Pasar Tumpah Pringgondani Balikpapan, Belanja Pakai Uang Kayu di Tengah Rindangnya Pohon

Nasya Syafira • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 08:06 WIB
Pengunjung menikmati suasana Pasar Tumpah Pringgondani di bawah rindangnya pepohonan Gunung Binjai Balikpapan.
Pengunjung menikmati suasana Pasar Tumpah Pringgondani di bawah rindangnya pepohonan Gunung Binjai Balikpapan.

Durasi Baca: 8 Menit

Ikhtisar: Pasar Tumpah Pringgondani menawarkan kuliner, buah lokal, budaya tradisional, dan pengalaman transaksi memakai uang kayu.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Pasar Tumpah Pringgondani di Jalan Gunung Binjai, Teritip, Balikpapan Timur, memadukan pasar tradisional, kuliner, hasil kebun, dan suasana rindang dalam satu kawasan wisata.

Kalau biasanya ke pasar identik dengan panas dan hiruk-pikuk, tempat yang satu ini justru mengajak pengunjung jajan santai di bawah pepohonan, Ces!

Kenapa Pasar Pringgondani terasa berbeda dari pasar biasa?

Daya tarik Pringgondani bukan hanya barang yang dijual, tetapi pengalaman yang dibangun sejak pengunjung memasuki kawasan.

Pasar ini berada di Jalan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur. Pemerintah Kelurahan Teritip mencatat Pringgondani sebagai destinasi yang memadukan konsep alam dan tradisional.

Pepohonan tinggi membuat kawasan pasar terasa teduh. Dalam video Ade Arya Yuar, suasana tersebut menjadi salah satu hal yang paling menonjol karena pengunjung dapat berkeliling tanpa suasana pasar yang terasa seperti ruang terbuka penuh terik.

Konsep tradisional juga terlihat dari pakaian para pedagang. Nuansa tersebut membuat aktivitas jual beli terasa lebih seperti bagian dari pengalaman wisata budaya daripada sekadar berbelanja kebutuhan harian.

Pemerintah Kota Balikpapan juga pernah membawa peserta Youth City Changers untuk mengenal Pasar Tumpah Pringgondani sebagai salah satu wisata tradisional di Kota Balikpapan. Dalam kunjungan tersebut, kawasan pasar disebut memiliki ratusan pelaku UMKM.

Baca Juga: Fruitcity Park Balikpapan: Tiket, Rainbow Slide, Mandi Bola hingga Bom-Bom Car

Dari jajanan pasar sampai buah yang jarang ditemui

Begitu masuk ke area pasar, pilihan makanan dan hasil kebun menjadi bagian yang paling mudah menarik perhatian.

Dalam video Ade Arya Yuar, pengunjung menemukan sawo, jambu air, ubi-ubian, lupis, cenil, nasi bakar, sate, jamu, hingga soto Banjar. Ada pula kedai kopi dan berbagai jajanan yang bisa disantap langsung.

Pengalaman berburu makanan di sini juga tidak berhenti pada menu yang sudah familiar.

Salah satunya buah matoa. Dalam video tersebut, satu bungkus matoa disebut dibanderol Rp10.000. Teksturnya digambarkan menyerupai kelengkeng atau rambutan, dengan rasa dominan manis dan aftertaste yang menurut pembawa acara mengingatkan pada durian.

Ada pula jambu kristal yang disebut memiliki rasa manis, sedikit asam dan sepat, dengan tekstur renyah. Harganya dalam video tersebut Rp10.000 per bungkus.

Untuk makanan, kisaran harga yang disebut dalam video berada mulai Rp5.000, sementara menu termahal yang dicontohkan adalah gudeg seharga Rp20.000.

Angka tersebut merupakan harga yang disebut dalam video kunjungan dan dapat berubah mengikuti pedagang serta kondisi pasar.

Pedagang mengenakan pakaian tradisional sambil menawarkan jajanan dan hasil kebun kepada pengunjung Pringgondani.
Pedagang mengenakan pakaian tradisional sambil menawarkan jajanan dan hasil kebun kepada pengunjung Pringgondani.

Kenapa transaksi di sini menggunakan uang kayu?

Ini bagian yang membuat pengalaman belanja di Pringgondani terasa berbeda.

Pengunjung tidak langsung menggunakan uang rupiah untuk membayar makanan atau buah di dalam kawasan. Setelah membeli tiket masuk, uang ditukarkan terlebih dahulu di loket dengan koin atau uang kayu yang digunakan sebagai alat transaksi.

Dalam video Ade Arya Yuar, pecahan yang digunakan antara lain Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000. Uang kayu tersebut kemudian dipakai untuk berbelanja kepada pedagang.

Sistem ini bukan sekadar gimmick visual. Dinas Pariwisata Kalimantan Timur juga mencatat penggunaan mata uang kayu sebagai salah satu keunikan Desa Wisata Pringgondani.

Konsep tersebut membuat aktivitas membeli makanan menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pengunjung bukan hanya datang, memilih menu, lalu membayar seperti biasa, tetapi ikut mengikuti mekanisme transaksi yang menjadi identitas kawasan.

Pemerintah Kelurahan Teritip juga menyebut uang kayu sebagai salah satu ciri yang membuat Pasar Tumpah Pringgondani menarik bagi wisatawan.

Apa saja yang bisa dilakukan selain jajan?

Datang ke Pringgondani tidak harus berarti berburu makanan dari satu lapak ke lapak lainnya.

Dalam video yang menjadi bahan artikel ini, tersedia area duduk dengan karpet dan bagian tangga yang dapat digunakan pengunjung untuk beristirahat sambil menikmati makanan atau minuman.

Anak-anak juga memiliki pilihan aktivitas. Terdapat permainan dan penjual mainan tradisional sehingga kunjungan keluarga tidak hanya berpusat pada kuliner.

Hiburan berkostum Hanoman juga muncul dalam video tersebut. Pengunjung dapat berfoto bersama karakter tersebut, sehingga kawasan pasar memiliki aktivitas tambahan di luar transaksi jual beli.

Kawasan Pringgondani sendiri memiliki fungsi wisata yang lebih luas. Data Desa Wisata Pringgondani di Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut kawasan tersebut sebagai destinasi yang menggabungkan wisata alam, budaya, dan edukasi.

Dinas Pariwisata Kalimantan Timur juga menyebut aktivitas lain di kawasan desa wisata tersebut, seperti tracking, memanah, berkuda, edukasi, serta program adopsi pohon.

Artinya, Pasar Tumpah merupakan salah satu bagian dari pengalaman wisata Pringgondani, bukan satu-satunya aktivitas yang tersedia.

Uang kayu menjadi alat transaksi unik pengunjung Pasar Tumpah Pringgondani Balikpapan pada akhir pekan.
Uang kayu menjadi alat transaksi unik pengunjung Pasar Tumpah Pringgondani Balikpapan pada akhir pekan.

Dari mana asal konsep Pringgondani?

Pringgondani berkembang dari kawasan taman dan kebun penelitian agronomi di Gunung Binjai.

Catatan yang dimuat Rizal Effendi menyebut kawasan tersebut dibangun Dr Surata secara bertahap sejak 2006 di lahan sekitar dua hektare. Berbagai jenis pohon ditanam di kawasan tersebut, termasuk ulin, meranti, bengkirai, gaharu, durian, cempedak, dan lai.

Pasar Tumpah kemudian menjadi bagian dari perkembangan kawasan tersebut. Pemerintah Kota Balikpapan mencatat keberadaan pasar sebagai ruang ekonomi kreatif sekaligus destinasi wisata tradisional.

Konsepnya juga membawa nuansa Jawa. Dalam catatan mengenai Pringgondani, pedagang dan petugas disebut mengenakan pakaian tradisional Jawa seperti lurik, blangkon, dan caping.

Menariknya, identitas tersebut hidup berdampingan dengan lingkungan khas Balikpapan Timur. Hasilnya bukan pasar tradisional yang berdiri sendiri, melainkan ruang wisata yang menggabungkan pepohonan, hasil kebun, kuliner, UMKM, dan budaya.

Baca Juga: Nusa Lumina Balikpapan, Wisata Digital yang Mengajak Pengunjung Masuk ke Dunia Imajinasi

Kapan waktu yang tepat datang ke Pasar Tumpah Pringgondani?

Menurut informasi dalam video Ade Arya Yuar, Pasar Tumpah Pringgondani beroperasi pada akhir pekan dan tanggal merah, mulai sekitar pukul 07.00 hingga 12.00 WITA.

Informasi tersebut sejalan dengan halaman resmi Kelurahan Teritip yang mencantumkan jadwal Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional pada pukul 07.00–12.00 WITA, dengan catatan jadwal dapat menyesuaikan kondisi penyelenggaraan.

Karena aktivitas pasar berlangsung pada pagi hari, datang lebih awal menjadi pilihan yang masuk akal. Dalam video disebutkan area parkir dapat cepat penuh ketika pengunjung mulai ramai.

Tiket masuk yang disebut dalam video adalah Rp6.000 per orang untuk anak-anak maupun dewasa.

Untuk transaksi makanan dan produk di dalam pasar, pengunjung perlu menyiapkan uang rupiah untuk ditukarkan menjadi uang kayu terlebih dahulu.

Bagi Ces yang ingin datang, sebaiknya jangan hanya menghitung biaya tiket. Sisihkan juga anggaran untuk kuliner, buah, jajanan, serta aktivitas lain yang ingin dicoba.

Apa yang membuat Pringgondani menarik untuk wisata keluarga?

Pringgondani memiliki kombinasi yang cukup lengkap untuk kunjungan singkat keluarga: suasana terbuka yang teduh, makanan, hasil kebun, area istirahat, permainan anak, hingga aktivitas foto.

Kawasan seperti ini juga memberi pengalaman yang berbeda bagi anak-anak. Mereka dapat melihat aktivitas jual beli secara langsung, mengenal makanan tradisional, melihat buah dan sayuran, sekaligus menemukan cara transaksi yang tidak biasa.

Bagi orang dewasa, daya tariknya berada pada kombinasi kuliner dan suasana. Pengunjung bisa datang pagi, berkeliling, membeli makanan, kemudian duduk santai tanpa harus menjadikan kunjungan sebagai agenda wisata seharian.

Dari sisi ekonomi lokal, pasar juga memberi ruang bagi pelaku usaha. Pemerintah Kota Balikpapan menyebut Pringgondani sebagai kawasan yang menampung pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.

Karena itu, pengalaman wisata di sini tidak hanya berhenti pada pengunjung yang pulang membawa makanan. Aktivitas belanja juga menjadi bagian dari perputaran ekonomi masyarakat sekitar.

Baca Juga: Deboekit Riverside Resort Balikpapan, Liburan Tepi Sungai dengan Konsep One-Stop Holiday

Poin Penting

Insight Redaksi

Yang membuat Pasar Tumpah Pringgondani menarik bukan sekadar murahnya makanan atau keunikannya menggunakan uang kayu. Nilai wisatanya justru muncul dari cara kawasan ini mengubah aktivitas sederhana—jajan, membeli buah, duduk, dan berkeliling—menjadi pengalaman yang memiliki identitas.

Bagi Balikpapan, konsep semacam ini memperlihatkan bahwa wisata kota tidak selalu harus berupa tempat dengan wahana besar. Ruang hijau, produk UMKM, budaya lokal, dan aktivitas masyarakat juga dapat menjadi pengalaman wisata ketika dikemas secara konsisten.

Kalau Ces sedang mencari tujuan jalan pagi yang tidak terlalu formal, Pringgondani bisa masuk daftar. Datang lebih awal, tukarkan uang kayu, lalu jelajahi lapaknya pelan-pelan. Jangan lupa sisakan waktu untuk duduk dan menikmati suasana pepohonannya.

Kalau pengalaman seperti ini menarik buat Ces, bagikan artikel ini ke keluarga atau teman yang sedang mencari tempat jalan-jalan unik di Balikpapan. Siapa tahu akhir pekan berikutnya justru ketemu jajanan yang selama ini belum pernah dicoba.

Dan kalau pasar tradisional bernuansa alam sudah masuk daftar, masih banyak sudut Balikpapan lain yang menyimpan cerita wisata lokal. Balikpapantv.id siap jadi teman update setia, bukan sekadar berita biasa.

FAQ

1. Di mana lokasi Pasar Tumpah Pringgondani?

Pasar Tumpah Pringgondani berada di Jalan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

2. Kapan Pasar Tumpah Pringgondani buka?

Informasi Kelurahan Teritip mencantumkan pasar buka Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional pukul 07.00–12.00 WITA. Jadwal dapat menyesuaikan kondisi penyelenggaraan.

3. Berapa tiket masuk Pasar Pringgondani?

Dalam video Ade Arya Yuar, tiket masuk disebut Rp6.000 per orang untuk anak-anak maupun dewasa.

4. Apa yang unik dari transaksi di Pringgondani?

Pengunjung menukarkan uang rupiah dengan uang kayu yang digunakan untuk membayar berbagai belanja di kawasan pasar.

5. Apa saja yang dijual di Pasar Tumpah Pringgondani?

Ada buah-buahan, sayuran, jajanan tradisional, makanan, minuman, kopi, serta produk UMKM.

Sumber Informasi: Video YouTube kanal Ade arya yuar, “Pasar tengah hutan‼️ Pasar tumpah pringgodani Balikpapan”, sebagai sumber utama informasi pengalaman kunjungan, transaksi uang kayu, produk, harga yang disebut dalam video, serta jam operasional.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Wisata Teritip kuliner balikpapan Wisata Balikpapan Pasar Tumpah Pringgondani