Balikpapan TV - Hai Cess! Di pesisir Kabupaten Penajam Paser Utara, laut biru yang sibuk, perahu kayu yang mondar-mandir, dan aktivitas nelayan yang hidup jadi latar utama pendampingan Program Kampung Nelayan Merah Putih.
Dinas Perikanan Kabupaten PPU mendampingi tim Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam verifikasi calon lokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), sebuah langkah awal dari program nasional yang ditujukan untuk memperkuat sektor perikanan tangkap. Tempatnya bukan satu dua titik, tapi kawasan pesisir yang penuh cerita, dengan orang-orang yang menggantungkan hidup pada laut dan benda-benda kerja nelayan yang sederhana namun vital.
Lanjutkan sampai akhir Cess!, karena dari lima hari pendampingan ini, banyak info menarik soal lokasi, proses, hingga harapan besar untuk kesejahteraan nelayan PPU. Nah, ikam pasti pahamlah, cerita pesisir selalu punya sisi penting yang jarang terlihat di kita sehari-hari.
Apa yang dilakukan Diskan PPU bersama tim KKP selama lima hari pendampingan?
Pendampingan berlangsung sejak Jumat, 12 Desember 2025 hingga Selasa, 16 Desember 2025, menjadi tahapan awal sebelum penetapan resmi Kampung Nelayan Merah Putih. Diskan PPU bekerja bersama dua tim, tim utama dari Institut Pertanian Bogor dan tim supervisi dari KKP melalui BPPSDMKP. Fokus mereka bukan sekadar datang dan melihat, tapi melakukan survei lapangan serta evaluasi mendalam di lokasi yang diusulkan.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Perizinan Diskan PPU, Lomo Sabani, menjelaskan bahwa selama pendampingan, tim melakukan penilaian kelebihan dan kekurangan setiap lokasi. Semua masih dalam tahap verifikasi. Artinya, belum ada penetapan, hanya pengumpulan data dan masukan awal. Proses ini panjang dan detail, karena lokasi harus memenuhi kriteria clear and clean.
Pendekatan ini menekankan kehati-hatian. Aktivitas perikanan di lokasi harus aktif dan berkelanjutan, bukan sekadar potensi di atas kertas. Mulai dari penangkapan, budidaya, sampai pemasaran, semuanya harus berjalan. Kalau satu saja pasif, catatan evaluasi akan muncul, pahamlah ikam.
Baca Juga: Sepaku Resmi Masuk IKN, Maridan dan Jenebora Menata Arah Baru di PPU
Lokasi mana saja yang diverifikasi sebagai Kampung Nelayan Merah Putih?
Pemkab PPU sebelumnya mengusulkan delapan lokasi ke KKP. Lokasi tersebut meliputi Kelurahan Sesumpu, Kayu Api di Kelurahan Penajam, Kelurahan Tanjung Tengah, Desa Sesulu, Desa Api-Api, Desa Babulu Laut, Logpond CV Alas, serta Logpond SDR di Kelurahan Waru. Dari usulan itu, lima titik awal menjadi fokus survei lapangan.
Lima lokasi yang disurvei adalah Api-Api, SDR Logpond di Kecamatan Waru, Sesumpu, Tanjung Tengah, dan Pantai Lango sebagai lokasi terakhir. Setiap tempat punya karakter berbeda. Ada yang aktivitas nelayannya padat, ada pula yang masih perlu penguatan di sisi fasilitas pendukung.
Lomo menegaskan bahwa seluruh lokasi masih dievaluasi. Tim memberikan masukan agar ke depan, jika ditetapkan, kampung nelayan ini benar-benar siap secara sosial, ekonomi, dan aktivitas perikanan. Nah’ itu sudah, proses seleksi memang ketat supaya program tepat sasaran.
Mengapa komposisi penduduk dan aktivitas perikanan jadi indikator utama?
Salah satu indikator penting dalam penilaian adalah dominasi penduduk nelayan. Kampung Nelayan Merah Putih ditujukan untuk masyarakat pesisir yang benar-benar hidup dari sektor perikanan. Selain itu, aktivitas perikanan harus aktif dari hulu ke hilir, tidak hanya nelayan tangkap.
Menurut Lomo, pembudidaya dan pemasaran hasil perikanan juga harus berjalan. Semua aspek dinilai agar ekosistem perikanan di lokasi tersebut utuh. Jika hanya tangkap tanpa pemasaran yang jelas, maka nilai tambah ekonomi tidak maksimal.
Pendekatan ini sejalan dengan tujuan nasional, yaitu menata produktivitas perikanan dan rantai pasoknya. Dengan aktivitas yang lengkap, bantuan fasilitas ke depan bisa benar-benar dimanfaatkan nelayan. Bubuhan ikam yang sehari-hari ke laut tentu berharap ada perubahan nyata, bukan janji kosong.
Bagaimana harapan Pemkab PPU dan peran program nasional ini ke depan?
Bupati PPU, Mudyat Noor, berharap KKP menyetujui usulan lokasi Kampung Nelayan Merah Putih. Jika ditetapkan, pemerintah pusat akan memberikan bantuan pengembangan pelabuhan perikanan dan pembangunan Tempat Pelelangan Ikan. Ini penting karena PPU memiliki garis pantai sepanjang 272 kilometer, namun belum ditunjang fasilitas memadai.
Mudyat menekankan bahwa pengusulan lokasi bertujuan memperkuat tata niaga hasil laut, membuka akses pasar, dan mempercepat pemberdayaan nelayan. Program ini juga sejalan dengan target nasional KKP membangun 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih di seluruh Indonesia pada periode 2025–2028.
Staff Ahli Menteri KKP bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Trian Yunanda, menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa IPB memberikan data lapangan komprehensif. Data ini mencakup jumlah nelayan, metode tangkap, hingga cara menjual hasil laut. Salah satu sorotan adalah pentingnya rantai dingin agar mutu ikan terjaga dan harga tetap baik di pasaran.
Ikhtisar Singkat
Pendampingan Diskan PPU bersama KKP menjadi langkah awal penentuan Kampung Nelayan Merah Putih di PPU. Lima lokasi disurvei dengan indikator ketat, dari komposisi penduduk hingga aktivitas perikanan. Program nasional ini diharapkan memperkuat fasilitas, tata niaga, dan kesejahteraan nelayan. Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham arah pembangunan pesisir di PPU Cess!.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
Apa itu Program Kampung Nelayan Merah Putih?
Program nasional KKP untuk menata dan memperkuat sektor perikanan tangkap di kawasan pesisir.
Apakah lokasi di PPU sudah ditetapkan?
Belum. Saat ini masih tahap verifikasi dan evaluasi lapangan.
Berapa lama pendampingan dilakukan?
Pendampingan berlangsung selama lima hari, dari 12 hingga 16 Desember 2025.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.