Balikpapan TV - Hai Cess! Soeharto resmi mendapat gelar Pahlawan Nasional usai diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10 November 2025).
Keputusan tersebut langsung mendapat sorotan dari media asing seperti The Guardian yang berasal dari Inggris dan kantor berita Reuters.
Yuk, baca sampai habis, biar kamu paham dan tidak terjebak opini yang beredar di luar sana, Cess!
Apa yang Terjadi di Istana Negara Hari Itu?
Upacara berlangsung khidmat, dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara. Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116 TK Tahun 2025, Soeharto resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Jawa Tengah.
“Nomor urut 2, Almarhum Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto, tokoh berasal dari Provinsi Jawa Tengah," ujar Sekretaris Militer Presiden, Mayjen TNI Kosasih, saat membacakan keputusan tersebut.
Dua ahli warisnya yakni, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) dan Bambang Trihatmodjo, hadir untuk menerima langsung gelar kehormatan tersebut di depan para pejabat negara dan tamu undangan.
Baca Juga: Inilah 10 Tokoh Baru Pahlawan Nasional 2025, Lengkap Asal Daerahnya!
Kenapa Media Asing Ikut Menyoroti?
Tak lama setelah upacara, berita ini langsung masuk radar media global seperti The Guardian yang menulis dengan nada kritis.
“Indonesia telah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada mantan pemimpin otoriter Soeharto, sebuah langkah yang memicu tuduhan revisionisme sejarah di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia,” tulis The Guardian dalam artikelnya berjudul “Fury as Indonesia declares late authoritarian ruler Suharto a national hero.
Laporan itu menyoroti masa pemerintahan Soeharto yang disebut diwarnai korupsi, penyensoran, dan pelanggaran hak asasi manusia.
Mereka menilai, penghargaan ini bisa menimbulkan kekhawatiran bahwa sejarah kelam masa lalu justru akan “dipoles ulang”.
Reuters: “Langkah Ini Menuai Kontroversi”
Sementara itu, Reuters menulis laporan dengan nada serupa, menyoroti reaksi publik dan aktivis hak asasi manusia.
“Soeharto dipaksa mundur selama krisis keuangan Asia tahun 1998 di tengah protes massa dan kerusuhan mematikan terhadap 32 tahun kekuasaannya atas negara kepulauan yang luas dan kaya sumber daya alam tersebut,” tulis Reuters.
Media tersebut menilai langkah pemerintah memberi gelar kehormatan pada Soeharto sebagai keputusan kontroversial di tengah ingatan kolektif bangsa atas masa Orde Baru.
Apa Makna Gelar Pahlawan Nasional di Tengah Perdebatan Ini?
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada dasarnya dimaksudkan untuk menghormati jasa besar seseorang terhadap negara. Namun, dalam kasus Soeharto, konteksnya lebih kompleks.
Bagi sebagian pihak, ia dikenang sebagai pemimpin yang membawa stabilitas dan pembangunan besar-besaran. Tapi bagi yang lain, masa pemerintahannya identik dengan pelanggaran kebebasan sipil dan ekonomi yang timpang.
Perdebatan ini bukan sekadar tentang Soeharto semata, tapi juga tentang cara bangsa ini berdamai dengan sejarahnya sendiri.
Ada yang bilang, menghormati bukan berarti melupakan. Perspektif semacam ini mungkin jadi kunci agar penghargaan tak sekadar seremonial, tapi juga reflektif bagi generasi masa kini.
Bagaimana Publik Merespons?
Di jagat maya, reaksi masyarakat pun terbelah. Ada yang menilai gelar itu layak diberikan, ada juga yang menganggapnya terlalu sensitif untuk saat ini.
Beberapa akademisi menilai pemerintah sebaiknya membuka ruang dialog publik sebelum menetapkan tokoh dengan rekam jejak kontroversial.
Dari sisi keluarga, Tutut Soeharto menyampaikan rasa haru dan terima kasih atas penghargaan tersebut. “Kami berterima kasih kepada pemerintah dan rakyat Indonesia atas penghormatan ini,” ujarnya singkat usai acara.
Baca Juga: Hari Pahlawan 2025! Marsinah Diakui Sebagai Pahlawan Nasional, Perjuangan Buruh Diabadikan Negara
Apa Pelajaran yang Bisa Diambil, Cess?
Perdebatan soal pahlawan nasional selalu jadi cermin bagi bangsa untuk menilai nilai-nilai yang dianggap penting.
Dalam konteks ini, publik diajak lebih kritis, bukan hanya terhadap figur masa lalu, tapi juga terhadap makna kepemimpinan dan tanggung jawab publik.
Kalau mau ambil sisi positifnya, penganugerahan ini bisa jadi momentum refleksi nasional: sejauh mana kita memahami sejarah tanpa menghapus luka lama? Dan bagaimana agar nilai perjuangan tetap hidup tanpa memutihkan sisi kelamnya?
Tips Singkat Biar Nggak Salah Paham Sejarah
1. Baca dari banyak sumber. Jangan cuma satu media.
2. Pisahkan antara fakta dan opini.
3. Belajar sejarah secara kontekstual, bukan emosional.=
4. Ngobrol dan berdiskusi. Pandangan berbeda itu sehat, Cess!
Jadi, apapun pandanganmu, yang penting kita tetap bijak memaknai sejarah. Pahlawan bukan cuma soal masa lalu, tapi juga bagaimana kita berjuang hari ini dengan cara masing-masing.
Yuk, bagikan artikel ini biar makin banyak orang yang paham dan tidak terjebak opini yang beredar di luar sana, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ
1. Siapa saja tokoh lain yang menerima gelar Pahlawan Nasional 2025 selain Soeharto?
Selain Soeharto, ada sembilan tokoh lain yang juga mendapat gelar tersebut, mewakili berbagai daerah di Indonesia.
2. Mengapa keputusan ini menuai kontroversi?
Karena masa pemerintahan Soeharto dinilai sebagian kalangan penuh pelanggaran HAM dan korupsi, meski juga membawa pembangunan besar.
3. Apakah gelar Pahlawan Nasional bisa dicabut?
Secara hukum, gelar tersebut bersifat tetap, kecuali ditemukan pelanggaran berat yang melanggar prinsip dasar penghargaan negara.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.