Museum Wasaka Banjarmasin, Teknologi Edukasi yang Bikin Sejarah Lebih Dekat

Nasya Syafira • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 20:21 WIB
Museum Wasaka Banjarmasin menyimpan artefak perjuangan serta fasilitas audiovisual untuk mendukung pembelajaran sejarah pengunjung.
Museum Wasaka Banjarmasin menyimpan artefak perjuangan serta fasilitas audiovisual untuk mendukung pembelajaran sejarah pengunjung.

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Museum Wasaka Banjarmasin menghadirkan koleksi perjuangan sekaligus media edukasi elektronik dan ruang audiovisual untuk pembelajaran sejarah.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Belajar sejarah tidak selalu harus lewat buku. Museum Wasaka Banjarmasin mempertemukan artefak perjuangan dengan media edukasi elektronik dan ruang audiovisual agar sejarah lebih mudah dipahami pengunjung, Ces!

Ketika artefak sejarah bertemu teknologi edukasi

Museum Wasaka berada di kawasan bawah Jembatan Banua Anyar, Banjarmasin, dan dikelola oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Koleksinya membawa pengunjung melihat berbagai peninggalan perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan pada masa revolusi fisik 1945–1949.

Benda yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari pakaian pejuang, helm, celana, tas, hingga berbagai artefak persenjataan.

Ada pula benda-benda yang menggambarkan kehidupan sehari-hari pada masa tersebut, seperti radio lama, mesin tik, jam dinding, lampu, alat memasak tradisional, hingga perlengkapan hitung.

Namun pengalaman di museum tidak berhenti pada benda fisik.

Petugas Museum Wasaka dalam video Pakacil Didin menjelaskan bahwa museum juga memiliki media edukasi elektronik dan ruang audiovisual sebagai fasilitas pendukung pembelajaran.

Baca Juga: Tanjung Gading Balikpapan, Wisata Pinggir Waduk Manggar dengan Pemandangan Air Seluas 400 Hektare

Bagaimana teknologi membantu pengunjung memahami sejarah?

Media audiovisual membuat informasi sejarah tidak hanya hadir dalam bentuk benda yang dipajang.

Di Museum Wasaka, ruang audiovisual digunakan untuk menampilkan materi visual, termasuk film animasi tentang Perang Banjar dan pengenalan museum.

Pendekatan tersebut memberi pilihan pengalaman belajar bagi pengunjung yang lebih mudah memahami informasi melalui gambar dan tayangan bergerak.

Bagi pelajar dan mahasiswa, keberadaan media seperti ini juga dapat menjadi jembatan antara materi pembelajaran di kelas dengan peninggalan sejarah yang dilihat secara langsung.

Teknologi dalam konteks museum bukan sekadar tambahan fasilitas. Fungsinya adalah membantu benda bersejarah memiliki konteks yang lebih mudah dipahami.

Mahasiswa datang bukan sekadar melihat koleksi

Salah satu bagian menarik dari kunjungan yang direkam Pakacil Didin adalah kehadiran rombongan mahasiswa Universitas PGRI Kalimantan.

Dosen mata kuliah Kewarganegaraan, Ahmad Tumaidi, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut berkaitan dengan pembahasan mengenai ketahanan nasional.

Mahasiswa semester 4 diarahkan untuk melihat langsung sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan.

“Saya mengarahkan mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana sejarah perjuangan masyarakat di Kalimantan Selatan. Tujuannya agar mereka bisa lebih mengenal sejarahnya dan bisa mengambil pelajaran dari perjuangan para pejuang di masa lalu.”

Pembelajaran seperti ini menunjukkan bagaimana museum dapat menjadi ruang belajar di luar kelas.

Mahasiswa tidak hanya menerima informasi melalui materi kuliah, tetapi juga melihat langsung artefak seperti tombak dan berbagai peninggalan perjuangan.

Foto para gubernur dan dokumen perjuangan menjadi bagian dari koleksi sejarah Museum Wasaka Banjarmasin.
Foto para gubernur dan dokumen perjuangan menjadi bagian dari koleksi sejarah Museum Wasaka Banjarmasin.

Dari senjata tradisional sampai arsip perjuangan

Koleksi Museum Wasaka memperlihatkan perubahan perlengkapan perjuangan dari masa ke masa.

Pada masa awal perjuangan, masyarakat menggunakan senjata tradisional seperti parang, mandau, panah, dan tombak.

Koleksi museum juga mencatat keberadaan perlengkapan perjuangan yang berkaitan dengan keyakinan dan perlindungan diri, sebelum kemudian muncul persenjataan yang lebih modern seperti pistol, granat, dan senapan.

Cerita sejarah semakin luas ketika pengunjung memasuki bagian yang menampilkan arsip dan dokumentasi.

Ada dokumentasi foto gubernur Kalimantan Selatan dari masa ke masa, surat-menyurat perjuangan, peta pembagian wilayah, hingga teks Proklamasi Kemerdekaan Rakyat Kalimantan pada 17 Mei 1949 oleh ALRI Divisi IV.

Rangkaian koleksi tersebut membuat museum tidak hanya berbicara tentang benda, tetapi juga manusia, peristiwa, dan perubahan yang terjadi pada masa perjuangan.

Koleksi senjata tradisional menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan di Museum Wasaka.
Koleksi senjata tradisional menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan di Museum Wasaka.

Baca Juga: Fruitcity Park Balikpapan: Tiket, Rainbow Slide, Mandi Bola hingga Bom-Bom Car

Gratis dan bisa menjadi pilihan belajar keluarga

Menurut keterangan petugas yang diwawancarai dalam video, Museum Wasaka dapat dikunjungi secara gratis.

Museum buka Selasa sampai Minggu, sementara Senin menjadi hari tutup. Dalam keterangan petugas, jam buka dimulai pukul 09.00 WITA, dengan waktu layanan akhir pekan sampai pukul 14.30 WITA.

Pengunjung yang datang pada hari sekolah banyak berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sementara pengunjung umum disebut lebih ramai pada Sabtu dan Minggu.

Informasi ini membuat museum memiliki dua fungsi yang berjalan beriringan: ruang pembelajaran bagi institusi pendidikan sekaligus ruang kunjungan keluarga.

Bagi keluarga, koleksi sejarah dapat menjadi bahan percakapan sederhana tentang perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan dan perjalanan Indonesia.

Apa keterbatasan teknologi museum dalam pengalaman belajar?

Teknologi audiovisual memang dapat membantu penyampaian informasi, tetapi kekuatan utama Museum Wasaka tetap berada pada koleksi sejarah yang tersedia.

Media digital sebaiknya menjadi pendamping, bukan menggantikan pengalaman melihat artefak secara langsung.

Ketika mahasiswa dapat melihat benda perjuangan, membaca arsip, lalu mendapatkan penjelasan melalui media audiovisual, pengalaman belajar menjadi lebih berlapis.

Di sinilah teknologi memiliki nilai praktis: membuat informasi yang kompleks lebih mudah dicerna tanpa menghilangkan keberadaan benda sejarah sebagai sumber pengalaman utama.

Mengapa Museum Wasaka menarik untuk pembelajaran masa kini?

Museum Wasaka memperlihatkan bahwa teknologi tidak selalu berarti perangkat canggih yang berdiri sendiri.

Dalam lingkungan museum, teknologi dapat hadir sebagai alat bantu untuk menjelaskan koleksi, memperkaya pengalaman pengunjung, dan membuat materi sejarah lebih mudah diikuti.

Kombinasi artefak, arsip, media elektronik, serta ruang audiovisual memberi pengunjung beberapa cara untuk memahami satu cerita sejarah.

Bagi mahasiswa dan pelajar, pendekatan tersebut dapat membuat kunjungan museum lebih dekat dengan kebutuhan pembelajaran.

Bagi keluarga, pengalaman tersebut dapat membuka percakapan sejarah secara lebih sederhana dan konkret.

Poin Penting

Insight Redaksi

Museum akan terasa lebih dekat ketika benda sejarah tidak dibiarkan berbicara sendirian. Koleksi fisik memberi pengalaman melihat langsung, sementara media audiovisual membantu menjelaskan konteksnya. Museum Wasaka memperlihatkan kombinasi sederhana antara artefak dan teknologi edukasi yang dapat membuat pembelajaran sejarah lebih mudah diikuti, terutama ketika kunjungan dilakukan bersama pelajar, mahasiswa, atau keluarga.

Kalau Ces sedang mencari tempat belajar yang tidak terasa seperti duduk di ruang kelas, museum bisa menjadi pilihan menarik. Museum Wasaka menunjukkan bahwa memahami sejarah bisa dimulai dari melihat benda, mendengar cerita, lalu menghubungkannya dengan kehidupan hari ini.

Jangan lupa bagikan artikel ini kepada teman, keluarga, atau pengajar yang sedang mencari referensi kunjungan edukatif di Banjarmasin.

Karena satu kunjungan ke museum bisa membuka cerita panjang tentang perjuangan yang sebelumnya hanya dikenal lewat buku. Balikpapantv.id terus menemani Ces menemukan informasi yang dekat, berguna, dan punya cerita.

Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu Museum Wasaka?

Museum Wasaka merupakan museum di Banjarmasin yang menyimpan berbagai koleksi peninggalan perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan.

2. Apa saja koleksi Museum Wasaka?

Koleksinya antara lain pakaian pejuang, perlengkapan perjuangan, senjata tradisional, persenjataan, radio lama, mesin tik, arsip, foto, dan berbagai benda bersejarah.

3. Apakah Museum Wasaka memiliki fasilitas teknologi edukasi?

Ya. Berdasarkan keterangan petugas dalam video, museum memiliki media edukasi elektronik dan ruang audiovisual.

4. Apakah masuk Museum Wasaka berbayar?

Petugas museum yang diwawancarai dalam video menyebut kunjungan ke museum gratis.

5. Kapan Museum Wasaka buka?

Menurut keterangan petugas dalam video, museum buka Selasa sampai Minggu dan tutup pada Senin. Jam layanan dimulai pukul 09.00 WITA, sedangkan Sabtu-Minggu sampai 14.30 WITA.

Sumber Informasi: Kanal YouTube Pakacil Didin, video “Berkunjung ke Museum Wasaka Banjarmasin”. Keterangan petugas Museum Wasaka dalam wawancara pada video.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Museum Wasaka Teknologi Edukasi Sejarah Kalimantan Selatan banjarmasin