Ekspedisi Gunung Harun Dimulai, Fiersa Besari Ungkap Beratnya Akses Menuju Krayan

kholiefatul Jannah • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 16:11 WIB
Perjalanan menuju Gunung Harun melalui Krayan menampilkan budaya Dayak Lundayeh dan alam perbatasan. (BTV/Ai)
Perjalanan menuju Gunung Harun melalui Krayan menampilkan budaya Dayak Lundayeh dan alam perbatasan. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 Menit

Topik: Perjalanan menuju Gunung Harun melalui Krayan memperlihatkan tantangan alam, kehidupan masyarakat perbatasan, serta kekayaan budaya Dayak Lundayeh.

Ikhtisar: Perjalanan tim Fiersa Besari menuju Gunung Harun dimulai dari penerbangan perintis menuju Krayan, melintasi medan ekstrem, mengenal garam gunung, hingga menikmati budaya masyarakat Dayak Lundayeh sebelum memulai pendakian.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Gunung Harun di Kalimantan Utara menjadi tujuan ekspedisi terbaru Fiersa Besari bersama timnya. Sebelum memasuki jalur pendakian, perjalanan diawali dari Tarakan menuju Krayan menggunakan pesawat perintis, kemudian dilanjutkan melintasi kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia yang dikenal memiliki akses darat sangat menantang.

Perjalanan tersebut bukan hanya memperlihatkan beratnya medan menuju gunung, tetapi juga menyuguhkan kisah kehidupan masyarakat Krayan yang hidup berdampingan dengan alam, mulai dari penggunaan kendaraan 4x4 hingga tradisi membuat garam gunung yang masih menjadi misteri.

Mengapa Perjalanan Menuju Krayan Menjadi Tantangan Pertama?

Ekspedisi dimulai dengan proses penimbangan bagasi yang dilakukan secara ketat agar seluruh perlengkapan dapat diangkut dalam satu penerbangan pesawat perintis berkapasitas 12 penumpang.

Selama penerbangan sekitar 45 menit menuju Bandara Yuvai Semaring, tim sempat menyadari satu perlengkapan penting tertinggal, yaitu boks parafin yang sebelumnya berada di speedboat saat perjalanan dari Tarakan menuju Nunukan.

Setibanya di Krayan, rombongan disambut Janter, senior IMPA Universitas Brawijaya yang menjadi pemandu menuju Gunung Harun.

Fiersa Besari membuka video dengan refleksi mengenai makna bertualang.

"Bertualang berarti siap menghadapi marabahaya dan siap menemui tempat-tempat yang tidak banyak didatangi orang lain... setiap hari adalah petualangan bagi kita yang berani menghadapi hidup yang penuh ketidakpastian."

Baca Juga: Solo Backpacking di Baluran, Perjalanan yang Mengajarkan Cara Menikmati Alam dengan Aman

Mengapa Mobil 4x4 Menjadi Kendaraan Utama di Perbatasan?

Perjalanan menuju Desa Kampung Baru memperlihatkan perubahan kondisi jalan yang sangat kontras. Jalan beraspal segera berganti menjadi lintasan tanah berlumpur.

Di kawasan Krayan, mobil-mobil seperti Toyota Land Cruiser lawas dan berbagai kendaraan berpenggerak empat roda menjadi pemandangan umum. Kendaraan tersebut bukan digunakan sebagai simbol gaya hidup, melainkan alat transportasi utama yang mampu melewati medan pedalaman.

Fiersa Besari menyampaikan pandangannya mengenai fenomena tersebut.

"Dipikir-pikir, mobil semacam Land Cruiser memang lebih cocok dipakai di tempat di mana akses jalannya belum bagus dibandingkan dipakai untuk pergi ke mall."

Salah satu anggota tim kemudian menambahkan bahwa kendaraan harus digunakan sesuai kebutuhan.

"Mobil seperti ini fungsinya setiap hari dibawa ke sini... jadi segala sesuatu memang jangan dipaksakan dan jangan cuma untuk memenuhi ego."

Percakapan tersebut menjadi gambaran bagaimana kondisi geografis menentukan pilihan kendaraan masyarakat setempat.

Medan ekstrem Krayan menjadikan kendaraan 4x4 sebagai transportasi utama yang andal melintasi wilayah perbatasan. (BTV/Ai)
Medan ekstrem Krayan menjadikan kendaraan 4x4 sebagai transportasi utama yang andal melintasi wilayah perbatasan. (BTV/Ai)

Apa Kata Warga Lokal Mengenai Gunung Harun?

Sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang, tim terlebih dahulu mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi).

Dalam kesempatan tersebut, mereka berbincang dengan Pak Martinus, pemburu senior yang telah lama mengenal kawasan hutan Krayan.

Pak Martinus mengaku meragukan apakah rombongan benar-benar mampu mencapai puncak Gunung Harun karena beratnya medan yang akan dilalui.

"Yakin kamu orang sampai di sana, sampai di Gunung Harun? Aku ini juga jagoan dulu, pemburu unggul katanya..."

Pernyataan itu menggambarkan reputasi Gunung Harun sebagai salah satu kawasan yang jarang didatangi dan memiliki tingkat kesulitan tinggi.

Bagaimana Garam Gunung Bisa Ada di Ketinggian?

Salah satu destinasi yang dikunjungi sebelum pendakian adalah lokasi produksi garam gunung di Long Midang.

Keunikan tempat ini terletak pada keberadaan sumur air asin di kawasan pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Ketika Fiersa Besari bertanya mengenai asal-usul garam tersebut, warga setempat mengaku hingga kini belum mengetahui penyebab munculnya sumber air asin tersebut.

"Kita juga tak tahu itu ya, masih misteri sampai hari ini ada garam di ketinggian."

Air asin dari sumur kemudian dimasak melalui tiga tahap perebusan menggunakan drum hingga seluruh kandungan air menguap dan menghasilkan kristal garam.

Proses tradisional tersebut masih dipertahankan masyarakat sebagai bagian dari mata pencaharian lokal.

Baca Juga: Menjelajah Pulau Nuca Molas 24 Jam, Begini Pengalaman Camping Sendirian

Pertunjukan Budaya Menjadi Sambutan Hangat Masyarakat Krayan

Menjelang malam, rombongan memperoleh sambutan berupa pertunjukan seni budaya Dayak Lundayeh.

Acara tersebut dibina oleh Pak Elias dari Ipai Media, seorang seniman yang pernah membawa pertunjukan budaya Dayak tampil di berbagai negara Eropa.

Musik tradisional, tarian adat, dan sambutan masyarakat memperlihatkan kekayaan budaya yang masih terjaga di kawasan perbatasan Indonesia.

Medan Ekstrem Menuju Desa Terakhir Pendakian

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menuju Desa Pak Raye, desa terakhir sebelum memasuki jalur Gunung Harun.

Rute yang dilalui dipenuhi kubangan lumpur sehingga kendaraan khusus 4x4 menjadi satu-satunya pilihan transportasi.

Dalam perjalanan, kendaraan sempat terjebak di lumpur dan harus didongkrak sebelum akhirnya dapat melanjutkan perjalanan.

Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan menuju Gunung Harun telah dimulai bahkan sebelum pendakian benar-benar dilakukan.

Poin Penting

Insight Redaksi:

Video ini tidak hanya mendokumentasikan perjalanan menuju Gunung Harun, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kondisi geografis membentuk kehidupan masyarakat Krayan. Kendaraan, tradisi pembuatan garam gunung, hingga pelestarian budaya Dayak Lundayeh menunjukkan bahwa wilayah perbatasan menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal yang sama menariknya dengan tujuan pendakiannya.

FAQ

1. Di mana Gunung Harun berada?

Gunung Harun berada di kawasan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

2. Mengapa menuju Gunung Harun cukup sulit?

Karena akses menuju kaki gunung melewati jalan berlumpur, kawasan pedalaman, dan membutuhkan kendaraan 4x4.

3. Apa keunikan Krayan yang ditampilkan dalam video?

Keberadaan garam gunung dari sumur air asin di kawasan pegunungan serta budaya Dayak Lundayeh.

4. Siapa yang mendampingi perjalanan tim?

Tim didampingi Janter yang menjadi pemandu selama perjalanan menuju Gunung Harun.

5. Apa pesan utama yang disampaikan Fiersa Besari?

Petualangan bukan hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga kesiapan menghadapi ketidakpastian serta menghargai setiap pengalaman selama perjalanan.

Sumber Informasi: Informasi ini telah tayang sebelumnya di media YouTube Fiersa Besari, dengan judul "GUNUNG HARUN - Atap Negeri Kalimantan Utara #2". Artikel ini disusun ulang berdasarkan isi transkrip dengan gaya jurnalistik.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
gunung harun krayan kalimantan utara Fiersa Besari Gunung Harun