Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Gerakan Pilah Sampah! Langkah Kecil Sekolah Rakyat Samarinda Menuju Sekolah Hijau

AdminBTV • Selasa, 28 Oktober 2025 | 10:08 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Sekolah Rakyat Samarinda jadi inspirasi baru dalam aksi nyata peduli lingkungan lewat kompetisi “Pilah Sampah.”

Di tengah hiruk-pikuk rutinitas sekolah, ada aroma perubahan yang pelan-pelan tumbuh di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 24 Samarinda. Bukan sekadar program, tapi gerakan kecil yang bisa menular: membiasakan anak-anak dan guru memilah sampah sejak dini.
Langkah ini digagas Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Kalimantan Timur bersama Satker Prasarana Strategis Kaltim, dan kini jadi bagian dari peringatan Hari Habitat 2025.

“Kegiatan ini diharapkan dapat membiasakan siswa dan guru untuk memilah sampah, baik di sekolah maupun di rumah," ujar Kepala BPBPK Kaltim, Evry Biaktama Meliala, di Samarinda, Sabtu (25/10/2025).

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di baliknya ada semangat membangun generasi muda yang nggak cuma pintar, tapi juga peduli lingkungan. Yuk, lanjut baca, Cess — ini kisah inspiratif yang layak banget ditiru!

Apa sih yang bikin Sekolah Rakyat ini jadi spesial?

SR Terintegrasi 24 Samarinda bukan sekadar sekolah biasa. Di sini, pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya, lewat kompetisi edukatif “Sosialisasi Kompetisi Pilah Sampah.”
Setiap siswa dan guru diajak bareng-bareng belajar memilah, memahami, dan mempraktikkan pengelolaan sampah yang benar.

Program ini bukan cuma soal lomba, tapi latihan konsistensi. BPBPK Kaltim ingin gerakan ini jadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar seremoni. Karena perubahan sejati dimulai dari langkah kecil yang diulang terus-menerus — kayak buang sampah ke tempatnya setiap hari, misalnya.

Baca Juga: Anggaran Jabar Diumumkan Setiap Hari di Sosmed! Apakah Daerah Lain Akan Ikuti Langkah Dedi Mulyadi?

Kenapa peran guru dianggap penting banget, ya?

Evry Biaktama Meliala menegaskan, guru punya peran sentral dalam gerakan ini. Bukan hanya mengajar, tapi juga memberi contoh langsung lewat tindakan. Murid itu belajar bukan cuma dari kata-kata, tapi dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Kalau gurunya rajin memilah sampah, otomatis murid bakal meniru.


BPBPK Kaltim juga menyoroti pentingnya dukungan orang tua dan komite sekolah biar gerakan ini terus hidup, nggak mati di tengah jalan. Karena perubahan itu butuh gotong royong, bukan kerja satu pihak aja.

Dukungan dari Dinas Sosial Kaltim, bentuk kolaborasi yang nyata!

Program ini makin kuat karena dapat dukungan dari Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur. Kepala Bidang Linjamsos, Achmad Rasyidi, bilang kalau kegiatan ini sejalan banget dengan pendidikan karakter di SR.

“Pendidikan komprehensif itu mencakup bagaimana mereka membangun interaksi sosial yang sehat dengan sesama warga sekolah,” jelas Rasyidi.

Menurutnya, anak-anak perlu dibentuk secara utuh. Bukan hanya pinter teori, tapi juga punya empati sosial dan rasa tanggung jawab terhadap bumi.
Dengan begitu, Sekolah Rakyat nggak cuma jadi tempat belajar, tapi juga ladang tumbuhnya karakter dan kesadaran lingkungan sejak kecil.

Baca Juga: 5 Cara Bikin Kamar Tidur Lebih Hangat dan Hidup Tanpa Harus Boros, Ini Trik Biar Kamar Terasa Nyaman

Apa dampak nyatanya buat masa depan, sih?

Gerakan ini kelihatannya sederhana, memilah sampah. Tapi efek jangka panjangnya luar biasa. BPBPK Kaltim ingin Sekolah Rakyat Samarinda jadi percontohan terbaik di Kaltim soal pengelolaan sampah yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Kalau budaya ini benar-benar tumbuh, bukan nggak mungkin, target nasional pengurangan volume sampah bisa tercapai lebih cepat.
Dan yang paling penting, anak-anak ini tumbuh jadi generasi yang tahu cara menghormati alam — bukan cuma lewat teori, tapi lewat tindakan nyata setiap hari.

Tips kecil buat kamu yang pengen mulai memilah sampah di rumah:

  1. Pisahkan sampah organik dan anorganik. Gunakan dua wadah berbeda.

  2. Keringkan dulu sebelum buang. Ini biar nggak bau dan mudah diolah ulang.

  3. Gunakan ulang wadah bekas. Misalnya, botol plastik jadi pot mini buat tanaman.

  4. Mulai dari hal kecil. Konsisten satu kebiasaan dulu, baru lanjut ke langkah lain.

Ingat, Cess — bumi cuma satu. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?

Akhir cerita: kecil tapi berdampak besar 

Gerakan pilah sampah di Sekolah Rakyat ini membuktikan kalau perubahan bisa lahir dari ruang kelas sederhana.
Kolaborasi BPBPK Kaltim, guru, murid, orang tua, dan pemerintah daerah jadi bukti nyata bahwa kesadaran lingkungan bisa ditanam lewat pendidikan yang membumi.

Jadi, kalau kamu baca ini sambil ngopi, yuk, mulai dari sekarang pilah sampah di rumah.
Siapa tahu, langkah kecilmu hari ini bisa jadi inspirasi buat yang lain.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia — “Bukan Sekadar Info Biasa!”

 

FAQ:

1. Apa tujuan utama program Pilah Sampah di Sekolah Rakyat Samarinda?
Untuk membentuk kebiasaan memilah sampah sejak dini dan menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan siswa dan guru.

2. Siapa saja yang terlibat dalam program ini?
BPBPK Kaltim, Satker Prasarana Strategis Kaltim, Dinas Sosial Kaltim, guru, siswa, orang tua, dan komite sekolah.

3. Apakah program ini akan diterapkan di sekolah lain di Kaltim?
BPBPK Kaltim berharap Sekolah Rakyat bisa menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di Kalimantan Timur.

 

DISKLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Siswa Sekolah Rakyat Samarinda mempraktikkan pilah sampah bersama guru — wujud nyata budaya hijau yang tumbuh sejak dini.
Siswa Sekolah Rakyat Samarinda mempraktikkan pilah sampah bersama guru — wujud nyata budaya hijau yang tumbuh sejak dini.

Editor : Arya Kusuma
#edukasi lingkungan #sekolah berprestasi Kaltim #pendidikan