Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Proyek Whoos Kerugian Rp2,6 Triliun dan Utang Rp75 Triliun! Mengapa Proyek KCJB Dituding Sarat Mark-Up dan Pembengkakan Biaya?

Arya Kusuma • Kamis, 23 Oktober 2025 | 13:33 WIB

 

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) alias Whoosh kembali jadi sorotan panas. Laporan keuangan terbaru PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menunjukkan kerugian tembus Rp2,6 triliun pada 2024. Mayoritas disebabkan biaya depresiasi, amortisasi, serta bunga pinjaman dari China Development Bank (CDB) yang mendanai sekitar 75% dari total proyek. Hingga kini, utang KCIC pada CDB mencapai USD 4,55 miliar atau sekitar Rp75 triliun — angka yang bikin publik terbelalak.

Isu ini kian ramai setelah ekonom Anthony Budiawan buka suara. Ia menduga ada mark-up alias penggelembungan biaya dalam proyek KCJB, dan publik pun mulai bertanya-tanya: di mana letak salahnya?

Apa yang Menyulut Dugaan Mark-Up dalam Proyek KCJB?

Anthony Budiawan membeberkan tiga alasan kuat yang memicu pandangannya. Pertama, biaya pembangunan KCJB jauh lebih tinggi dibanding proyek sejenis, bahkan di Tiongkok sendiri. Kedua, bunga pinjaman dari China Development Bank disebut lebih mahal dibanding tawaran Jepang. Ketiga, pembengkakan biaya alias cost overrun yang bikin total proyek melejit hingga lebih dari USD 7 miliar.

Pandangan ini menyulut perdebatan publik. Banyak pihak merasa proyek yang digadang-gadang sebagai simbol modernisasi transportasi itu kini justru berisiko menjadi beban fiskal panjang bagi negara.

Proyek KCJB Whoosh – simbol kemajuan teknologi dan tantangan transparansi finansial Indonesia.
Proyek KCJB Whoosh – simbol kemajuan teknologi dan tantangan transparansi finansial Indonesia.

Mengapa Audit Forensik Jadi Kunci Mengurai Masalah Ini?

Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, menegaskan bahwa dugaan mark-up tak bisa sekadar disimpulkan dari opini. “Perlu audit forensik,” ujarnya. Audit ini, kata Harris, harus dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) secara independen dan menyeluruh.

Audit tersebut wajib menelusuri semua tahap, mulai dari evaluasi tender awal, kontrak, hingga notulen rapat dengan pemberi pinjaman. Bahkan, bila perlu, konsultan internasional bisa dilibatkan agar hasilnya obyektif, kredibel, dan tak dipelintir kepentingan politik.

Baca Juga: Trailer Silent Night, Deadly Night Bikin Merinding Sinterklas Berubah Jadi Algojo Berdarah, Natal Berubah Dan Tak Lagi Damai

Seberapa Penting Transparansi dalam Pembiayaan Proyek KCJB?

Harris juga menekankan pentingnya keterbukaan publik. Pemerintah dan KCIC, katanya, wajib membuka term sheet pinjaman—termasuk bunga, tenor, grace period, dan jaminan negara yang diberikan. Langkah ini akan membantu DPR dan masyarakat menilai dampak finansial proyek terhadap APBN secara rasional.

Dengan begitu, mitigasi risiko bisa disiapkan sejak dini, bukan setelah kerugian menumpuk. Transparansi bukan sekadar formalitas, tapi fondasi kepercayaan publik.

Langkah Apa yang Harus Diambil Pemerintah Sekarang?

Menurut Harris, pemerintah tak bisa membiarkan kerugian KCIC terus membengkak. Ia menyarankan restrukturisasi utang yang berpihak pada publik, bukan untuk menutupi kesalahan masa lalu. Rencana itu harus disertai ukuran kinerja yang jelas dan sanksi bagi pihak yang lalai.

Dan bila audit nanti menemukan indikasi korupsi, aparat penegak hukum seperti KPK wajib turun tangan. “Hukum tidak boleh tebang pilih,” tegasnya. Bahkan, Menteri BUMN pada periode terkait bisa dipanggil jika ada bukti kuat keterlibatan.

Apa Pelajaran Terbesar dari Kasus KCJB Ini?

Dari kaca mata kebijakan, Harris melihat pelajaran paling berharga justru di ranah tata kelola. Ia menegaskan perlunya reformasi dalam pedoman pengadaan dan evaluasi proyek strategis nasional.

Setiap proyek besar, terutama yang dibiayai pinjaman asing, harus menghitung semua biaya pembiayaan sejak awal—termasuk risiko kurs, jaminan negara, hingga potensi cost overrun. “Transparansi dari awal itu kunci agar fiskal kita tidak megap-megap di masa depan,” ujarnya.

Mengapa Proyek KCJB Jadi Simbol Pelajaran Mahal bagi Pemerintahan Baru?

Harris menyebut proyek KCJB sebagai pelajaran mahal yang kini diwarisi pemerintahan Presiden Prabowo. Menurutnya, kesalahan masa lalu tak boleh diulang. “Kereta cepat boleh melaju kencang, tapi akuntabilitas jangan tertinggal di belakang,” katanya.

Proyek sebesar ini semestinya jadi simbol kemajuan bangsa—bukan simbol kelalaian. Jika prinsip transparansi ditegakkan, KCJB bukan hanya jadi warisan teknologi, tapi juga warisan integritas untuk generasi berikutnya.

Proyek KCJB kini menjadi cermin besar: di satu sisi ada kebanggaan akan kemajuan, di sisi lain tersimpan tantangan besar soal akuntabilitas dan keberlanjutan fiskal. Di tengah dinamika politik dan ekonomi, publik berharap audit dan restrukturisasi bisa membawa arah baru yang lebih jujur dan efisien bagi proyek strategis nasional ke depan.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

 

FAQ

1. Mengapa proyek KCJB disebut mengalami kerugian besar?
Karena biaya depresiasi, amortisasi, dan bunga pinjaman yang tinggi dari China Development Bank, membuat KCIC mencatat rugi Rp2,6 triliun pada 2024.

2. Apakah ada bukti mark-up dalam proyek KCJB?
Belum ada bukti hukum. Namun, ekonom Anthony Budiawan menduga adanya indikasi mark-up, sehingga DPR mendorong BPK untuk audit forensik.

3. Apa langkah terbaik agar proyek serupa tak terulang masalahnya?
Transparansi pembiayaan, audit menyeluruh, dan reformasi aturan pengadaan proyek besar menjadi kuncinya.

 

DISKLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, Kereta Cepat Harus Jadi Simbol Akuntabilitas, Bukan Kelalaian
Anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, Kereta Cepat Harus Jadi Simbol Akuntabilitas, Bukan Kelalaian

Editor : Arya Kusuma
#Audit Forensik #KCIC #KCJB #utang CDB