Bukit Batu Daya Ketapang: Kisah Ekspedisi Panjat Tebing yang Penuh Tantangan

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 12:08 WIB

 

Ilustrasi Bukit Batu Daya menampilkan tebing raksasa Kalimantan Barat dengan pesona alam dan budaya. (Sumber: YouTube Indonesia Big Wall Expedition)
Ilustrasi Bukit Batu Daya menampilkan tebing raksasa Kalimantan Barat dengan pesona alam dan budaya. (Sumber: YouTube Indonesia Big Wall Expedition)

Durasi Baca: 7 Menit

Topik: Mengenal Bukit Batu Daya, tebing raksasa Kalimantan Barat yang menyatukan petualangan, budaya, dan keindahan alam.

Ikhtisar: Bukit Batu Daya bukan sekadar destinasi panjat tebing. Kawasan ini menawarkan tantangan ekstrem, tradisi adat yang masih terjaga, serta potensi wisata alam yang belum banyak dikenal karena keterbatasan akses.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Bukit Batu Daya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi salah satu destinasi impian para pemanjat tebing Indonesia. Tebing raksasa ini menawarkan tantangan teknis yang berat sekaligus menyuguhkan panorama alam dan budaya masyarakat yang masih terjaga.

Ekspedisi menuju puncaknya bukan hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga menghormati tradisi lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Itulah yang membuat pengalaman di Bukit Batu Daya terasa berbeda dibandingkan lokasi panjat tebing lainnya, Ces!

Mengapa Bukit Batu Daya menarik perhatian para pencinta alam?

Bukit Batu Daya berada di Desa Batu Daya, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Desa seluas sekitar 16.000 hektare ini dihuni sekitar 500 jiwa atau 153 kepala keluarga. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, sementara sebagian lainnya menjadi buruh maupun karyawan kontrak.

Di balik kehidupan masyarakat yang sederhana, kawasan ini menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Habitat orangutan, burung enggang, air terjun, hingga dinding tebing menjadikan Bukit Batu Daya memiliki potensi wisata yang beragam.

Perwakilan Desa Batu Daya menjelaskan bahwa potensi tersebut sebenarnya sangat besar, tetapi belum berkembang optimal karena akses menuju lokasi masih terbatas.

"Desa Batu Daya ini memiliki potensi sumber daya alam yang sangat luar biasa sekali sebenarnya... Ada yang khusus panjat tebing, kemudian flora dan faunanya yang perlu kita lindungi bersama, masih banyak orangutannya dan burung enggang. Untuk wisata keluarga juga ada air terjunnya. Jadi sangat luar biasa sekali, hanya memang yang menjadi persoalan itu adalah aksesibilitas, terutama masalah infrastruktur."

Kondisi infrastruktur inilah yang masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan wisata di kawasan tersebut.

Baca Juga: Kisah Perjalanan ke Long Nawang, Dari Pernikahan Adat hingga Keindahan Sungai Kayan

Mengapa setiap pendatang dianjurkan mengikuti ritual adat?

Selain terkenal karena tebingnya yang menjulang tinggi, Bukit Batu Daya juga dikenal masyarakat sebagai kawasan yang memiliki nilai budaya dan kepercayaan yang kuat.

Masyarakat Desa Batu Daya masih rutin melaksanakan tradisi Bebankan sebagai bentuk doa untuk keselamatan kampung dan rasa syukur atas hasil alam yang diperoleh.

Karena alasan itu, setiap aktivitas besar, termasuk ekspedisi panjat tebing, diawali dengan ritual adat sebagai bentuk penghormatan kepada tradisi masyarakat setempat.

Seorang tetua adat menjelaskan tujuan pelaksanaan ritual tersebut.

"Batu Daya ini kan cukup dikenal dengan mistik... Kenapa harus dilakukan ritual adat untuk permisi? Menurut kami, supaya pengunjung tersebut diberi keselamatan yang pertama, dan keduanya juga diberikan jalan untuk mencapai tujuan tersebut."

Bagi masyarakat setempat, ritual bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap alam dan budaya yang telah dijaga selama bertahun-tahun.

Seberapa berat jalur menuju tebing Bukit Batu Daya?

Tantangan sudah dimulai bahkan sebelum pemanjatan dilakukan. Tim ekspedisi harus membawa berbagai perlengkapan menuju kaki tebing melalui jalur yang membutuhkan waktu hingga dua hari perjalanan.

Di sepanjang perjalanan, mereka menghadapi medan terjal, jalur yang jarang dilalui, hingga banjir yang sempat menghambat akses menuju lokasi.

Setibanya di kaki tebing, tantangan belum berakhir. Tebing bagian bawah dipenuhi vegetasi, lumut, dan batuan yang mudah lapuk sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Tim memilih menggunakan metode Himalayan Style, yaitu sistem pemanjatan bertahap dengan membawa logistik dan perlengkapan secara bertahap karena bobot peralatan yang cukup berat.

Bagian mana yang paling menantang saat pemanjatan?

Perjalanan menuju puncak dilakukan secara bertahap melalui beberapa pitch atau jalur pemanjatan.

Salah satu anggota tim mengaku Pitch 7 hingga Pitch 9 menjadi bagian yang paling berkesan karena posisi belay yang kurang nyaman dan minim pijakan.

"Pitch yang menurut saya paling berkesan itu di Pitch 7, 8, dan 9. Karena di sisi lain posisi belay-nya kurang nyaman, enggak ada pijakan tetap, dan grade-nya lumayan terjal (exposure-nya terasa). Kondisi tebingnya sangat menarik, langsung kena matahari, dan enggak ada vegetasi, jadi paling menantang."

Sementara itu, tantangan terbesar dialami saat memasuki Pitch 13 menjelang puncak.

Leader pemanjatan menceritakan bahwa tenaga yang dimiliki hampir habis ketika harus menyelesaikan jalur sepanjang sekitar 45 meter tersebut.

"Yang paling berkesan buatku itu Pitch 13. Panjangnya ada 45 meter, tapi saya cuma bisa ngabisin sekitar 12–15 hanger. Di bagian terakhir, saya udah sisa-sisa tenaga terakhir, enggak pakai apa-apa lagi. Tujuan saya cuma sampai ke pohon di atas. Begitu megang pohon, waduh... sudah hampir enggak kuat, saya langsung senderan di pohon diam dulu baru masang tambatan."

Cerita tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan mencapai puncak tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan fisik dan mental.

Baca Juga: Riam Merasap Bengkayang, Wisata Air Terjun dengan Arung Jeram dan Area Camping

Apa yang membuat ekspedisi ini begitu berkesan?

Keberhasilan mencapai puncak Bukit Batu Daya menjadi hasil kerja sama seluruh anggota tim, termasuk kru basecamp yang sejak pagi menyiapkan logistik dan kebutuhan pemanjatan.

Setelah melewati Pitch 15, tim akhirnya tiba di puncak yang ditandai dengan vegetasi pohon pinus.

Bagi salah satu anggota ekspedisi, perjalanan ini menjadi pengalaman terbaik sepanjang hidupnya.

"Memanjat Batu Daya ini sebenarnya kayak yang paling terbaik sejauh ini dalam hidup saya. Meskipun telat di umur kepala tiga baru bisa ke Batu Daya, tapi tetap tebing ini yang paling sulit, paling berkesan, dan punya banyak cerita. Harapannya dengan semakin mudah akses ke sana, orang lebih banyak memanjat di sana karena sangat worth it."

Harapan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa Bukit Batu Daya memiliki peluang besar berkembang sebagai destinasi wisata petualangan apabila didukung akses yang lebih baik tanpa mengabaikan kelestarian alam dan budaya setempat.

Poin Penting

Insight Redaksi

Bukit Batu Daya memperlihatkan bahwa wisata petualangan bukan hanya soal menaklukkan tebing, tetapi juga memahami budaya masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Pengembangan kawasan ini perlu mengutamakan akses yang baik sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan tradisi lokal. Kada semua destinasi harus berubah menjadi wisata massal, justru keasliannya menjadi daya tarik utama. Pengelolaan yang terukur dapat membuka peluang ekonomi masyarakat tanpa mengurangi nilai alam yang dimiliki.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang mengenal potensi Bukit Batu Daya sebagai destinasi wisata alam Indonesia.

Masih banyak cerita menarik dari berbagai destinasi Nusantara. Tetap ikuti informasi terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Di mana lokasi Bukit Batu Daya?

Bukit Batu Daya berada di Desa Batu Daya, Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

2. Apa daya tarik utama Bukit Batu Daya?

Tebing big wall, keanekaragaman hayati, air terjun, dan budaya masyarakat setempat.

3. Mengapa dilakukan ritual adat sebelum pemanjatan?

Sebagai bentuk penghormatan terhadap adat sekaligus memohon keselamatan selama kegiatan berlangsung.

4. Apa tantangan terbesar ekspedisi?

Akses menuju lokasi yang sulit, medan terjal, serta jalur pemanjatan dengan tingkat kesulitan tinggi.

5. Dari mana sumber cerita ekspedisi ini?

Artikel disusun berdasarkan transkrip video ekspedisi yang dipublikasikan kanal YouTube Indonesia Big Wall Expedition.

Sumber Informasi: Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media YouTube @Indonesia Big Wall Expedition, dengan judul "Bukit Batu Daya | Indonesia Big Wall Expedition". Di-publikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Bukit Batu Daya Desa Batu Daya wisata petualangan Kalimantan