Durasi Baca: 6 Menit
Topik: Perjalanan mengenal budaya Dayak Kenyah, tradisi adat, dan kehidupan masyarakat Long Nawang di pedalaman Kalimantan Utara.
Ikhtisar: Artikel ini mengulas perjalanan menuju Desa Long Nawang, tradisi pernikahan adat Dayak Kenyah, kehidupan masyarakat, tantangan pendidikan, hingga keindahan alam yang masih terjaga di kawasan Apokayan.
Balikpapan TV – Hai Ces! Desa Long Nawang di Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menjadi salah satu kawasan pedalaman yang masih mempertahankan adat dan budaya Dayak Kenyah hingga kini. Meski akses menuju desa ini tidak mudah, masyarakatnya tetap menjaga tradisi, semangat gotong royong, serta kehidupan yang harmonis dengan alam.
Perjalanan selama enam hari yang didokumentasikan kanal YouTube Ray Tando memperlihatkan sisi lain Kalimantan yang jarang terekspos. Bukan hanya panorama alam yang memukau, tetapi juga nilai budaya dan kebersamaan masyarakat yang masih hidup dalam keseharian.
Mengapa Long Nawang Sulit Dijangkau tetapi Menjadi Destinasi yang Berkesan?
Perjalanan menuju Long Nawang dimulai dari Samarinda dengan menggunakan pesawat perintis menuju Bandara Long Ampung. Pesawat berkapasitas sekitar delapan hingga dua belas penumpang itu menjadi pilihan utama karena akses darat menuju wilayah Apokayan masih sangat terbatas.
Dari Bandara Long Ampung, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan selama sekitar 45 menit hingga satu jam menuju Desa Long Nawang.
Kunjungan tersebut berawal dari penugasan mendokumentasikan prosesi pernikahan pasangan Betty dan Jerry. Namun selama berada di desa, rombongan juga berkesempatan mengenal kehidupan masyarakat Dayak Kenyah secara lebih dekat.
Suasana desa yang tenang langsung terasa sejak hari pertama. Di sore hari, rombongan menikmati kesegaran Sungai Kayan bersama warga setempat. Meski jaringan internet sangat terbatas dan hanya mengandalkan layanan Wi-Fi harian, keramahan masyarakat membuat para tamu merasa diterima sebagai bagian dari keluarga.
Bagaimana Gotong Royong Menjadi Bagian dari Kehidupan Warga?
Hari kedua diawali dengan aktivitas gotong royong menjelang pelaksanaan pesta adat. Warga bersama-sama mendirikan dapur sementara di halaman rumah untuk menyiapkan berbagai hidangan tradisional.
Kegiatan tersebut juga menjadi momen penyambutan Wakil Gubernur Kalimantan Utara yang memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga penyelenggara acara.
Di sela aktivitas memasak, muncul perbincangan mengenai kondisi pendidikan di daerah perbatasan. Seorang pelajar bernama Stevie atau Pipi menjelaskan bahwa ketersediaan alat tulis bukan menjadi persoalan utama.
"Kalau buku tulis dan peralatan tulis enggak susah, tapi kalau guru... gurunya susah sih ngajarnya, kayak ketinggalan banget pelajarannya. Terus pas ke kota kayak masih agak kaget sama pelajarannya karena enggak sebanding sama yang di kampung."
Kutipan tersebut menggambarkan tantangan pemerataan kualitas pendidikan yang masih dirasakan masyarakat di wilayah terpencil.
Selain itu, warga juga memperkenalkan kuliner khas Dayak Kenyah, salah satunya Sebukong.
Seorang anggota tim masak menjelaskan:
"Ada masak Sebukong, ada masak kue rakit atau Anye. Sebukong itu beras ketan yang dimasukkan ke dalam daun sang dari pohon sang."
Menjelang sore, rombongan berjalan menuju kawasan Musang di tepi Sungai Kayan, lokasi yang sering dimanfaatkan warga untuk bersantai menikmati suasana alam.
Baca Juga: Naik Bus Air Sungai Mahakam Samarinda–Melak, Perjalanan 20 Jam yang Masih Jadi Andalan Warga
Seperti Apa Prosesi Pernikahan Adat Dayak Kenyah?
Hari ketiga menjadi puncak perjalanan melalui pelaksanaan Pekiban, yaitu prosesi pernikahan adat Dayak Kenyah.
Rangkaian acara dimulai dengan penjemputan mempelai perempuan, kemudian pasangan diarak mengelilingi kampung sebelum mengikuti prosesi adat di rumah utama.
Dalam prosesi tersebut terdapat penyerahan parang sebagai simbol tanggung jawab, dilanjutkan penandatanganan kesepakatan adat yang menjadi bagian penting dalam pernikahan masyarakat Dayak Kenyah.
Salah seorang anggota tim kreatif bernama Pay mengungkapkan kesannya terhadap Long Nawang.
"Sangat indah, pemandangannya masih asri, dan orang lokalnya sangat ramah."
Usai prosesi adat, rombongan mengunjungi makam Raja Lencau Ingan untuk mempelajari sejarah perkembangan masyarakat Dayak Kenyah di wilayah Apokayan.
Bagaimana Tradisi Lama Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman?
Dalam kunjungan ke makam Raja Lencau Ingan, rombongan juga berdialog dengan Farida, cicit Raja Lencau Ingan, mengenai tradisi telinga panjang yang dahulu dikenal di kalangan masyarakat Dayak Kenyah.
Farida menjelaskan bahwa tradisi tersebut kini sudah tidak lagi dijalankan.
"Sekarang sudah tidak ada karena masyarakat sudah percaya sama Tuhan sejak Injil masuk yang dibawa oleh orang-orang Belanda. Telinga panjang itu lebih berkorelasi dengan kasta, semakin banyak dan berat anting yang dipakai, menandakan kastanya semakin tinggi."
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kepercayaan berlangsung berdampingan dengan tetap terjaganya identitas budaya masyarakat Dayak Kenyah.
Baca Juga: Menjelajah Pulau Nuca Molas 24 Jam, Begini Pengalaman Camping Sendirian
Apa Perubahan yang Terjadi di Long Nawang Selama Dua Dekade Terakhir?
Setelah resepsi pernikahan selesai, seluruh warga kembali bergotong royong dalam kegiatan pembubaran panitia dan ibadah syukuran.
Kebersamaan masyarakat terlihat dari keterlibatan seluruh warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Dalam perbincangan bersama tetua desa, terungkap bahwa Long Nawang telah mengalami perubahan cukup besar dibandingkan awal tahun 2000.
"Waktu tahun 2000 itu masih sedikit motor, jalannya belum semenisasi, jembatannya dulu cuma jembatan gantung bukan besi. Dulu kalau mau ke kampung sebelah (Long Payau) harus jalan kaki 2 jam setengah."
Perubahan infrastruktur tersebut mempermudah mobilitas masyarakat, meski wilayah ini tetap mempertahankan karakter pedesaan yang alami.
Hari terakhir perjalanan ditutup dengan mengikuti ibadah Minggu di gereja setempat sebelum seluruh keluarga berkumpul di kawasan Ulu Musang untuk berpiknik, memanggang makanan, berenang, dan menikmati kebersamaan sebelum kembali ke daerah masing-masing.
Poin Penting
-
Long Nawang berada di Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
-
Akses utama menuju desa menggunakan pesawat perintis menuju Long Ampung.
-
Masyarakat Dayak Kenyah masih menjaga tradisi adat dan budaya secara turun-temurun.
-
Prosesi Pekiban menjadi bagian penting dalam pernikahan adat Dayak Kenyah.
-
Gotong royong menjadi budaya yang melekat dalam berbagai kegiatan masyarakat.
-
Tantangan pendidikan di daerah terpencil masih menjadi perhatian warga.
-
Infrastruktur desa mengalami perkembangan dibandingkan dua dekade lalu.
Insight Redaksi
Long Nawang memperlihatkan bahwa kemajuan infrastruktur tidak selalu menghilangkan identitas budaya. Justru di tengah perubahan, masyarakat Dayak Kenyah tetap mempertahankan nilai gotong royong, adat, dan kebersamaan sebagai fondasi kehidupan. Itu menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya. Kada semua daerah mampu mempertahankan keseimbangan seperti ini, Ces. Ruang budaya seperti Long Nawang layak terus didokumentasikan agar generasi muda memahami kekayaan Kalimantan dari sumbernya langsung.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam agar semakin banyak yang mengenal budaya Dayak Kenyah dan pesona Long Nawang.
Masih banyak cerita menarik dari pelosok Kalimantan yang layak diketahui. Ikuti terus informasi terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Di mana letak Desa Long Nawang?
Desa Long Nawang berada di Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
2. Bagaimana cara menuju Long Nawang?
Perjalanan dilakukan menggunakan pesawat perintis menuju Bandara Long Ampung, kemudian dilanjutkan perjalanan darat sekitar 45 menit hingga satu jam.
3. Apa itu Pekiban?
Pekiban merupakan prosesi pernikahan adat masyarakat Dayak Kenyah.
4. Apa makanan khas yang diperkenalkan dalam video?
Masyarakat memperkenalkan Sebukong dan kue rakit atau Anye sebagai hidangan tradisional.
5. Mengapa Long Nawang menarik untuk dikunjungi?
Karena menawarkan perpaduan keindahan alam, budaya Dayak Kenyah yang masih lestari, serta kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi gotong royong.
Sumber Informasi: Informasi ini telah tayang sebelumnya di Media YouTube @Ray Tando, dengan judul "Long Nawang, Surga Tersembunyi di Ujung Kalimantan – Vlog Budaya Dayak Kenyah". Dipublikasikan kembali dengan angle dan style artikel Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma