Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Peran Terra Drone Disorot! Jejak Terra Drone di Sawit Sumatera dan Tragedi Kebakaran Gedung yang Mengubah Segalanya

Arya Kusuma • Kamis, 11 Desember 2025 | 08:49 WIB

Drone pemetaan terbang di atas kebun sawit Sumatera, Dan Tragedi Gedung Tera Drone
Drone pemetaan terbang di atas kebun sawit Sumatera, Dan Tragedi Gedung Tera Drone

Balikpapan TV - Hai Cess! Di balik sorotan penyelidikan kebakaran gedung Terra Drone di Kemayoran yang merenggut 22 nyawa, rekam jejak perusahaan ini ternyata menyimpan cerita panjang di sektor agrikultur, khususnya kebun sawit Sumatera.

Nama Terra Drone bukan sekadar perusahaan teknologi, tapi semacam “mata udara” bagi para pelaku perkebunan yang ingin membaca kondisi lahannya lebih presisi. Jejak itu sekarang kembali mencuat, memantul di tengah riuhnya kabar duka nasional.

Banyak bubuhan di Balikpapan yang mungkin baru tahu sisi lain perusahaan ini. Kisahnya bukan sederhana, penuh persimpangan antara inovasi, risiko, dan tragedi yang menggetarkan nurani. Penasaran sejauh apa peran mereka? Baca terus sampai akhir Cess!

Bagaimana rekam jejak Terra Drone dalam industri agrikultur sawit Indonesia?

Terra Drone berada di jalur terang sebagai pionir teknologi udara untuk sektor agrikultur. Jauh sebelum tragedi kebakaran Kemayoran terjadi, mereka sudah wara-wiri di kebun sawit Sumatera. Terra Agri, unit khusus agrikultur dari Terra Drone Indonesia, mencatat ribuan hektare areal sawit di berbagai provinsi lewat drone beresolusi tinggi.

Dari atas udara, mereka menangkap detail yang sulit diraih inspeksi manual. Data itulah yang digunakan perusahaan besar untuk merencanakan tanam–tebang, memprediksi panen, serta mendeteksi serangan hama. Bagi industri sawit, teknologi ini jadi fondasi perencanaan yang lebih taktis dan hemat waktu.

Layanannya tidak berhenti di pemetaan. Mereka juga melakukan sensus pohon sawit secara menyeluruh, memastikan jumlah, umur, dan kondisi tanaman terbaca jelas. Ini membantu perusahaan menghindari salah perhitungan stok produksi. Di beberapa kawasan Sumatera yang jarang disentuh teknologi canggih, kehadiran drone membawa angin segar bagi manajemen kebun. Laporan visual yang tajam membuat setiap keputusan lebih meyakinkan.

Banyak pelaku agribisnis kemudian mengakui manfaat pendekatan ini. Industri sawit yang dikenal padat lahan menjadi lebih efisien. Pucuk–pucuk daun sawit yang dulu hanya bisa ditebak kondisinya dari bawah, kini terbaca jelas dari udara. Itu sudah menjadi standar baru dalam era precision agriculture yang berkembang pesat Cess.

Baca Juga: Kebakaran Maut 22 Korban Jiwa! Dea Anjani Ceritakan Detik-detik Panik Saat Putrinya Selamat dari Kebakaran di Gedung TERRA DRONE, Begini Kronologinya

Apa yang membuat Terra Drone dianggap pemain penting dalam precision agriculture, terutama di Sumatera?

Salah satu proyek yang membuat nama Terra Drone makin dikenal ialah kolaborasinya dengan International Finance Corporation pada 2021. Fokusnya memantau petani sawit swadaya di Riau. Program ini memanfaatkan drone multispektral untuk menilai kesehatan tanaman dan kepadatan pohon. Bagi banyak petani swadaya, teknologi semacam ini sebelumnya terasa jauh dari jangkauan. Melalui program itu, mereka mendapatkan akses pada data akurat untuk mengelola tanaman lebih terukur.

Selain IFC, beberapa perusahaan besar seperti Sinar Mas Agribusiness and Food juga tercatat menggunakan layanan Terra Drone. Mereka memanfaatkan drone untuk inventarisasi pohon dan analisis kesehatan tanaman. Dengan kata lain, Terra Drone menjadi salah satu penyedia layanan penting di balik rantai pasokan CPO nasional. Ketika perusahaan besar mengadopsi teknologi mereka, industri lain ikut bergerak mengikuti.

Di Sumatera, pemetaan digital dan evaluasi lahan menjelma kebutuhan. Topografi rumit, area luas, serta akses lapangan yang kadang sulit, membuat keberadaan drone sangat membantu. Terra Drone menyediakan pendekatan cepat tanpa mengorbankan detail. Inilah alasan banyak pihak menganggap mereka pionir di sektor agrikultur berbasis teknologi udara Cess.

Sejauh mana pengalaman Terra Drone di sektor berisiko tinggi mempengaruhi reputasinya?

Terra Drone bukan perusahaan baru. Sejak berdiri pada 2015 dengan nama awal AeroInspect & Drone Van Java, mereka terlibat dalam berbagai proyek industri berat. Mulai dari tambang, konstruksi, energi, migas, hingga kehutanan. Portofolionya luas, mencakup survei topografi 3D, pemetaan digital terrain model, hingga pengukuran volume tambang yang membutuhkan akurasi tinggi. Keberanian perusahaan masuk ke wilayah berisiko kompleks menjadi salah satu alasan reputasinya melesat.

Perusahaan ini juga menyediakan layanan inspeksi aset kritis. Mulai dari jaringan SUTET, jembatan, panel surya, kilang migas, hingga area pemrosesan sawit. Semua itu memerlukan drone yang mampu terbang stabil dalam berbagai kondisi ekstrem. Mereka juga memanfaatkan teknologi LiDAR untuk memetakan area berhutan lebat, khususnya di wilayah Sumatera yang sulit dijangkau kendaraan darat. Kemampuan ini membuat Terra Drone mendapatkan banyak klien besar.

Beberapa nama besar seperti PLN, Pertamina, kelompok tambang besar, dan perusahaan BUMN Karya tercatat menjadi pengguna. Dengan posisi sebagai penyedia jasa drone terbesar asal Jepang di Indonesia, peran mereka menjadi strategis dalam proyek pemetaan nasional. Reputasi ini sempat menjadi kebanggaan. Namun, nasib membawa perusahaan ini masuk ke sorotan berbeda setelah tragedi Kemayoran Cess.

Apa yang sebenarnya terjadi dalam tragedi kebakaran gedung Terra Drone di Kemayoran?

Tragedi 10 Desember 2025 menyentak publik. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut bangunan tersebut dibangun tanpa mengikuti aturan keselamatan dasar. Gedung hanya punya satu pintu keluar–masuk. Tangga sempit dan tak adanya pintu darurat menciptakan situasi berbahaya. “Ini gedung yang dibangun tanpa aturan,” ujarnya tegas. Bagi banyak orang, pernyataan itu seolah menegaskan bahwa tragedi sebenarnya bisa dicegah sejak tahap konstruksi.

Rekaman CCTV memperlihatkan asap menyelimuti lantai dua hanya dalam 90 detik. Empat menit kemudian, seluruh tiga lantai di atasnya gelap total. Mayoritas korban ditemukan di lantai empat hingga enam, meninggal karena kehabisan oksigen, bukan terbakar. Situasinya sulit dibayangkan, apalagi bagi keluarga korban yang menerima kabar memilukan tersebut. Derita itu kini menjadi bagian dari proses penyelidikan menyeluruh.

Dugaan awal menyebut api berasal dari ruang penyimpanan baterai litium. Pakar kebakaran menilai litium mudah mengalami thermal runaway, kondisi ketika suhu meningkat drastis dan memicu percikan api beruntun. Penyimpanan baterai litium dalam jumlah besar memang membutuhkan standar keamanan ketat. Dalam kasus ini, celah pengawasan menjadi salah satu titik krusial yang sedang diselidiki Cess.

Baca Juga: Kakorlantas Tinjau Kesiapan Operasi Nataru 2025 di Kaltim, ETLE Jadi Sorotan Serius!

Apa dampak kejadian ini terhadap masa depan teknologi drone dan industri agrikultur digital di Indonesia?

Tragedi Kemayoran memunculkan kekhawatiran baru dalam industri drone nasional. Banyak pihak mempertanyakan standar keselamatan, tata ruang penyimpanan baterai, serta sertifikasi area kerja perusahaan berbasis teknologi tinggi. Industri drone yang sebelumnya berkembang cepat kini menghadapi fase evaluasi mendalam. Regulasi kemungkinan besar akan diperketat demi menghindari risiko serupa.

Namun, di sisi lain, kebutuhan terhadap teknologi agrikultur presisi tidak surut. Para pelaku industri sawit tetap membutuhkan pemetaan, sensus, dan evaluasi lahan. Teknologi udara memberi nilai strategis, terutama di wilayah luas seperti Sumatera. Tantangannya sekarang bukan apakah teknologi masih relevan, tetapi bagaimana memastikan aspek keselamatan perusahaan penyedia layanan terpenuhi.

Banyak pelaku agribisnis kini mulai memeriksa ulang standar keselamatan mitra kerja mereka. Di Balikpapan misalnya, evaluasi internal menjadi obrolan serius di antara perusahaan energi dan konstruksi. Masa depan teknologi drone akan tetap bergerak maju, tapi harapannya tragedi serupa tidak terulang. Itu sudah menjadi pembelajaran mahal bagi industri Cess.

Terra Drone pernah menjadi pionir teknologi udara untuk agrikultur sawit di Sumatera, bekerja sama dengan banyak perusahaan besar dan organisasi internasional. Namun, reputasi panjang itu goyah setelah kebakaran Kemayoran yang menelan korban jiwa.

Tragedi tersebut membuka diskusi besar tentang standar keselamatan industri drone. Meski begitu, kebutuhan terhadap teknologi agrikultur presisi masih terus berjalan, dan evaluasi menyeluruh kini menjadi bagian penting dari arah perkembangan industri.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham soal isu besar ini Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

 

FAQ

Apa fungsi utama drone dalam pengelolaan kebun sawit?
Drone digunakan untuk pemetaan, sensus pohon, mendeteksi hama, hingga memantau kesehatan tanaman.

Apa penyebab dugaan awal kebakaran gedung Terra Drone?
Penyelidikan menduga api berasal dari ruang penyimpanan baterai litium yang mengalami thermal runaway.

Apakah teknologi drone akan tetap digunakan di sektor agrikultur setelah tragedi ini?
Ya, namun dengan evaluasi dan peningkatan standar keselamatan yang lebih ketat.

 

DISCLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Editor : Arya Kusuma
#kebun sawit #Agrikultur presisi #Terra Drone #sumatera