Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Atap Rumah Asbes Murah Tapi Berisiko, Ini Fakta Kesehatan yang Perlu Diketahui

AdminBTV • Rabu, 7 Januari 2026 | 13:52 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Atap asbes masih banyak terlihat di rumah-rumah Indonesia, termasuk di Balikpapan dan sekitarnya. Alasannya sederhana, harganya terjangkau dan daya tahannya dikenal cukup lama. Namun di balik itu semua, ada fakta penting yang perlu ikam tahu. Asbes menyimpan risiko kesehatan serius jika seratnya terhirup manusia, dan hal ini sudah ditegaskan oleh otoritas kesehatan.

Penasaran kenapa isu ini kembali ramai dibahas dan kenapa penting buat diperhatikan sekarang? Yuk, simak terus sampai akhir biar ikam dan bubuhan ikam makin paham soal bahaya atap asbes serta langkah aman yang bisa dilakukan, Cess!.

Apa sebenarnya asbes dan kenapa masih banyak dipakai?

Asbes adalah material bangunan yang sejak lama digunakan sebagai atap karena kuat, tahan panas, dan harganya relatif murah. Faktor biaya inilah yang membuat asbes masih jadi pilihan banyak masyarakat. Dari luar terlihat aman, padahal masalahnya justru muncul saat serat halus dari asbes mulai lepas tanpa disadari.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebut asbes sebagai bahan beracun berbahaya atau B3. Status ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999, asbes masuk kategori material yang berisiko tinggi bagi kesehatan jika terpapar dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 menetapkan batas aman penggunaan asbes maksimal hanya 5 serat per mililiter udara. Lebih dari itu, potensi bahayanya meningkat. Nah, ikam pasti pahamlah, angka ini bukan sesuatu yang bisa dipantau dengan mata telanjang, Cess!.

Bagaimana serat asbes bisa membahayakan tubuh manusia?

Masalah utama asbes ada pada seratnya yang sangat kecil dan mudah terlepas dari permukaan. Serat ini bisa beterbangan di udara, terutama saat atap sudah menua, rapuh, atau mengalami pelapukan. Saat terhirup, serat tersebut masuk ke saluran pernapasan dan mengendap di paru-paru.

Dalam unggahan resmi Dinkes DKI Jakarta dijelaskan bahwa diameter serat asbes kurang dari 3 mikrometer, bahkan lebih tipis dari 1/700 helai rambut manusia. Ukuran sekecil ini membuatnya sulit disaring oleh tubuh, sehingga mudah masuk dan menetap di paru-paru.

Bentuk serat asbes yang tajam membuatnya semakin berbahaya. Sekali masuk ke dalam tubuh, serat ini sulit dikeluarkan secara alami. Paparan berulang dalam waktu lama menjadi pemicu berbagai gangguan kesehatan serius, pahamlah ikam, risikonya bukan main-main, Cess!.

Penyakit apa saja yang bisa muncul akibat paparan asbes?

Paparan asbes dapat memicu sejumlah penyakit berat. Di antaranya kanker, asbestosis atau kerusakan paru-paru permanen, kesulitan bernapas, hingga efusi plura yang menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru. Semua penyakit ini berdampak langsung pada kualitas hidup penderitanya.

Yang membuatnya makin mengkhawatirkan, gejala penyakit akibat asbes sering kali tidak muncul secara cepat. Dalam banyak kasus, tanda-tanda baru terasa setelah 10 hingga 40 tahun sejak paparan awal. Artinya, bahayanya bersifat laten dan sering tidak disadari.

Data Global Burden of Disease 2019 mencatat sekitar 1.600 warga Indonesia meninggal setiap tahun akibat penyakit yang dipicu penggunaan asbes. Ironisnya, meski risikonya sudah terbukti, Indonesia sempat menjadi pengguna asbes terbesar di dunia pada 2020, dengan impor lebih dari 100.000 ton selama 2010–2019. Nah’ itu sudah, bahayanya nyata tapi masih sering diabaikan, Cess!. 

Baca Juga: Penajam Paser Utara Resmi Zona Hijau Malaria, Kasus Turun Tajam Sepanjang 2025

Apa langkah aman jika masih menggunakan atau ingin mengganti atap asbes?

Langkah paling dianjurkan tentu menghindari penggunaan material berbahan asbes. Jika ingin mengganti atap, pastikan asbes dibuang ke tempat yang tepat agar dapat dimusnahkan sesuai prosedur. Penanganan yang salah justru meningkatkan risiko paparan serat berbahaya.

Jika penggantian belum memungkinkan, ikam tetap perlu rutin mengecek kondisi atap. Perhatikan apakah ada retakan, pelapukan, atau bagian yang mulai rapuh. Asbes yang sudah rusak sebaiknya segera diganti demi mengurangi risiko kesehatan.

Beberapa langkah aman yang perlu diperhatikan:
1. Hindari memotong atau mengamplas asbes tanpa pelindung.
2. Gunakan penutup mulut dan hidung jika harus berada dekat asbes.
3. Segera ganti atap jika terlihat tanda pelapukan.

Langkah sederhana ini bisa membantu menekan risiko paparan, ya’kalo ikam peduli kesehatan keluarga, pahamlah ikam, Cess!.

Ikhtisar
Atap asbes masih digunakan karena murah dan tahan lama, namun menyimpan risiko kesehatan serius. Asbes tergolong bahan beracun berbahaya, dengan serat halus yang bisa terhirup dan mengendap di paru-paru. Paparan jangka panjang berpotensi memicu penyakit berat hingga kematian. Menghindari penggunaan, mengecek kondisi atap, dan menangani pembuangan dengan benar menjadi langkah penting demi kesehatan bersama.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang sadar dan paham soal bahaya atap asbes di sekitar kita, Cess!.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!' (kaila mutiara ramadhani)

FAQ

Apa itu asbes dan kenapa dianggap berbahaya?
Asbes adalah material bangunan yang seratnya dapat terhirup dan mengendap di paru-paru sehingga membahayakan kesehatan.

Apakah semua atap asbes pasti berbahaya?
Risiko meningkat saat asbes mulai rapuh atau seratnya terlepas ke udara.

Apa yang harus dilakukan jika rumah masih memakai atap asbes?
Periksa kondisi secara rutin dan segera ganti jika sudah menunjukkan tanda kerusakan.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia. 

Atap rumah berbahan asbes yang mulai menua, menggambarkan risiko serat berbahaya bagi kesehatan penghuni.
Atap rumah berbahan asbes yang mulai menua, menggambarkan risiko serat berbahaya bagi kesehatan penghuni.

Editor : Arya Kusuma
#Asbes #Dinkes DKI Jakarta #Kesehatan Lingkungan