Durasi Baca: 8 Menit
Ikhtisar: Bukit Steling di Samarinda menjadi destinasi wisata ketinggian yang dirintis kembali warga dengan menawarkan panorama kota, area camping, serta cerita sejarah perjuangan di balik kawasan tersebut.
Balikpapan TV – Hai Ces! Samarinda ternyata memiliki tempat wisata yang menawarkan pengalaman berbeda. Bukan hanya menikmati suasana alam, pengunjung juga harus melewati perjalanan menanjak sebelum sampai di puncak.
Tempat tersebut adalah Puncak Steling, kawasan wisata yang berada di wilayah RT 32, Samarinda, Kalimantan Timur.
Dalam tayangan Explore | Menikmati Keindahan Samarinda dari Ketinggian | Bukit Steling dari PKTV, pengelola Puncak Steling menceritakan bagaimana kawasan tersebut kembali dirintis sebagai tempat wisata oleh warga sekitar.
Dari puncaknya, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Samarinda dari ketinggian. Namun, daya tarik Puncak Steling tidak hanya terletak pada panoramanya. Kawasan ini juga menyimpan cerita sejarah yang menurut pengelola berkaitan dengan perjuangan para gerilyawan.
Perjalanan Menanjak Menjadi Bagian dari Pengalaman
Untuk mencapai Puncak Steling, pengunjung harus melewati jalur menanjak.
Dalam wawancara, presenter PKTV bahkan menceritakan pengalaman ketika pertama kali menaiki jalur tersebut. Perjalanan terasa cukup melelahkan, terlebih ketika sebelumnya turun hujan.
Namun, kondisi setelah hujan justru membuat jalur terasa lebih sejuk.
Pengelola mengatakan pengalaman mendaki biasanya terasa berbeda setelah seseorang sudah beberapa kali berkunjung. Angin yang cukup kencang di kawasan puncak juga membuat suasana terasa lebih nyaman setelah perjalanan menanjak.
Karena itu, perjalanan menuju puncak bukan sekadar akses menuju tempat wisata, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan Puncak Steling.
Baca Juga: Goa Losan Paser Bikin Penjelajah Berbalik Arah, Lorong Gelap hingga Hawa Panas Jadi Tantangan
Puncak Steling dan Cerita Sejarahnya
Di balik panorama Samarinda yang dapat dilihat dari atas, Puncak Steling memiliki cerita sejarah yang menarik.
Menurut keterangan pengelola dalam wawancara PKTV, kawasan tersebut dahulu menjadi salah satu area yang digunakan para gerilyawan pejuang.
Posisinya yang berada di ketinggian dianggap strategis untuk memantau pergerakan musuh di sepanjang alur sungai.
Dari sinilah nama Puncak Steling dikaitkan dengan fungsi kawasan tersebut pada masa lalu.
Cerita tersebut menjadi salah satu nilai yang membuat kawasan ini tidak hanya menarik dari sisi wisata alam, tetapi juga memiliki narasi sejarah yang ingin dipertahankan oleh masyarakat.
Sempat Tidak Terurus Setelah Pandemi
Puncak Steling sebenarnya sudah mulai dirintis sebagai tempat wisata sebelum pandemi COVID-19.
Menurut pengelola, anak-anak muda di sekitar kawasan tersebut sebelumnya telah berinisiatif membuka lokasi untuk dikunjungi masyarakat.
Namun, ketika pandemi COVID-19 berlangsung dan terdapat pembatasan kerumunan, kegiatan di kawasan tersebut ikut terhenti.
Puncak Steling kemudian sempat tidak terurus. Rumput dan alang-alang tumbuh tinggi sehingga kawasan tersebut membutuhkan pembenahan kembali.
Warga Bergotong Royong Menghidupkan Wisata
Upaya menghidupkan kembali Puncak Steling dilakukan oleh pengurus dan warga sekitar.
Dalam wawancara, pengelola menyebut mereka kembali merintis kawasan tersebut sekitar tiga minggu sebelum proses wawancara dilakukan.
Warga bersama pengurus melakukan berbagai pekerjaan secara gotong royong.
Bapak-bapak mencari kayu dan bambu dari kawasan sekitar untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan bangku. Sementara itu, ibu-ibu ikut memperindah kawasan dengan menanam bunga dan tanaman hias.
Fasilitas yang tersedia pun masih sederhana karena sebagian besar dibuat menggunakan bahan yang ada di sekitar.
Pokdarwis Mulai Dibentuk
Pengelolaan Puncak Steling juga mulai diarahkan agar memiliki organisasi yang lebih terstruktur.
Kelompok pengelola telah dibentuk dan didaftarkan kepada Dinas Pariwisata Kota Samarinda.
Menurut pengelola, respons dari Dinas Pariwisata cukup baik dan komunikasi telah dilakukan secara langsung.
Pada saat wawancara, pengelola menyampaikan bahwa mereka sedang menunggu penerbitan SK resmi pengelolaan Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata dari Dinas Pariwisata Kota Samarinda.
Saat itu, jumlah pengurus yang terlibat berada di kisaran 18 hingga 20 orang.
Mereka terbagi ke dalam beberapa bagian, termasuk kebersihan, hubungan masyarakat, dan keamanan.
Fasilitas Masih Menjadi Tantangan
Sebagai destinasi yang kembali dirintis oleh masyarakat, Puncak Steling masih menghadapi sejumlah keterbatasan.
Salah satu kendala utama adalah anggaran.
Keterbatasan dana membuat pembangunan fasilitas masih mengandalkan bahan-bahan alam dan sumber daya yang tersedia di sekitar kawasan.
Pengelola menyebut beberapa kebutuhan yang masih diusahakan, antara lain:
-
Penerangan atau lampu di sepanjang jalur menuju puncak.
-
Lampu di area puncak.
-
Fasilitas MCK atau toilet.
-
Gazebo atau tempat berteduh ketika hujan.
-
Penyediaan air bersih.
-
Tempat untuk musala.
Kebutuhan tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan agar pengunjung semakin nyaman ketika berada di Puncak Steling.
Tiket Masuk Mulai Rp5.000
Berdasarkan wawancara dalam video PKTV, Puncak Steling buka setiap hari.
Pengunjung biasanya mulai ramai pada sore hari, terutama sekitar pukul 15.30 hingga malam.
Untuk kontribusi masuk, pengelola menyebut tarif Rp5.000 untuk pengunjung dewasa harian, sedangkan pengunjung yang melakukan camping atau menginap dikenakan Rp10.000.
Anak-anak tidak dikenakan biaya.
Pengelola juga menjelaskan bahwa uang kontribusi tersebut digunakan kembali untuk pembenahan dan perawatan fasilitas di kawasan Puncak Steling.
Menariknya, pengelola menyampaikan bahwa pengunjung yang tidak membawa uang tetap diperbolehkan masuk.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan masih mengedepankan semangat kebersamaan masyarakat.
Baca Juga: Hutan Lindung Sungai Wain Balikpapan Punya 9 Jenis Primata, Hutan Kecil dengan Keanekaragaman Hayati
Ramai Dikunjungi Saat Akhir Pekan
Meski masih dalam tahap pengembangan, Puncak Steling sudah mulai menarik pengunjung dari berbagai daerah.
Pengelola memperkirakan jumlah pengunjung berkisar 30 hingga 50 orang per hari, dengan jumlah yang lebih ramai pada akhir pekan.
Dalam wawancara tersebut, bahkan disebutkan bahwa pada salah satu akhir pekan terdapat sekitar 60 orang yang melakukan camping.
Mereka datang dari berbagai wilayah seperti Bontang, Sangatta, Balikpapan, Samarinda, dan Tenggarong.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya minat masyarakat terhadap wisata alam yang menawarkan pengalaman camping sekaligus panorama dari ketinggian.
Camping Jadi Salah Satu Daya Tarik
Selain menikmati pemandangan, Puncak Steling juga digunakan sebagai lokasi camping.
Pengunjung yang ingin menginap dikenakan kontribusi berbeda dari pengunjung harian.
Aktivitas camping memungkinkan wisatawan menikmati suasana kawasan lebih lama, termasuk suasana sore hingga malam.
Dengan kondisi alam yang masih terus dibenahi, camping menjadi salah satu aktivitas yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata Puncak Steling.
Membuka Peluang Ekonomi bagi Warga
Keberadaan Puncak Steling tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan destinasi wisata baru.
Menurut pengelola, salah satu manfaat yang diharapkan adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat RT 32 dan kawasan sekitarnya.
Pengunjung yang datang biasanya membeli air mineral atau kebutuhan lainnya dari warung milik warga.
Aktivitas tersebut secara tidak langsung menciptakan perputaran ekonomi di sekitar lokasi wisata.
Ke depan, pengelola juga memiliki rencana untuk membangun area kedai atau kafe sederhana di puncak.
Konsepnya cukup menarik, yaitu pengunjung dapat menikmati kopi sembari melihat panorama Kota Samarinda dari ketinggian.
Alam Asli Ingin Tetap Dipertahankan
Pengembangan wisata Puncak Steling tidak berarti seluruh kawasan harus diubah menjadi tempat wisata dengan fasilitas modern.
Dalam wawancara, pengelola menekankan pentingnya mempertahankan keaslian alam.
Bebatuan dan kondisi alami kawasan dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Perjalanan menuju puncak yang menanjak dan melewati kondisi alam tersebut justru dipandang sebagai bagian dari daya tarik.
Karena itu, pembangunan fasilitas diharapkan tetap dilakukan tanpa menghilangkan karakter alami Puncak Steling.
Puncak Steling Bukan Sekadar Tempat Melihat Kota
Pemandangan Samarinda dari ketinggian memang menjadi salah satu alasan orang datang ke Puncak Steling.
Namun, perjalanan menuju puncak, cerita sejarah, aktivitas warga, serta proses gotong royong dalam mengembangkan kawasan membuat destinasi ini memiliki cerita yang lebih panjang.
Puncak Steling memperlihatkan bagaimana sebuah kawasan yang sempat tidak terurus dapat kembali dihidupkan melalui inisiatif masyarakat.
Dari jalur yang sebelumnya dipenuhi alang-alang, warga perlahan membangun ruang wisata dengan fasilitas sederhana.
Proses tersebut menjadi bagian penting dari identitas Puncak Steling.
Baca Juga: Gunung Embun Paser Diselimuti Kabut Tebal Saat Pagi, Begini Perjalanan Menuju Destinasi di Desa Luan
Poin Penting
-
Puncak Steling berada di wilayah RT 32, Samarinda.
-
Kawasan ini menawarkan panorama Kota Samarinda dari ketinggian.
-
Menurut pengelola, kawasan tersebut memiliki cerita sejarah terkait perjuangan gerilyawan.
-
Puncak Steling sempat dirintis sebagai objek wisata sebelum pandemi COVID-19.
-
Pengelolaan kemudian terhenti dan kawasan sempat tidak terurus.
-
Warga kembali merintis kawasan tersebut melalui gotong royong.
-
Jumlah pengurus sekitar 18–20 orang.
-
Tiket kontribusi pengunjung dewasa harian disebut Rp5.000.
-
Pengunjung camping atau menginap dikenakan Rp10.000.
-
Anak-anak tidak dikenakan biaya berdasarkan keterangan pengelola dalam video.
-
Pengelola masih membutuhkan fasilitas seperti lampu, MCK, gazebo, air bersih, dan musala.
-
Puncak Steling juga mulai menarik pengunjung dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.
Insight Redaksi
Puncak Steling memperlihatkan bahwa sebuah destinasi wisata tidak selalu lahir dari pembangunan besar-besaran.
Ada kalanya sebuah tempat tumbuh dari inisiatif warga yang ingin memanfaatkan potensi alam di lingkungan mereka.
Bangku dari kayu, taman sederhana, jalur menuju puncak, hingga aktivitas camping menjadi bagian dari proses panjang tersebut.
Yang menarik, pengelola tidak hanya mengejar jumlah pengunjung. Mereka juga ingin mempertahankan karakter alam dan cerita sejarah yang melekat pada kawasan.
Jika pengembangan dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga lingkungan, Puncak Steling berpotensi menjadi salah satu pilihan wisata ketinggian bagi masyarakat yang ingin melihat Samarinda dari sudut berbeda.
Ingin mengenal lebih banyak destinasi wisata unik di Kalimantan Timur? Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Di mana Puncak Steling berada?
Puncak Steling berada di kawasan RT 32, Samarinda, Kalimantan Timur, berdasarkan keterangan pengelola dalam wawancara PKTV.
2. Apa daya tarik utama Puncak Steling?
Daya tarik utamanya adalah panorama Kota Samarinda dari ketinggian, suasana alam, jalur menanjak, serta kesempatan untuk melakukan camping.
3. Berapa tiket masuk Puncak Steling?
Menurut keterangan pengelola dalam video PKTV, kontribusi pengunjung dewasa harian sebesar Rp5.000, sedangkan pengunjung yang camping atau menginap sebesar Rp10.000.
4. Apakah Puncak Steling bisa digunakan untuk camping?
Ya. Dalam wawancara disebutkan bahwa camping menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan pengunjung di Puncak Steling.
5. Kapan Puncak Steling ramai dikunjungi?
Menurut pengelola, pengunjung biasanya mulai ramai sekitar pukul 15.30 hingga malam dan jumlahnya meningkat pada akhir pekan.
6. Apa saja fasilitas yang masih dibutuhkan?
Pengelola menyebut kebutuhan berupa penerangan, MCK atau toilet, gazebo, air bersih, dan musala masih menjadi bagian dari pengembangan kawasan.
7. Bagaimana sejarah Puncak Steling?
Menurut keterangan pengelola dalam video, kawasan tersebut dahulu digunakan sebagai salah satu area gerilyawan untuk memantau pergerakan musuh di sepanjang alur sungai.
Sumber Informasi: Transkrip wawancara video PKTV, “Explore | Menikmati Keindahan Samarinda dari Ketinggian | Bukit Steling”, dengan narasumber pengelola/Ketua Pokdarwis Puncak Steling.