Durasi Baca: 8 menit
Topik: Perbedaan budaya Korea Selatan dan Indonesia dari kehidupan hingga perawatan kulit
Ikhtisar: Artikel ini membahas pandangan warga Korea Selatan tentang budaya, persaingan hidup, arti nama, tren perawatan kulit, serta alasan Indonesia dinilai lebih nyaman untuk ditinggali.
Balikpapan TV - Hai Ces! Korea Selatan dikenal maju dalam pendidikan, karier, dan industri kecantikan. Namun, di balik citra tersebut, Dayun, warga negara Korea Selatan yang telah lama tinggal di Indonesia, mengungkap sisi lain kehidupan masyarakat Korea yang penuh tekanan, mulai dari persaingan kerja hingga standar penampilan yang tinggi.
Masih banyak cerita menarik yang jarang dibahas dari sudut pandang orang Korea sendiri. Ikuti sampai selesai, banyak fakta menarik yang mungkin baru pertama kali terdengar. Simak terus, Ces!
Di kanal YouTube Raditya Dika, Dayun hadir bersama sang istri, Anissa Aziza. Obrolan berlangsung santai, tetapi membahas berbagai topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan saat sakit, budaya memberi nama, persaingan hidup di Korea Selatan, hingga tren skincare yang sedang berkembang.
Percakapan juga diikuti oleh dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Alif atau Doclip, yang memberikan penjelasan ilmiah mengenai bahan aktif PDRN yang belakangan ramai digunakan dalam produk perawatan kulit.
Baca Juga: 10 Jurusan Kuliah 2026 Paling Dicari Perusahaan, Peluang Kerja Fresh Graduate Mulai Ketat
Apa yang Berbeda dari Kehidupan Sehari-hari di Korea Selatan?
Obrolan dibuka dengan pengalaman menghadapi musim batuk dan demam. Raditya Dika menyinggung kebiasaan masyarakat Indonesia yang sering mengonsumsi jamu ketika kondisi tubuh menurun.
Dayun kemudian menjelaskan bahwa masyarakat Korea memiliki kebiasaan berbeda. Mereka biasa meminum rebusan buah pir yang dicampur angco atau kurma merah serta jahe untuk membantu menghangatkan tubuh ketika sedang kurang sehat.
Meski berbeda, kedua tradisi tersebut sama-sama memanfaatkan bahan alami yang dipercaya dapat membantu memberikan rasa nyaman ketika tubuh sedang tidak fit.
Pembahasan kemudian bergeser ke arti nama orang Korea. Dayun menjelaskan hampir setiap nama di Korea memiliki makna khusus karena berasal dari karakter hanja atau aksara Tionghoa klasik yang digunakan dalam penamaan.
Nama Dayun sendiri memiliki arti "memberikan pelajaran yang besar di dunia ini", sebagai harapan orang tuanya agar kelak menjadi sosok yang dapat mengajarkan banyak hal kepada orang lain.
Ia juga membagikan arti nama ketiga anaknya. Juno berarti orang yang bersinar dan baik, Enho memiliki makna rendah hati serta baik, sedangkan Jena berarti anak yang cantik dan bersinar.
Selain nama, Dayun turut menjelaskan mengenai marga yang banyak ditemui di Korea seperti Kim, Lee, dan Park.
Menurutnya, meskipun pelafalannya sama, belum tentu berasal dari garis keturunan yang sama. Huruf hanja yang digunakan bisa berbeda sehingga asal-usul keluarganya pun berbeda.
Pada keluarga tradisional, silsilah biasanya disimpan dalam buku keturunan resmi untuk menjaga catatan keluarga selama beberapa generasi.
Hal lain yang cukup unik adalah penempatan marga di depan nama pribadi. Sebagai contoh, pada nama Park Ji-sung, kata Park merupakan nama keluarga, sedangkan Ji-sung adalah nama pemberian.
Mengapa Persaingan Hidup di Korea Selatan Sangat Tinggi?
Salah satu topik yang paling menarik muncul ketika Anissa Aziza menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Gangnam.
Ia mengaku terkesan melihat banyak orang bertubuh proporsional meski mengonsumsi nasi dalam porsi cukup besar.
Dayun menjelaskan Gangnam merupakan kawasan elit yang identik dengan standar kecantikan dan penampilan yang tinggi.
Menurutnya, menjaga penampilan di Korea bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi standar minimum dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja.
Raditya Dika kemudian bertanya apakah kondisi tersebut ikut memengaruhi popularitas skincare di Korea.
Dayun menjawab secara tegas.
"Betul banget. Di Korea itu persaingannya kompetitif banget untuk dapat pekerjaan yang bagus. Sukses di sana tidak bisa modal pintar doang karena orang pintar sudah terlalu banyak. Jadi penampilan fisik juga dijadikan salah satu 'alat' untuk bisa bersaing. Kalau tidak rapi merawat diri, standarnya di bawah bare minimum dan bisa langsung ditolak saat mencari kerja atau pasangan."
Menurut Dayun, persaingan tidak berhenti di dunia kerja. Orang tua juga berlomba memberikan pendidikan terbaik dengan tinggal di kawasan yang memiliki sekolah unggulan meskipun biaya hidupnya jauh lebih tinggi.
Ia menilai tekanan sosial tersebut membuat banyak orang hidup dalam kondisi serius dan penuh tuntutan.
Dayun bahkan menyampaikan bahwa kesempatan kedua di Korea Selatan sangat terbatas.
"Di Korea itu dapat kesempatan kedua sangat-sangat jarang. Makanya semua orang di sana hidupnya serius sekali, karena salah ambil langkah sedikit saja bisa berpengaruh ke seumur hidup ke depannya."
Karena alasan itulah, Dayun merasa kehidupan di Indonesia terasa jauh lebih santai.
Ia menilai masyarakat Indonesia cenderung mudah tersenyum, ramah, dan tidak selalu menempatkan tekanan sosial sebagai pusat kehidupan sehari-hari.
Mengapa PDRN Menjadi Tren Skincare di Korea?
Pada sesi berikutnya, dr. Alif bergabung untuk membahas tren bahan aktif PDRN yang sedang berkembang di Korea Selatan.
Menurut Dayun, produk dengan kandungan PDRN kini semakin mudah ditemukan dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Jika dahulu penggunaannya lebih identik dengan prosedur di klinik kecantikan, kini bahan tersebut tersedia dalam berbagai produk skincare harian seperti serum dan pelembap dengan harga yang lebih mudah dijangkau.
Raditya Dika kemudian meminta penjelasan mengenai apa sebenarnya PDRN.
dr. Alif menjelaskan:
"PDRN itu singkatan dari Polydeoxyribonucleotide atau awamnya sering disebut DNA salmon. Dia merupakan ekstrak dari sperma ikan salmon yang sudah dimurnikan dan diambil kode genetiknya. Kode genetik ini homolog atau mirip dengan DNA manusia, makanya sangat bagus untuk membantu regenerasi kulit, mencerahkan, serta mengurangi inflamasi."
Menurut dr. Alif, kemiripan struktur tersebut membuat PDRN bekerja membantu proses regenerasi kulit pada lapisan dermis.
Ia menambahkan bahan aktif ini juga banyak dipadukan dengan Niacinamide maupun Tranexamic Acid untuk mendukung kelembapan serta tampilan kulit yang lebih sehat.
Sebagai demonstrasi, mereka melakukan pengukuran hidrasi kulit menggunakan alat khusus.
Hasil awal menunjukkan tingkat hidrasi kulit Raditya Dika berada pada angka 39 persen, Dayun 37 persen, sedangkan Anissa Aziza mencatat angka 33 persen setelah cukup lama berada di ruangan berpendingin udara.
Setelah Raditya Dika menggunakan serum dan pelembap yang mengandung kombinasi PDRN, Niacinamide, dan Tranexamic Acid, hasil pengukuran meningkat menjadi sekitar 60 persen.
Kenaikan tersebut membuat Raditya Dika bercanda menyebut dirinya sebagai "si pria lembap".
Bagaimana Orang Korea Memandang Fenomena K-Pop?
Popularitas K-Pop di berbagai negara sering memunculkan anggapan bahwa seluruh masyarakat Korea Selatan merupakan penggemar berat boyband maupun girlband. Dayun justru memberikan gambaran yang berbeda.
Menurutnya, mayoritas masyarakat Korea memang mengikuti perkembangan grup idola ketika masih remaja hingga awal usia 20-an. Pada fase tersebut, menjadi penggemar artis merupakan hal yang lazim.
Namun, setelah memasuki usia sekitar 25 tahun, lingkungan sosial biasanya mulai memiliki ekspektasi berbeda.
Dayun menjelaskan bahwa orang dewasa di Korea umumnya diharapkan lebih memusatkan perhatian pada pekerjaan, pengembangan karier, hingga membangun kehidupan pribadi. Karena itu, seseorang yang masih terlalu fanatik terhadap grup idola pada usia tersebut dapat dipandang kurang sesuai dengan norma sosial yang berlaku.
Pandangan tersebut, menurut Dayun, tidak tertulis dalam aturan resmi. Meski begitu, tekanan sosial yang kuat membuat banyak orang menyesuaikan prioritas hidup mereka.
Hal ini kembali memperlihatkan bagaimana budaya kompetitif di Korea Selatan memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat memandang hiburan.
Bagaimana Sistem Layanan Kesehatan di Korea Selatan?
Di penghujung perbincangan, Raditya Dika dan para tamu membahas sistem pelayanan kesehatan di Korea Selatan.
Dayun menjelaskan bahwa pasien umumnya tidak langsung mendatangi rumah sakit besar ketika mengalami keluhan kesehatan ringan.
Sebaliknya, mereka lebih dahulu mengunjungi klinik atau fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Jika diperlukan penanganan lanjutan, dokter akan memberikan surat rujukan menuju rumah sakit.
Menurut Dayun, mekanisme tersebut membantu mengurangi kepadatan pasien di rumah sakit besar sehingga pelayanan dapat berjalan lebih efektif.
Ia juga mengatakan biaya pengobatan dasar relatif terjangkau karena didukung sistem asuransi kesehatan nasional yang mencakup sebagian besar layanan medis dasar.
Model pelayanan berjenjang seperti ini dikenal luas di berbagai negara karena bertujuan mengoptimalkan penggunaan fasilitas kesehatan sesuai tingkat kebutuhan pasien.
Sementara itu, dr. Alif menambahkan perspektif dari pengalamannya ketika menjalani pendidikan profesi dokter.
Ia menceritakan pernah menangani seorang pasien anak dengan kasus kudis atau scabies kronis yang dipengaruhi kondisi kebersihan lingkungan.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perawatan kulit bukan hanya berkaitan dengan penggunaan produk skincare, tetapi juga dipengaruhi kebersihan, sanitasi, dan pola hidup sehari-hari.
Kebiasaan menjaga kebersihan tubuh serta lingkungan tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan kulit.
Baca Juga: Tidur Selalu Larut Malam? Kenali Dampaknya pada Tubuh dan 6 Cara Alami Mengatasi Insomania
Tips Memilih Produk Skincare Secara Bijak
Sebelum mengikuti tren skincare yang sedang populer, ada beberapa hal yang layak diperhatikan.
1. Kenali kebutuhan kulit terlebih dahulu. Pilih produk berdasarkan kondisi kulit, bukan semata karena sedang viral.
2. Periksa kandungan bahan aktif. Pahami fungsi bahan seperti PDRN, Niacinamide, atau Tranexamic Acid agar penggunaannya sesuai kebutuhan.
3. Gunakan sesuai petunjuk. Pemakaian berlebihan belum tentu memberikan hasil yang lebih baik.
4. Jaga pola hidup sehat. Tidur cukup, konsumsi makanan bergizi, dan menjaga hidrasi tubuh tetap berperan penting terhadap kesehatan kulit.
5. Konsultasikan dengan tenaga medis bila diperlukan. Terutama jika memiliki masalah kulit yang menetap atau sensitif terhadap kandungan tertentu.
Poin Penting:
- Dayun menilai tekanan sosial dan persaingan hidup di Korea Selatan sangat tinggi.
- Nama masyarakat Korea umumnya memiliki makna khusus yang berasal dari hanja.
- Marga Kim, Lee, dan Park belum tentu menunjukkan hubungan keluarga yang sama.
- Gangnam dikenal sebagai kawasan dengan standar pendidikan dan penampilan yang tinggi.
- PDRN menjadi salah satu bahan aktif skincare yang semakin mudah diakses dalam produk harian di Korea Selatan.
- Sistem layanan kesehatan Korea Selatan menerapkan mekanisme rujukan dari klinik menuju rumah sakit.
Insight Redaksi: Dari sudut pandang Balikpapan, cerita Dayun menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara memang menghadirkan banyak peluang, tetapi juga dapat melahirkan tekanan sosial yang besar. Fakta bahwa ia merasa hidup lebih nyaman di Indonesia menjadi pengingat bahwa kualitas hidup bukan hanya diukur dari persaingan, melainkan juga ruang untuk menikmati keseharian. Kada semua budaya harus ditiru mentah-mentah. Ambil nilai baiknya, tinggalkan yang kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang melihat Korea Selatan dari sudut pandang yang lebih utuh, Ces.
Ikuti terus informasi menarik yang membahas kehidupan, budaya, kesehatan, dan tren global dengan sudut pandang yang dekat dengan keseharian. Update terus hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa Dayun memilih tinggal di Indonesia?
Dayun merasa kehidupan di Indonesia lebih santai, masyarakatnya ramah, dan tekanan sosial tidak seberat di Korea Selatan.
2. Apa arti PDRN yang dibahas dalam podcast?
PDRN adalah Polydeoxyribonucleotide, bahan yang dijelaskan dr. Alif sebagai senyawa yang membantu regenerasi kulit dan menjaga kelembapan.
3. Mengapa Gangnam identik dengan standar penampilan tinggi?
Menurut Dayun, kawasan tersebut merupakan daerah elit dengan persaingan pendidikan, pekerjaan, dan penampilan yang sangat ketat.
4. Apakah semua orang bermarga Kim atau Park masih satu keluarga?
Tidak. Meski marganya sama, asal keturunan dan karakter hanja yang digunakan dapat berbeda.
5. Bagaimana sistem berobat di Korea Selatan?
Pasien umumnya memulai pemeriksaan di klinik, kemudian memperoleh rujukan jika membutuhkan penanganan di rumah sakit.
Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di media YouTube Raditya Dika, dengan judul "Obrolan Bersama Dayun, Anissa Aziza, dan dr. Alif tentang Korea dan Skincare", oleh Raditya Dika. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.