penetapan ini didasarkan pada hasil pemantauan Nowcasting BMKG yang menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat hampir di seluruh wilayah provinsi.

Kondisi tersebut membuat debit air meningkat dalam waktu singkat. Air hujan yang turun terus-menerus mengalir ke daerah rendah, merendam permukiman dan fasilitas umum. Situasi ini bukan kejadian tunggal, melainkan rangkaian dari tekanan cuaca yang merata di banyak kabupaten sekaligus.

BPBD mencatat beberapa daerah masuk kategori rawan banjir, antara lain Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Banjar, dan Tanah Laut. Artinya, potensi meluasnya genangan sudah terdeteksi sejak awal, nah’ itu sudah, gambarnya makin jelas kenapa dampaknya terasa ke banyak wilayah.

Apa yang membuat Balangan jadi wilayah paling parah terdampak?

Kabupaten Balangan menjadi sorotan karena kondisi banjirnya paling berat dibanding daerah lain. Luapan air terjadi cepat, merendam kawasan permukiman dan memutus sebagian akses warga. Air berasal dari aliran kawasan pegunungan yang kemudian masuk ke sungai dan meluap karena debitnya tinggi.

Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kalimantan Selatan, Achmadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan personel Taruna Siaga Bencana ke wilayah terdampak. “Personel sudah diterjunkan untuk membantu evakuasi dan kami terus memantau perkembangan di lapangan,” ujar Achmadi.

Ia juga menegaskan bahwa banjir di Balangan bukan kategori banjir bandang. “Bukan bandang karena tidak ada metarial yang terbawa. Jadi itu banjir seperti biasa air dari gunung dan luapan sungai,” jelasnya. Penjelasan ini penting supaya bubuhan tidak salah paham soal karakter banjir yang terjadi.

Bagaimana kondisi sungai dan peringatan dari BPBD serta BMKG?

Beberapa sungai utama di Kalimantan Selatan tercatat telah melampaui batas tinggi muka air siaga. Sungai Riam Kanan mencapai TMA 7,70 meter, sementara Sungai Martapura naik hingga 9,6 meter. Angka ini menunjukkan kapasitas sungai sudah berada di titik kritis.

Kondisi sungai yang meluap mempercepat genangan di wilayah sekitar. Air yang seharusnya tertampung justru meluber ke daratan, memengaruhi rumah warga, jalan, dan fasilitas umum. Di titik ini, peringatan dini menjadi krusial untuk mengurangi risiko yang lebih luas.

Penetapan status Siaga atau Waspada cuaca ekstrem oleh BPBD bukan sekadar formalitas. Ini menjadi sinyal kuat bahwa situasi membutuhkan kewaspadaan bersama. Pahamlah ikam, informasi seperti ini penting dibagikan ke kekawalan supaya semua siap dan waspada.

Seberapa besar peran kondisi lingkungan dan deforestasi di Balangan?

Di luar faktor cuaca, kondisi lingkungan di Kabupaten Balangan ikut menjadi sorotan. Data Global Forest Watch menunjukkan luas Balangan sekitar 270.000 hektare. Pada tahun 2001, kawasan hutannya masih sekitar 100.000 hektare atau 37 persen dari total wilayah.

Namun, dalam kurun 2001 hingga 2024, deforestasi menyebabkan hilangnya sekitar 44.000 hektare hutan. Jika dihitung, itu setara dengan 44 persen dari total luas hutan awal. Angka ini menggambarkan tekanan besar terhadap ekosistem Balangan.

Saat ini, hutan yang tersisa hanya sekitar 56.000 hektare atau 21 persen dari total wilayah. Deforestasi tersebut sebagian besar dipicu oleh alih fungsi lahan untuk pertambangan dan perkebunan kelapa sawit. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana daya dukung lingkungan makin terbatas ketika hujan ekstrem datang.


Banjir di Kalimantan Selatan terjadi akibat kombinasi cuaca ekstrem, luapan sungai, dan tekanan lingkungan. Balangan menjadi wilayah terparah, sementara status siaga sudah ditetapkan sejak 27 Desember 2025. Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi sebenarnya, Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (KHOIRUL)

FAQ

Apa status terbaru cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan?
Status Siaga atau Waspada cuaca ekstrem ditetapkan BPBD sejak 27 Desember 2025 berdasarkan pemantauan BMKG.

Apakah banjir di Balangan termasuk banjir bandang?
Tidak. Banjir di Balangan disebabkan aliran air dari pegunungan dan luapan sungai tanpa membawa material.

Faktor apa saja yang memperparah dampak banjir di Balangan?
Curah hujan tinggi, sungai melampaui TMA siaga, serta berkurangnya tutupan hutan akibat deforestasi.

DISCLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Photo
Photo

Editor : Arya Kusuma
#Sungai Riam Kanan #Deforestasi Balangan #Kabupaten Balangan