Danau Aco Kutai Barat, Danau di Atas Bukit dengan Cerita Dayak Tunjung

Nasya Syafira • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:26 WIB
Danau Aco terlihat tenang di tengah hutan tropis Kampung Linggang Melapeh, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Danau Aco terlihat tenang di tengah hutan tropis Kampung Linggang Melapeh, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Danau Aco di Kutai Barat menawarkan panorama danau alami, hutan tropis, fasilitas wisata, serta cerita budaya Dayak Tunjung.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Danau Aco di Kampung Linggang Melapeh, Kutai Barat, menjadi destinasi wisata alam dengan danau di kawasan perbukitan, hutan tropis, fasilitas rekreasi, dan nilai budaya lokal.

Kalau mencari tempat yang suasananya berbeda dari wisata perkotaan, Danau Aco bisa masuk daftar perjalanan dari Kalimantan Timur. Ceritanya bukan cuma soal air dan panorama, tetapi juga hubungan masyarakat dengan alam.

Apa yang membuat Danau Aco menarik dikunjungi?

Danau Aco berada di Kampung Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Data Dinas Pariwisata Kutai Barat menyebut lokasi ini sekitar 9 kilometer dari Bundaran Tugu Linggang Bigung dan dapat ditempuh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dari kawasan Sendawar, sejumlah sumber menggambarkan perjalanan menuju Danau Aco melalui Linggang Bigung dan Linggang Melapeh.

Materi video Ruuna menggambarkan Danau Aco sebagai danau yang berada di kawasan perbukitan dengan pepohonan tropis yang mengelilinginya.

Pemandangan tersebut menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus mencari kawasan wisata dengan banyak wahana.

Kawasan ini juga tercatat sebagai destinasi wisata aktif di Kabupaten Kutai Barat. Data Pusat Data PAREKRAF Kalimantan Timur memasukkan Danau Aco dalam kategori wisata danau.

Bagi wisatawan dari Balikpapan dan kota lain di Kalimantan Timur, perjalanan menuju Kutai Barat juga memberi kesempatan mengenal lanskap pedalaman yang berbeda.

Baca Juga: Hutan Mangrove Desa Janju Paser, Menyusuri Pesisir Hijau di Kampung Warna-Warni

Bagaimana cerita dan identitas Danau Aco bagi masyarakat lokal?

Nama Danau Aco memiliki kaitan dengan bahasa Dayak Tunjung.

Dalam narasi video Ruuna, kata “Aco” dimaknai sebagai “memberi” atau “pemberian”. Makna tersebut dikaitkan dengan pandangan masyarakat terhadap danau sebagai bagian dari alam yang memberi kehidupan.

Cerita mengenai Danau Aco juga tidak hanya berkembang sebagai destinasi wisata, tetapi berkaitan dengan kisah tradisional masyarakat setempat.

Salah satu legenda lokal mengisahkan terbentuknya Danau Aco melalui peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan ritual adat pada masa lampau. Kisah tersebut merupakan bagian dari cerita rakyat, sehingga lebih tepat ditempatkan sebagai warisan tutur masyarakat daripada fakta geologi.

Kehadiran cerita tersebut membuat perjalanan ke Danau Aco memiliki lapisan pengalaman berbeda.

Pengunjung tidak hanya melihat bentang alam, tetapi juga berhadapan dengan identitas budaya yang melekat pada Kampung Linggang Melapeh.

Linggang Melapeh sendiri dikembangkan sebagai desa wisata berbasis ekowisata masyarakat. Di dalamnya terdapat atraksi alam, budaya, kuliner, agrowisata, serta kegiatan tradisional masyarakat.

Seperti apa kondisi dan fasilitas Danau Aco sekarang?

Danau Aco telah memiliki fasilitas dasar untuk menunjang kunjungan wisatawan.

Dinas Pariwisata Kutai Barat mencatat fasilitas berupa permainan bebek, gazebo, dan toilet. Jam operasional yang tercantum adalah pukul 09.00–17.00 WITA.

Dokumen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga pernah mencatat keberadaan gazebo, sampan atau perahu kecil, perahu karet, sepeda air atau perahu bebek, tempat parkir, serta kamar mandi bilas.

Data tersebut menunjukkan kawasan Danau Aco tidak hanya mengandalkan panorama alam, tetapi sudah memiliki elemen rekreasi untuk pengunjung.

Namun, kondisi fasilitas tetap perlu diperhatikan karena laporan lokal pada Maret 2026 menyebut beberapa bangunan di kawasan Danau Aco mulai mengalami kondisi terendam. Laporan tersebut juga mencatat peningkatan kunjungan pada periode tertentu.

Artinya, pengalaman wisata di Danau Aco tidak berhenti pada persoalan pemandangan.

Pengelolaan fasilitas, kebersihan, keselamatan, serta pemeliharaan kawasan ikut menentukan apakah destinasi ini mampu bertahan dalam jangka panjang.

Gazebo di kawasan Danau Aco menjadi tempat pengunjung beristirahat sambil menikmati panorama alam sekitar.
Gazebo di kawasan Danau Aco menjadi tempat pengunjung beristirahat sambil menikmati panorama alam sekitar.

Berapa harga tiket dan bagaimana akses menuju Danau Aco?

Informasi resmi Dinas Pariwisata Kutai Barat mencantumkan tiket masuk Danau Aco sebesar Rp5.000 per orang dengan jam operasional 09.00–17.00 WITA.

Jalur menuju kawasan wisata dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Papan petunjuk juga disebut tersedia untuk membantu perjalanan menuju lokasi.

Perlu dicatat, tarif wisata dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola. Karena itu, pengunjung sebaiknya menyiapkan uang tunai secukupnya ketika berwisata.

Untuk perjalanan dari Balikpapan atau Samarinda, waktu tempuh keseluruhan tentu lebih panjang dibanding angka perjalanan lokal menuju Danau Aco.

Perencanaan waktu menjadi penting, terutama jika ingin menikmati kawasan tanpa terburu-buru kembali pada hari yang sama.

Baca Juga: Kampung Tihi-Tihi dan Selangan Bontang, Permukiman Terapung di Tengah Laut

Aktivitas apa saja yang bisa dilakukan di Danau Aco?

Aktivitas paling sederhana adalah menikmati panorama danau dari area tepi serta kawasan yang sudah disediakan untuk bersantai.

Gazebo dapat digunakan untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau menikmati suasana sekitar.

Fasilitas permainan air seperti perahu bebek juga tercatat dalam informasi Dinas Pariwisata Kutai Barat.

Kegiatan lain yang menarik adalah mengamati lingkungan sekitar.

Pepohonan, suara burung, permukaan air, dan lanskap perbukitan menjadi bagian dari pengalaman wisata alam yang ditawarkan kawasan ini.

Bagi pencinta fotografi, bentang danau dengan hutan di sekelilingnya juga menyediakan banyak sudut visual.

Materi video Ruuna bahkan menggunakan dokumentasi drone 4K untuk merekam Danau Aco dari perspektif udara, memperlihatkan hubungan antara badan air dan kawasan hijau di sekitarnya.

Pengunjung menikmati suasana Danau Aco yang dikelilingi pepohonan tropis dan perbukitan Kutai Barat. 
Pengunjung menikmati suasana Danau Aco yang dikelilingi pepohonan tropis dan perbukitan Kutai Barat. 

Kenapa kelestarian Danau Aco perlu mendapat perhatian?

Danau Aco bukan sekadar tempat untuk datang, mengambil foto, kemudian pulang.

Kawasan ini memiliki hubungan dengan ekosistem hutan, masyarakat lokal, serta aktivitas pariwisata Kampung Linggang Melapeh.

Pengembangan desa wisata di Linggang Melapeh juga mencakup kopi, lada, kuliner, kerajinan, serta atraksi budaya.

Dengan begitu, kunjungan wisatawan dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal apabila dikelola secara berkelanjutan.

Materi dokumentasi Ruuna mengangkat kekhawatiran mengenai perubahan lingkungan dan pentingnya mengarsipkan kondisi Danau Aco sebagai catatan untuk masa depan.

Pesan tersebut relevan dengan kondisi destinasi wisata alam: semakin banyak kunjungan, semakin penting pula menjaga kawasan agar fasilitas dan lingkungan tetap dapat dinikmati generasi berikutnya.

Pengunjung dapat berkontribusi melalui hal sederhana, seperti membawa kembali sampah, menggunakan fasilitas sesuai peruntukan, tidak merusak tumbuhan, dan mengikuti aturan pengelola.

Bagi kawasan yang memiliki nilai budaya, menghormati cerita serta tradisi masyarakat setempat juga menjadi bagian dari etika perjalanan.

Baca Juga: Pantai Manggar Balikpapan Punya Wajah Baru, Ada Pemecah Gelombang hingga Glamping

Poin Penting

Insight Redaksi

Danau Aco menarik bukan hanya karena bentang airnya, tetapi karena alam, budaya Dayak Tunjung, dan aktivitas masyarakat bertemu dalam satu kawasan. Ketika destinasi mulai ramai, nilai wisata tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung. Fasilitas yang terawat, lingkungan yang terjaga, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar Danau Aco tetap punya alasan untuk dikunjungi. Buat pembaca BTV, tempat seperti ini memperlihatkan sisi Kutai Barat yang layak dikenal lebih luas.

Kalau mau menikmati Danau Aco, pilih waktu yang cukup panjang, bawa perlengkapan pribadi seperlunya, dan utamakan kenyamanan selama perjalanan dari titik keberangkatan.

Bagikan artikel ini ke teman jalan yang lagi cari destinasi alam di Kalimantan Timur, lalu ikuti terus info wisata lokal yang makin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mau melihat sisi lain Kalimantan Timur yang belum banyak masuk daftar perjalanan? Pantau Balikpapan TV sebagai teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Di mana lokasi Danau Aco?

Danau Aco berada di Kampung Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

2. Berapa tiket masuk Danau Aco?

Informasi resmi Dinas Pariwisata Kutai Barat mencantumkan tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang.

3. Apakah Danau Aco dapat diakses menggunakan mobil?

Bisa. Informasi Dinas Pariwisata Kutai Barat menyebut lokasi dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

4. Apa saja fasilitas di Danau Aco?

Fasilitas yang tercatat antara lain gazebo, toilet, permainan bebek, serta fasilitas rekreasi air seperti perahu atau sepeda air.

5. Apa arti nama Aco?

Dalam narasi video Ruuna, “Aco” dalam bahasa Dayak Tunjung dimaknai sebagai “memberi” atau “pemberian”.

6. Apakah Danau Aco memiliki cerita lokal?

Ada. Danau Aco memiliki legenda masyarakat setempat yang menjadi bagian dari cerita budaya kawasan Linggang Melapeh. Legenda tersebut sebaiknya dipahami sebagai cerita rakyat, bukan kepastian sejarah atau geologi.

Sumber Informasi: Video YouTube kanal RuunaDanau Aco, Kutai Barat — Danau Jernih di Atas Bukit | Dokumentasi Drone 4K, berdasarkan materi video yang diberikan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Wisata Kutai Barat Wisata Kalimantan Timur Danau Aco Kutai Barat Danau Aco