Balikpapan TV - Hai Cess! Pemerintah Kota Balikpapan lagi tancap gas menurunkan prevalensi stunting yang kembali naik dalam dua tahun terakhir. Data resmi mencatat angka mencapai 21,6 persen—level tertinggi dalam lima tahun.
Situasi ini mendorong seluruh sektor bergerak bareng, karena pemerintah sudah menetapkannya sebagai agenda strategis dalam RPJMD 2025–2029. Kapan mulai, siapa terlibat, dan bagaimana upaya lintas sektor dijalankan, semua mengerucut pada satu tujuan: memastikan masa depan generasi Balikpapan tetap tumbuh kuat.
Biar pandanganmu makin lengkap, terusin bacanya, Cess. Ceritanya cukup padat, tapi mengalir, dan kamu bakal tahu arah gerak kota ke depannya soal isu penting ini.
Apa yang bikin angka stunting Balikpapan melonjak dalam lima tahun terakhir?
Prevalensi stunting di Balikpapan mencapai 21,6 persen, angka tertinggi dalam lima tahun meski masih berada di bawah tingkat provinsi. Kenaikan juga terpantau sepanjang 2024, dengan posisi Oktober di 14,68 persen setelah sebelumnya 13,8 persen pada September.
Menurut Plt Kepala DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose, “Namun ini merupakan angka tertinggi selama lima tahun terakhir,” ujarnya dalam penjelasan resmi. Kondisi tersebut bikin pemerintah kota mempercepat penanganan agar tidak semakin melebar.
Apa langkah awal lintas sektor yang mulai diterapkan pemerintah kota?
Semua langkah sudah ditautkan ke RPJMD 2025–2029, jadi bukan sekadar kerja tahunan. Fokusnya membenahi pencegahan, perbaikan gizi, hingga penguatan layanan kesehatan dasar. Pendekatan lintas sektor ini mengurai akar masalah dari hulu ke hilir.
Upaya itu sejalan dengan amanat Perpres Nomor 73/2021 yang menekankan percepatan penurunan stunting. Artinya, setiap OPD digerakkan agar satu arah, satu ritme, tanpa kerja parsial yang berdiri sendiri.
Bagaimana peran 17 lokus penanganan stunting dalam program ini?
Balikpapan punya 17 lokus penanganan stunting yang jadi titik intervensi spesifik dan sensitif. Di titik inilah berbagai kegiatan menyasar kelompok yang paling rentan. Itu termasuk edukasi remaja putri tentang konsumsi tablet tambah darah.
Ada juga bimbingan bagi calon pengantin agar kesiapan kesehatan sebelum menikah semakin maksimal. Selain itu, puskesmas menyalurkan bantuan tunai bersyarat dan pangan nontunai bagi keluarga sasaran.
Nursyamsiarni menjelaskan, “Sebagai upaya penanganan stunting, Balikpapan memiliki 17 lokasi penanganan stunting. Ada berbagai kegiatan yang dilakukan terhadap lokus tersebut.” Ini jadi pondasi gerakan yang ditata bertahap menuju hasil jangka panjang.
Apa hasil rembuk stunting yang digelar bersama OPD dan stakeholder?
Beberapa waktu lalu, DP3AKB Balikpapan menggelar rembuk stunting untuk menyamakan langkah. Dari forum itu, target baru disepakati sebagai arah kebijakan yang harus dicapai di tahun mendatang. Target prevalensi stunting dipatok 17,6 persen pada 2025 dan 15,6 persen pada 2026.
Selain itu, ada target besar lain: 95 persen kunjungan bayi dan balita ke posyandu supaya pemantauan tumbuh kembang makin presisi. Strategi itu muncul dari kebutuhan memastikan deteksi cepat dan intervensi tepat sasaran.
Bagaimana rencana pengembangan program pada 2025 dan siapa yang mengoordinasikan?
Tahun depan, lokus penanganan stunting melebar menjadi 34 kelurahan. Program pendukung percepatan penurunan stunting sudah disiapkan untuk masuk langsung di RKPD dan Renja Perangkat Daerah 2025 agar tidak ada jeda dalam pelaksanaan.
Nursyamsiarni menegaskan, seluruh hasil rembuk akan disampaikan kepada Wali Kota Balikpapan sebagai dasar sinkronisasi kebijakan lintas sektor. Semua diarahkan supaya tidak ada program yang tumpang tindih atau jalan sendiri-sendiri.
Balikpapan lagi berada di titik penting. Angka memang naik, tapi arah kerja makin jelas dan langkah-langkahnya disusun hingga level kelurahan. Edukasi remaja putri, bimbingan bagi calon pengantin, penguatan posyandu, sampai bantuan berbasis puskesmas—semuanya dirajut sebagai satu jaring besar pencegahan.
Biar makin bermakna, catatan kecil yang bisa dipakai sehari-hari: selalu pantau status gizi anak lewat posyandu, pastikan remaja putri disiplin konsumsi tablet tambah darah, dan untuk calon pengantin, siapkan kesehatan jauh hari sebelum menikah. Hal-hal kecil ini bisa jadi benteng pertama dari keluarga sendiri.
Jika informasinya terasa bermanfaat, bagikan ke teman atau keluarga. Informasi seperti ini makin kuat dampaknya kalau menyebar luas.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!' Satya
FAQ
Apa alasan pemerintah menetapkan target prevalensi baru?
Karena kenaikan prevalensi dalam dua tahun terakhir menunjukkan perlunya penyesuaian strategi dan target yang lebih realistis serta terukur.
Mengapa posyandu jadi komponen penting dalam penurunan stunting?
Posyandu adalah titik pertama pemantauan tumbuh kembang, sehingga deteksi gangguan pertumbuhan bisa ditemukan lebih cepat.
Apa fungsi edukasi tablet tambah darah bagi remaja putri?
Edukasi itu menurunkan risiko anemia, yang berkaitan erat dengan kualitas kehamilan dan risiko stunting di masa depan.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.