Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Dedi Bongkar Fakta Sumber Air Aqua Bukan dari Mata Air Gunung, Apa Saja Temuan Dedi Mulyadi dalam Sidak Pabrik Aqua di Subang?

Arya Kusuma • Kamis, 23 Oktober 2025 | 13:50 WIB

Dedi Mulyadi memeriksa truk pengangkut air di Subang, soroti muatan berlebih dan dampak eksploitasi air tanah.
Dedi Mulyadi memeriksa truk pengangkut air di Subang, soroti muatan berlebih dan dampak eksploitasi air tanah.

Balikpapan TV - Hai Cess! Sebuah video inspeksi mendadak (sidak) oleh Kang Dedi Mulyadi di Kabupaten Subang kembali bikin publik melek soal tata kelola infrastruktur dan pemanfaatan sumber daya air. Dalam video berdurasi lebih dari 25 menit itu, Dedi tampak meninjau langsung ruas jalan Cagak–Cikaramas yang sedang direkonstruksi, sekaligus menyambangi area pabrik PT Aqua. Dari sidak tersebut, muncul sederet temuan penting soal kondisi jalan, keselamatan transportasi, hingga praktik perusahaan air mineral raksasa dalam mengelola sumber daya alam.

Jalan yang tampak mulus di permukaan ternyata menyimpan banyak cerita di baliknya. Dedi Mulyadi menyoroti hal-hal mendasar: dari truk overload, kendaraan tua, hingga isu lingkungan yang lebih kompleks. Yuk, kita kulik satu per satu, Cess.

Kenapa Jalan Subang Ini Jadi Sorotan Dedi Mulyadi?

Sidak Dedi berawal di proyek rekonstruksi jalan provinsi Cagak–Batas Subang/Sumedang. Proyek sepanjang 5,2 km ini sudah 65% rampung dan mencakup perbaikan saluran air serta permukaan jalan. Namun, perhatian Dedi tertuju bukan pada pekerja proyek, melainkan pada truk pengangkut air mineral milik transporter Balina, rekanan PT Aqua.

Truk tersebut kedapatan membawa 720 galon atau sekitar 14 ton air, padahal batas angkut resminya hanya 11 ton. “Ini overload,” tegas Dedi saat mengecek muatan. Ia juga mencatat kendaraan tersebut adalah keluaran tahun 2010 — artinya sudah berumur 15 tahun dan dinilai tidak layak untuk rute berat harian.

Baca Juga: Proyek Whoos Kerugian Rp2,6 Triliun dan Utang Rp75 Triliun! Mengapa Proyek KCJB Dituding Sarat Mark-Up dan Pembengkakan Biaya?

Apa Dampak Overload Truk Terhadap Infrastruktur dan Keselamatan?

Masalah bukan cuma soal aturan, tapi soal nyawa. Sebelumnya, terjadi insiden truk pengangkut air yang mengalami rem blong hingga menewaskan tiga orang warga. “Perusahaan besar tidak seharusnya pakai kendaraan yang standar keselamatannya rendah,” ucap Dedi dengan nada kecewa.

Ia menegaskan, jalan provinsi di kawasan itu didesain untuk truk berjenis cold diesel, bukan tronton berukuran besar. Beban berlebih bukan hanya mempercepat kerusakan jalan, tapi juga menambah risiko kecelakaan fatal di jalur yang padat penduduk.

Bagaimana Soal Pajak Air dan Keuntungan Perusahaan Air Mineral?

Topik makin panas ketika Dedi menyinggung soal keuntungan perusahaan air mineral. Ia menyoroti ketimpangan antara biaya produksi dan harga jual. “Harga BBM malah lebih murah dari harga air mineral,” celetuknya sambil membandingkan fakta di lapangan.

Menurut perhitungannya, perusahaan memompa sekitar 2.850 meter kubik air per hari dari sumber bawah tanah. Dedi menganggap perusahaan terlalu diuntungkan karena mendapatkan air secara gratis dari alam dan hanya membayar pajak air tanah. Ia pun mengusulkan agar pajak air digunakan untuk tiga hal: memperbaiki lingkungan, membangun jalan, dan menyediakan air bersih bagi warga sekitar.

Benarkah Air Aqua Diambil dari Sumur Bor, Bukan Mata Air Pegunungan?

Salah satu temuan paling menarik datang dari keterangan perwakilan perusahaan. Mereka menjelaskan bahwa air produksi tidak berasal dari mata air permukaan, melainkan dari sumur dalam di kedalaman 60–132 meter. Artinya, yang selama ini disebut “air pegunungan” sebenarnya dipompa dari lapisan bawah tanah melalui pengeboran.

Dedi pun mengingatkan bahwa eksploitasi air bawah tanah di kawasan pegunungan bisa memicu pergeseran tanah dan memperparah potensi longsor. Ia mencontohkan bencana di Kasomalang yang dianggap terkait dengan kerusakan ekosistem akibat eksploitasi air. Meski pihak perusahaan mengklaim sudah melakukan studi geologi bersama UGM, Dedi tetap meminta ada evaluasi menyeluruh terhadap dampak lingkungannya.

Apakah Program CSR Sudah Menjawab Kebutuhan Warga Sekitar?

Perusahaan menyebut telah menjalankan program konservasi dan menanam lebih dari 100.000 pohon di area Ciater serta membangun Taman Keanekaragaman Hayati seluas 5,8 hektar. Namun, bagi Dedi, itu belum cukup. Ia menegaskan agar CSR difokuskan untuk kebutuhan paling dasar: air bersih. “Program sosial itu harus dirasakan langsung, bukan cuma simbolis,” ujarnya.

Dedi bahkan menyoroti persoalan sampah plastik dari botol air mineral yang banyak tercecer di sawah. Menurutnya, perusahaan harus bertanggung jawab atas residu produk yang ikut mencemari lingkungan sekitar.

Apa yang Dituntut Dedi Mulyadi dari Perusahaan Air Mineral?

Dalam sidaknya, Dedi mengajukan tiga tuntutan utama. Pertama, mengganti truk angkutan besar dengan kendaraan kecil agar sesuai spesifikasi jalan. Kedua, memastikan pembayaran pajak air dilakukan dengan jujur tanpa manipulasi volume pengambilan air. Dan ketiga, menerapkan standar keselamatan tinggi pada setiap kendaraan transporter agar tak ada lagi korban jiwa di jalan.

Sidak ini jelas bukan sekadar aksi “viral”, tapi bentuk nyata advokasi publik terhadap tata kelola sumber daya alam dan keselamatan warga. “Kalau perusahaan besar saja tak patuh, bagaimana rakyat kecil mau percaya pada keadilan?” tutur Dedi menutup kunjungannya.

Aksi Dedi Mulyadi di Subang kembali mengingatkan bahwa keseimbangan antara bisnis dan ekologi adalah harga mati. Jalan boleh mulus, tapi kalau keselamatan dan lingkungan diabaikan, semua bisa runtuh.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

 

FAQ

1. Apakah PT Aqua menggunakan air pegunungan atau air tanah?
Menurut keterangan perusahaan, sumber air berasal dari sumur bor dalam, bukan mata air permukaan.

2. Apakah sidak Dedi Mulyadi bersifat resmi pemerintah?
Sidak dilakukan secara pribadi dalam kapasitas Dedi sebagai tokoh publik dan pemerhati kebijakan lingkungan.

3. Apa yang diharapkan dari sidak ini?
Dedi berharap perusahaan lebih transparan soal pajak air, memperbaiki standar keselamatan, dan memberi manfaat langsung bagi warga sekitar.

 

DISKLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Pendiri rumah produksi Tenun Khatulistiwa Kurniati menunjukkan karya tenun corak insang pada Senin (20/10).
Pendiri rumah produksi Tenun Khatulistiwa Kurniati menunjukkan karya tenun corak insang pada Senin (20/10).
Editor : Arya Kusuma
#dedi mulyadi #Pajak Air #sidak Subang #PT Aqua