Museum Mulawarman Ungkap Jejak Kesultanan Kutai dan Warisan Sejarah Kaltim Kini

Nasya Syafira • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:38 WIB
Museum Mulawarman di Tenggarong menjadi saksi sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara dan budaya Kaltim.
Museum Mulawarman di Tenggarong menjadi saksi sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara dan budaya Kaltim.

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Museum Mulawarman menyimpan jejak Kesultanan Kutai, koleksi bersejarah, arsitektur istana, makam raja, serta edukasi budaya wisatawan dan masyarakat Kalimantan Timur.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Museum Mulawarman di Tenggarong, Kutai Kartanegara, menyimpan jejak Kesultanan Kutai melalui bangunan bekas istana, ribuan koleksi, serta kawasan makam raja yang bernilai sejarah.

Bagi masyarakat Kalimantan Timur, museum ini bukan sekadar tempat melihat benda lama. Setiap ruang menyimpan cerita tentang perubahan kekuasaan, budaya, seni, dan kehidupan Kesultanan Kutai yang masih relevan dipelajari.

Bekas Istana Sultan yang Berubah Menjadi Museum

Banyak destinasi sejarah memiliki bangunan yang menarik. Museum Mulawarman punya nilai berbeda karena gedung utamanya pernah menjadi istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Dalam video RRI Samarinda, bangunan tersebut disebut dibangun pada 1936 dan kemudian diresmikan sebagai Museum Kutai pada 25 November 1971. Pada 1976, pengelolaannya diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hingga kemudian dikenal sebagai Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur Mulawarman.

Informasi resmi Museum Mulawarman juga mencatat bahwa bekas istana tersebut dialihfungsikan menjadi museum dan secara resmi berdiri sebagai Museum Kutai pada 25 November 1971. Nama Mulawarman kemudian digunakan untuk menghormati Raja Mulawarman Nala Dewa dari Kerajaan Kutai Martapura.

Perubahan fungsi itu membuat bangunan museum memiliki dua lapisan sejarah. Pengunjung bukan hanya melihat koleksi, tetapi juga memasuki ruang yang pernah berkaitan langsung dengan lingkungan Kesultanan Kutai.

Nilai seperti ini membuat Museum Mulawarman punya posisi penting dalam wisata sejarah Kalimantan Timur. Indonesia Travel juga menempatkannya sebagai destinasi budaya yang memperkenalkan peninggalan Kerajaan dan Kesultanan Kutai kepada masyarakat.

Baca Juga: Air Terjun Berambai Samarinda, Wisata Alam yang Berubah Jadi Destinasi Ramah Keluarga

Arsitektur Eropa Bertemu Identitas Kutai dan Dayak

Bangunan Museum Mulawarman memperlihatkan perpaduan yang menarik. Narasi RRI Samarinda menyebut konstruksi istana menggunakan beton dan dirancang dengan kecenderungan arsitektur Eropa klasik.

Raden Aji Muhammad Roni, cicit Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-19 YM Aji Muhammad Parikesit, menjelaskan dalam wawancara bahwa perubahan keraton dari bahan kayu menuju beton berlangsung pada masa Sultan Aji Muhammad Parikesit.

Menurut keterangannya, rancangan tersebut melibatkan arsitek Belanda Estourgie serta Hollandsche Beton Maatschappij. Karakter bangunan kemudian memiliki nuansa Eropa-Belanda yang kuat.

Namun, identitas lokal tetap hadir melalui berbagai unsur lingkungan museum. Situs resmi Museum Mulawarman menyebut adanya duplikat Lembusuana di halaman depan, kolam berbentuk naga, serta totem kayu ulin setinggi 13 meter yang menggambarkan perjalanan kehidupan masyarakat Dayak.

Perpaduan tersebut menarik untuk dibaca sebagai gambaran hubungan antara sejarah kerajaan, pengaruh arsitektur kolonial, dan kebudayaan lokal Kalimantan Timur.

Jadi, pengalaman berkunjung dimulai sejak halaman museum, sebelum pengunjung memasuki ruang pamer.

Ribuan Koleksi Membuka Cerita dari Masa ke Masa

Kekuatan utama Museum Mulawarman berada pada koleksinya. Dalam narasi video RRI Samarinda disebutkan terdapat lebih dari 5.000 benda bersejarah dengan beragam jenis material.

Data yang lebih baru dari ANTARA pada Maret 2026 menyebut Museum Mulawarman menyiapkan lebih dari 5.000 koleksi untuk menyambut pengunjung. Koleksi tersebut mencakup benda etnografi, arkeologi, historika, keramik, serta berbagai peninggalan budaya Kalimantan Timur.

Sementara itu, laporan ANTARA pada Januari 2025 mencatat jumlah koleksi museum mencapai 5.570 buah. Koleksinya mencakup prasasti, perhiasan seperti Kalung Uncal dan kura-kura emas, hingga alat-alat batu.

Perbedaan angka tersebut dapat dipahami karena jumlah koleksi museum dapat mengalami pembaruan berdasarkan proses pendataan dan pengelolaan koleksi. Hal yang paling penting adalah cakupannya yang luas.

Pengunjung dapat menemukan singgasana, tempat peraduan, pakaian kebesaran Sultan, tombak, keris, meriam, perhiasan, keramik Cina, hingga koleksi yang berkaitan dengan sejarah Kutai.

Koleksi semacam ini membantu pembaca memahami sejarah melalui benda konkret. Sejarah pun terasa dekat karena objek yang dilihat memiliki fungsi dan cerita dalam kehidupan masyarakat masa lalu.

Singgasana dan koleksi peninggalan Kesultanan Kutai memperlihatkan kehidupan kerajaan masa lalu.
Singgasana dan koleksi peninggalan Kesultanan Kutai memperlihatkan kehidupan kerajaan masa lalu.

Dari Kerajaan Hindu hingga Kesultanan Islam

Jejak sejarah Kutai yang diperkenalkan melalui museum juga berkaitan dengan perjalanan panjang pemerintahan di kawasan ini.

Dalam narasi video RRI Samarinda, sejarah Kerajaan Kutai disebut bermula dari kerajaan bercorak Hindu di Kutai Lama sekitar 1300 Masehi. Pada periode berikutnya, pemerintahan Kutai berkembang menjadi kerajaan bercorak Islam pada rentang 1575 hingga 1960.

Penting untuk memahami bahwa pembahasan mengenai Kutai mencakup beberapa entitas sejarah. Museum Mulawarman sendiri menggunakan nama Raja Mulawarman dari Kutai Martapura sebagai dasar penamaan museum, sementara koleksi utamanya juga banyak berkaitan dengan Kesultanan Kutai Kartanegara. Situs resmi museum menjelaskan hubungan penamaan tersebut secara langsung.

Konteks ini membantu pengunjung membaca koleksi secara lebih cermat. Satu benda dapat menjadi bagian dari sejarah kerajaan, kebudayaan, perdagangan, seni, atau kehidupan sosial yang berkembang pada periode berbeda.

Karena itu, kunjungan ke museum akan terasa lebih bermakna apabila dilakukan sambil memperhatikan keterangan setiap koleksi.

Bukan Cuma Ruang Pamer, Ada Makam Raja dan Cenderamata

Museum Mulawarman juga memiliki kawasan pendukung yang membuat pengalaman kunjungan semakin lengkap.

Di sisi kanan gedung utama terdapat kompleks makam raja-raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Informasi resmi museum juga mencatat keberadaan makam raja dan kerabat kesultanan di sekitar gedung utama.

Sementara itu, kawasan sekitar museum menyediakan pusat kuliner dan cenderamata. Pengunjung dapat menemukan berbagai produk yang berkaitan dengan budaya lokal, termasuk cenderamata khas Dayak dan batu perhiasan.

Kondisi tersebut membuat museum punya fungsi yang melampaui ruang penyimpanan benda bersejarah. Ada unsur pendidikan, wisata, budaya, dan aktivitas ekonomi yang saling berdekatan.

Bagi wisatawan dari Balikpapan maupun Samarinda, keberadaan museum di pusat Tenggarong juga membuat destinasi ini relatif mudah dipadukan dengan perjalanan wisata sejarah dan budaya di Kutai Kartanegara.

Mengapa Museum Ini Penting untuk Generasi Sekarang?

Tantangan museum sejarah bukan sekadar menjaga benda dari kerusakan. Tantangan berikutnya adalah membuat generasi baru memahami alasan benda tersebut penting.

Sugiono Ideal, Kasubag Tata Usaha UPTD Museum Negeri Mulawarman Kaltim, dalam video RRI Samarinda menjelaskan bahwa perawatan koleksi kembali diaktifkan setelah aktivitas selama pandemi sempat membatasi pemeliharaan.

Ia juga menyebut museum sempat ditutup selama sekitar satu tahun dan kembali dibuka pada 24 Mei 2021. Dalam narasi video tersebut, kunjungan kemudian mengalami peningkatan dan rata-rata mencapai sekitar 700 orang per bulan.

Data terbaru menunjukkan perhatian terhadap pengunjung masih menjadi bagian penting pengelolaan museum. Pada 2026, pengelola menyampaikan adanya upaya menghadirkan inovasi dalam penyajian informasi sekaligus memperkuat pengalaman pengunjung.

Di sinilah nilai edukasi museum menjadi penting. Koleksi sejarah akan memiliki makna apabila informasi di baliknya dapat dipahami secara sederhana, menarik, dan relevan.

Bagi pelajar, museum dapat menjadi ruang belajar sejarah di luar kelas. Bagi keluarga, tempat ini dapat menjadi sarana mengenalkan identitas daerah kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Danau Tanjung Sarai di Kota Bangun, Wisata Alam yang Mulai Dilirik Warga

Usulan Menghidupkan Kembali Cerita Istana

Dalam wawancara RRI Samarinda, Raden Aji Muhammad Roni menyampaikan harapan agar tata letak rumah Sultan dapat dikembalikan seperti kondisi sebelumnya.

Ia juga mendorong penguatan edukasi sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara di sekolah-sekolah. Kerabat Sultan turut menyampaikan permohonan agar nama museum dapat dikaji menjadi Museum Kesultanan Kutai Kartanegara.

Usulan tersebut menunjukkan bahwa museum bukan hanya berbicara tentang benda yang tersimpan di dalamnya. Ada perdebatan mengenai cara sejarah dipresentasikan dan identitas apa yang ingin ditonjolkan.

Bagi Kalimantan Timur, pembahasan semacam ini penting karena sejarah Kutai merupakan bagian dari identitas budaya daerah. Museum dapat menjadi ruang pertemuan antara warisan kesultanan, penelitian sejarah, pendidikan, dan kebutuhan wisata masa kini.

Poin Penting

Insight Redaksi

Museum Mulawarman punya modal kuat: bangunan bekas istana, ribuan koleksi, makam raja, dan identitas budaya Kaltim. Nilai utamanya bukan sekadar benda kuno, tetapi kesempatan membaca perubahan masyarakat dari masa ke masa. Kalau cerita koleksi dikemas makin dekat dengan generasi muda, museum ini bisa terasa hidup dan relevan.

Kawasan museum juga layak dipandang sebagai satu paket wisata sejarah, bukan tujuan singgah sesaat. Datang dengan waktu cukup, baca keterangan koleksi, lalu jelajahi lingkungan sekitarnya supaya pengalaman ikam kada setengah-setengah.

Bagikan artikel ini ke kawalan ikam yang suka wisata sejarah, supaya makin banyak yang mengenal warisan Kutai Kartanegara.

Penasaran dengan cerita di balik istana dan koleksi Kesultanan Kutai? Selalu update info hanya di Balikpapan Tv, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Di mana lokasi Museum Mulawarman?

Museum Mulawarman berada di Jalan Pangeran Diponegoro, Panji, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

2. Museum Mulawarman dulunya digunakan sebagai apa?

Gedung utama museum merupakan bekas istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang kemudian dialihfungsikan menjadi museum.

3. Apa saja koleksi yang dapat ditemukan?

Koleksinya mencakup benda historika, arkeologi, etnografi, keramik, perhiasan, senjata tradisional, pakaian kebesaran, dan berbagai peninggalan budaya lainnya.

4. Apakah ada makam raja di sekitar museum?

Ada. Kompleks makam raja dan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara berada di sisi kanan gedung utama museum.

Sumber Informasi: Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media Youtube @RRI Samarinda, dengan judul "Jejak Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara di Museum Mulawarman". Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Support
Museum Mulawarman tenggarong Kesultanan Kutai Kartanegara Sejarah Kalimantan Timur