24 Jam di Danau Habitat Buaya Kalimantan, Andrew Kalaweit Soroti Pentingnya Menjaga Hutan

Nasya Syafira • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:30 WIB
Andrew Kalaweit mengarungi danau terpencil Kalimantan menggunakan perahu kayak untuk eksplorasi selama 24 jam. (BTV/AI)
Andrew Kalaweit mengarungi danau terpencil Kalimantan menggunakan perahu kayak untuk eksplorasi selama 24 jam.

Durasi Baca: 6 Menit

Ikhtisar: Andrew Kalaweit menghabiskan 24 jam di sebuah danau terpencil di Kalimantan yang menjadi habitat buaya muara. Selain menghadapi panas, perubahan cuaca, dan malam di tengah perairan, perjalanan tersebut juga memperlihatkan keanekaragaman satwa serta pentingnya menjaga hutan di sekitar danau.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Bagaimana rasanya menghabiskan waktu selama 24 jam di tengah danau yang menjadi habitat buaya? Pengalaman tersebut dilakukan Andrew Kalaweit dalam video YouTube berjudul “24 JAM di danau BUAYA Kalimantan. Angker ??”.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri aliran sungai menuju danau terpencil di Kalimantan. Sesampainya di tengah danau, Andrew menggunakan perahu kayak dan memasang jangkar agar perahunya tetap berada di posisi.

Bukan hanya tantangan fisik yang dihadapi, perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengamati kondisi ekosistem danau yang masih dikelilingi hutan.

Mengapung di Tengah Danau Habitat Buaya

Setelah tiba di tengah danau, Andrew mulai menjalani aktivitas dengan perahu kayaknya. Kondisi perairan yang relatif tenang membuatnya dapat mengamati lingkungan sekitar dari atas perahu.

Namun, tantangan muncul ketika matahari semakin terik.

Memasuki sekitar pukul 12 siang, panas matahari membuat kondisi tubuhnya tidak nyaman hingga merasa pusing. Ia kemudian melepas jangkar dan memindahkan perahunya menuju kawasan yang lebih teduh di bawah pepohonan di pinggir danau.

Di lokasi tersebut, Andrew menyantap bekal makan siang sekaligus beristirahat sebelum kembali mengeksplorasi kawasan sekitar.

Hutan lebat mengelilingi danau terpencil yang menjadi bagian dari habitat satwa liar Kalimantan.
Hutan lebat mengelilingi danau terpencil yang menjadi bagian dari habitat satwa liar Kalimantan.

Baca Juga: Solo Camping di Karst Mengkuris, Menikmati Keheningan Hutan Hujan Borneo yang Masih Alami

Keanekaragaman Burung Jadi Bagian Menarik Perjalanan

Menjelang sore, sekitar pukul 15.00, Andrew kembali melakukan pengamatan di sekitar danau.

Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah keberadaan berbagai jenis burung, termasuk burung enggang dan kingfisher.

Menurut pengamatannya dalam video, banyaknya kehidupan di sekitar danau menjadi salah satu gambaran bahwa ekosistem perairan tersebut masih memiliki sumber makanan yang mendukung berbagai satwa.

Rantai kehidupan tersebut juga berkaitan dengan keberadaan buaya yang berada di kawasan perairan.

Dengan kata lain, keberadaan satu jenis satwa tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan secara keseluruhan.

Hutan di Sekitar Danau Menjadi Kunci

Salah satu pesan utama yang disampaikan Andrew dalam perjalanan tersebut adalah pentingnya menjaga hutan yang mengelilingi danau.

Menurutnya, keberadaan ekosistem danau yang baik tidak hanya bergantung pada kondisi airnya. Hutan di sekitar perairan juga memiliki peran besar dalam mempertahankan habitat dan kehidupan berbagai satwa.

Ia menyampaikan:

“Kuncinya untuk punya danau yang bagus, ekosistemnya bagus, adalah untuk jaga hutan di kelilingnya.”

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari dokumentasi perjalanan karena menunjukkan hubungan antara hutan dan ekosistem perairan.

Ketika kawasan hutan tetap terjaga, berbagai satwa memiliki ruang untuk mencari makanan, berlindung, dan berkembang biak.

Menghadapi Malam di Tengah Perairan

Memasuki sore hingga malam, kondisi cuaca mulai berubah. Langit terlihat semakin dipenuhi awan sehingga Andrew menyiapkan pelindung pada perahu kayak untuk menghadapi kemungkinan hujan.

Ketika malam tiba, suasana danau berubah menjadi lebih gelap dan sunyi.

Andrew juga memilih meminimalkan penggunaan lampu. Berdasarkan penjelasannya dalam video, hal tersebut berkaitan dengan keberadaan beberapa jenis ular yang dapat tertarik pada cahaya.

Malam kemudian dilewati dengan tetap berada di perahu hingga pagi.

Kondisi tersebut memperlihatkan sisi berbeda dari kehidupan di kawasan rawa dan danau yang jauh dari aktivitas manusia.

Suasana malam di tengah danau memperlihatkan lingkungan alami Kalimantan yang minim aktivitas manusia. (BTV/AI)
Suasana malam di tengah danau memperlihatkan lingkungan alami Kalimantan yang minim aktivitas manusia.

Pagi Hari dan Perjalanan Kembali

Sekitar pukul 06.00 pagi, Andrew membuka pelindung perahu dan mulai menjalani aktivitas pagi.

Setelah sarapan dan menyelesaikan eksplorasi di kawasan pinggiran rawa, ia kembali mendayung menyusuri sungai kecil.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju aliran utama Sungai Barito.

Petualangan 24 jam tersebut akhirnya ditutup dengan pesan mengenai pentingnya menjaga alam untuk masa depan.

Baca Juga: Doyam Seriam dan Doyam Dinding Olo, Air Terjun Tersembunyi di Desa Modang Paser yang Punya Tujuh Tin

Poin Penting

Insight Redaksi

Petualangan Andrew Kalaweit memperlihatkan bahwa sebuah danau tidak dapat dipandang hanya sebagai wilayah perairan. Di balik permukaannya terdapat hubungan antara hutan, ikan, burung, buaya, dan berbagai organisme lain yang membentuk satu ekosistem.

Hal menarik dari perjalanan ini justru bukan sekadar keberanian menghabiskan 24 jam di habitat buaya, tetapi pesan yang muncul dari pengamatan tersebut.

Jika ingin mempertahankan danau dengan ekosistem yang sehat, perlindungan tidak bisa berhenti di area perairan. Hutan yang mengelilinginya juga harus tetap dijaga.

Seperti pesan Andrew dalam videonya, kelestarian alam bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga untuk masa depan.

Ikam lamun handak menjelajah alam Kalimantan, jangan asal nekat, Ces! Kenali lingkungan, hormati satwa liar, dan utamakan keselamatan.

FAQ

1. Siapa yang melakukan eksplorasi 24 jam di danau tersebut?

Eksplorasi dilakukan oleh Andrew Kalaweit, penggiat alam dan pembuat konten yang banyak mendokumentasikan kehidupan serta lingkungan alam Kalimantan.

2. Apa judul video yang menjadi sumber artikel?

Video tersebut berjudul “24 JAM di danau BUAYA Kalimantan. Angker ??” dan dipublikasikan melalui kanal YouTube Andrew Kalaweit.

3. Bagaimana Andrew menghabiskan waktu di tengah danau?

Ia menggunakan perahu kayak dan menghabiskan waktu sekitar 24 jam di kawasan perairan tersebut sebelum kembali melalui jalur sungai.

4. Satwa apa yang diamati selama perjalanan?

Dalam transkrip video disebutkan keberadaan berbagai jenis burung, termasuk burung enggang dan kingfisher. Kawasan danau tersebut juga merupakan habitat buaya muara.

5. Mengapa hutan di sekitar danau penting?

Hutan merupakan bagian dari ekosistem yang mendukung kehidupan satwa dan membantu mempertahankan kondisi lingkungan di sekitar perairan.

6. Apa pesan utama Andrew Kalaweit?

Pesan utamanya adalah menjaga dan melestarikan alam agar ekosistem serta kehidupan satwa tetap dapat bertahan untuk masa depan.

Sumber Informasi: Informasi utama berasal dari dokumentasi YouTube Andrew Kalaweit berjudul “24 JAM di danau BUAYA Kalimantan. Angker ??”. Artikel ditulis ulang dengan pendekatan editorial dan angle konservasi.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Andrew Kalaweit Danau Kalimantan Konservasi Hutan buaya muara