Jantur Inar, Air Terjun di Tengah Hutan Kutai Barat yang Makin Dikenal Wisatawan

Nasya Syafira • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 09:13 WIB
Air Terjun Jantur Inar mengalir deras di tengah hutan tropis Kutai Barat yang masih alami.
Air Terjun Jantur Inar mengalir deras di tengah hutan tropis Kutai Barat yang masih alami.

Durasi Baca: 7 menit

Ikhtisar: Jantur Inar menawarkan air terjun alami, hutan tropis, dan perjalanan menantang, sekaligus menghadapi tantangan fasilitas, akses, kebersihan, dan pengelolaan.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Jantur Inar di Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, bukan sekadar destinasi untuk mengejar panorama air terjun. Perjalanan menuju lokasi memperlihatkan lanskap perbukitan dan perkebunan warga, sementara kawasan air terjun masih dikelilingi hutan yang relatif alami.

Dalam video perjalanan INSIDE BORNEO, perjalanan menuju Jantur Inar digambarkan membutuhkan waktu panjang dari Samarinda. Namun, kondisi destinasi tersebut pada 2026 menunjukkan satu hal menarik: Jantur Inar mulai semakin dikenal, tetapi pengembangan fasilitasnya masih harus mengejar pertumbuhan kunjungan.

Dari Perjalanan Panjang Menuju Jantur Inar

Jantur Inar berada di Kampung Temula, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat. RRI mencatat lokasinya sekitar 30 kilometer dari Barong Tongkok, ibu kota Kabupaten Kutai Barat. Akses menuju kawasan tersebut kini lebih mudah dibandingkan kondisi sebelumnya setelah sejumlah ruas jalan diperbaiki.

Dalam video INSIDE BORNEO, perjalanan mengambil rute dari kawasan Sekolaq Muliaq dan melewati perbukitan serta kebun karet masyarakat.

Pemandangan sepanjang perjalanan menjadi bagian dari pengalaman. Bukit, pepohonan, dan perkebunan karet memperlihatkan bagaimana perjalanan menuju destinasi wisata juga bersinggungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Namun, kondisi akses tidak selalu seragam. Setelah kendaraan mencapai kawasan wisata, perjalanan dilanjutkan dengan jalur tanah dan kemudian berjalan kaki menuju air terjun.

RRI pada 2024 menyebut pengunjung perlu melewati sekitar 400 meter jalan tanah sebelum mencapai bagian atas Jantur Inar. Dari sana, pengunjung harus menuruni sekitar 200 anak tangga menuju area air terjun.

Baca Juga: Gunung Rambutan Paser, Rest Area Jalur Ekstrem dengan Air Terjun Jernih

Hutan Menjadi Daya Tarik Utama

Daya tarik Jantur Inar bukan hanya air yang jatuh dari tebing.

Lingkungan sekitarnya menjadi alasan lain mengapa destinasi ini menarik. Pepohonan rindang, bebatuan yang ditumbuhi lumut, suara aliran air, dan udara yang lebih sejuk menciptakan suasana berbeda dari wisata yang berada di kawasan perkotaan.

Dalam perjalanan INSIDE BORNEO, suasana hutan menjadi salah satu bagian yang paling ditekankan. Bahkan sebelum air terjun terlihat, pengunjung sudah mendapatkan pengalaman menyusuri lingkungan alami.

Hal tersebut sejalan dengan laporan RRI pada Januari 2026 yang menyebut kawasan Jantur Inar memiliki suasana hutan tropis, pepohonan rindang, bebatuan alami, dan aliran air yang jernih. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan destinasi ini semakin diminati masyarakat.

Dengan kata lain, Jantur Inar lebih tepat dinikmati sebagai wisata alam berbasis pengalaman, bukan sekadar tempat berfoto di depan air terjun.

Air Terjun dengan Ketinggian Sekitar 30 Meter

Setelah melewati jalur turun, pemandangan air terjun menjadi tujuan utama perjalanan.

Sumber akademik dari Universitas Kristen Duta Wacana menyebut Jantur Inar memiliki ketinggian sekitar 30 meter dan termasuk salah satu air terjun unggulan di Kutai Barat karena kondisi alamnya yang masih asri.

Sementara dokumentasi perjalanan INSIDE BORNEO menggambarkan debit air yang cukup deras dan jatuhan air yang menciptakan percikan seperti kabut di sekitar dasar air terjun.

Karakter tersebut membuat suasana di bagian bawah terasa jauh berbeda dibandingkan area permukiman. Suara air yang terus mengalir berpadu dengan vegetasi hutan yang mengelilinginya.

Inilah salah satu alasan Jantur Inar memiliki potensi sebagai destinasi wisata alam unggulan Kutai Barat.

Tangga Menjadi Bagian yang Perlu Diperhatikan

Keindahan alamnya memang menjadi daya tarik, tetapi akses menuju dasar air terjun membutuhkan perhatian.

Dalam video INSIDE BORNEO, bagian atas jalur tangga disebut sudah mengalami perbaikan menggunakan struktur semen atau beton. Namun, beberapa bagian menuju bawah masih menggunakan tangga kayu lama yang kondisinya tidak seluruhnya baik.

Kondisi tersebut menjadi penting karena jalur menuju dasar air terjun memiliki medan menurun dan dapat menjadi licin ketika basah.

RRI juga mencatat bahwa persoalan tangga sebelumnya menjadi salah satu hal yang membuat sebagian masyarakat ragu berkunjung. Setelah akses diperbaiki, pengunjung mulai merasa perjalanan lebih mudah.

Jadi, perkembangan infrastruktur ternyata ikut memengaruhi popularitas Jantur Inar.

Jalur tangga menuju dasar Jantur Inar melewati pepohonan rindang dan kawasan hutan yang sejuk.
Jalur tangga menuju dasar Jantur Inar melewati pepohonan rindang dan kawasan hutan yang sejuk.

Mulai Ramai, Fasilitas Belum Sepenuhnya Siap

Di sinilah muncul tantangan baru.

Ketika sebuah destinasi semakin populer, kebutuhan wisatawan ikut meningkat. Pada Maret 2026, RRI melaporkan bahwa fasilitas dasar di Jantur Inar masih terbatas. Toilet, kamar ganti, dan tempat pembuangan sampah belum tersedia secara memadai. Di sisi lain, pembangunan gazebo dan jembatan menuju air terjun sudah mulai dilakukan.

Artinya, persoalan Jantur Inar bukan lagi sekadar bagaimana membuat orang datang.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana membuat wisatawan nyaman datang tanpa mengorbankan kondisi alam.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena pada awal 2026 Jantur Inar mulai ramai dikunjungi saat periode liburan.

Pengelolaan Masih Berproses

Status pengelolaan juga menjadi bagian penting dari perkembangan destinasi ini.

Pada 16 Maret 2026, RRI melaporkan bahwa Jantur Inar belum sepenuhnya dikelola secara resmi oleh Dinas Pariwisata Kutai Barat. Pemerintah daerah saat itu bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis setempat, sementara sejumlah pembangunan fasilitas masih dalam proses penyelesaian.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa Jantur Inar sedang berada dalam fase transisi.

Di satu sisi, masyarakat sudah melihat peluang ekonomi dari meningkatnya wisatawan. Di sisi lain, pemerintah dan pengelola masih perlu menyiapkan sistem pengelolaan yang lebih terstruktur.

Jika dikelola dengan baik, aktivitas wisata dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar tanpa menghilangkan karakter alami kawasan.

Kebersihan Kini Jadi Tantangan Baru

Popularitas destinasi juga membawa konsekuensi.

RRI melaporkan pada Maret 2026 adanya keluhan warga mengenai sampah yang ditinggalkan sebagian pengunjung di sekitar sungai Jantur Inar. Warga berharap pengunjung membawa kembali sampah mereka dan memanfaatkan area yang telah disiapkan untuk beristirahat.

Masalah seperti ini terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi persoalan besar bagi destinasi berbasis alam.

Semakin banyak wisatawan datang, semakin besar pula volume sampah yang berpotensi muncul. Jika tidak dibarengi fasilitas dan kesadaran pengunjung, daya tarik alam justru dapat berkurang.

Karena itu, menjaga Jantur Inar bukan hanya tugas pengelola. Wisatawan juga memiliki peran langsung.

Jantur Inar dan Peluang Wisata Kutai Barat

Kutai Barat memiliki banyak destinasi air terjun yang dikenal dengan istilah jantur. RRI menyebut Jantur Inar sebagai salah satu pilihan wisata dari sejumlah jantur yang berada di wilayah Tanaa Purai Ngeriman, sebutan untuk Kutai Barat.

Potensi ini sebenarnya dapat menjadi kekuatan wisata daerah.

Alih-alih hanya mempromosikan satu air terjun, pemerintah dan masyarakat dapat mengembangkan jaringan wisata alam yang menghubungkan beberapa jantur, budaya lokal, kuliner, kerajinan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat air terjun selama beberapa jam, tetapi memiliki alasan untuk menjelajahi lebih banyak wilayah Kutai Barat.

Baca Juga: Danau Tanjung Sarai di Kota Bangun, Wisata Alam yang Mulai Dilirik Warga

Tips Relevan Sebelum Berkunjung

Jika suatu saat Jantur Inar menjadi tujuan perjalanan, beberapa hal berikut patut diperhatikan:

Poin Penting

Insight Redaksi

Jantur Inar menarik bukan karena fasilitas mewah, melainkan karena alamnya masih menjadi atraksi utama.

Justru karena itulah pengembangan destinasi harus dilakukan secara hati-hati. Ketika jumlah wisatawan meningkat, pembangunan fasilitas memang diperlukan, tetapi jangan sampai menghilangkan karakter hutan yang menjadi alasan orang datang.

Tantangan Jantur Inar ke depan bukan sekadar mendatangkan lebih banyak wisatawan. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana membuat destinasi semakin mudah dikunjungi tanpa membuat alamnya kehilangan daya tarik.

Jangan cuma datang untuk menikmati alamnya. Ikut jaga supaya keindahannya tetap bisa dinikmati pengunjung berikutnya.

FAQ

1. Di mana Jantur Inar berada?

Jantur Inar berada di Kampung Temula, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

2. Seberapa tinggi Air Terjun Jantur Inar?

Ketinggiannya sekitar 30 meter berdasarkan sumber akademik dan pemberitaan mengenai destinasi tersebut.

3. Berapa banyak tangga menuju dasar air terjun?

Sumber RRI menyebut pengunjung perlu menuruni sekitar 200 anak tangga menuju bagian bawah air terjun.

4. Apakah fasilitas di Jantur Inar sudah lengkap?

Belum. Pada Maret 2026, RRI melaporkan fasilitas dasar seperti toilet, kamar ganti, dan tempat sampah masih terbatas, sementara sejumlah fasilitas lain sedang dikembangkan.

5. Mengapa Jantur Inar semakin ramai?

Perbaikan akses membuat perjalanan menuju lokasi lebih mudah, sementara keindahan hutan, air terjun, dan suasana alamnya menarik semakin banyak wisatawan lokal.

Sumber informasi: Video YouTube INSIDE BORNEO, “Jantur Inar: Air terjun paling menarik di Kalimantan Timur”.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Jantur Inar Nyuatan Kutai Barat Air Terjun Jantur Inar